Suatu sore di penghujung desember. Sambil menikmati tanaman di halaman rumah dan menghirup udara yang dibuntingi bau hujan. Pandanganku tertuju pada halaman rumah tetangga yang terpasang bendera setengah tiang. Hampir saja aku bertanya pada seseorang kenapa terpasang bendera setengah tiang di akhir desember. Olala.. untung saja tiba-tiba aku teringat bahwa bendera setengah tiang dipasang untuk memperingati tsunami. Ternyata sudah 5 tahun. Banyak yang berubah. Banyak yang datang. Banyak pula yang telah pergi. Ratusan ribu nyawa. Kewemahan yang lalu telah musnah, dan berganti-ganti dengan kemewahan yang selalu baru.
Aku menatap dalam sang dwi warna. Melihat dia kuyup dan menggigil. Merasakan duka. Sudah 5 tahun ternyata. Menatap lebih dalam, mengakhiri ku melihat 5 tahun yang lalu.
Di sebuah lapangan sekolah saat upacara bendera. Riuh sedang pagi itu. Dengingan mikrofon yang berkali-kali membuat ngilu telinga. Seragam putih abu-abu memonopoli warna lapangan upacara. Barisan-barisan depan berjejer rapi. Barisan depan memang selalu berdiri tegap dan serius mendengar pidato Pembina upacara yang membosankan. Makin ke tengah dapat kulihat teman yang berjongkok karena malas berdiri. Makin jauh ke belakang teman-teman sudah pasti punya urusan sendiri, atau berbincang-bincang topik obrolan pagi yang acapkali mengenai pertandingan sepakbola semalam.
Suasana seperti biasa upacara senin pagi. Tapi yang selalu tak biasa adalah seorang sahabat yang tiap senin pagi selalu berada di ruang laboratorium kimia sambil memantau jalannya upacara. Memang itulah tugasnya si sahabat. Selalu datang lebih pagi tiap senin. Datang lebih pagi dari yang lain. Sudah pasti dia segera menuju lab.kimia. Mengecek mikrofon dan mempersiapkan bendera. Kemudian mampir ke kelas untuk meletakkan tas. Dan kembali lagi ke lab.kimia sambil menunggu pasukan paskibraka yang bertugas hari itu.
Demikianlah si sahabat tiap senin. Dan tiap sabtu sepulang sekolah. Si sahabat pasti kutemukan di lapangan upacara lagi. Melatih pasukan paskibraka yang bertugas senin nanti, dan memastikan guru yang akan menjadi Pembina upacara. Itulah sahabatku. Yang sesekali harus tergopoh-gopoh keluar dari lab.kimia kalau tiba-tiba ada peserta upacara yang jatuh pingsan.
Aku tidak bisa membayangkan kalau senin pagi tanpa dirimu. Pastilah semuanya berantakan. Pastilah kita memulai upacara terlambat waktu. Pastilah tak ada Pembina upacara. Dan kalau itu terjadi pastilah 5 menit sebelum upacara kita akan melihat guru-guru sibuk mencari Pembina upacara pengganti. Beruntung sekolah kita punya murid sepertimu. Yang selalu datang tepat waktu dan sangat bertanggung jawab pada tugas tiap senin. Satu hal lagi yang paling berkesan buatku, pastilah selalu kutemukan senyumanmu tiap aku masuk ke lab.kimia selepas upacara. Itulah yang menandakan kau lega karena sukses nya upacara senin itu. Dan itulah senyuman termanis yang kulihat tiap senin pagi, disaat yang lain masuk kelas dengan wajah cemberut dan menggerutu.
Jika senyum dan keikhlasan bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Mulyana.
Di pojok barisan deretan kolompok kelas yang berbeda, dari kelompok kelasku, dapat kulihat engkau sahabat. Kau sesekali bercakap dengan teman disebelahmu. Dan kemudian mengakhiri percakapan dengan senyum simpul. Inilah sahabat yang sekaligus menjadi guru dan teman diskusi ku.
Melihatmu, membuatku teringat banyak kenangan bersamamu dan sahabat yang lain. Ha…apalagi yang paling kuingat kalau bukan kelucuan dan sifat jenaka mu. Dan memang kau sahabatku yang termasuk dalam deretan “orang bocor” di barisan OSIS kita. Teringat aku saat kita berlibur ke Sabang. Perjalanan kita bersama yang paling berkesan dan penuh perjuangan. Dan tentu saja aku dan semua sahabat kita yang ikut kesana pasti ingat saat kau berdiri gagah di dek kapal, memandang Pelabuhan Balohan yang makin dekat dan akhirnya sahabat kita yang telah sampai lebih dulu berteriak menyambutmu dengan panggilan ‘penyu’..’penyu’..’penyu’….!
Teringat juga aku saat kita makan sate gurita di Sabang Fair, yang akhirnya membuatmu harus pulang ke penginapan dengan berjalan kaki sendiri. Mungkin kau marah pada kami saat itu yang usil mengerjaimu. Tapi urusan jalan kaki, tentu itu bukan persoalan bagi seorang yang punya jiwa petualang sepertimu. Dan sahabat, aku juga teringat saat Diklat MPK menjelang demisioner nya kita. Seorang Cut Nyak kau suruh untuk mengikuti gerakanmu “membumikan diri”. Kakimu berada di tepian parit kecil di deretan kelas sekolah, dan kaki si Cut Nyak berada dalam parit. Sial bagimu sahabat, aksimu itu ketahuan oleh seorang guru kebanggan kita.
Tentu tak lupa bagiku mengingat masa-masa saat kita berlatih nasyid dan tampil dimana-mana. Entah itu di arena lomba, acara di sekolah atau di ruang OSIS untuk memukau beberapa sahabat manis yang ada disitu. Dan yang paling berkesan bagiku sahabat, kau lah yang menjadi penyejuk hati kita semua. Tidak pernah lupa mengajak kita untuk shalat berjamaah. Begitu sering kita berdiskusi. Dan kau lah yang mengakrabkan ku dengan istilah militansi. Juga kuingat, pernah kau memperlihatkan padaku sebuah bendera, yang kau sebut dengan bendera dakwah. Tapi setengah bercanda aku membantahnya dengan mengatakan “mana ada bendera dakwah, itu kan bendera partai…”. Kau adalah sahabatku yang memiliki kebulatan tekad dan keteguhan hati. Saat TC MPK-OSIS, aku dan beberapa sahabat mencoba mengingatkanmu untuk melepas rompi hitam yang berhias simbol partai peserta pemilu saat itu. Namun kau menolak sambil lantang berucap “aku pakai ini karena aku yakin aku benar…”. Dan tak ada diantara kami yang melanjutkan pembicaraan. Darimu aku belajar untuk memiliki keyakinan. Meyakini sepenuh hati, apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran.
Jika mengajak orang untuk melakukan shalat berjamaah dan menanamkan tekad untuk berdakwah bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Faisa Rianda.
Di sebelah kelompok kelasku, pada barisan depan. Pasti aku dapat menemukanmu disitu sahabat. Bukan karena alasan apa-apa kau berdiri dibarisan depan. Juga bukan karena kau senang berada di barisan depan. Melainkan hanya karena ukuran tubuhmu yang kecil memaksamu berada di barisan itu. Sambil meletakkan tangan di atas alis untuk menghalau cahaya matahari, sahabatku yang manis ini sebenarnya tak suka kalau berada disitu. Kalau beruntung ada teman yang lebih kecil ukuran tubuhnya, barulah ia bisa geser sedikit di barisan kedua atau ketiga.
