Kamis, 31 Desember 2009
Berawal Dari Bendera Setengah Tiang
Aku menatap dalam sang dwi warna. Melihat dia kuyup dan menggigil. Merasakan duka. Sudah 5 tahun ternyata. Menatap lebih dalam, mengakhiri ku melihat 5 tahun yang lalu.
Di sebuah lapangan sekolah saat upacara bendera. Riuh sedang pagi itu. Dengingan mikrofon yang berkali-kali membuat ngilu telinga. Seragam putih abu-abu memonopoli warna lapangan upacara. Barisan-barisan depan berjejer rapi. Barisan depan memang selalu berdiri tegap dan serius mendengar pidato Pembina upacara yang membosankan. Makin ke tengah dapat kulihat teman yang berjongkok karena malas berdiri. Makin jauh ke belakang teman-teman sudah pasti punya urusan sendiri, atau berbincang-bincang topik obrolan pagi yang acapkali mengenai pertandingan sepakbola semalam.
Suasana seperti biasa upacara senin pagi. Tapi yang selalu tak biasa adalah seorang sahabat yang tiap senin pagi selalu berada di ruang laboratorium kimia sambil memantau jalannya upacara. Memang itulah tugasnya si sahabat. Selalu datang lebih pagi tiap senin. Datang lebih pagi dari yang lain. Sudah pasti dia segera menuju lab.kimia. Mengecek mikrofon dan mempersiapkan bendera. Kemudian mampir ke kelas untuk meletakkan tas. Dan kembali lagi ke lab.kimia sambil menunggu pasukan paskibraka yang bertugas hari itu.
Demikianlah si sahabat tiap senin. Dan tiap sabtu sepulang sekolah. Si sahabat pasti kutemukan di lapangan upacara lagi. Melatih pasukan paskibraka yang bertugas senin nanti, dan memastikan guru yang akan menjadi Pembina upacara. Itulah sahabatku. Yang sesekali harus tergopoh-gopoh keluar dari lab.kimia kalau tiba-tiba ada peserta upacara yang jatuh pingsan.
Aku tidak bisa membayangkan kalau senin pagi tanpa dirimu. Pastilah semuanya berantakan. Pastilah kita memulai upacara terlambat waktu. Pastilah tak ada Pembina upacara. Dan kalau itu terjadi pastilah 5 menit sebelum upacara kita akan melihat guru-guru sibuk mencari Pembina upacara pengganti. Beruntung sekolah kita punya murid sepertimu. Yang selalu datang tepat waktu dan sangat bertanggung jawab pada tugas tiap senin. Satu hal lagi yang paling berkesan buatku, pastilah selalu kutemukan senyumanmu tiap aku masuk ke lab.kimia selepas upacara. Itulah yang menandakan kau lega karena sukses nya upacara senin itu. Dan itulah senyuman termanis yang kulihat tiap senin pagi, disaat yang lain masuk kelas dengan wajah cemberut dan menggerutu.
Jika senyum dan keikhlasan bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Mulyana.
Di pojok barisan deretan kolompok kelas yang berbeda, dari kelompok kelasku, dapat kulihat engkau sahabat. Kau sesekali bercakap dengan teman disebelahmu. Dan kemudian mengakhiri percakapan dengan senyum simpul. Inilah sahabat yang sekaligus menjadi guru dan teman diskusi ku.
Melihatmu, membuatku teringat banyak kenangan bersamamu dan sahabat yang lain. Ha…apalagi yang paling kuingat kalau bukan kelucuan dan sifat jenaka mu. Dan memang kau sahabatku yang termasuk dalam deretan “orang bocor” di barisan OSIS kita. Teringat aku saat kita berlibur ke Sabang. Perjalanan kita bersama yang paling berkesan dan penuh perjuangan. Dan tentu saja aku dan semua sahabat kita yang ikut kesana pasti ingat saat kau berdiri gagah di dek kapal, memandang Pelabuhan Balohan yang makin dekat dan akhirnya sahabat kita yang telah sampai lebih dulu berteriak menyambutmu dengan panggilan ‘penyu’..’penyu’..’penyu’….!
