Rabu, 05 Mei 2010

Program ReRa Untuk Kawan-Kawan MAPALA

Bagi yang mengetahui, judul tulisan ini barangkali agak menggelitik dan membongkar kemapanan berfikir. Memang, judul di atas merupakan sebuah “kenakalan berpikir” yang lahir dari kecemasan akibat melihat “kekuatan-kekuatan besar” yang disangka memiliki daya dobrak yang besar, nyatanya serupa dengan hembusan kecil yang hanya sanggup untuk memadamkan lilin.


Kalau ada yang duluan berkomentar bahwa ReRa itu merupakan program militer, barangkali pantas kalau pertanyaannya disambung menjadi, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”. Sebelum menjawab pertanyaan itu, tentu perlu mengupas secara singkat apa itu ReRa.


Dalam sejarah Indonesia program Restrukturisasi dan Rasionalisasi atau yang sering disebut ReRa menjadi sebuah terobosan bagi militer Indonesia di awal periode kemerdekaan. Secara garis besar program yang dicetuskan oleh Mohd. Hatta ini bertujuan untuk melakukan ‘Restrukturisasi’ atau perampingan segi jumlah tentara Indonesia. Serta ‘Rasionalisasi’ merupakan proses dimana individu membangun logika yang benar dan sistematis untuk digunakan pada keputusan. Serta proses indoktrinasi untuk menyatukan proses mental yang berbeda. Hatta melakukan restrukturisasi dan rasionalisasi bukan karena tidak ada alasan, tapi pemerintah tidak sanggup membiayai banyaknya tentara yang dimiliki negara setelah berhasil merebut kemerdekaaan dan menindak lanjuti perjanjian Renville agar secepatnya membentuk Negara Serikat Indonesia.


Catatan sejarah memang tidak seluruhnya mengabarkan kebaikan dan dampak positif dari program ini. Karena justru dari pelaksanaan program ReRa, banyak tentara laskar rakyat yang jumlahnya lebih besar dan lebih besar perjuangan nya dalam kemerdekaan justru pada akhirnya disisihkan. Namun beberapa pengaruh positif justru menjadi patokan pembangunan militer dan inspirasi bagi organisasi lain.


Kembali menjawab pertanyaan di bagian awal tentang, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”, jawaban nya adalah “banyak persamaan, sedikit perbedaan”. Mapala sebagai sebuah organisasi kampus yang menjadi tempat berkumpul para mahasiswa pencinta alam, dikenal memiliki kekuatan solidaritas dan kekompakan yang tinggi. Senang berpetualang di belantara hutan. Dan perlengkapan yang mapala punya, sebelas dua belas dengan perlengkapan punya militer. Selain itu organisasi mapala juga dikenal dengan latihan disiplin ala militer dan sistem komando dalam menggerakkan organisasi. Persamaan atau sedikit perbedaan yang lain, biarlah kawan-kawan Mapala atau serdadu militer saja yang menjawab.



Tantangan “petualangan” baru


Program ReRa yang dulu menjadi wacana militer Indonesia, rasanya pantas di wacanakan kembali di dalam tubuh mapala, dan ini didasarkan pada kebutuhan serta kondisi faktual-objektif yang terjadi hari ini.


Kondisi begitu ‘bejibun’nya permasalahan lingkungan yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan kemudian, seharusnya menyadarkan kawan-kawan mapala untuk turut ambil andil dalam perbaikan dan perubahan. Persoalan yang tengah marak seperti, penebangan liar, pencemaran udara, serta kerusakan lingkungan akibat penambangan, harusnya juga menjadi wacana baru untuk kemudian melahirkan tindakan baru. Inilah yang disebut Rasionalisasi ‘ala Mapala.


Kebutuhan akan pentingnya individu-individu atau kader yang turut ambil bagian dalam mewacanakan dan mengambil tindakan konkrit dalam menyelamatkan lingkungan, menjadi argumen yang rasional untuk “menggemukkan” organisasi mapala dengan anggota yang jumlahnya puluhan bukan belasan. Inilah yang disebut Restrukturisasi ‘ala Mapala.


Kemudian rasanya pantas mapala juga mengambil doktrin politik “Jalan Tengah” hasil buah pikir Jenderal A.H. Nasution, yang kemudian melahirkan doktrin Dwifungsi Militer yang kita benci itu, menjadi wacana baru yang ‘ala mapala. Kalau dalam doktrin Dwifungsi Militer, militer sebagai fungsi pertahanan-keamanan juga ikut dalam fungsi politik-pemerintahan. Maka Dwifungsi Mapala yang pantas diwacanakan adalah; pertama, mapala berfungsi untuk penyaluran minat dan bakat. Kedua, fungsi mapala sebagai sebuah ‘Gerakan Lingkungan’. Dwifungsi Mapala ini tentu akan menjadi sebuah Tantangan “petualangan” baru bagi kawan-kawan mapala.


Yok lihat lebih dalam


Kita buka mata dan telinga, kemudian mencoba untuk ‘fair’ menilai. Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam ruang pikir kawan-kawan mapala, bukan bagian dalam ruang pikir NGO-INGO lingkungan yang berselemak di Aceh.


Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam aksi nyata dan tindakan konkrit kawan-kawan mapala, bukan bagian dari latar belakang proposal dan program plan NGO-INGO lingkungan yang berserak di Aceh.


Jadi seharusnya, mapala tidak menjadi “gerbong sempit” yang digerakkan oleh lokomotif NGO-INGO. Tapi sejatinya memimpin sekaligus menjadi lokomotif yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat Aceh termasuk NGO-INGO untuk ikut serta dalam perbaikan dan penyelamatan lingkungan.


Dan kembali, sebuah kabar duka kalau mapala dapat bergerak ketika “infus donor” mulai dialirkan kedalam tubuh organisasi mapala. Kekuatan solidaritas, semangat bertualang, disiplin, komando, dan kekompakan, mestinya menjadi modal besar untuk mengkomadoi gerakan lingkungan di Aceh.


Kalau kawan-kawan mapala masih menganggap Soe Hok Gie sebagai pendiri, maka mapala mesti menjadi gerakan, dan tak sekedar hobi. Karena Wanadri juga bukan sekedar hobi.

Pembodohan di ‘Hardiknas’ Oleh Mendiknas dengan judul: “Televisi Pendidikan Untuk Mencerahkan Anak Bangsa Di Daerah Tertinggal

Dalam suatu ruangan kelas yang pengap dan sempit. Murid-murid yang tidak bersepatu di sebuah Sekolah Dasar di Timika Papua sedang serius mendengarkan pengajaran dari bu guru. “Anak-anak… agar kalian dapat lebih cepat paham yang ibu ajarkan tadi, juga supaya bisa mempraktekkannya dirumah, jangan lupa rajin-rajin menonton TV Cita. Ketrampilan yang ibu ajarkan tadi juga ibu dapat dari menonton acara itu anak-anak….”.

Ya. Itulah barangkali gambaran yang ada di pikiran Hary Tanoesudibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) grup, yang juga Direktur Utama PT Global Mediacom, Tbk, sebuah perusahaan raksasa yang menggandeng Kemendiknas untuk meluncurkan program TV Citra Indonesia Terampil (Cita). Sebuah acara seremonial yang akbar dipersiapkan untuk mendukung peluncuran program ini. Acara ini juga dihadiri para kepala sekolah, guru, juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA, se-DKI Jakarta. Para pejabat menggandeng ibu pejabat dari Kemendiknas dengan berstelan jas lengkap turut hadir bersama seluruh pemilik saham dan petinggi dari perusahaan televisi dan komunikasi terkemuka di tanah air ini.

Rasa-rasanya, sebuah acara seremonial ini begitu selaras dan menjadi kabar bahagia di hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei memang sengaja dipilih oleh MNC dan Kemendiknas untuk menunjukkan betapa pedulinya pemerintah untuk memajukan pendidikan dan betapa bermurah hatinya sebuah perusahaan besar seperti MNC dalam mengangkat pendidikan Indonesia dari ketertinggalan.

Menteri M. Nuh sampai memberi komentar, "MNC bisa menjadi sumber inspirasi bagi kawan-kawan. Para perusahaan-perusahaan, tidak usah ragu untuk membantu dunia pendidikan karna pasti itu jatuhnya ke kita sendiri. Saya kira ini contoh yang bagus untuk sumber inspirasi,".

Terlihat sangat luar biasa! Tapi mari kita lihat lebih jeli. Ternyata program televisi ini hanya dapat dinikmati lewat saluran tv kabel (berlangganan) Indovision. Lantas, kita wajib bertanya, bagaimana pelajar di daerah tertinggal dapat menikmati siaran tv ini? Apakah harus beli tv dulu kalau tak punya tv? Lalu setelah punya tv mesti beli seperangkat alat tv kabel dan berlangganan tv kabel? Kalau tak sanggup beli tv bagaimana? Apakah pemerintah mau menyediakan tv sekaligus tv kabel untuk tiap rumah di pelosok??? Karena pemerintah pasti tahu kalau kami yang katanya masyarakat daerah tertinggal untuk makan saja susah!

Terlalu! Ini jelas-jelas penipuan dan pembodohan! Simaklah, ternyata Sky Vision (Indovision), merupakan anak usaha PT Global Mediacom yang tergabung dalam MNC group. Kalau Direktur Global Mediacom adalah Harry Tanoesudibjo, maka Direktur Sky Vision (Indovision) adalah Rudy Tanoesudibjo yang merupakan abang kandung Harry Tanoe. Ya, kedua bersaudara inilah yang kemudian menggerakkan bisnis televisi di Indonesia. Dan kedua bersaudara inilah yang juga mengotori hari pendidikan nasional dengan siasat licik yang pantas distempel dengan kapitalisme pendidikan.

Dan kedua kakak beradik Rudy Tanoe dan Harry Tanoe dalam dunia “bisnis” juga disebut sebagai Mafia Indonesia yang disebut ‘Geng Sembilan’. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan cari tahu sendiri siapa-siapa ‘Geng Sembilan’ ini.