Siapapun yang mengingatmu, tentulah mereka akan teringat pada kelincahan dan paras manismu. Tapi buatku, yang paling kuingat ketika kau datang pagi-pagi sekali ke ruang OSIS pada suatu minggu. Membangunkan kami yang tidur berserakan dilantai, yang sebagian masih terlelap diselimuti dingin nya pagi. Kau terburu-buru bertanya padaku “siapa-siapa anak cowok yang jadi panitia…?”. Ah, hampir saja aku lupa bahwa sudah seminggu kau memintaku untuk memberikan nama-nama panitia Bazar sekolah. Segera saja bagiku menunjuk para sahabat yang sedang tidur lelap, “orang niy aja yang jadi panitia…” sambil berharap kau tidak marah karena aku sudah telat menyerahkan nama panitia kepadamu. Lalu kau jawab “ya udah, nanti tulis nama mereka dan kasih ke aku ya…”. Dan beruntunglah aku karena kau mau dan tidak marah-marah di pagi itu. Segera kutanyakan kepada mereka yang sedang tertidur untuk jadi panitia bazar. Dan segera kutulis nama-nama mereka. Itulah awal dari bagian paling bersejarah dalam sekian banyak kegiatan yang kita sukseskan.
Memang tak mudah sahabat kita melewatinya. Kau yang selalu disibukkan untuk menyediakan konsumsi pada setiap kegiatan, kali ini diharuskan untuk memimpin sebuah acara yang baru pertama kali dilakukan. Dengan konsep yang beda pula. Terlalu banyak masalah yang harus kita hadapi. Terlalu banyak sikap sinis yang menghalangi. Tapi itu tak membuatmu patah dan putus asa. Selalu ada harapan dibalik lelah dan tangismu.
Dan akhirnya, beragam masalah dan sinisme membawa kita pada sebuah tempat, yang bernama kekompakan. Itulah tempat yang paling kita idamkan. Setelah kita seakan terpisah pada dua tempat yang disebut mushala dan parkir. Jadilah kekompakan kita menjadi tersohor. Dibincangkan dan dibanggakan. Dibalik itu, selamanya aku akan teringat pada adik kita yang menghadiahkan lagu ‘Semua Tentang Kita’ untukmu di Bazar itu. Sebagai permohonan maaf nya. Yang membuat kau menangis tersedu menderu.
Jika memberi maaf dan kesabaran bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Indah Fitri.
Selalu ada cerita untuk kalian sahabatku. Selalu kami sampaikan pada setiap generasi MPK-OSIS SMA 3 tentang kalian sahabatku. Dan selalu kami berdoa untuk kalian sahabatku, para syuhada.
Kamis, 31 Desember 2009
Gerakan Mahasiswa Yang Digerus Sistem Akademik
Tak bisa dipungkiri, kepeloporan gerakan mahasiswa telah menggoreskan banyak catatan-catatan gerakan pembaharuan. Di belahan bumi manapun, mahasiswa selalu tampil pada garda terdepan dalam mendorong perubahan. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya. Lihat saja di Indonesia, sejak sumpah pemuda sampai proklamasi kemerdekaan, kaum intelektual muda sudah memiliki peran besar. Gerakan intelektual muda atau sebut saja gerakan mahasiswa telah mampu mendorong terjadinya people power, yang melahirkan perubahan haluan bagi tatanan kehidupan bernegara dan pembangunan iklim demokrasi. Reformasi ’98 adalah contoh yang paling anyar. Bagaimana sebuah perubahan fundamental terjadi. Meruntuhkan dominasi otoritarian orde baru dan mewujudkan sebuah tatanan demokrasi bagi Indonesia baru. Sekali lagi itu semua tidak lepas dari dorongan gerakan mahasiswa yang menjadi katalisator mengkristalnya dukungan rakyat. Catatan lain yang ditoreh misalnya gerakan penggulingan orde lama pada tahun ’66, gerakan mahasiswa ’74 dan gerakan mahasiswa dalam rentang ’80 hingga ‘90an yang mengambil strategi “tiarap” untuk melawan tindakan otoriter rektorat dan pemerintahan.
Berbagai catatan historis tersebut tentu saja menjadikan orang-orang dalam lingkaran kekuasaan menjadi awas terhadap gerakan mahasiswa. Potensi kekuatan gerakan mahasiswa secara nyata dirasakan merupakan ancaman serius bagi pertahanan oligarki kekuasaan dalam melanjutkan tradisi korup, hipokrit dan otoriter. Dimata penguasa, membiarkan gerakan mahasiswa terus tumbuh, berkembang, dan meluas merupakan bahaya laten bagi eksistensi kekuasaan. Gerakan mahasiswa kritis tentu saja tidak akan melakukan pembiaran atas praktek-praktek korup serta kebijakan-kebijakan menindas yang acapkali menjadi mainan penguasa serta para kroni dalam relasi kekuasaan. Maka dari itu berbagai upaya kerapkali dilakukan oleh penguasa atau para pengambil kebijakan dalam mematahkan atau minimal meredam potensi hadirnya gerakan mahasiswa yang akan menjadi penyeimbang terhadap posisi kekuasaan.
NKK/BKK
Salah satu upaya paling tersohor yang diputuskan oleh penguasa dalam meredam gerakan mahasiswa adalah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus atau NKK/BKK. NKK/BKK merupakan produk orde baru yang lahir lewat SK menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Pada periode 1978 gerakan mahasiswa mulai berani mengajukan tuntutan agar Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Tuntutan mahasiswa saat itu bisa dikatakan lebih berbahaya ketimbang demonstrasi besar-besaran menolak kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka ke Indonesia pada tahun 1974 yang kemudian melahirkan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Gerakan mahasiswa yang sudah berani menganggu kursi kepresidenan dianggap sebagai ancaman serius di mata penguasa Orde Baru.
Dalih demi stabilitas politik dan pembangunan digunakan penguasa orde baru untuk meredam gerakan aksi mahasiswa yang makin kritis dan intensif mengkritik setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Rektorat yang merupakan perpanjangan tangan penguasa diperintahkan untuk mengawasi dan mengintervensi lebih jauh setiap aktivitas politik mahasiswa lewat kebijakan baru tersebut. Implikasi konsep NKK/BKK adalah pembubaran Dewan Mahasiswa (DEMA), yang merupakan simbol demokrasi kampus. Sejak berlakunya NKK/BKK hampir semua organisasi kemahasiswaan ‘mati.’ Segala kegiatan kemahasiswaan tidak lagi dibawah asuhan DEMA tapi langsung di bawah kontrol BKK. Alhasil semua kegiatan pun langsung dibawah kontrol pejabat teras Universitas, Rektor dan para dosen. Setelah DEMA dibubarkan, yang tersisa hanyalah unit kegiatan mahasiswa dan senat fakultas, serta himpunan mahasiswa jurusan. Kampus dinyatakan harus steril dari politik dan hanya sebagi tempat belajar mengajar, mengembangkan nalar. Konsep NKK/BKK, diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat ilmiah. Aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan terbatas pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Selain itu, dalam Tri Darma Perguruan Tinggi dinyatakan bahwa fungsi perguruan tinggi adalah menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Depolitisasi yang diterapkan saat itu sungguh efektif, mahasiswa menjadi study oriented sehingga selama puluhan tahun hingga sekarang kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas mengkritisi kebijakan penguasa.