Teringat juga aku saat kita makan sate gurita di Sabang Fair, yang akhirnya membuatmu harus pulang ke penginapan dengan berjalan kaki sendiri. Mungkin kau marah pada kami saat itu yang usil mengerjaimu. Tapi urusan jalan kaki, tentu itu bukan persoalan bagi seorang yang punya jiwa petualang sepertimu. Dan sahabat, aku juga teringat saat Diklat MPK menjelang demisioner nya kita. Seorang Cut Nyak kau suruh untuk mengikuti gerakanmu “membumikan diri”. Kakimu berada di tepian parit kecil di deretan kelas sekolah, dan kaki si Cut Nyak berada dalam parit. Sial bagimu sahabat, aksimu itu ketahuan oleh seorang guru kebanggan kita.
Tentu tak lupa bagiku mengingat masa-masa saat kita berlatih nasyid dan tampil dimana-mana. Entah itu di arena lomba, acara di sekolah atau di ruang OSIS untuk memukau beberapa sahabat manis yang ada disitu. Dan yang paling berkesan bagiku sahabat, kau lah yang menjadi penyejuk hati kita semua. Tidak pernah lupa mengajak kita untuk shalat berjamaah. Begitu sering kita berdiskusi. Dan kau lah yang mengakrabkan ku dengan istilah militansi. Juga kuingat, pernah kau memperlihatkan padaku sebuah bendera, yang kau sebut dengan bendera dakwah. Tapi setengah bercanda aku membantahnya dengan mengatakan “mana ada bendera dakwah, itu kan bendera partai…”. Kau adalah sahabatku yang memiliki kebulatan tekad dan keteguhan hati. Saat TC MPK-OSIS, aku dan beberapa sahabat mencoba mengingatkanmu untuk melepas rompi hitam yang berhias simbol partai peserta pemilu saat itu. Namun kau menolak sambil lantang berucap “aku pakai ini karena aku yakin aku benar…”. Dan tak ada diantara kami yang melanjutkan pembicaraan. Darimu aku belajar untuk memiliki keyakinan. Meyakini sepenuh hati, apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran.
Jika mengajak orang untuk melakukan shalat berjamaah dan menanamkan tekad untuk berdakwah bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Faisa Rianda.
Di sebelah kelompok kelasku, pada barisan depan. Pasti aku dapat menemukanmu disitu sahabat. Bukan karena alasan apa-apa kau berdiri dibarisan depan. Juga bukan karena kau senang berada di barisan depan. Melainkan hanya karena ukuran tubuhmu yang kecil memaksamu berada di barisan itu. Sambil meletakkan tangan di atas alis untuk menghalau cahaya matahari, sahabatku yang manis ini sebenarnya tak suka kalau berada disitu. Kalau beruntung ada teman yang lebih kecil ukuran tubuhnya, barulah ia bisa geser sedikit di barisan kedua atau ketiga.
Siapapun yang mengingatmu, tentulah mereka akan teringat pada kelincahan dan paras manismu. Tapi buatku, yang paling kuingat ketika kau datang pagi-pagi sekali ke ruang OSIS pada suatu minggu. Membangunkan kami yang tidur berserakan dilantai, yang sebagian masih terlelap diselimuti dingin nya pagi. Kau terburu-buru bertanya padaku “siapa-siapa anak cowok yang jadi panitia…?”. Ah, hampir saja aku lupa bahwa sudah seminggu kau memintaku untuk memberikan nama-nama panitia Bazar sekolah. Segera saja bagiku menunjuk para sahabat yang sedang tidur lelap, “orang niy aja yang jadi panitia…” sambil berharap kau tidak marah karena aku sudah telat menyerahkan nama panitia kepadamu. Lalu kau jawab “ya udah, nanti tulis nama mereka dan kasih ke aku ya…”. Dan beruntunglah aku karena kau mau dan tidak marah-marah di pagi itu. Segera kutanyakan kepada mereka yang sedang tertidur untuk jadi panitia bazar. Dan segera kutulis nama-nama mereka. Itulah awal dari bagian paling bersejarah dalam sekian banyak kegiatan yang kita sukseskan.