Dan begitu menjijikkan rasanya apa yang disampikan Harry Tanoe dalam pidato seremonial, "Ini dilandasi keinginan kami untuk berpartisipasi ambil bagian dalam membangun bangsa kita. Karena masih banyaknya masyakat yang belum mengenyam pendidikan, oleh karena itu kami memikirkan cara cepat untuk membantu yaitu dengan menggunakan satelit yang bisa menjangkau seluruh pelosok melalui program keterampilan yang singkat dan padat. Dengan demikian banyak masyarakat kita yang bisa dibantu,"

Teranglah sudah, Harry Tanoe meluncurkan program “baik” siaran Tv Edukasi Cita yang dijalankan oleh perusahaan nya Global Mediacom, dan kemudian si kakak yang memiliki perusahaan Sky Vision (Indovision) melahap keuntungan sebesar-besarnya. Karena, rakyat yang mau menonton Tv Cita (Harry Tanoe), mesti beli dulu satu set tv kabel Indovison (Rudy Tanoe).

Akhirnya rakyat juga yang dibodohi. Ditipu sampai mati. Program Tv edukasi Cita yang “mulia”, yang kita sangka “murah hati” nya pengusaha, ternyata modus baru menipu rakyat untuk menghisap kapital berlipat-lipat ganda. Bayangkan, berapa harga tv kabel itu, 1 juta? 2 juta? Berapa harga berlangganan nya, 300 ribu? 500 ribu? Rakyat daerah terpencil mana yang sanggup membayar…??? Apakah Timika..? Apakah Majene..? Apakah Kluet..? Apakah Nemberala..?

Dan bagaimana kalau pemerintah yang terpaksa menyediakan televise plus tv kabel Indovision. Apakah Anggaran Pendidikan Nasional..? Ataukah APBD..? Ataukah APBK..?

Karena simaklah kembali, pemerintah menyediakan balai-balai pendidikan dan pelatihan keterampilan di seluruh Indonesia, yang di bawah Kementerian Diknas, akan menyiarkan program pelatihan dengan nama TV Citra Indonesia Terampil (CITA) melalui Indovision di channel 845. Nantinya masyarakat yang mengikuti kelas pelatihan tersebut akan dapat menyaksikan dan mempraktekan tayangan dari program pelatihan yang disuguhkan. Untuk perangkat siaran, saat ini sudah terpasang 100 set perangkat siaran yang diletakkan di balai-balai pendidikan di seluruh Indonesia. Nanti diakhir tahun, target terpasang ada 1.000 perangkat siaran. Lucu sekali, dagelan persekongkolan menteri kapitalis dengan pemodal.


Benar-benar pemerintah telah menjadi budak para pemodal, bermain di lingkaran kekuasaan untuk mengeruk keuntungan dari uang rakyat. Pemerintah saat ini adalah komprador-komprador pemodal. Agen-agen neoliberalime. Dan dengan senang hati menjual “masyarakat daerah terpencil” untuk kenyang perut sendiri. Itu dilakukan ditengah siaran tv silang berganti menayangkan rendahnya fasilitas pendidikan, beberapa pelajar berprestasi, trauma pelajar karena UN, pelajar-pelajar yang putus sekolah, dan mahalnya ongkos pendidikan. Di hari ini, 2 Mei 2010, hari pendidikan nasional.

Ironis!

*M. Fauzan Febriansyah (aktivis mahasiswa Aceh) …. Meneriakkan kata: “LAWAN!”

Kuberi Judul: “Nyala Hidup, Hidup Nyala…”

Suatu ketika guru bijak mengajukan pertanyaan. “ada dua buah bola lampu. Bermerk sama, perawatan yang sama, sama-sama 15 watt, dan dulu dibeli di toko yang sama, pokoknya semuanya sama”. Dengan mimik yang lebih serius sang guru bijak melanjutkan… kemudian mengangkat tangan, mencontohkan sambil menjelaskan. “Tapi anehnya, yang satu Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…” Tangan sang guru bijak pun berkedap-kedip.

“Dan yang satu nya lagi hiduuuuuppppp terusssssss……” Nah, Pertanyaan nya adalah bola lampu yang mana yang paling banyak menghabiskan arus….??” Bocah gondrong menjawab yang hidup-nyala, hidup-nyala. Yang lain nya pun serempak menyahut “yang hidup-nyala, hidup-nyala guru!” Sang guru bijak pun terkekeh. Membiarkan pertanyaannya tersimpan dalam ruang penasaran di pikiran bocah-bocah yang mendengar.

***

Di sebuah kamar dengan sebuah lampu yang akhir-akhir ini lebih sering padam. Daripada hidup, atau hidup-nyala, hidup-nyala. Cahaya-cahaya yang menerangkan cuma berasal dari lampu layar telepon seluler blackberry yang makin sering digenggam oleh pelacur ibukota. Layar blackberry pun menampilkan laman jejaring sosial facebook yang sekarang dijadikan media transaksi pelacur ibukota. Namun yang bikin beda dari barang milik pelacur ibukota adalah “lempar-lempar” komentar di bawah status facebook antara satu blackberry dengan blackberry lain. Blackberry yang satu hiduuuuupppp terusssss, dan satunya lagi hidup-nyala, hidup-nyala.

Lempar-lempar komentar makin ngeri. Aroma politik yang menebar bau amis, padahal entah kapan telepon seluler baunya amis. Komentar-komentar yang tarik garis dan bikin sudut. Bikin blok kiri dan blok kanan. Merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan. Kalau dibilang kanan, blackberry dan facebooknya terbilang kiri. Hah…! Ini lakon koq mirip Nagabonar. Ada Jenderal selepas main catur, kemudian tarik-tarik garis di tanah, dan ribut lagi soal muka bapak siapa yang digambar. Beralihlah ribut soal garis-garis ditanah yang kata Jenderal Nagabonar itu muka nya bapak Jenderal Mariam. Halah… padahal keduanya bukan jenderal. Dan kenapa pula dari main catur, ributnya soal garis kiri dan garis kanan…?! Ini zaman sudah maju 100 tahun, atau mundur 100 tahun…?? Mestinya ini zaman maju 100 tahun, tapi para Jenderal nya punya karakter para Jenderal 100 tahun lewat.

Tapi ini zaman memang keblinger. Blackberry hidup terus, facebook hidup-nyala, hidup-nyala…tapi listrik padam terus. Yang protes listrik padam terus, juga dari yang punya blackberry yang hidup terus, dan facebook yang hidup-nyala, hidup nyala.

Ini zaman memang keblinger, semua sama-sama punya blackberry, sama-sama pakai facebook, sama-sama rasain listrik padam, dan sama-sama merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan… tapi, ini zaman suka bikin ribut yang suka sama-sama. Entah keblinger yang pernah bilang “sama rata, sama rasa”. Atau keblinger yang baca “sama rata, sama rasa”.

Ini zaman memang keblinger. “Keblinger” persis dengan makna Soekarno mengucap keblinger! Berteriak ‘hidup’ rakyat di blackberry, mengutip kalimat dari pamflet ‘Njala’ di facebook. Ini zaman dengan orang-orang yang persis dengan judul buku Soe Hok Gie “Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan”. Tapi, entah orang kiri yang berada disimpang? Atau, entah orang yang sedang berada di simpang kiri?... Tapi yang pasti, ini zaman dengan orang-orang yang sukar bedakan hidup dan nyala.

Ini zaman dengan orang-orang yang mempersoalkan, mana yang teriak ‘hidup’ rakyat! Dengan sebenar-benarnya teriakan ‘Hidup Rakyat’…! Dan mana yang menulis seperti pamflet ‘Njala’! dengan sebenar-benarnya tulisan ‘Njala’…!

Ini zaman betul-betul keblinger. Tiga ‘setan oeang’ berdiri mengangkang dan berak di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Dan tiga setan oeang sedang menghitung berapa tumpuk duit yang bisa dibagi, sambil melirik berapa tumpuk taik yang sudah menghias di kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Setan pertama bersungut listrik, dengan perut buncit disesaki kapital. Kapital yang diperoleh dari nilai lebih hasil hisap-menghisap arus listrik milik Bu Minah penjual es mambo di kantin SD, dan bang Him si tukang las. Setan bersungut listrik mulai menghitung tetesan-tetesan kapital yang bisa dibagi ke setan kedua dan ketiga. Setan kedua menenteng senjata, senjata dari pajak pak guru Sofyan dan pajak hasil keringat pedagang eceran. Setan ketiga berselempang bendera, yang sedang laku di pasar politik dan meja kerja kepala dinas. Dan ketiga setan sedang bekerja menyusun cara untuk melipat kapital, mengajak setan yang lain menikmati tetesan sambil terbahak menyaksikan tumpukan taik di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala.

Orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala sedang keblinger! Bertengkar remeh temeh dengan gaya debat Aidit, Disman dan Nyoto di kantor CC. Tapi medan tengkar pun di blackberry dan facebook yang jadi mahakarya imperialis-kapitalis sekarang. Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu imperialis. Imperialis yang tidak sama dengan amtenar-amtenar dan pejabat pemerintah.. . Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu kapitalis. Kapitalis yang tidak sama dengan bangsa asing, yang tidak sama dengan negara-negara maju. Imperialis itu adalah hasrat untuk menguasai atau mempengaruhi ekonomi-politik bangsa lain. Yang bukan hanya kita temukan pada bangsa-bangsa Amerika dan Eropa, tapi juga pada nafsu Sriwijaya yang menaklukkan semenanjung Malaka, kerajaan Melayu dan negeri Campa. Juga kita temukan pada Majapahit yang mempengaruhi semua pulau nusantara, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Sekali lagi, imperialis adalah soal hasrat mempengaruhi dan menguasai.

Dan kapitalis itu sesederhana ceramahku pada bocah-bocah yang baru selesai bermain bola. Kapitalis itu adalah bola Nike yang dengan gagah dimainkan Lionel Messi pada sebuah iklan. Kulit bola Nike diambil dari kulit lembu petani miskin di Sri Lanka dan Afrika. Dijahit oleh anak-anak yatim di Palestine dan Aljazair. Dipermak oleh buruh-buruh di Brazil dan Ekuador. Dengan upah si yatim dan para buruh tidak lebih dari 2 dollar untuk pekerjaan selama 12 jam sehari. Dan sampai ke pabrik utama di Amerika, kembali bola-bola itu sampai ke tangan-tangan para imigran gelap dari Afrika, Mexico dan Kuba, untuk di percantik dan dikemas lebih menarik. Dan setelah dipasarkan dengan gambar Lionel Messi, harga bola Nike itu pun melambung menjadi 60 dollar!!! Berpuluh kali lipat harganya setelah disentuh tangan yatim Aljazair dan keringat buruh imigran gelap Kuba. Disitulah dia kapitalis. Suatu sistem yang timbul dari cara produksi yang memisahkan para buruh dengan alat-alat produksi. Dan memakan keuntungan berkali lipat dari keringat dan kerja keras para buruh. Tapi tapi tapi… disitulah blackberry yang cantik diproduksi dan dipasarkan. Diproduksi dengan cara-cara kapitalis, dan dipasarkan dengan cara imperialis!