Strategi Orde Baru yang kemudian menghapus kebijakan NKK/BKK lewat SK Mendikbud No. 0457/0/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) tertanggal 29 Juli 1990 bisa dikatakan tak mempan menyumbat daya kritis mahasiswa. Lalu apakah kemudian upaya pelemahan gerakan mahasiswa akan berakhir setelah NKK/BKK dikubur? Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kancah gerakan, saya mengatakan tidak demikian. Harus diakui jika ketakutan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan masih terus ada terhadap potensi gerakan mahasiswa. Mereka selama ini menikmati konflik keadaan negara yang justru menguntungkan mereka. Ketakutan mereka cukup beralasan karena mahasiswa memiliki energi untuk mendobrak kemapanan. Mahasiswa kritis dianggap tidak normal dan untuk itulah perlu dinormalkan. Organisasi kemahasiswaan yang selama ini menjadi episentrum mahasiswa-mahasiswa pro perubahan disumbat oleh rektorat yang selamanya tunduk kepada kekuasaan, untuk melemahkan dan mematahkan gerakan mahasiswa secara tak kasat mata dan tidak lagi represif.
Strategi baru
Lewat berbagai kebijakan dan teknik baru, upaya pelemahan dan penggerusan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan. Inilah beberapa pola yang penulis cermati serta amati dalam dunia kampus dan perkuliahan dalam upaya pelemahan gerakan mahasiswa. Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif rektorat, kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan. Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli.
Kebijakan ini menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan 35 SKS dalam 4 semester dan 80 SKS dalam 8 semester dengan nilai IPK 2,00 dan wajib selesai dalam 14 semester. Kalau kita tinjau secara teoritis pedagogik (pendidikan) ini mungkin kebijakan yang baik. Tapi lihatlah faktanya, bahwa di fakultas hukum Unsyiah sejumlah 125 orang mahasiswa harus di-DO karena tak mampu menyelesaikan tuntutan akademik ini (tgj.com,22/8/08). Nah, mari kita jawab bersama-sama sekarang, apakah tuntutan akademik yang demikian telah cukup baik untuk memenuhi hak pendidikan seseorang? Atau barangkali dan mungkin sebuah kepastian bahwa sistem pendidikan kita menuntut seorang mahasiswa berada pada posisi study oriented, dan rasanya posisi ini tidak mungkin dapat ditawar-tawar lagi. Melupakan semua keresahan sosial dan penderitaan rakyat yang dilihat dan dirasakannya. Serta bekerja keras meraih nilai terbaik agar sebanding dengan nilai rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai ongkos kuliah yang memang ditetapkan mahal oleh penguasa.
Kedua, tentu saja cuplikan kalimat diatas mengenai ongkos pendidikan perguruan tinggi. Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan. Jika tidak demikian, maka mahasiswa mengalami ketakutan tidak lulus cepat atau bahkan akan terancam DO. Terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan terlalu menyita waktu dan dimungkinkan menghambat keberhasilan akademik. Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (baca: ruang kuliah dan perpustakaan). Paradigma ini terus disuara-wacanakan pihak Rektorat dan dekanan jauh-jauh hari saat mahasiswa tengah melalui proses pengenalan akademik di perguruan tinggi. Bahkan, dosen-dosen yang mengajar dikelas juga bertindak selaras. Jarang sekali tipe mahasiswa aktivis-akademis diwacanakan. IPK tinggi, rajin masuk kuliah, dan lulus cepat, selalu ditanamkan dan tidak pernah mengajak mahasiswa untuk aktif berkecimpung di organisasi kemahasiswaan.
Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik. Menurut penuturan beberapa rekan aktivis kampus upaya ini sering dilakukan. Penulis sendiri sempat ditanya oleh pejabat universitas, apakah sudah pernah mengambil beasiswa universitas atau belum. Saat itu kampus sedang panas-panasnya isu penolakan UU BHP. Upaya semacam ini adalah yang paling berbahaya. Tak bisa dipungkiri jika pemberian beasiswa atau fasilitas bisa mempengaruhi kekritisan dan idealisme mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan kebijakan rektorat dan dekanan. Dan ancaman bagi internal gerakan mahasiswa tentu saja perpecahan yang disebabkan rasa ketidakpercayaan yang timbul diantara sesama rekan, karena ada sebagian yang makin tumpul daya kritis nya atau mundur perlahan dalam mengkritisi kebijakan. Untuk para aktivis mahasiswa sudah seharusnya membangun komitmen bersama untuk menolak segala bentuk beasiswa dan fasilitas siluman yang semacam ini.
Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Mahasiswa aktivis belum tentu ber-IPK buruk. Banyak kita jumpai mahasiswa aktivis yang memiliki IPK 3 ke atas dan lulus cepat. Saat ini pragmatisme mahasiswa harus diakui semakin menggejala di tengah terpaan arus hedonisme dan permisivisme. Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus. Mahasiswa dengan IPK tinggi juga tidak bisa serta-merta dikatakan akademis karena ukuran untuk menilai akademis atau tidak cukup kabur saat ini. Perlu di ingat bahwa IPK tinggi akan mengantarkan kita mendapat kesempatan wawancara, tapi kepemimpinan, daya kritis dan kepekaan yang akan mengantarkan kita menjadi kader bangsa sejati. Dan itu bisa diperoleh dari dunia gerakan.
Membangun spirit gerakan
Bagaimana pun, kuliah penting dan organisasi kemahasiswaan juga penting. Preseden buruk akan terjadi jika mahasiswa tidak ingin terlibat dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan. Pragmatisme mahasiswa semakin menjadi-jadi dan defisit kader-kader pemimpin bangsa akan terjadi di kemudian hari. Padahal kebutuhan akan mahasiswa-mahasiswa kritis yang menghimpun diri dalam suatu gerakan mahasiswa merupakan kebutuhan mutlak dalam mengawal periode transisi bangsa dan mencapai cita-cita reformasi.
Membentuk gerakan kampus dan membangun nalar gerakan dalam diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan banyak cara. Yang sederhana untuk dilakukan adalah bertanya atau melakukan proses dialektis atas segala rupa kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala. Misal kita membaca berita bahwa “pemerintah melakukan kerjasama luar negeri dalam perdagangan”, penting bagi kita untuk bertanya “untuk siapa…?”, untuk siapa kebijakan itu dibuat? Untuk penguasa dan segelintir orang dilingkarannya?, atau untuk kemaslahatan rakyat banyak?. Walau sederhana, metode ini ampuh membangun nalar kritis bagi mahasiswa per masing-masing individu. Bayangkan apabila tiap mahasiswa di satu ruangan kelas saja berkehendak serupa untuk bertanya “untuk siapa” bagi setiap kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala yang terjadi di masyarakat, tentu akan terangkum suatu daya kritis yang amat besar dari mahasiswa. Apabila ini dapat terwujud barulah dapat dikatakan bahwa kampus adalah laboratorium bagi ilmu pengetahuan dan daya kritis sosial-politik bangsa.