Memang tak mudah sahabat kita melewatinya. Kau yang selalu disibukkan untuk menyediakan konsumsi pada setiap kegiatan, kali ini diharuskan untuk memimpin sebuah acara yang baru pertama kali dilakukan. Dengan konsep yang beda pula. Terlalu banyak masalah yang harus kita hadapi. Terlalu banyak sikap sinis yang menghalangi. Tapi itu tak membuatmu patah dan putus asa. Selalu ada harapan dibalik lelah dan tangismu.
Dan akhirnya, beragam masalah dan sinisme membawa kita pada sebuah tempat, yang bernama kekompakan. Itulah tempat yang paling kita idamkan. Setelah kita seakan terpisah pada dua tempat yang disebut mushala dan parkir. Jadilah kekompakan kita menjadi tersohor. Dibincangkan dan dibanggakan. Dibalik itu, selamanya aku akan teringat pada adik kita yang menghadiahkan lagu ‘Semua Tentang Kita’ untukmu di Bazar itu. Sebagai permohonan maaf nya. Yang membuat kau menangis tersedu menderu.
Jika memberi maaf dan kesabaran bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Indah Fitri.
Selalu ada cerita untuk kalian sahabatku. Selalu kami sampaikan pada setiap generasi MPK-OSIS SMA 3 tentang kalian sahabatku. Dan selalu kami berdoa untuk kalian sahabatku, para syuhada.
Gerakan Mahasiswa Yang Digerus Sistem Akademik
Berbagai catatan historis tersebut tentu saja menjadikan orang-orang dalam lingkaran kekuasaan menjadi awas terhadap gerakan mahasiswa. Potensi kekuatan gerakan mahasiswa secara nyata dirasakan merupakan ancaman serius bagi pertahanan oligarki kekuasaan dalam melanjutkan tradisi korup, hipokrit dan otoriter. Dimata penguasa, membiarkan gerakan mahasiswa terus tumbuh, berkembang, dan meluas merupakan bahaya laten bagi eksistensi kekuasaan. Gerakan mahasiswa kritis tentu saja tidak akan melakukan pembiaran atas praktek-praktek korup serta kebijakan-kebijakan menindas yang acapkali menjadi mainan penguasa serta para kroni dalam relasi kekuasaan. Maka dari itu berbagai upaya kerapkali dilakukan oleh penguasa atau para pengambil kebijakan dalam mematahkan atau minimal meredam potensi hadirnya gerakan mahasiswa yang akan menjadi penyeimbang terhadap posisi kekuasaan.
NKK/BKK
Salah satu upaya paling tersohor yang diputuskan oleh penguasa dalam meredam gerakan mahasiswa adalah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus atau NKK/BKK. NKK/BKK merupakan produk orde baru yang lahir lewat SK menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Pada periode 1978 gerakan mahasiswa mulai berani mengajukan tuntutan agar Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Tuntutan mahasiswa saat itu bisa dikatakan lebih berbahaya ketimbang demonstrasi besar-besaran menolak kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka ke Indonesia pada tahun 1974 yang kemudian melahirkan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Gerakan mahasiswa yang sudah berani menganggu kursi kepresidenan dianggap sebagai ancaman serius di mata penguasa Orde Baru.
Dalih demi stabilitas politik dan pembangunan digunakan penguasa orde baru untuk meredam gerakan aksi mahasiswa yang makin kritis dan intensif mengkritik setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Rektorat yang merupakan perpanjangan tangan penguasa diperintahkan untuk mengawasi dan mengintervensi lebih jauh setiap aktivitas politik mahasiswa lewat kebijakan baru tersebut. Implikasi konsep NKK/BKK adalah pembubaran Dewan Mahasiswa (DEMA), yang merupakan simbol demokrasi kampus. Sejak berlakunya NKK/BKK hampir semua organisasi kemahasiswaan ‘mati.’ Segala kegiatan kemahasiswaan tidak lagi dibawah asuhan DEMA tapi langsung di bawah kontrol BKK. Alhasil semua kegiatan pun langsung dibawah kontrol pejabat teras Universitas, Rektor dan para dosen. Setelah DEMA dibubarkan, yang tersisa hanyalah unit kegiatan mahasiswa dan senat fakultas, serta himpunan mahasiswa jurusan. Kampus dinyatakan harus steril dari politik dan hanya sebagi tempat belajar mengajar, mengembangkan nalar. Konsep NKK/BKK, diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat ilmiah. Aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan terbatas pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Selain itu, dalam Tri Darma Perguruan Tinggi dinyatakan bahwa fungsi perguruan tinggi adalah menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Depolitisasi yang diterapkan saat itu sungguh efektif, mahasiswa menjadi study oriented sehingga selama puluhan tahun hingga sekarang kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas mengkritisi kebijakan penguasa.