Dan memang ini zaman keblinger. Santai-santai orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Menggenggam blackberry, menyalakan facebook, berdiskusi, saling sindir, sampai debat kusir, dengan penuh semangat dan menyala-nyala. Ini soal bukan soal menggunakan teknologi, ini soal bukanlah persoalan mengikuti tren tapi tetap kritis. Ini antara persoalan prinsip dan implementasi, dibumikan menjadi aksi dan reaksi.

Tapi tapi tapi… prinsipnya kiri, implementasi borjuasi, aksi-nya massa, reaksi-nya ereksi kemudian o-na-ni, olah sana sini! Ah zaman.., aku tak berani menyebut diri kiri, karena kiri itu adalah pilihan hidup, tata cara pergaulan hidup. Dan aksi massa itu adalah sarana menuju cita-cita, cita-cita untuk hidup sama rasa-sama rata. Tapi tapi tapi… kini prinsip jadi jargon, dan sarana menjadi alat tukar di meja negosiasi.

Baiklah, okelah kalau begitu. Silahkan lanjutkan perang urat saraf prinsip, dan aksi massa negosiasi.

***

Buatku dan kau, kau dan kau, yang baru memulai, dan belum berada di simpang. Kiri itu adalah cara pandang hidup, yang berada di dalam massa, susah senang dengan massa , dan berjuang untuk massa. Bermusuhan dengan imperialisme dan kapitalisme. Berkawan dengan mereka yang tertindas, dan orang-orang yang berusaha hidup untuk menyala!

Buatku dan kau, kau, dan kau, yang ngefans dengan yang berbau kiri. Banyak-banyaklah kita membaca, hemat-hematlah berbicara, dan pandai-pandai melihat dan menimbang-nimbang, karena salah benar bukan cuma urusan Tuhan.

Dan ingat pesan Che, dalam persatuan ada kekuatan. Juga belum ada gerakan yang menimbang-nimbang main hati. Kalau terlalu banyak main hati, bergabunglah bersama Andra and The Backbone, atau jadilah anak band.

Buat yang tak paham antara hidup terus dan hidup-nyala hidup-nyala, keduannya sama aja tolol!

Dan buat yang berada di simpang jalan, sering-sering kau lewat disimpang Kodim, persis di depan kantor Golkar, ditempat yang sering mangkal Polantas yang suka merazia seenak perutnya itu. Nah, kau tengok ada rambu jalan dengan tulisan “KE KIRI JALAN TERUS”…..!!!

***

Sorry mamen kalau curhat, ke tower juga kita akan ngopi…ha ha ha!!!

Selasa, 02 Februari 2010

Uraian Pertanggung Jawaban Pada Milad Ku ke-23; Kritik dan Otokritik

23 tahun sudah. Aku tulis ini sebagai suatu pertanggung jawaban. Bahwa panjang usia berbanding lurus dengan tanggung jawab untuk memenuhi fitrah manusia sebagai khalifah di dunia dan menjadi berguna bagi sesama. Karena memang, semua yang dicipta-Nya, terutama di bumi manusia, tidak ada yang lahir sia-sia. Maka hanya aku tulis. Sebaris demi baris. Karena aku tidak mau menjejak di atas pasir pantai, yang sebentar disapu ombak hilang tak berbekas. Juga supaya suara ini tidak hilang ditelan angin. Dan sebagai “perjuangan melawan lupa” sebagaimana ditulis Milan Kundera.

Judul surat ini sama sebagaimana judul pledoi yang pernah disampaikan kawan Disman pada sidang Mahmilub Juli 1967 pasca peritiwa ’65. Tapi sebagaimana Disman, aku juga tak mau surat ini disebut pledoi. Karena bukan untuk membela diri dan mengelak kealpaan, dari sepancung umur yang ditambahNya dari 22. Yang selama setahun ini telah terjadi begitu macam rupa. Melainkan tulisan ini sebagai cermin mawas diri. Sebagai dera. Dan sebagai kawan yang mengingatkan.

Aku kembali harus menunduk dalam dan memberi penghormatan bagi mereka-mereka yang sudah, sedang dan terus berjuang. Selamanya, salamku… hanya untuk kalian, para pencari kebenaran dan pejuang keadilan.

Untuk kalian yang bersabar dan mengasihi tanpa pamrih; ternyata anakmu telah makin tua ma... Entah dia makin dewasa atau tidak. Entah dia lebih berguna atau tidak. Entah dia telah lebih banyak bersyukur atau tidak. Entah dia bisa membahagiakan atau tidak. Tapi kau tetap berdoa untuknya. Tetap kau beri kasih sayang yang tak pernah kurang. Tetap kau beri kehangatan. Tetap kau beri pijatan saat dia penat dan lelah. Tetap kau masakkan kesukaannya. Tetap kau terjaga saat dia sakit. Dan kau lakukan itu semua, terkadang saat kau benar-benar lelah. Tapi kau enggan menjawab nanti. Kau buang jauh kata tidak.

Aku menemukan jemarimu yang telah tua. Tanganmu yang mengeriput. Wajahmu yang tak lagi seperti dulu. Kurasakan bahwa semuanya ternyata begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tidak lagi tidur di ayunan sarung yang digantung dipintu. Rasanya baru kemarin kau menemaniku mendaftar TK dan menungguku seharian. Rasanya baru kemarin aku tidur manja dipelukanmu. Tapi waktu begitu cepat. Rupanya sekarang aku makin jarang ada dirumah. Rupanya aku terlalu sibuk dan tak bisa makan dirumah. Rupanya sekarang aku bilang tak sempat untuk membantumu, meringankan tumpukan pekerjaan rumah.

Kau selalu bersemangat dan punya waktu untuk menanyakan apa saja yang sedang kukerjakan sekarang. Tapi aku tak punya waktu untuk bertanya apa yang bisa kubantu untuk kukerjakan. Kau hanya bisa mengeluh lelah. Tapi lelah tak juga bisa menghentikanmu, untuk tidak memasak dan mengurus rumah. Lelah juga tak bisa menghentikanmu untuk sejenak meluangkan waktu beristirahat. Lelah membuatmu makin bersabar, bersyukur dan berdoa…

Ternyata anakmu telah makin tua pak… Entah dia bisa mandiri atau tidak. Entah dia lebih tekun atau tidak. Entah dia lebih bertanggung jawab atau tidak. Entah dia bisa membanggakan atau tidak. Tapi kau tetap berjuang untuknya. Kau selalu berusaha berikan yang terbaik. Kau selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya. Diantara kelebihan dan kekurangan kau berpesan untuk selalu bersabar.

Aku melihat uban dirambutmu. Mendengar kau yang mulai mengeluh sakit. Merasakan kegagahanmu yang mulai dimakan oleh waktu. Memang waktu begitu cepat pak. Rasanya baru kemarin kau memapahku belajar jalan. Rasanya baru kemarin aku merengek minta dibelikan mainan. Rasanya baru kemarin kita pergi jalan-jalan. Rasanya baru kemarin sore kau mengantarku pergi mengaji. Ternyata sekarang kita makin jarang terlihat bersama. Makin tua usia, dua laki-laki pun terpisah dengan sendirinya.

Padahal aku belum lupa tiap sore aku merengek minta jalan-jalan dan dibelikan mainan. Kau buang jauh-jauh lelah dan mengajakku putar-putar kota. Jalur biasa, Mesjid Raya, Blang Padang dan Simpang Lima. Tapi sekarang kita makin jarang jalan bersama. Rupanya jalan-jalan itu cuma persoalan anak kecil saja. Seperti nasehat-nasehat bijak yang kau beri pada saat aku kecil dulu.

Tapi masih kuat dibenakku nasehat-nasehatmu dulu. Ternyata dia tumbuh berurat berakar. Kau memang makin banyak diam. Tapi aku yang mulai banyak bertanya sekarang. Karena aku makin takut kita semakin hening dalam kesunyian. Walau kutahu kau selalu melihatku. Selalu memperhatikan dan mendengarkan. Memang kita laki-laki yang tidak banyak berbeda. Kau menurunkan sifat dan perangai yang serupa. Walau kutahu tentu saja kau mengharap lebih padaku. Mengharap aku melakukan dengan lebih baik, lebih bijak, lebih berani, dan lebih cermat dibanding dengan yang telah kau lakukan dulu. Dan mengerjakan nya dengan lebih sabar, lebih tekun, lebih disiplin dan lebih ikhlas.

Sekarang aku yang harus memperhatikanmu seksama. Mengajakmu untuk terus berdiskusi. Hingga bisa kutemukan kekuranganmu yang harus kita perbaiki bersama dalam diriku. Karena kau tidak menulis maka aku belajar untuk menulis. Karena kau kurang konsisten maka aku belajar untuk lebih konsisten. Karena kau mengalah maka aku berusaha untuk terus menantang. Walau sebenarnya aku merasa kalah jauh saingan dalam pengalaman muda. Pada umur dua tiga mungkin sudah lebih segalanya yang telah kau lakukan dan kau rasa. Telah lebih banyak kesulitan yang kau lalui. Telah lebih matang sikapmu menentukan pilihan. Sedang aku masih saja gegabah dan tergesa.

Kau didik aku untuk dekat dengan alam. Tapi aku lebih memilih televisi dan video game. Dulu kau memelihara banyak ayam, tapi aku hanya berkeinginan memiliki banyak tamiya. Sekarang kau memiliki luang, dan menghabiskan waktu menanam terong, gambas, tomat dan kacang panjang dihalaman depan. Tapi aku lebih menghabiskan luang bersama buku, ngopi, dan dvd. Aku beretorika dan berteori, tapi kau bersikeras mencontohkan terampil dan mandiri. Kau sering berpesan agar menjaga silaturahmi dengan keluarga dan saudara, tapi aku dimanapun dan kapanpun selalu bersama teman sebaya. Karena berkebun dihalaman depan, tangan dan kakimu sering tergores dan diplester. Baru garap kebun dua langkah, tangan dan kaki bisa terluka. Bagaimana tangan dan kaki para pekebun di Samar Kilang?