Jalan lain membangun spirit gerakan, selain menulis dan membaca yang sudah umum diwacanakan, barangkali dapat kita temukan dalam petikan puisi ‘Negeri Para Bedebah’ karya Adhie Massardi. ”…Maka bila negerimu dikuasai para bedebah, Usirlah mereka dengan revolusi. Bila tak mampu dengan revolusi, Dengan demonstrasi. Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi. Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan”.
Barangkali sudah terwakili apa yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam mengembangkan semangat intelektual nya lewat puisi Adhie Massardi diatas. Tentu bagi setiap mahasiswa yang dalam dirinya tertanam semangat agen pembaharu, agen intelektual dan sosial kontrol, berhenti bergerak karena upaya penggerusan dan pelemahan yang dilakukan kaki tangan penguasa adalah suatu bentuk kebodohan. Melawan itu semua bukan hanya menjadi lambang ketidak sepakatan pada bentuk pembodohan dan kepatuhan akan penguasa, melainkan lebih dari itu merupakan wujud eksistensi gerakan mahasiswa dalam mengawal proses transisi politik, pemenuhan hak dasar warga negara, pemberantasan korupsi serta reformasi di segala bidang.
Berbagai catatan historis tersebut tentu saja menjadikan orang-orang dalam lingkaran kekuasaan menjadi awas terhadap gerakan mahasiswa. Potensi kekuatan gerakan mahasiswa secara nyata dirasakan merupakan ancaman serius bagi pertahanan oligarki kekuasaan dalam melanjutkan tradisi korup, hipokrit dan otoriter. Dimata penguasa, membiarkan gerakan mahasiswa terus tumbuh, berkembang, dan meluas merupakan bahaya laten bagi eksistensi kekuasaan. Gerakan mahasiswa kritis tentu saja tidak akan melakukan pembiaran atas praktek-praktek korup serta kebijakan-kebijakan menindas yang acapkali menjadi mainan penguasa serta para kroni dalam relasi kekuasaan. Maka dari itu berbagai upaya kerapkali dilakukan oleh penguasa atau para pengambil kebijakan dalam mematahkan atau minimal meredam potensi hadirnya gerakan mahasiswa yang akan menjadi penyeimbang terhadap posisi kekuasaan.
NKK/BKK
Salah satu upaya paling tersohor yang diputuskan oleh penguasa dalam meredam gerakan mahasiswa adalah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus atau NKK/BKK. NKK/BKK merupakan produk orde baru yang lahir lewat SK menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Pada periode 1978 gerakan mahasiswa mulai berani mengajukan tuntutan agar Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Tuntutan mahasiswa saat itu bisa dikatakan lebih berbahaya ketimbang demonstrasi besar-besaran menolak kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka ke Indonesia pada tahun 1974 yang kemudian melahirkan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Gerakan mahasiswa yang sudah berani menganggu kursi kepresidenan dianggap sebagai ancaman serius di mata penguasa Orde Baru.
Dalih demi stabilitas politik dan pembangunan digunakan penguasa orde baru untuk meredam gerakan aksi mahasiswa yang makin kritis dan intensif mengkritik setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Rektorat yang merupakan perpanjangan tangan penguasa diperintahkan untuk mengawasi dan mengintervensi lebih jauh setiap aktivitas politik mahasiswa lewat kebijakan baru tersebut. Implikasi konsep NKK/BKK adalah pembubaran Dewan Mahasiswa (DEMA), yang merupakan simbol demokrasi kampus. Sejak berlakunya NKK/BKK hampir semua organisasi kemahasiswaan ‘mati.’ Segala kegiatan kemahasiswaan tidak lagi dibawah asuhan DEMA tapi langsung di bawah kontrol BKK. Alhasil semua kegiatan pun langsung dibawah kontrol pejabat teras Universitas, Rektor dan para dosen. Setelah DEMA dibubarkan, yang tersisa hanyalah unit kegiatan mahasiswa dan senat fakultas, serta himpunan mahasiswa jurusan. Kampus dinyatakan harus steril dari politik dan hanya sebagi tempat belajar mengajar, mengembangkan nalar. Konsep NKK/BKK, diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat ilmiah. Aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan terbatas pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Selain itu, dalam Tri Darma Perguruan Tinggi dinyatakan bahwa fungsi perguruan tinggi adalah menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Depolitisasi yang diterapkan saat itu sungguh efektif, mahasiswa menjadi study oriented sehingga selama puluhan tahun hingga sekarang kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas mengkritisi kebijakan penguasa.
Strategi Orde Baru yang kemudian menghapus kebijakan NKK/BKK lewat SK Mendikbud No. 0457/0/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) tertanggal 29 Juli 1990 bisa dikatakan tak mempan menyumbat daya kritis mahasiswa. Lalu apakah kemudian upaya pelemahan gerakan mahasiswa akan berakhir setelah NKK/BKK dikubur? Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kancah gerakan, saya mengatakan tidak demikian. Harus diakui jika ketakutan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan masih terus ada terhadap potensi gerakan mahasiswa. Mereka selama ini menikmati konflik keadaan negara yang justru menguntungkan mereka. Ketakutan mereka cukup beralasan karena mahasiswa memiliki energi untuk mendobrak kemapanan. Mahasiswa kritis dianggap tidak normal dan untuk itulah perlu dinormalkan. Organisasi kemahasiswaan yang selama ini menjadi episentrum mahasiswa-mahasiswa pro perubahan disumbat oleh rektorat yang selamanya tunduk kepada kekuasaan, untuk melemahkan dan mematahkan gerakan mahasiswa secara tak kasat mata dan tidak lagi represif.
Strategi baru
Lewat berbagai kebijakan dan teknik baru, upaya pelemahan dan penggerusan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan. Inilah beberapa pola yang penulis cermati serta amati dalam dunia kampus dan perkuliahan dalam upaya pelemahan gerakan mahasiswa. Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif rektorat, kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan. Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli.
Kebijakan ini menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan 35 SKS dalam 4 semester dan 80 SKS dalam 8 semester dengan nilai IPK 2,00 dan wajib selesai dalam 14 semester. Kalau kita tinjau secara teoritis pedagogik (pendidikan) ini mungkin kebijakan yang baik. Tapi lihatlah faktanya, bahwa di fakultas hukum Unsyiah sejumlah 125 orang mahasiswa harus di-DO karena tak mampu menyelesaikan tuntutan akademik ini (tgj.com,22/8/08). Nah, mari kita jawab bersama-sama sekarang, apakah tuntutan akademik yang demikian telah cukup baik untuk memenuhi hak pendidikan seseorang? Atau barangkali dan mungkin sebuah kepastian bahwa sistem pendidikan kita menuntut seorang mahasiswa berada pada posisi study oriented, dan rasanya posisi ini tidak mungkin dapat ditawar-tawar lagi. Melupakan semua keresahan sosial dan penderitaan rakyat yang dilihat dan dirasakannya. Serta bekerja keras meraih nilai terbaik agar sebanding dengan nilai rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai ongkos kuliah yang memang ditetapkan mahal oleh penguasa.