Strategi Orde Baru yang kemudian menghapus kebijakan NKK/BKK lewat SK Mendikbud No. 0457/0/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) tertanggal 29 Juli 1990 bisa dikatakan tak mempan menyumbat daya kritis mahasiswa. Lalu apakah kemudian upaya pelemahan gerakan mahasiswa akan berakhir setelah NKK/BKK dikubur? Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kancah gerakan, saya mengatakan tidak demikian. Harus diakui jika ketakutan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan masih terus ada terhadap potensi gerakan mahasiswa. Mereka selama ini menikmati konflik keadaan negara yang justru menguntungkan mereka. Ketakutan mereka cukup beralasan karena mahasiswa memiliki energi untuk mendobrak kemapanan. Mahasiswa kritis dianggap tidak normal dan untuk itulah perlu dinormalkan. Organisasi kemahasiswaan yang selama ini menjadi episentrum mahasiswa-mahasiswa pro perubahan disumbat oleh rektorat yang selamanya tunduk kepada kekuasaan, untuk melemahkan dan mematahkan gerakan mahasiswa secara tak kasat mata dan tidak lagi represif.
Strategi baru
Lewat berbagai kebijakan dan teknik baru, upaya pelemahan dan penggerusan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan. Inilah beberapa pola yang penulis cermati serta amati dalam dunia kampus dan perkuliahan dalam upaya pelemahan gerakan mahasiswa. Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif rektorat, kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan. Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli.
Kebijakan ini menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan 35 SKS dalam 4 semester dan 80 SKS dalam 8 semester dengan nilai IPK 2,00 dan wajib selesai dalam 14 semester. Kalau kita tinjau secara teoritis pedagogik (pendidikan) ini mungkin kebijakan yang baik. Tapi lihatlah faktanya, bahwa di fakultas hukum Unsyiah sejumlah 125 orang mahasiswa harus di-DO karena tak mampu menyelesaikan tuntutan akademik ini (tgj.com,22/8/08). Nah, mari kita jawab bersama-sama sekarang, apakah tuntutan akademik yang demikian telah cukup baik untuk memenuhi hak pendidikan seseorang? Atau barangkali dan mungkin sebuah kepastian bahwa sistem pendidikan kita menuntut seorang mahasiswa berada pada posisi study oriented, dan rasanya posisi ini tidak mungkin dapat ditawar-tawar lagi. Melupakan semua keresahan sosial dan penderitaan rakyat yang dilihat dan dirasakannya. Serta bekerja keras meraih nilai terbaik agar sebanding dengan nilai rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai ongkos kuliah yang memang ditetapkan mahal oleh penguasa.
Kedua, tentu saja cuplikan kalimat diatas mengenai ongkos pendidikan perguruan tinggi. Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan. Jika tidak demikian, maka mahasiswa mengalami ketakutan tidak lulus cepat atau bahkan akan terancam DO. Terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan terlalu menyita waktu dan dimungkinkan menghambat keberhasilan akademik. Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (baca: ruang kuliah dan perpustakaan). Paradigma ini terus disuara-wacanakan pihak Rektorat dan dekanan jauh-jauh hari saat mahasiswa tengah melalui proses pengenalan akademik di perguruan tinggi. Bahkan, dosen-dosen yang mengajar dikelas juga bertindak selaras. Jarang sekali tipe mahasiswa aktivis-akademis diwacanakan. IPK tinggi, rajin masuk kuliah, dan lulus cepat, selalu ditanamkan dan tidak pernah mengajak mahasiswa untuk aktif berkecimpung di organisasi kemahasiswaan.
Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik. Menurut penuturan beberapa rekan aktivis kampus upaya ini sering dilakukan. Penulis sendiri sempat ditanya oleh pejabat universitas, apakah sudah pernah mengambil beasiswa universitas atau belum. Saat itu kampus sedang panas-panasnya isu penolakan UU BHP. Upaya semacam ini adalah yang paling berbahaya. Tak bisa dipungkiri jika pemberian beasiswa atau fasilitas bisa mempengaruhi kekritisan dan idealisme mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan kebijakan rektorat dan dekanan. Dan ancaman bagi internal gerakan mahasiswa tentu saja perpecahan yang disebabkan rasa ketidakpercayaan yang timbul diantara sesama rekan, karena ada sebagian yang makin tumpul daya kritis nya atau mundur perlahan dalam mengkritisi kebijakan. Untuk para aktivis mahasiswa sudah seharusnya membangun komitmen bersama untuk menolak segala bentuk beasiswa dan fasilitas siluman yang semacam ini.
Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Mahasiswa aktivis belum tentu ber-IPK buruk. Banyak kita jumpai mahasiswa aktivis yang memiliki IPK 3 ke atas dan lulus cepat. Saat ini pragmatisme mahasiswa harus diakui semakin menggejala di tengah terpaan arus hedonisme dan permisivisme. Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus. Mahasiswa dengan IPK tinggi juga tidak bisa serta-merta dikatakan akademis karena ukuran untuk menilai akademis atau tidak cukup kabur saat ini. Perlu di ingat bahwa IPK tinggi akan mengantarkan kita mendapat kesempatan wawancara, tapi kepemimpinan, daya kritis dan kepekaan yang akan mengantarkan kita menjadi kader bangsa sejati. Dan itu bisa diperoleh dari dunia gerakan.
Membangun spirit gerakan
Bagaimana pun, kuliah penting dan organisasi kemahasiswaan juga penting. Preseden buruk akan terjadi jika mahasiswa tidak ingin terlibat dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan. Pragmatisme mahasiswa semakin menjadi-jadi dan defisit kader-kader pemimpin bangsa akan terjadi di kemudian hari. Padahal kebutuhan akan mahasiswa-mahasiswa kritis yang menghimpun diri dalam suatu gerakan mahasiswa merupakan kebutuhan mutlak dalam mengawal periode transisi bangsa dan mencapai cita-cita reformasi.
Membentuk gerakan kampus dan membangun nalar gerakan dalam diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan banyak cara. Yang sederhana untuk dilakukan adalah bertanya atau melakukan proses dialektis atas segala rupa kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala. Misal kita membaca berita bahwa “pemerintah melakukan kerjasama luar negeri dalam perdagangan”, penting bagi kita untuk bertanya “untuk siapa…?”, untuk siapa kebijakan itu dibuat? Untuk penguasa dan segelintir orang dilingkarannya?, atau untuk kemaslahatan rakyat banyak?. Walau sederhana, metode ini ampuh membangun nalar kritis bagi mahasiswa per masing-masing individu. Bayangkan apabila tiap mahasiswa di satu ruangan kelas saja berkehendak serupa untuk bertanya “untuk siapa” bagi setiap kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala yang terjadi di masyarakat, tentu akan terangkum suatu daya kritis yang amat besar dari mahasiswa. Apabila ini dapat terwujud barulah dapat dikatakan bahwa kampus adalah laboratorium bagi ilmu pengetahuan dan daya kritis sosial-politik bangsa.
Jalan lain membangun spirit gerakan, selain menulis dan membaca yang sudah umum diwacanakan, barangkali dapat kita temukan dalam petikan puisi ‘Negeri Para Bedebah’ karya Adhie Massardi. ”…Maka bila negerimu dikuasai para bedebah, Usirlah mereka dengan revolusi. Bila tak mampu dengan revolusi, Dengan demonstrasi. Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi. Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan”.