Ternyata banyak pelajaran dari kehidupan. Begitu baik rupanya kehidupan mentraktirku dengan nilai, faedah, hikmah dan moral. Cuma selama ini kusiakan traktiran kehidupan, hanya karena aku malas berfikir.

Aku dibawa hanyut pada kenangan masa kecil. Bahwa kalian juga tak selamanya bijak. Bahwa kalian lebih sering mengelak ketimbang memberi jawaban atas rasa penasaran. Menghadapi bocah yang semaunya, nakal dan keras kepala. Aku ingat bahwa tayangan tv favoritku dulu adalah lagu Garuda Pancasila yang diputar sebelum tayangan dunia dalam berita. Aku senang bukan kepalang mendengar lagu itu. Merasa gagah dan bangga. Kutatap tv dalam-dalam dan khusyuk mendengarkan. Lagu itu kuhafalkan sampai sekarang. Walau permintaanku sampai sekarang belum dikabulkan. Kenapa tidak bapak bilang saja kalau burung Garuda itu tidak ada? Jadi aku tidak harus menunggu agar bisa kita pelihara.

Dulu aku dipanggil Pak Kontak oleh sanak saudara. Tokoh serial TVRI tentang petani Jawa yang hidup tentram makmur karena kebaikan pemerintah terhadap kaum tani. Tapi kenapa mama tidak bilang kalau aku tidak suka dipanggil demikian. Seharusnya aku didekatkan dengan tokoh pahlawan atau superhero. Bukan petani yang hidup di pedesaan dengan sederhana dan tentram, karena pemerintah sangat memperhatikan.

Memasuki SD, aku ingat saat aku bertanya pada bapak, sebab guru disekolah tidak bisa menjawab. Kenapa cuma ada 3 partai di negara kita? Yang berlambang bintang, beringin, dan banteng. Kenapa bukan 5? Bukankah partai di Indonesia ada 5 sesuai Pancasila? Kemana partai berlambang rantai dan padi kapas? Kau menjawab, “karena sudah begitu diatur pemerintah. Mungkin nanti juga 5. Tapi dulu ada banyak partai di Indonesia”. Ini jawaban lumayan baik. Tidak mengelak dan tidak menipu. Walau aku masih belum puas. Kenapa partai di Indonesia bukan 5 sesuai Pancasila?

Suatu ketika kita pulang kampung. Aku masih SD kelas III. Dirumah nenek sanak famili bercerita, dalam bahasa Aceh yang mulai kumengerti. Bahwa ada lembu saudara yang diambil paksa oleh tentara. Juga ada sanak saudara yang dipukul oleh tentara. Jelas makin tak kumengerti mengapa tentara yang gagah berani jahat kepada saudara di kampungku. Mama merasa aku mengerti, dari melihat raut wajah dan telinga yang kupaksa mendengar. Dalam perjalanan pulang mama mengingatkan supaya jangan cerita-cerita dengan teman disekolah, tentang saudara di kampung kita. Dan ini untuk pertama kalinya aku merasa dibungkam.

Makin besar aku terus menemukan jawaban. Tentang keganjilan yang hidup bersama kita. Jawaban-jawaban yang tak kudapat dari kalian. Karena dari kalian aku hanya didengarkan hal yang baik-baik. Sedang dari koran dan tabung televisi aku melihat keganjilan mulai didebat dan dijawab. Namun sungguh aku merasa kalian adalah orang tua terbaik. Tidak pernah aku dibentak dan dikasari. Ketika suatu kali aku pulang dengan baju kotor karena berkelahi, bapak hanya bertanya, “siapa yang salah dan siapa yang memulai?”. Aku menjawab dengan menangis terisak dan mengaduh.

Barangkali aku belum termasuk yang bersesuai dengan harapan. Mohon maaf pak, tanpa sepengetahuanmu namamu dicatut sebagai sambungan ‘bin’ dibelakang namaku karena aku diperiksa polisi. Karena bukan hanya sekali, lantas kau kemudian mengetahui. Tapi tak ada yang bisa kau lakukan. Karena dari mulutmu kau keluarkan kata tegar menghadapi konsekuensi dari perbuatan. Mohon maaf ma, karena sedikit sekali aku melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia. Padahal tiap malam kau menengadahkan tangan untuk berdoa. Mohon maaf untuk kalian berdua karena doa dan harapan kalian pada namaku, belum mengantarkan kita pada kemenangan. Tapi aku bahagia bersama kalian. Barangkali kalian tidak pernah membaca Gibran. Tapi kalian telah melampaui perasaan dan estetika dari seluruh makna kata-katanya. Aku kutip Gibran, untuk mengingat cara dan perlakuan kalian;

Anak bukanlah anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan…
Cinta kasihmu dapat kau berikan pada mereka, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka mempunyai pikiran sendiri
Raga mereka dapat kau kurung, tapi tidak jiwa mereka
Karena jiwa mereka tinggal dirumah masa depan
Yang tak dapat kau kunjungi
Bahkan tidak melalui mimpimu
Kau dapat berjuang untuk menyerupai mereka
Tapi jangan coba buat mereka menyerupaimu
Karena hidup tidak berjalan mundur
Ataupun berlambat-lambat dengan hari kemarin
Kau adalah busur yang memastikan mereka,
Anak panah yang berjiwa

Aku telah tumbuh dengan jiwaku sendiri. Dengan langkah yang kumulai perlahan, yang hanya kalian bekali dengan kejujuran dan percaya diri. Tidak ada yang kurang dari yang kalian berikan.

Pantaslah hatiku digedor kencang, dan diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”

**
Untuk kalian yang tumbuh bersama disetiap detak nadi; sekarang abang kalian makin tua. Entah dia makin bijaksana atau tidak. Entah dia bisa menjadi tauladan atau tidak. Entah dia senantiasa menasehati atau tidak. Entah dia mampu melindungi atau tidak. Tetap kalian memanggilku abang. Tetap kalian memberikan bantuan saat aku butuh pertolongan. Tetap kalian berikan hangat dalam senyum dan tawa saat kita punya waktu untuk bergurau dan berkumpul bersama.

Aku melihatmu besar dengan semangat yang luar biasa. Penuh percaya diri dengan ketekunan yang semestinya. Sudah sepantasnya aku mengucapkan salut dan bangga padamu. Bahwa ketekunan dan keuletanmu benar menampakkan seberkas cahaya keberhasilan. Kau memang melankolis sejak kecil. Penurut, selalu teratur dan terbiasa menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Sebuah salam hormat dan terimakasih untukmu, yang secara tak langsung menasehatiku untuk lebih ulet, tekun dan rajin.

Ternyata begitu cepat kau dewasa. Tak terbayang saat aku melihat foto masa kecil kita dulu, bahwa kau bisa tegap besar dan percaya diri seperti sekarang. Karena wajahmu selalu memberi kesan pendiam dan pemalu. Tak terbayang aku, bahwa kau juga bisa tampil dengan berani. Padahal dulu, tubuh dan jiwamu yang lemah membuatmu sering ditindas dan tak berani melawan. Tak terbayang aku, bahwa sekarang kita begitu akur, padahal dulu berkelahi adalah urusan kita sehari-hari. Dengan urusan kecil nan sepele. Entah karena mainan, game atau main bola. Walaupun demikian tentu aku tak bisa biarkan kau dipukul atau ditindas, karena aku diingatkan bapak untuk saling menjaga dan melindungi.

Mungkin pantas aku mengingat-ingat mainan kita yang dibeli dua. Diajak jalan-jalan berdua. Dan sepotong-sepotong memori dalam wisata dan tamasya kecil kita berdua. Tapi yang sedikit agak beda, kau lebih sering diajak menginap dirumah saudara, karena memang kau penurut, pendiam dan tak banyak tingkah. Dan aku dari dulu banyak menghabiskan waktu bersama kawan sebaya, karena rupanya menyertai adik dalam permainan masa kecil akan menambah tanggung jawab dan kesulitan.

Ichwan saudaraku, kau telah tumbuh dan besar. Telah punya mimpi dan cita-cita. Mimpi dan cita yang besar pula. Maka sekarang saatnya kita berlomba. Berlomba meraih cita dan mimpi kita. Dan ingat adikku, bukan saatnya lagi kau mengalah kalau aku memaksa ingin duluan, seperti dulu kita rebutan mainan. Juga bukan saling menjatuhkan dan mengalahkan, saat kita berduel di video game. Tapi kita berlomba dan berpacu, siapa yang sampai lebih dulu di garis finish ‘khairunnas anfa uhum linnas’.

Untuk Akmal. Aku menulis ini sambil melihatmu, yang tertidur pulas dan mendengkur. Memang kita dari dulu selalu serasi dan kompak. Sekamar denganmu pun aku tak keberatan. Berbagi sesuatu denganmu juga rasanya menyenangkan. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk demikian kompak. Kita jarang bertengkar dan menyalahkan, karena kita memang mirip pada sifat dan perilaku. Kenyataan bahwa kita serupa membuatku merasa kau adalah teman pendengar dan pengikut yang setia. Entah aku bisa terus menjadi kebanggaanmu atau tidak. Tapi kekagumanmu yang tersembunyi, menjadi cambuk penyemangat untukku berusaha menjadi lebih baik.

Belum lekang dari ingatan, waktu mama melahirkanmu. Melihat dari dekat adik baru yang lucu. Kau usia dua tahun, yang rajin mandi dan selalu rapi jali. Makin bertambah usia, rupanya kau makin nakal dan sulit diatur. Hobimu berganti menjadi penghancur keramik dan penangis yang kencang gemilang. Makin tambah lagi usia, rupanya baru kelihatan kau yang cerdik dan banyak akal. Kecilmu gendut, tapi kurus waktu besar. Kau lincah dan bertenaga. Lihai dan jago mengocek bola. Untuk urusan bola kita berdua sama maniak nya. Aku mengidolakan Raul Gonzales, dan kau mengidolakan Roberto Baggio, idolanya Raul Gonzales.