Kedua, tentu saja cuplikan kalimat diatas mengenai ongkos pendidikan perguruan tinggi. Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan. Jika tidak demikian, maka mahasiswa mengalami ketakutan tidak lulus cepat atau bahkan akan terancam DO. Terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan terlalu menyita waktu dan dimungkinkan menghambat keberhasilan akademik. Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (baca: ruang kuliah dan perpustakaan). Paradigma ini terus disuara-wacanakan pihak Rektorat dan dekanan jauh-jauh hari saat mahasiswa tengah melalui proses pengenalan akademik di perguruan tinggi. Bahkan, dosen-dosen yang mengajar dikelas juga bertindak selaras. Jarang sekali tipe mahasiswa aktivis-akademis diwacanakan. IPK tinggi, rajin masuk kuliah, dan lulus cepat, selalu ditanamkan dan tidak pernah mengajak mahasiswa untuk aktif berkecimpung di organisasi kemahasiswaan.
Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik. Menurut penuturan beberapa rekan aktivis kampus upaya ini sering dilakukan. Penulis sendiri sempat ditanya oleh pejabat universitas, apakah sudah pernah mengambil beasiswa universitas atau belum. Saat itu kampus sedang panas-panasnya isu penolakan UU BHP. Upaya semacam ini adalah yang paling berbahaya. Tak bisa dipungkiri jika pemberian beasiswa atau fasilitas bisa mempengaruhi kekritisan dan idealisme mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan kebijakan rektorat dan dekanan. Dan ancaman bagi internal gerakan mahasiswa tentu saja perpecahan yang disebabkan rasa ketidakpercayaan yang timbul diantara sesama rekan, karena ada sebagian yang makin tumpul daya kritis nya atau mundur perlahan dalam mengkritisi kebijakan. Untuk para aktivis mahasiswa sudah seharusnya membangun komitmen bersama untuk menolak segala bentuk beasiswa dan fasilitas siluman yang semacam ini.
Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Mahasiswa aktivis belum tentu ber-IPK buruk. Banyak kita jumpai mahasiswa aktivis yang memiliki IPK 3 ke atas dan lulus cepat. Saat ini pragmatisme mahasiswa harus diakui semakin menggejala di tengah terpaan arus hedonisme dan permisivisme. Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus. Mahasiswa dengan IPK tinggi juga tidak bisa serta-merta dikatakan akademis karena ukuran untuk menilai akademis atau tidak cukup kabur saat ini. Perlu di ingat bahwa IPK tinggi akan mengantarkan kita mendapat kesempatan wawancara, tapi kepemimpinan, daya kritis dan kepekaan yang akan mengantarkan kita menjadi kader bangsa sejati. Dan itu bisa diperoleh dari dunia gerakan.
Membangun spirit gerakan
Bagaimana pun, kuliah penting dan organisasi kemahasiswaan juga penting. Preseden buruk akan terjadi jika mahasiswa tidak ingin terlibat dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan. Pragmatisme mahasiswa semakin menjadi-jadi dan defisit kader-kader pemimpin bangsa akan terjadi di kemudian hari. Padahal kebutuhan akan mahasiswa-mahasiswa kritis yang menghimpun diri dalam suatu gerakan mahasiswa merupakan kebutuhan mutlak dalam mengawal periode transisi bangsa dan mencapai cita-cita reformasi.
Membentuk gerakan kampus dan membangun nalar gerakan dalam diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan banyak cara. Yang sederhana untuk dilakukan adalah bertanya atau melakukan proses dialektis atas segala rupa kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala. Misal kita membaca berita bahwa “pemerintah melakukan kerjasama luar negeri dalam perdagangan”, penting bagi kita untuk bertanya “untuk siapa…?”, untuk siapa kebijakan itu dibuat? Untuk penguasa dan segelintir orang dilingkarannya?, atau untuk kemaslahatan rakyat banyak?. Walau sederhana, metode ini ampuh membangun nalar kritis bagi mahasiswa per masing-masing individu. Bayangkan apabila tiap mahasiswa di satu ruangan kelas saja berkehendak serupa untuk bertanya “untuk siapa” bagi setiap kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala yang terjadi di masyarakat, tentu akan terangkum suatu daya kritis yang amat besar dari mahasiswa. Apabila ini dapat terwujud barulah dapat dikatakan bahwa kampus adalah laboratorium bagi ilmu pengetahuan dan daya kritis sosial-politik bangsa.
Jalan lain membangun spirit gerakan, selain menulis dan membaca yang sudah umum diwacanakan, barangkali dapat kita temukan dalam petikan puisi ‘Negeri Para Bedebah’ karya Adhie Massardi. ”…Maka bila negerimu dikuasai para bedebah, Usirlah mereka dengan revolusi. Bila tak mampu dengan revolusi, Dengan demonstrasi. Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi. Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan”.
Barangkali sudah terwakili apa yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam mengembangkan semangat intelektual nya lewat puisi Adhie Massardi diatas. Tentu bagi setiap mahasiswa yang dalam dirinya tertanam semangat agen pembaharu, agen intelektual dan sosial kontrol, berhenti bergerak karena upaya penggerusan dan pelemahan yang dilakukan kaki tangan penguasa adalah suatu bentuk kebodohan. Melawan itu semua bukan hanya menjadi lambang ketidak sepakatan pada bentuk pembodohan dan kepatuhan akan penguasa, melainkan lebih dari itu merupakan wujud eksistensi gerakan mahasiswa dalam mengawal proses transisi politik, pemenuhan hak dasar warga negara, pemberantasan korupsi serta reformasi di segala bidang.
Label:
Opini
Selasa, 15 Desember 2009
Untukmu Irwandi; Kami Muda Yang Menggugat
Dalam sebuah bilik kamar Muda di Kuala Pudeng. Yang disalah satu sisi temboknya terpasang selembar gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Di atas ranjang, Muda membaca Koran Harian pagi yang berisi berita tentang Muda lainnya yang ditangkap aparat, karena bersuara akan perbaikan kesejahteraan dan keadilan yang diharap-harap oleh rakyat.
Mata Muda memerah saga. Menatap geram isi berita…
Lepas Muda membaca, tapi tak lepas geram dihatinya. Ditatap gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Muda melepas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar dari tempatnya. Muda membaca kata SINAR. Muda membaca tulisan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Dibaca berulang dua nama itu. Kemudian, berbisik Muda dalam hati:
"baroe udeep beusare matee beusajan, sikrek kaphan saboh keureunda. Jinoe saboh timphan hanjeut plah dua..."
Sebuah foto tua bergambar seorang gagah berkumis setengah baya ditatap Muda dalam. Foto tua sang Ayah Muda yang gugur dalam rimba pertempuran. Bergegas Muda remas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Digenggam gambar itu. Muda menuju dapur berbelok ke sumur. Dicampakkan gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar sembarang disitu. Gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar yang akhirnya menjadi alas kotoran pagi kucing piaraan. Lepas geram Muda dalam raga, berganti jiwa merdeka yang dirasakannya.