Sampai sekarang kita menjalani rutinitas, hobi dan kegemaran yang serupa. Kita keluar tengah malam untuk nonton bola bersama. Bertemu di warung kopi yang sama. Memiliki tim sepakbola favorit yang sama. Mempunyai aktivitas sosial yang sama. Menceburkan diri dalam medan pertempuran yang sama. Sampai minat bacaan yang sama. Dan berapa banyak kesamaan lagi antara kita berdua.

Namun kalau boleh aku menyampaikan pesan. Temukanlah mimpi dan citamu sendiri. Tentukan sekarang. Dan lihat sampai dekat, terus dekati dengan penuh antusias dan semangat. Lewati dengan penuh tanggung jawab dan percaya diri. Lakukan dengan usaha terbaik yang bisa kau berikan. Pastikan kau melangkah dengan keyakinan bahwa semuanya mungkin. Hingga mimpi dan cita itu bisa diraba dan digenggam. Dan aku akan berusaha memastikan, bahwa kau berhasil menggenggam mimpi dan citamu sendiri.

Untuk kalian berdua, barangkali aku hanya mengingatkan potongan-potongan memori masa kecil, beberapa tempat, mainan rebutan kita atau kesukaan kita. Sebelum kita benar-benar lupa. Karena aku yakin, sekecil apapun, seremeh apapun, sekilat apapun masa-masa itu lewat. Tapi masa-masa itu telah mengantar kita menjadi hari ini. Maka terimakasih untuk lagu Garuda Pancasila, Unyil, Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya, Spica, Bobo, Doraemon, Detektif Conan, Komik Kungfu Boy, Komik Offside, Lupus, God Bless, P Project, Dewa 19, Slank, Iwan Fals, Bon Jovi, G n R, MLTR, Real Madrid, Batistuta, Baggio, Liga Champion, Winning Eleven dan Football Manager. Terimakasih untuk lapangan Galapagos, kuburan Raja Reubah, BLK, sawah belakang rumah tempat kita mencari ikan laga, Meunasah Al-Hasanah, Rental PS Mentari, dan jalan semen depan rumah yang paritnya sering disinggahi bola kaki saat kita main bola disitu, dan aku belum lupa baunya. Dan terimakasih untuk semua teman-teman yang juga “menghuni” tempat-tempat itu.

Untuk Tia. Barangkali kau terlalu cepat tumbuh, dan aku tak sempat menyimak kedewasaan mu. Tapi sekarang aku sadar bahwa kau bukanlah perempuan kecil yang dulu telah lama ditunggu. Yang sejak semula diharap menjadi penutup dan simpul persaudaraan dari tiga laki-laki. Kau telah dewasa dengan ciri dan watakmu sendiri. Yang berbeda dari ketiga kami. Entah sekarang aku menjadi lebih baik. Atau aku sekarang sudah jarang usil padamu. Namun aku punya harapan besar, kaulah yang menjadi penyangga keutuhan persaudaraan dan keluarga kita.

Cuma sebentar memang aku menikmati kau beranjak. Seiring kemudian aku sendiri pun beranjak dengan kesibukanku sendiri. Tapi bukan berarti aku tak sempat usil dan jahil padamu. Membuatmu lekas marah dan kemudian membanting pintu. Mungkin itulah kejahilan paling menyenangkan dan paling terkenang yang bisa aku berikan untukmu. Rasanya aku ingin mengulang kembali kejahilanku, apabila aku kemudian merindu wajah amarahmu yang merah padam. Namun rasanya, bukan jaman nya lagi buatku dan untukmu.

Kita yang terbelah pasti terlihat indah apabila berkumpul dan berdiskusi. Aku dan akmal yang punya bacaan serupa, kau dan boy dengan bacaan yang serupa pula. Ketika aku ingatkan mama tentang kita yang terbelah dua, mama membalasnya dengan senyum lebar diikuti hela tawa. Barangkali mama bersyukur bahwa kita berbeda-beda tapi tetap akur.

Sekarang kau telah punya mimpi barangkali. Menuju segala keinginan yang kau punya. Dengan jalan yang sudah kau tahu pasti terjalnya. Berkendara dengan segala usaha upaya yang bisa kau lakukan. Namun kalau boleh aku berpesan. Tetaplah memiliki keserdehanaan hati, yang tidak riuh seperti pasar malam. Yang tetap berusaha memberi dikala sempit dan berbagi disaat lapang.

Untuk kita yang punya banyak mimpi, aku mengutip syair Rumi untuk kita,
“kamu dilahirkan dengan sayap, mengapa kamu lebih suka merangkak dalam hidup?”
Maka kalau demikian adanya, tentulah tidak ada pilihan dari kita selain memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita berikan untuk hidup dan kehidupan. Sebelum kita lalai dan akhirnya berbuat zalim dari sebuah nikmat Tuhan.

Hatiku kembali diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”
**

Untuk khadim, Sang Pemula; Pada akhirnya aku berkesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi berdua. Mendengar hentak-hentak suaramu dari dekat. Setelah sebelumnya Sang Pemula hanya merupakan sebaris nama yang sering muncul dalam warta dan penutup dalam sebuah tajuk opini. Namun entah aku bisa benar memahamimu atau tidak. Entah bisa melampaui jejak langkahmu atau tidak. Tetap kau bersedia meluangkan waktu untuk sejenak berbincang atau membalas komentar. Tetap kau sirami gagasan dan nasehat, tanpa kau mendahului dengan pertanyaan: “sudah kemana gagasan dan nasehat yang kemarin? Sudah tumbuh jadi apa gagasan-gagasan dan nasehat itu?”. Entah aku telah membacamu dengan baik atau tidak, tapi tetap ada waktu untuk memberikan jawaban-jawaban bagiku dan beberapa orang yang malas membaca, yang barangkali bisa dipersingkat dengan jawaban, “bacalah buku ini, bab sekian, halaman sekian”.

Dalam kesewenang-wenanganku aku menganggapmu sebagai titisan Tirto Adhi Surjo, yang menjadi sang pemula bagi kebangkitan bumiputera. Tajam sekali kau punya pena. Yang bisa buat pembesar yang kena kritik jadi “moentah darah”. Kau telah memilih menyuluh bangsamu dengan jurnalistik. Lewat tulisanmu kau telah titipkan rasa dan semangat pembebasan dalam hati aneuk bangsa, dan kau gerakkan hati-hati itu dalam mesin organisasi modern.

Seperti Tirto, kau berhasil mengumpulkan dan menggerakkan ribuan orang. Untuk protes, untuk berbicara, untuk menyatakan; bahwa ditanah luhur ini, tanah tempat berdiri orang-orang yang tidak pernah takluk ini, tanah yang memberikan penghidupan ini, tanah yang isinya menjadi penyangga negara ini, telah terjadi penindasan, pembantaian, penghilangan, pemusnahan, pembasmian, dan pelucutan. Terhadap hak asasi, harga diri, martabat, kemanusiaan, kedamaian, keadilan, sejarah dan masa depan!

Maka masih dalam kesewenang-wenanganku, aku makin tak ragu menganggapmu sebagai titisan Tirto, yang juga punya kumis sebesar tinju, yang terlahir dari seorang pemimpin, yang memiliki ketulusan seorang khadim, dan kecakapan menulis yang luar biasa. Dan apa-apa yang kau lakukan itu, apa-apa yang kau buat hingga menggerakkan ribuan orang itu, tanpa mengatasnamakan nabi, raja, wali, keramat, atau iblis.

Ada yang sedikit sulit kumengerti hingga hari ini. Mengapa kau memberikan buku Revolusi Permanen, sebuah teori analisis perjuangan kelas dari kamerad Trotsky padaku? Karena buku ini akhirnya sulit kumengerti, karena pikiranku sudah duluan tegang sebab kau yang member. Selain aku terus mencari apa kaitannya dengan perjuangan Aceh kita? Karena kau yang memberi, maka dijidatku langsung tertempel “ini formulasi gerakan untuk Aceh”. Akhirnya Sang Pemula, aku belum menemukan jawaban, serta tidak menemukan kaitan besarnya sama sekali. Selain, sejarah buku ini dan Trotsky sendiri yang terus diburu dan akhirnya dibunuh agen Stalin. Mengetahui kritik sejarah terhadap revolusi Oktober 1917. Serta kebutuhan akan partai independen yang mengekspresikan kepentingan kaum tani dan demokrasi borjuis kecil. Lantas, apa yang bisa digunakan dari gagasan Trotsky untuk membangun Aceh…? Akhirnya, Revolusi Permanen itu menjadi kritik bagiku yang masih lemah memahami buku.

Untukmu Sang Pemula, kutuliskan sebuah syair, yang sejak pertama sudah kutangkap ketulusan hatimu selayaknya seorang khadim;

Ode untuk khadim

aku tiba setengah jalan
mengikuti jamaah menjadi masbuq
diantara sebaris shaf muda sebaya,
yang lebih banyak tua dan setengah baya

melihat khadim shubuh itu
yang khidmat membaca kitab
selepas shalat dua rakaat
mengiringi semburan merah fajar

aku menemukan khadim kembali
menjelang dhuhur yang masih terik
bersama sepotong pena dan beberapa carik kertas
menggigil dia menulis ditengah terik

dan ashar telah digerbang
rupanya muazzin yang tak datang
khadim bergegas angkat suara
lantunkan adzan serukan panggilan

sesaat sebelum merah kembali dalam senja
khadim berdiri menerka masa depan
dari pintu meunasah yang diharap jadi mesjid
ditemani burung-burung yang kembali pulang,
pada keluarga mereka

kampungku kampungku…
telah riuh karena adzan
kerikil dan pasir tersapu tapak-tapak kaki jamaah magrib
yang datang dari segala tikung dan lorong penjuru

kulihat khadim membetulkan wudhu bocah ingusan
dengan sabar dia ajarkan
terlebih dulu berkumur sebelum menyapu rambut
tak boleh lupa menutup keran
supaya air tidak terbuang

setelah selesai qamat berkumandang
ternyata imam berhalangan
aku berada di shaf depan,
mempersilahkan khadim menjadi imam
khadim mempersilahkan yang lain menjadi imam

ada yang hitam keningnya
bapak tua yang panjang janggutnya
anak muda yang gantung celananya
dan pria yang banyak hafalannya

yang banyak hafalannya menjadi imam
dipersilahkan yang tua janggutnya panjang
kutersenyum kepada khadim yang dibalas dengan senyuman
dalam hati kubertanya,
kenapa khadim tak menjadi imam?

ber-I’tikaf selesai magrib menunggu isya
di meunasah kampungku yang ramai pada magrib saja
di meunasah kampungku yang bersebelahan dengan kuburan
di meunasah kampungku yang sering menshalatkan jenazah
korban kebiadaban

kuberdzikir tapi tak khusyuk
terganggu khadim yang membetulkan lampu
lampu yang sejak tadi redup mati hidup
ingin membantu khadim membetulkan lampu
tapi dzikirku menahan diri untuk tetap duduk

kuberikan jeda pada dzikir yang tak khusyuk
interupsi persoalan khadim, meunasah dan kampung
melempar-lempar pertanyaan di kepala,
urusan ketiganya kubanding, walau tak sebanding
rupanya ketiga-tiganya berkaitan, bertautan, bercinta

sekarang Isya hampir tiba
imam berhalangan, banyak hafalan ada urusan
janggut panjang dan anak muda gantung celana sudah pulang
tinggal lah sebaris shaf muda sebaya
yang lebih banyak tua dan setengah baya
mestilah yang ikhlas, istiqamah, dan amanah yang jadi imam
kenapa khadim tak menjadi imam?