***
Muda santai duduk bersandar di halte tengah kota. Dengan baju lusuh. Celana kumal yang menguning di sisi paha, robek di lutut. Sepatu kumal berdebu berhias juntai benang. Muda memungut selebaran dari Koran harian tentang sosialisasi Qanun Kesehatan yang tercecer. Ada gambar Gubernur disitu. Muda geram menggerutu. “Cuma Qanun omong kosong produk wakil rakyat kapitalis”. “Orang miskin dilarang sakit!”
“Gedung rumah sakit dibangun megah dari bantuan asing. Tapi yang menikmati tetap saja mereka yang punya uang. Yang orang kecil, tidak punya uang, mesti antri dapat giliran. Atau menunggu mati ditengah antrian. Yang katanya jaminan kesehatan cuma omong kosong janji politisi atau birokrat tolol yang coba tarik simpati.”
“Dan si Gubernur ini lebih tidak tahu diri. Orang tua yang disebut Wali saja berobat di kota waktu sakit. Tapi si Gubernur malah berobat ke luar negeri. Dan itu berkali-kali. Pakai uang rakyat. Emank dasar Gubernur gak ada otak! Jadi apa guna dibagun rumah sakit besar disini? Kalau Gubernur dan orang berduit lain tetap berobat ke luar negeri…?”
Muda menarik rambutnya yang kaku meninggi ke atas. Menepuk kawan yang sedang memeluk gitar. “Aku dan kau adalah orang yang anti kemapanan. Gubernur kayak gini harus kita lawan. Maen pakek uang rakyat aja untuk kesenangan pribadi dan bermewah-mewah. Taik kucing lahh!”.
Muda mengenang suatu sore di jalan kota. Ketika iringan mobil Jeep mewah melintas cepat dijalanan. Melewati para pengemis di tiap simpang. Memaksa yang lain menyingkir. Melewati pengangguran yang berjalan di trotoar. Memaksa yang lain minggir. Menyemprotkan debu kepada para tukang becak. Terus memaksa yang lain untuk tetap kasih jalan tanpa berhak bilang: “mobilmu dan jalan ini dibangun dengan uang rakyat bapak Gubernur…!”
Muda berkata lagi: “Sekarang bukan zaman nya lagi ikut Gandhi melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan membiarkan rakyat India dipukuli bertubi untuk mengusir penjajah Kolonial Inggris. Sekarang juga bukan zaman nya lagi kita ikut gaya Jhon Lennon menyerukan damai dengan tiduran diranjang dan memanjangkan rambut untuk menentang kebijakan perang Vietnam”.
Sekarang kita harus menggunakan jalan radikal untuk melawan. Anarki adalah pilihan. Kawan…tolong kau mainkan lagu ‘Bongkar’. 3 tahun Gubernur ini pegang kuasa tidak ada perubahan apa-apa. Semuanya omong kosong. Maka kita harus bakar! Mainkan lagu ‘Bongkar’ kawan. Karena di jalanan kita sandarkan cita-cita.
***
Duduk kaku dikursi ditemani secangkir kopi. Muda larut menatap layar monitor laptop. Tak sadar Muda kalau malam juga semakin larut. Muda lupakan secangkir kopi yang mulai mendingin. Muda menatap serius bacaannya di layar monitor. Muda gelisah bukan main. Folder file kliping media di baca lagi satu persatu-satu. Berita headline tentang isu pemerintahan menjadi fokus perhatiannya.
Diawal pemerintahan gagasan dan program gencar diluncurkan. Kepedulian terhadap rakyat kecil dipertunjukkan. Ke-ekslusifan ditinggalkan. Di awal, Irwandi bilang kalau Innova saja sudah cukup. Tapi nyatanya sekarang nyetir Jeep mewah. Di awal, Irwandi bikin feet and proper test untuk menyeleksi Kepala Dinas. Tapi daya serap APBA terus menurun. Di awal, Irwandi nyetir mobil sendiri, ngebut. Walau sakit tetap nyetir mobil sendiri, sambil pasang infus untuk bilang kalau lagi sakit. Di awal, Irwandi sahur dirumah Nek Aisyah. Tapi ternyata itu cuma di awal. Nek Aisyah cuma jadi bagian “sensasi” Irwandi.
Muda makin gelisah. Kerabat yang korup dilindungi oleh Irwandi. Irwandi lebih sering ke luar negeri daripada melihat rakyat di daerah sendiri. Walau terus menerus dikritik. Irwandi tidak juga bikin evaluasi. Irwandi tidak peduli. Serapan anggaran lemah, Irwandi cari alasan pengesahan telat. Kalau pengesahan tepat waktu, bikin alasan lain kalau kontraktor belum ambil amprahan. Dunia ini memang penuh pabrik alasan. Dimana sekarang Kredit Peumakmu Nanggroe? So nyang ka makmu jinoe…??? Irwandi atawa rakyat Aceh?
200 Ha Hutan Aceh per tahun hilang. Tapi Irwandi masih gagah bicara Aceh Green di luar negeri. Jualan hutan Aceh subur kepada asing, untuk kemudian dapat untung sendiri. Muda gelisah rumah hak korban konflik terabaikan. Pembangunan SDM dan lapangan kerja terabaikan. Pembangunan sarana pendidikan yang baik dan berpihak kepada rakyat terabaikan. Penegakan syariat Islam terabaikan. Perhatian kepada petani, nelayan, dan guru terabaikan. Perencanaan ekonomi yang mensejahterakan rakyat terabaikan. Dan yang tidak pernah terabaikan dan itu diakui sendiri oleh Irwandi adalah perempuan cantik, jalan-jalan ke luar negeri dan mengendarai mobil mewah.
Muda mengakhiri gelisah dengan lelah. Lelah akan macet nya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Lelah akan keadilan yang tidak juga kunjung datang. Lelah dengan pemimpin pemerintahan yang mempertontonkan kezaliman dan penindasan dengan bangganya. Kelelahan Muda dijawab dengan: “sudah cukup!”. Sambil mencopot kacamata, Muda berteriak, “ganti pemerintahan…!!!”
***
Muda yang ini sedang membaca sebuah buku bersampul merah. Dengan judul yang ditulis dengan warna hitam. Berisi perintah untuk menggusur kaum tua yang konservatif, korup dan feodal. Dan menggantikan nya dengan gerakan muda yang diisi oleh orang muda yang cerdas, berani dan progresif. Jemari Muda terus membolak-balikkan halaman demi halaman buku. Jemari yang tampak legam karena sering disengat matahari. Dahi Muda mengkerut membaca beberapa kalimat yang ada dibuku. Dahi yang sering terbakar dan dicium debu jalanan.
Kepala Muda terasa berat oleh jejalan kalimat-kalimat yang ada dibuku. Ruangan kosong terasa penuh oleh orang-orang yang Muda kagumi. Orang-orang yang lebih dulu memimpin. Orang-orang yang merasakan penderitaan sepanjang hidupnya. Orang-orang yang dibuang karena sangat ditakuti. Orang-orang yang ditahan tapi semangatnya mampu menembus tembok penjara dan membangkitkan semangat perlawanan. Orang-orang yang akhirnya mati dibunuh, tapi jiwanya tetap hidup disetiap sanubari para pejuang. Dan mereka adalah orang-orang Muda.