Aku membacamu, berbicara tentang “meunasah masa depan”, jauh satu dasawarsa ke belakang. Sebelum kampungku gaduh riuh karena debu dan pasir menyatu dalam tulang belulang. Terimakasih mesti kuucap karena satu baris kalimat “kesalehan dan spirit protes”, yang ternyata melebur dalam khidmat semangatku. Barangkali ini cuma penggalan-penggalan, dari kesan-kesanku yang melihat dan menilai Sang Pemula dalam kesewenang-wenangan. Namun aku masih bermalas-malasan dengan tak tau malu dan mencari-cari dalih alasan yang menjadi hijab jalan ketekunan. Kalau boleh aku bertanya, apa yang kau lakukan pada usia dua tiga?
Rasa-rasanya hati dan kepalaku di palu, dan diteriakkan: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”
**
Untuk kalian yang melawan; Ternyata jalan kita tak panjang. Terlalu cepat rupanya kita tiba di simpang. Entah aku telah berjalan dengan benar atau tidak. Entah selama perjalanan aku melakukan dan berkorban dengan segenap penuh atau tidak. Tapi kita telah jauh melangkah. Dan jalan pulang juga hilang dalam langkah. Maka kepada kalian kawan-kawan pimpinan, kita tidak punya jalan pulang! Entah berapa sudah yang menyerah dalam perjalanan. Entah berapa pula yang menyesal. Entah berapa pula yang membuat kita menunggu karena banyak yang ketinggalan. Tapi kita tetap terus berjalanan dengan lambat dan tertatih. Entah berapa kali aku dengar banyak yang mengeluh, sampai bosan kudengar terus ada yang menggerutu. Tapi ternyata tetap ada yang menyela, memberi semangat dengan silih berganti.

Sampai sekarang aku heran, kenapa begitu cepat kita tiba di simpang. Padahal rasanya aku baru mulai berjalan. Padahal dalam perjalanan kita begitu banyak ambil waktu untuk istirahat. Tapi kenapa kita lekas tiba di simpang? Memalingkan muka ke kiri dan kanan, lantas saling bertanya kenapa kita tiba di simpang? Padahal simpang bukan tujuan.

Aku harus mengulang perjalanan dalam ruang fikir yang tak punya tapal batas. Ruang fikir yang tak kenal simpang dan jalan buntu. Supaya aku bisa tahu kenapa kita lekas berada di simpang.

Barangkali kita tidak melihat siapa-siapa yang ikut dalam perjalanan. Atau kita melihat, tapi kita tidak bertanya satu-satu alasan mereka ikut dalam perjalanan. Maka bisa jadi kita memimpin jalan orang-orang yang tidak satu tujuan. Karena rupanya banyak yang ikut-ikutan. Banyak pula yang kehilangan arah dan tersesat di jalanan. Ada yang melihat dan mengambil keputusan untuk ikut. Juga ada yang putus asa dan minta ikut dengan harap semoga dia menemukan jalan baru. Kita telah berhasil mengajak semua untuk ikut jalan. Tapi tak berhasil menyampaikan tempat tujuan.

Untuk itu aku mengambil oper tanggung jawab yang paling besar dari semua kawan-kawan pimpinan. Bahwa sebagai pemandu yang berada di depan, aku terlalu bersemangat untuk terus jalan. Senang melihat hal yang besar-besar dan membayangkan gemilangnya tempat tujuan. Tapi aku mengakui telah luput menanggapi hal yang remeh temeh. Bahwa ada yang kehausan, ada yang minta pulang, ada yang rindu kampung halaman, ada yang menggerutu terjalnya jalan, ada yang mengeluh jauhnya perjalanan, ada yang berselisih sesama petualang, ada yang tak fokus berjalan, dan banyak yang duduk beristirahat dengan sesukanya. Aku berkompromi pada mereka yang haus, mereka yang mengeluh, mereka yang berselisih, dan mereka yang beristirahat. Tanpa menimbang-nimbang waktu dan ketepatan kita sampai di tujuan.

Barisan kita kadang gemuk kadang kurus. Waktu gemuk semuanya merasa berhak atas koloni dan berceramah sana sini. Waktu kurus semuanya pura-pura tak melihat atau peduli. Yang pura-pura peduli, berjanji untuk beri solusi dan rancang koloni. Yang pura-pura melihat, merasa perlu tarik kembali koloni, juga perlu peta direvisi. Aku juga ambil oper tanggung jawab karena tak tegas, tak mengevaluasi dan tak memecat semua yang pura-pura. Karena ternyata yang pura-pura hanya mengambil waktu yang banyak dalam berdebat.

Aku mengambil beberapa yang tersesat dan putus asa. Dan membawa beberapa yang telah mengambil keputusan. Orang-orang ini kita sebut kader petualang. Kader-kader ini membawa beberapa lagi yang ikut-ikutan. Namun semuanya yang ikut kita sebut kader petualang. Yang kuambil, yang kubawa, serta yang ikut-ikutan telah kugabungkan dalam satu barisan besar petualang. Sebab kuharap mereka bisa membangun rasa, memiliki kesetiakawanan dan bersetia pada semua kader petualang. Tidak kujadikan mereka bebek-bebek yang mengekorku dari belakang. Kuberikan wewenang kawan-kawan pimpinan untuk mendidik dan mengajari. Karena sejak awal kusadari keterbatasan. Semoga dari kawan-kawan pimpinan bakal diperoleh kesempurnaan.

Namun yang diambil, yang dibawa, dan yang ikut-ikutan ternyata lebih dominan, dan akhirnya menjadi tolak ukur barisan, menjadi tulang punggung pergerakan, menjadi simbol politik kewenangan. Maka kemana barisan lain yang semestinya diambil, dibawa, diikutkan, dididik dan diajari oleh kalian kawan-kawan pimpinan? Yang kemudian digabungkan menjadi satu barisan maha besar untuk kita bangun rasanya, kita bangun kesetiakawanannya, kita bangun kepeduliannya, dan kita bangkitkan semangatnya. Kesalahan barisan yang didominasi, juga kuambil oper tanggung jawab dari kalian kawan-kawan pimpinan.

Semestinya kita sadar bahwa barisan tidak dibangun dan dipimpin dengan kediktatoran. Kita telah memilih kepemimpinan kolektif sebagai landasan. Sentralisme demokrasi kita lakukan, dengan lebih mendahulukan dan menitikberatkan demokrasi ketimbang sentralisme. Maka semestinya kita sebagai pimpinan bahu-membahu menggerakan barisan untuk terus jalan, untuk menghentikan mengeluh dan menggerutu, untuk meyakinkan dan menyemangati. Bukan kita menjadi bagian yang beristirahat, mengeluh, dan kehilangan semangat dan keyakinan.

Kita sudah benar diawal. Membangun gerakan dengan orang-orang biasa. Kita sudah benar, karena yang awal bergerak berdasarkan pengetahuan dan kesadaran. Tapi kita juga luput kawan-kawan pimpinan. Kebanyakan yang bergerak adalah orang-orang yang merasa iba. Gerakan yang hanya memiliki rasa iba tidak panjang umurnya. Kita tak cepat menyebarkan ketegangan sosial yang terjadi disekitar kita. Kita tak cepat merumuskan dan menjelaskan kita pro kepada apa. Dan terlambat mengabarkan arah tujuan dalam agitasi dan propaganda.

Sungguh disesali kita tak terus menerus mencelupkan diri bersama massa yang tertindas dan terzalimi. Tidak terus menerus bersama rakyat yang lapar dan tersakiti. Kita, dan aku terutama, telah merasa cukup puas merasakan sebentar bersama mereka yang tertindas, lapar dan tersakiti. Padahal aku lihat dengan sadar, kita dari kelas yang mapan dan berpengetahuan. Yang seharusnya dilucuti kemapanan kita oleh perasaan tertindas dan tersakiti mereka. Yang seharunya bermanfaat pengetahuan kita karena memikirkan ganjalan lapar mereka.

Kita yang disanjung, kita yang berani dan kita yang melawan, ternyata tak cukup hebat dan punya nyali untuk terus bersama mereka rakyat yang lapar dan tertindas. Dan kita yang dikagumi, kita yang hebat, dan kita yang pandai, ternyata tak cukup punya kekuatan dalam membangun. Kita pandai dalam melawan, tapi gagal dalam membangun.

Dan bagian tanggung jawabku yang paling besar adalah memberikan ruang yang begitu lapang kepada para petualang yang dominan. Untuk belajar dari yang lain, membangun rasa dan kesetiakawanan dengan alamiah, dan tidak meninggalkan tanggung jawab pada setiap perbuatan dan tindakan. Ternyata yang dipelajari adalah cara berdalih dan culas. Yang dibangun adalah egoisme dan kolonisentris. Yang didapat adalah kepengecutan dan ketidaksenangan. Tanpa aku bisa protes, tanpa aku bisa interupsi.

Inilah yang ternyata mempercepat kita berada disimpang. Begitu bergegasnya membawa kita, tanpa kita bisa memilih, tanpa kita bisa meminta. Ketika aku berada disimpang, dan coba menentukan arah tujuan. Ternyata ada yang menyalak dalam kegelapan. Ini yang buatku kesal dan marah besar. Ternyata proses dianggap sebagai wafelijzerpolitiek. Bedebah! Ini seperti duri yang ditenteng sepanjang jalan. Cikal bakal kapitalis birokrat yang masih mungil. Yang mengukur perbuatan atau perjuangan sebagai “investasi politik” yang nanti bisa ditarik dari tabungan. Tapi kini kupendam dalam-dalam kesal dan amarah itu. Kubiarkan saja duri itu terus ditenteng-tenteng sepanjang jalan. Filosofiku dalam perkawanan seperti makanan. Bagiku, tidak ada makanan yang tidak enak, yang ada hanya yang enak dan enak sekali. Demikian juga, tidak ada kawan yang tidak baik, yang ada hanya yang baik dan baik sekali. Tapi bagiku kalian adalah basi.

Sekalipun demikian kawan-kawan pimpinan, aku telah belajar banyak dari kalian. Telah berdiri di atas pundak-pundak kalian. Telah bersama kita berproses dalam jalan yang terus berliku, cadas menanjak, dan curam membatas. Telah kita merasa tinggi untuk berusaha rendah hati. Telah kita merasa berani dalam takut yang selalu hadir. Dan telah kita berusaha meraih mimpi, melewati malam dalam lapar. Maafku untuk diam dan keheningan. Aku yang jalang ini, telah berteriak dalam gema suara yang sama dengan kalian, yang selamanya akan menjadi ngiang pada langkah kaki berikutnya. Aku yakinkan hati, bahwa kita akan bertemu kembali pada simpang yang entah dimana. Tanpa kita bisa memilih, tanpa kita bisa meminta.

Seperti Cak Munir pernah berujar: “sekaranglah saatnya orang membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru, meskipun harus diawali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya sekedar wilayah tapi juga rasa”.

Apabila Bachir berkata: “aku beku dibawah matahari”. Maka aku dengan lantang berkata: “aku bangga dan terhormat dibawah rencong kembar”.

Makin lemah kakiku melangkah, makin terngiang gema teriakan: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”
**

Untuk Guruku; Karenamu lah uraian ini kutulis. Sebagai penawar racun amarah dan kesedihan. Yang tak kutemukan lagi obat yang lain, setelah lelah kucari. Karenamu lah pertanggung jawaban ini kutulis. Sebelum aku tiba dikesimpulan, bahwa pertemuan adalah kesalahan.

Sungguh aku tak merasa lagi ini miladku. Karena pertanggung jawabanku ada di sepuluh hari nanti. Saat dua tahun ke belakang telah kubuat gempita. Termakan setahun tetap gempita. Namun ada yang hilang, tak banyak yang datang. Dan di sepuluh hari depan, niscaya aku yang paling menjadi murung dan tunduk. Merasa bahwa perjalanan tak membawa kita pada jalan yang datar dan sedikit lapang. Merasa bahwa maklumatku ternyata ingkar.

Barangkali lebih tepat kusudahi kemurungan. Kembali berpikir dan mencari jalan keluar. Memutuskan untuk kembali melangkah. Setelah aku menjadi sendiri di persimpangan. Ditambah kesialan tersandung akar pohon yang panjang. Memang sial bagi mereka yang sendiri. Semoga aku tidak terluka karena sandungan. Semoga jalan masih menyediakan tempat untuk ku melangkah.

Guru, entah apalagi yang bisa kulakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas ilmu yang kau berikan. Entah apalagi yang nanti kemudian bisa kuselesaikan sebagai balasan kepercayaan yang kau berikan. Tapi rasa-rasanya, kalau aku mengukur dan mengulang-ulang, atas apa yang kulakukan dan terjadi. Ternyata aku hanya membagi kesialan, kekalahan dan kegagalan. Entahlah… aku hanya berharap sangat, ini jawaban dari permintaanku kepada Tuhan, supaya Dia memberikanku jalan agar menjadi lebih tegar dan lebih kuat. Maka kemudian Dia memberiku masalah-masalah yang tak putus-putus.

Bagiku kau seperti Eduardo Chibas, yang berhasil menjauhkan dan memperluas jarak pandang dari yang kuketahui dan kulihat sebelumnya. Mempertemukanku dengan semua guru tempat kau belajar. Memberikanku keyakinan, bahwa perubahan itu dekat sekali. Hanya tinggal kita bersungguh-sungguh. Pensar como un revolucionario, hablar como un revolucionario, y actuar como revolucionarios.

Kau menegurku lewat tulisan Che, bahwa kader adalah tulang punggung pergerakan. Namun kuakui, aku tidak sungguh-sungguh mengikuti dan menjalankan garis Che. Padahal kondisi objektif tidaklah jauh berbeda. Aku tidak sungguh-sungguh mencari formulasi dalam membangun kader-kader yang mapan. Karena memang tantangan kenyataan jauh lebih berat. Tak banyak kawan pimpinan yang mengambil peran dan serius dalam mengembangkan kader. Terlebih kawan-kawan pimpinan tidak membaca Che barangkali. Atau mungkin tidak mengetahui sama sekali bahwa kader adalah tulang punggung pergerakan. Tapi sekalipun mereka tidak tahu, pastinya mereka sadar. Dan sebagaimana Che berpesan, bahwa kader adalah tanggung jawab kolektif organisasi, dan harus diperlihatkan contoh-contoh dari kebenaran dan semboyan revolusi.

Aku tidak memantapkan posisi sebagai pemimpin. Bagiku pemimpin diukur dari pengaruh. Dan kekuatan pengaruhku tentu tidak sebanding dengan pengaruh yang kau miliki. Kemudian persoalan pengaruh itu juga yang menjadikan kader-kader organisasi tidak memiliki keberanian mengambil tindakan. Mengecilkan diri menjadi opas-opas yang menunggu perintah. Pengaruhku tidak kumantapkan. Distribusi peran yang diharapkan ternyata tidak berjalan. Potensi yang masing-masing dimiliki kader tidak melejitkan potensi dan kekuatan organisasi. Kekosongan pengaruh diantara kader, memaksakan pengaruhmu diterima sebagai panduan, yang kemudian dengan begitu pelan dan lama menjadi suatu dasar pijakan dan pertimbangan. Pengaruhmu menjadi sangat rasional dan diterima, yang akhirnya mengesampingkan sentralisme demokrasi dan kepemimpinan kolektif yang menjadi pijakan dan pertimbangan organisasi.

Ketidakpekaan-ku dalam melihat masalah, dan kecakapan memperkuat pengaruh untuk menggerakkan organisasi, menjadikanmu tertarik terlalu jauh dari peran dan posisi yang telah kita bagi. Maka aku bertanggung jawab penuh atas masalah ini dan dampak yang terjadi kemudian.

Guru, aku membaca kembali tulisan Che yang pernah kau bagi. Tulisan “dalam persatuan ada kekuatan”, yang tercetak lebih tebal dan bewarna merah. Tulisan ini begitu terasa makna nya sekarang. Peringatan yang semestinya ditempel di setiap jidat para kader. Aku tak membawa penyesalan. Pesan gurumu “seperti membangun istana pasir…”, menjadi penghibur yang setia saat aku melewati masa-masa seperti ini.

Guru, aku akan terus belajar darimu, walau kita tak lagi terlihat seperti murid dan guru. Kuperhatikan dan kucermati dengan seksama. Langkah benar dan langkah salah yang kau ambil. Tidak soal kita jauh atau dekat, karena sebetulnya kita sangat dekat. Makin jauh pasti membuat kita tambah dekat, karena kita akan lebih serius mencari tahu perkembangan dan langkah-langkah yang sedang kita jalankan.

Hal paling baik yang kudapat adalah aku meyakini kekuatan aksi massa. Dan kau adalah guru yang membuktikan kekuatan aksi massa. Maka selamanya kita mesti percaya kekuatan aksi massa. Percaya bahwa aksi massa adalah jalan keluar. Dan tak meninggalkan kekuatan aksi, sekalipun dalam pikiran.

Barangkali aku sekarang hanya sedang dimabuk belia, teler dalam merahnya revolusi yang berkobar-kobar. Tapi yang bukan barangkali, adalah kebencianmu kepada kelas penghisap. Yang bermuka baik sambil terus mengeruk untung. Senjata yang dijadikan alat untuk menindas dan menakut-nakuti. Dan seragam yang dipakai untuk melindungi kebusukan. Kebenciamu itu pula yang menular kepadaku. Menjangkiti dan memanaskan seluruh tubuh. Maka aku menambah kebencian. Pada mereka yang ngomong panjang lebar mencari jalan keluar untuk yang lapar, sambil mencongkel iga bakar yang tersangkut di sela gigi. Pada mereka yang bicara tentang keadilan dan hak asasi, dari moncong-moncong beraroma vodka dan martini.

Guru, bagiku kau seperti Mas Tjokro. Yang banyak berkorban untuk menjadikan tempatmu menjadi padepokan. Mengurusi pemuda-pemuda yang sebetulnya lebih mirip berandalan. Anak-anak jalanan yang baru terbebas dari penjara. Semuanya bermasalah. Ada yang masuk penjara karena masalah dirumah. Ada yang sering berkelahi dan terlibat baku hantam antar gangster. Ada yang sedang mencoba-coba dan mencari jati diri. Ada pula yang putus asa dan ingin mati.

Maka terimakasih karena telah bersedia menjadikan tempatmu menjadi padepokan. Menjadi kawan dan meringankan beban pemuda-pemuda jalanan dan jalang sepertiku dan kawan-kawan pimpinan. Serta untuk para kader muda yang setengah matang. Aku hanya menitip harap semoga benar proses ini membawa kita pada filosofi ‘belah bambu’ yang kita anut. Karena kita adalah sama. Sama rata sama merasa.

Semoga kau dan aku tak saling menyalahkan nasib. Karena aku tak mengambil kesimpulan, bahwa pertemuan adalah kesalahan. Sajak Chairil kubacakan, untuk kau dan padepokan:

Waktu jalan aku tidak tahu apa nasib waktu!
Pemuda-pemuda yang lincah,
yang tua-tua keras, bermata tajam.
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga
daerah mati ini.

Aku suka pada mereka yang berani hidup.
Aku suka pada mereka yang masuk menemu
malam.
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debut.
Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu!