Muda tak tahan untuk melanjutkan membaca. Terlintas dibenaknya bagaimana orang Muda disekitarnya telah mati jiwa dan rasa. Orang Muda yang kemudian hidup oleh cita-cita masa lalu dan tidak memiliki cita-cita sendiri. Telah dikubur keberanian dan semangatnya oleh ketakutan akan kelaparan dan penderitaan. Orang-orang Muda yang tidak lagi memiliki arti untuk manusia lain.
Muda menutup buku dengan sebuah hentakan. Dirasakan kekecewaan akan bobroknya pemerintahan. Apa yang menjadi cita-cita ternyata harus kandas di ban mobil mewah dan terbentur meja negosiasi kepentingan elit. Muda hampir merasakan mati. Sebelum harapannya menghidupkannya kembali. Bahwa waktu belum menjauh. Jadi belum ada kata terlambat.
Muda mengenang…Bagaimana gaduhnya jalanan yang dilalui ribuan tapak kaki. Bagaimana riuhnya teriakan ‘hidup rakyat Aceh’ menggema. Bagaimana napas perjuangan masih cukup untuk menghidupkan keyakinan rakyat Aceh yang hampir musnah harapan nya karena konflik dan tsunami. Itu adalah kenangan Muda yang berjuang bersama ratusan ribu Muda lainnya untuk melahirkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang sesuai dengan MoU Helsinky dan cita-cita rakyat Aceh. Muda bergumam dalam perih, “meloloskan calon independen dalam pemilihan kepala daerah Aceh, ada keringatku disitu”.
Dan gumam Muda terus berlanjut. Dalam kenangan Muda yang makin legam kulitnya. Makin habis suaranya. Tapi Muda membawa kenangannya dengan penuh kecewa. Harapan yang dititipkan 3 tahun lalu berbuah pahit. “Irwandi dan Nazar adalah sebuah kesalahan…!!!”
Muda merasa harus menghentikan segalanya. Karena Muda terpaksa merasa berdosa atas kerakusan dan keserakahan penguasa. Mereka adalah orang-orang yang sudah lupa dengan nilai-nilai perjuangan. Dan hukuman bagi orang-orang yang lupa dengan nilai perjuangan dan orang-orang yang dulu bersama dalam perjuangan adalah mati sebagai pecundang, bukan sebagai pejuang.
Muda berdiri. Menatap sebuah foto yang terpasang diruangan itu. Di depan foto Panglima Tertinggi As-Syahid Tgk. Abdullah Syafii, Muda bersumpah….”aku akan melanjutkan perjuangan untuk Aceh merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penindasan dan merdeka dari ketidakadilan.”
“Aku akan berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. Dalam keyakinan kami, dimanapun tirani harus tumbang!”
***
Suara ini akan sampai kepadamu Irwandi. Yang akan diantar oleh seorang yang berpura-pura loyal. Menghampirimu sambil membungkuk. Sedang kau duduk di meja makan seperti tuan tanah zaman kolonial. Suara ini akan menjadikan sarapanmu jadi tak enak. Lantas kau marah dan arogan seperti biasa. Tapi aku tidak takut. Karena aku Muda.
Lihat baik-baik!
Mata Muda memerah saga. Menatap geram isi berita…
Lepas Muda membaca, tapi tak lepas geram dihatinya. Ditatap gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Muda melepas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar dari tempatnya. Muda membaca kata SINAR. Muda membaca tulisan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Dibaca berulang dua nama itu. Kemudian, berbisik Muda dalam hati:
"baroe udeep beusare matee beusajan, sikrek kaphan saboh keureunda. Jinoe saboh timphan hanjeut plah dua..."
Sebuah foto tua bergambar seorang gagah berkumis setengah baya ditatap Muda dalam. Foto tua sang Ayah Muda yang gugur dalam rimba pertempuran. Bergegas Muda remas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Digenggam gambar itu. Muda menuju dapur berbelok ke sumur. Dicampakkan gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar sembarang disitu. Gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar yang akhirnya menjadi alas kotoran pagi kucing piaraan. Lepas geram Muda dalam raga, berganti jiwa merdeka yang dirasakannya.
***
Muda santai duduk bersandar di halte tengah kota. Dengan baju lusuh. Celana kumal yang menguning di sisi paha, robek di lutut. Sepatu kumal berdebu berhias juntai benang. Muda memungut selebaran dari Koran harian tentang sosialisasi Qanun Kesehatan yang tercecer. Ada gambar Gubernur disitu. Muda geram menggerutu. “Cuma Qanun omong kosong produk wakil rakyat kapitalis”. “Orang miskin dilarang sakit!”
“Gedung rumah sakit dibangun megah dari bantuan asing. Tapi yang menikmati tetap saja mereka yang punya uang. Yang orang kecil, tidak punya uang, mesti antri dapat giliran. Atau menunggu mati ditengah antrian. Yang katanya jaminan kesehatan cuma omong kosong janji politisi atau birokrat tolol yang coba tarik simpati.”
“Dan si Gubernur ini lebih tidak tahu diri. Orang tua yang disebut Wali saja berobat di kota waktu sakit. Tapi si Gubernur malah berobat ke luar negeri. Dan itu berkali-kali. Pakai uang rakyat. Emank dasar Gubernur gak ada otak! Jadi apa guna dibagun rumah sakit besar disini? Kalau Gubernur dan orang berduit lain tetap berobat ke luar negeri…?”
Muda menarik rambutnya yang kaku meninggi ke atas. Menepuk kawan yang sedang memeluk gitar. “Aku dan kau adalah orang yang anti kemapanan. Gubernur kayak gini harus kita lawan. Maen pakek uang rakyat aja untuk kesenangan pribadi dan bermewah-mewah. Taik kucing lahh!”.
Muda mengenang suatu sore di jalan kota. Ketika iringan mobil Jeep mewah melintas cepat dijalanan. Melewati para pengemis di tiap simpang. Memaksa yang lain menyingkir. Melewati pengangguran yang berjalan di trotoar. Memaksa yang lain minggir. Menyemprotkan debu kepada para tukang becak. Terus memaksa yang lain untuk tetap kasih jalan tanpa berhak bilang: “mobilmu dan jalan ini dibangun dengan uang rakyat bapak Gubernur…!”
Muda berkata lagi: “Sekarang bukan zaman nya lagi ikut Gandhi melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan membiarkan rakyat India dipukuli bertubi untuk mengusir penjajah Kolonial Inggris. Sekarang juga bukan zaman nya lagi kita ikut gaya Jhon Lennon menyerukan damai dengan tiduran diranjang dan memanjangkan rambut untuk menentang kebijakan perang Vietnam”.
Sekarang kita harus menggunakan jalan radikal untuk melawan. Anarki adalah pilihan. Kawan…tolong kau mainkan lagu ‘Bongkar’. 3 tahun Gubernur ini pegang kuasa tidak ada perubahan apa-apa. Semuanya omong kosong. Maka kita harus bakar! Mainkan lagu ‘Bongkar’ kawan. Karena di jalanan kita sandarkan cita-cita.
***
Duduk kaku dikursi ditemani secangkir kopi. Muda larut menatap layar monitor laptop. Tak sadar Muda kalau malam juga semakin larut. Muda lupakan secangkir kopi yang mulai mendingin. Muda menatap serius bacaannya di layar monitor. Muda gelisah bukan main. Folder file kliping media di baca lagi satu persatu-satu. Berita headline tentang isu pemerintahan menjadi fokus perhatiannya.