Terhempas aku dalam gelap, digedor lagi hati ini dan diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”
**
Dalam keheningan malam yang senyap. Setelah bertubi aku ditampar-tampar dengan salam “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”. Aku merasa harus bertanya pada-Mu sekarang. Bercerita pada-Mu tentang ujian-ujian yang Kau beri. Dan aku merasa perlu Kau beritahu, berapa nilai yang ku dapat dari ujian-ujian itu.

Wahai Tuhanku, semoga kau tak terlalu sibuk di arasy-Mu. Semoga Kau bisa hadir dalam hatiku. Memberikan ketenangan atas kegelisahanku. Membukakan petunjuk jalan keluarku. Mencerahkan akalku agar bisa kutemukan jawaban-jawaban. Dalam kerinduan yang kupendam. MelihatMu sebentar saja, dalam wujud sejatimu. Bukan dalam bentuk jalinan alif, lam, ha yang sangat indah. Ya Rabb… datanglah sebentar, turunlah sejenak dari tahta kesombonganMu. Melihatku yang angkuh dan sombong dibumi-Mu. Rabb…

Aku merasa ringkih dalam kemudaan. Telah merasa begitu penat dalam kehidupan. Kemudaan yang layu dan cepat menua. Hidup dan kehidupan yang makin sulit dimengerti. Bukan saja hidupku yang sedikit sulit, tapi kehidupan ini memang begitu sulit nyatanya.

Aku yang lalai dan malas ini mengadu pada-Mu. Yang sering melewatkan shubuh. Memanjangkan dhuhur dan ashar. Meninggalkan jamaah magrib dan isya. Yang jarang membaca ayat-ayat Mu. Yang pandai meminta jarang bersyukur. Ya Allah…Yang Maha Mengetahui, Yang menggenggam hati dan mengetahui isi hatiku.

Kepada siapa doaku diberikan ketika aku mendoakan kebaikan kepada muslimin dan muslimat? Kenapa sunni? Kepada syiah? Atau kepada yang lain? Kenapa muslim tak bisa akur dan membela persaudaraan nya. Terus menerus bermusuhan dan saling menjelekkan. Aku meminta keadilan pada-Mu wahai Tuhan Yang Maha Adil, keadilan untuk muslim Palestine yang terusir. Muslim Bosnia yang dibasmi. Muslim Ethopia yang lapar. Muslim Uighur yang dicampakkan. Muslim dinegaraku yang merasakan kepedihan semua itu, terusir, dibasmi, lapar, dan dicampakkan.

Aku tidak melihat lagi ulama dimuka dunia. Barangkali semua ulama harus syahid dirudal seperti Syekh Yassin. Baru bisa bangkit semua muslim. Berteriak untuk membela keadilan dunia. Bukan hanya berteriak untuk aliran, jamaah, dan tarekatnya. Karena kupercaya Islam rahmatan lil ‘alamin.

Seakan ulama telah kehabisan ayat. Semuanya serempak berseru untuk bersabar. Disaat kezaliman dan penindasan terjadi di depan mata. Bersabar menunggu keadilan dan makanan yang menghapus lapar. Padahal Rasullulah telah berjanji dalam konstitusi Madinah, bahwa “jaminan Tuhan adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah”. Menyalahkan dosa-dosa karena seringnya terjadi bencana. Padahal telah Kau katakan bahwa kerusakan di laut dan darat karena ulah manusia.

Aku melihat ulama banyak yang tampil di televisi. Mendampingi para pejabat-pejabat. Memberi nasihat kepada artis-artis. Memerikan wejangan pada acara percintaan. Memamerkan kehidupan dengan pergaulan luas dan berkelebihan. Dari tv kulihat kiai yang duduk mengendara motor gede, bayangan surbannya menimpa tangki motor yang mahal dan mengkilap. Dari tv kulihat ustad yang baru selesai nonton bioskop, dari mulutnya berkomentar isi film yang islami dan wajib ditonton. Dari tv kulihat dai, yang terus menerus tampil di tv, lewat iklan doa dan konsultasi. Silahkan kirim pesan untuk didoakan. Nanti tinggal tunggu balasan ‘terimakasih karena sudah berlangganan’.

Ternyata tidak juga untuk di doakan. Sudah banyak ulama yang lupa kewajiban. Kemewahan dunia telah mengalihkan dunia dan mengalihkan doa. Padahal jutaan umat menunggu untuk diangkat dari derita kehidupan. Ribuan umat sedang mengantri belaian tangan dan tatapan mata yang menyejukkan. Barangkali jutaan umat ingin protes dan bicara. Tapi takut dianggap sesat dan pengacau. Karena yang paling gampang dilakukan ulama adalah mengeluarkan fatwa.

Kalau ada yang berbicara tentang korupsi dan kemiskinan. Bisa jadi ulama ini akan ditampar. Dianggap menyebar fitnah dan kebencian. Tak dipersilahkan lagi memimpin shalat dan mengisi mimbar.

Pada-Mu Rabb Yang Maha Melihat aku bertanya. Kenapa Osama tak bisa ditangkap? Ketika teknologi yang sedemikian maju. Ketika batu jatuh di Himalaya segera dunia bisa tahu. Karena sebetulnya aku tak tahan muslim disebut teroris. Lewat tokoh fiksi Osama fundamentalis yang dipelihara penguasa kapitalis. Terus-terusan cerita dibikin-bikin. Supaya uang tetap berputar dan mengalir. Kantong-kantong neo-imperialis pun penuh terisi. Untuk melanjutkan penghisapan negara-negara “kaya” yang terpecah, bodoh dan pasrah.

Seharusnya uang menjadi sarana, untuk menuju kepada Tuhan. Bukan Tuhan menjadi sarana, untuk menuju kepada uang. Maka aku getir melihat mereka. Yang menengadahkan tangan tinggi menjulang. Memanggil-Mu dengan panggilan Ya Ghanii…! Kemudian mereka meminta-minta ditambah rezki dari-Mu Yang Maha Kaya, yang kemudian Kau tambah berlipat-lipat dari sebelumnya.
Aku tak sanggup lagi berkeluh kesah dan bercerita. Ditambah lagi dengan pemimpin-pemimpin beroleh maksiat, madon mabok minum main. Tak sanggup lagi kubertanya ternyata ujian-Mu di dunia begitu luar biasa. Pengetahuan nyatanya belum membuatku menemukan jalan keluar. hanya menambah kegelisahan dan kecurigaan yang berputar-putar. Aku yakin bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Semoga ada jalan menjauhkan kemiskinan dari muka dunia.

Kutahu bahwa kami dan semua yang Kau cipta adalah untuk menyembah kepada-Mu. Tapi bukankah mestinya Kau tegur juga, mereka yang terus hanyut dalam dzikir dan berusaha dekat pada-Mu, tapi meninggalkan dunia penuh masalah ini yang penuh-penuh disebut fana?

Aku hanya bisa berikrar pada-Mu bahwa shalatku, ibadah-perjuanganku, hidupku dan matiku hanyalah untuk-Mu, Tuhan seluruh alam.

Ya Rabb… datanglah padaku sejenak. Yang masih terus bersyukur karena asma yang Kau berikan. Walaupun kalau kambuh rasanya sakit menyiksa. Walaupun kutahu aku bisa mati karenanya. Tapi aku bersyukur tak menjadi bagian yang memperpanjang penindasan dan penghisapan, dari pabrik rokok yang jarang peduli nasib buruhnya. Aku juga tak menjadi bagian, dari orang-orang yang memperpanjang rantai kebodohan. Pabrik rokok yang telah memakai topeng kebaikan, dengan membagi-bagi keuntungan dan memberikan beasiswa. Rupanya ada cendikiawan muslim yang bangga, karena menjadi ketua program beasiswa.

Datanglah Rabb… padaku yang gelisah dan gundah. Aku bukanlah yang terbaik yang bermunajat pada-Mu. Tapi setidaknya aku adalah yang berusaha meninggalkan larangan-Mu. Tidak menggambar kartun untuk mencela Rasulullah. Tidak juga mementaskan ‘Matine Gusti Allah’. Dan masih percaya beberapa fatwa-fatwa para ulama.

Karena Kau telah berjanji, kepada-Mu lah kami meminta dan memohon pertolongan. Maka kepada-Mu aku menunduk dan menengadahkan tangan. Karena aku percaya, Kau bukan seperti pembuat arloji besar. Yang Kau ciptakan, Kau gerakkan, kemudian Kau tinggalkan.
…..
Aku merasa Kau menjawab:
“kau hanyalah yang kebanyakan. Tidak pandai, hanya keras kepala dan keras hati. Berani tapi mudah terperangkap. Sedang yang pandai tidak memiliki keberanian. Lihatlah dan ikutilah apa yang dilakukan Rasul-Ku. Rasullulah berjuang dengan sebaik-baiknya. Memberikan semua upaya yang ia punya. Demi membebaskan kaum-nya. Berjuang untuk kaum-nya. Tidak berjalan Muhammad jauh ke utara, merasakan butiran air beku yang jatuh dari angkasa. Tidak mecium Muhammad harum gaharu, yang berada jauh di timur. Tidak sampai kaki Muhammad menapak ke selatan, meminum air dari sungai yang panjang. tidak juga tiba Muhammad ke barat, untuk memeluk anak-anak yang merah kulitnya. Muhammad berjuang dan mengabdikan hidupnya demi kaum-nya, demi tegaknya agama Allah untuk diikuti lebih dulu oleh kaum-nya. Apakah kamu tidak berfikir?
Berjamaahlah. Dan mintalah kepada-Ku, maka akan kukabulkan.”

Jika aku dipersilahkan untuk meminta…
Tidak kupaksa meminta agar aku dirumahkan bersama orang baik di luar sana. Juga tidak kuminta kehormatan dan ditambah kebijaksanaan. Kupahami bahwa keinginan merupakan sumber penderitaan. Kalau perut adalah sumber nafsu, buatlah aku merasa terus cukup. Itu saja Rabb yang kupinta.

Dan berikan kesempatan sekali lagi untukku. Untuk buktikan kalau aku berarti bagi sesama. Sebelum saatnya untukku tiba. Sebelum aku mengetahui kemana tubuhku akhirnya bermuara. Hidupku yang sekali. Sekali berarti, sudah itu mati.