Diawal pemerintahan gagasan dan program gencar diluncurkan. Kepedulian terhadap rakyat kecil dipertunjukkan. Ke-ekslusifan ditinggalkan. Di awal, Irwandi bilang kalau Innova saja sudah cukup. Tapi nyatanya sekarang nyetir Jeep mewah. Di awal, Irwandi bikin feet and proper test untuk menyeleksi Kepala Dinas. Tapi daya serap APBA terus menurun. Di awal, Irwandi nyetir mobil sendiri, ngebut. Walau sakit tetap nyetir mobil sendiri, sambil pasang infus untuk bilang kalau lagi sakit. Di awal, Irwandi sahur dirumah Nek Aisyah. Tapi ternyata itu cuma di awal. Nek Aisyah cuma jadi bagian “sensasi” Irwandi.
Muda makin gelisah. Kerabat yang korup dilindungi oleh Irwandi. Irwandi lebih sering ke luar negeri daripada melihat rakyat di daerah sendiri. Walau terus menerus dikritik. Irwandi tidak juga bikin evaluasi. Irwandi tidak peduli. Serapan anggaran lemah, Irwandi cari alasan pengesahan telat. Kalau pengesahan tepat waktu, bikin alasan lain kalau kontraktor belum ambil amprahan. Dunia ini memang penuh pabrik alasan. Dimana sekarang Kredit Peumakmu Nanggroe? So nyang ka makmu jinoe…??? Irwandi atawa rakyat Aceh?
200 Ha Hutan Aceh per tahun hilang. Tapi Irwandi masih gagah bicara Aceh Green di luar negeri. Jualan hutan Aceh subur kepada asing, untuk kemudian dapat untung sendiri. Muda gelisah rumah hak korban konflik terabaikan. Pembangunan SDM dan lapangan kerja terabaikan. Pembangunan sarana pendidikan yang baik dan berpihak kepada rakyat terabaikan. Penegakan syariat Islam terabaikan. Perhatian kepada petani, nelayan, dan guru terabaikan. Perencanaan ekonomi yang mensejahterakan rakyat terabaikan. Dan yang tidak pernah terabaikan dan itu diakui sendiri oleh Irwandi adalah perempuan cantik, jalan-jalan ke luar negeri dan mengendarai mobil mewah.
Muda mengakhiri gelisah dengan lelah. Lelah akan macet nya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Lelah akan keadilan yang tidak juga kunjung datang. Lelah dengan pemimpin pemerintahan yang mempertontonkan kezaliman dan penindasan dengan bangganya. Kelelahan Muda dijawab dengan: “sudah cukup!”. Sambil mencopot kacamata, Muda berteriak, “ganti pemerintahan…!!!”
***
Muda yang ini sedang membaca sebuah buku bersampul merah. Dengan judul yang ditulis dengan warna hitam. Berisi perintah untuk menggusur kaum tua yang konservatif, korup dan feodal. Dan menggantikan nya dengan gerakan muda yang diisi oleh orang muda yang cerdas, berani dan progresif. Jemari Muda terus membolak-balikkan halaman demi halaman buku. Jemari yang tampak legam karena sering disengat matahari. Dahi Muda mengkerut membaca beberapa kalimat yang ada dibuku. Dahi yang sering terbakar dan dicium debu jalanan.
Kepala Muda terasa berat oleh jejalan kalimat-kalimat yang ada dibuku. Ruangan kosong terasa penuh oleh orang-orang yang Muda kagumi. Orang-orang yang lebih dulu memimpin. Orang-orang yang merasakan penderitaan sepanjang hidupnya. Orang-orang yang dibuang karena sangat ditakuti. Orang-orang yang ditahan tapi semangatnya mampu menembus tembok penjara dan membangkitkan semangat perlawanan. Orang-orang yang akhirnya mati dibunuh, tapi jiwanya tetap hidup disetiap sanubari para pejuang. Dan mereka adalah orang-orang Muda.
Muda tak tahan untuk melanjutkan membaca. Terlintas dibenaknya bagaimana orang Muda disekitarnya telah mati jiwa dan rasa. Orang Muda yang kemudian hidup oleh cita-cita masa lalu dan tidak memiliki cita-cita sendiri. Telah dikubur keberanian dan semangatnya oleh ketakutan akan kelaparan dan penderitaan. Orang-orang Muda yang tidak lagi memiliki arti untuk manusia lain.
Muda menutup buku dengan sebuah hentakan. Dirasakan kekecewaan akan bobroknya pemerintahan. Apa yang menjadi cita-cita ternyata harus kandas di ban mobil mewah dan terbentur meja negosiasi kepentingan elit. Muda hampir merasakan mati. Sebelum harapannya menghidupkannya kembali. Bahwa waktu belum menjauh. Jadi belum ada kata terlambat.
Muda mengenang…Bagaimana gaduhnya jalanan yang dilalui ribuan tapak kaki. Bagaimana riuhnya teriakan ‘hidup rakyat Aceh’ menggema. Bagaimana napas perjuangan masih cukup untuk menghidupkan keyakinan rakyat Aceh yang hampir musnah harapan nya karena konflik dan tsunami. Itu adalah kenangan Muda yang berjuang bersama ratusan ribu Muda lainnya untuk melahirkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang sesuai dengan MoU Helsinky dan cita-cita rakyat Aceh. Muda bergumam dalam perih, “meloloskan calon independen dalam pemilihan kepala daerah Aceh, ada keringatku disitu”.
Dan gumam Muda terus berlanjut. Dalam kenangan Muda yang makin legam kulitnya. Makin habis suaranya. Tapi Muda membawa kenangannya dengan penuh kecewa. Harapan yang dititipkan 3 tahun lalu berbuah pahit. “Irwandi dan Nazar adalah sebuah kesalahan…!!!”
Muda merasa harus menghentikan segalanya. Karena Muda terpaksa merasa berdosa atas kerakusan dan keserakahan penguasa. Mereka adalah orang-orang yang sudah lupa dengan nilai-nilai perjuangan. Dan hukuman bagi orang-orang yang lupa dengan nilai perjuangan dan orang-orang yang dulu bersama dalam perjuangan adalah mati sebagai pecundang, bukan sebagai pejuang.
Muda berdiri. Menatap sebuah foto yang terpasang diruangan itu. Di depan foto Panglima Tertinggi As-Syahid Tgk. Abdullah Syafii, Muda bersumpah….”aku akan melanjutkan perjuangan untuk Aceh merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penindasan dan merdeka dari ketidakadilan.”
“Aku akan berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. Dalam keyakinan kami, dimanapun tirani harus tumbang!”
***
Suara ini akan sampai kepadamu Irwandi. Yang akan diantar oleh seorang yang berpura-pura loyal. Menghampirimu sambil membungkuk. Sedang kau duduk di meja makan seperti tuan tanah zaman kolonial. Suara ini akan menjadikan sarapanmu jadi tak enak. Lantas kau marah dan arogan seperti biasa. Tapi aku tidak takut. Karena aku Muda.
Lihat baik-baik!
Diperbarui 24 menit yang lalu · ·
Langganan:
Postingan (Atom)