Barangkali sudah terwakili apa yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam mengembangkan semangat intelektual nya lewat puisi Adhie Massardi diatas. Tentu bagi setiap mahasiswa yang dalam dirinya tertanam semangat agen pembaharu, agen intelektual dan sosial kontrol, berhenti bergerak karena upaya penggerusan dan pelemahan yang dilakukan kaki tangan penguasa adalah suatu bentuk kebodohan. Melawan itu semua bukan hanya menjadi lambang ketidak sepakatan pada bentuk pembodohan dan kepatuhan akan penguasa, melainkan lebih dari itu merupakan wujud eksistensi gerakan mahasiswa dalam mengawal proses transisi politik, pemenuhan hak dasar warga negara, pemberantasan korupsi serta reformasi di segala bidang.
Selasa, 15 Desember 2009
Untukmu Irwandi; Kami Muda Yang Menggugat
Mata Muda memerah saga. Menatap geram isi berita…
Lepas Muda membaca, tapi tak lepas geram dihatinya. Ditatap gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Muda melepas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar dari tempatnya. Muda membaca kata SINAR. Muda membaca tulisan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Dibaca berulang dua nama itu. Kemudian, berbisik Muda dalam hati:
"baroe udeep beusare matee beusajan, sikrek kaphan saboh keureunda. Jinoe saboh timphan hanjeut plah dua..."
Sebuah foto tua bergambar seorang gagah berkumis setengah baya ditatap Muda dalam. Foto tua sang Ayah Muda yang gugur dalam rimba pertempuran. Bergegas Muda remas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Digenggam gambar itu. Muda menuju dapur berbelok ke sumur. Dicampakkan gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar sembarang disitu. Gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar yang akhirnya menjadi alas kotoran pagi kucing piaraan. Lepas geram Muda dalam raga, berganti jiwa merdeka yang dirasakannya.
***
Muda santai duduk bersandar di halte tengah kota. Dengan baju lusuh. Celana kumal yang menguning di sisi paha, robek di lutut. Sepatu kumal berdebu berhias juntai benang. Muda memungut selebaran dari Koran harian tentang sosialisasi Qanun Kesehatan yang tercecer. Ada gambar Gubernur disitu. Muda geram menggerutu. “Cuma Qanun omong kosong produk wakil rakyat kapitalis”. “Orang miskin dilarang sakit!”
“Gedung rumah sakit dibangun megah dari bantuan asing. Tapi yang menikmati tetap saja mereka yang punya uang. Yang orang kecil, tidak punya uang, mesti antri dapat giliran. Atau menunggu mati ditengah antrian. Yang katanya jaminan kesehatan cuma omong kosong janji politisi atau birokrat tolol yang coba tarik simpati.”
“Dan si Gubernur ini lebih tidak tahu diri. Orang tua yang disebut Wali saja berobat di kota waktu sakit. Tapi si Gubernur malah berobat ke luar negeri. Dan itu berkali-kali. Pakai uang rakyat. Emank dasar Gubernur gak ada otak! Jadi apa guna dibagun rumah sakit besar disini? Kalau Gubernur dan orang berduit lain tetap berobat ke luar negeri…?”
Muda menarik rambutnya yang kaku meninggi ke atas. Menepuk kawan yang sedang memeluk gitar. “Aku dan kau adalah orang yang anti kemapanan. Gubernur kayak gini harus kita lawan. Maen pakek uang rakyat aja untuk kesenangan pribadi dan bermewah-mewah. Taik kucing lahh!”.
Muda mengenang suatu sore di jalan kota. Ketika iringan mobil Jeep mewah melintas cepat dijalanan. Melewati para pengemis di tiap simpang. Memaksa yang lain menyingkir. Melewati pengangguran yang berjalan di trotoar. Memaksa yang lain minggir. Menyemprotkan debu kepada para tukang becak. Terus memaksa yang lain untuk tetap kasih jalan tanpa berhak bilang: “mobilmu dan jalan ini dibangun dengan uang rakyat bapak Gubernur…!”
Muda berkata lagi: “Sekarang bukan zaman nya lagi ikut Gandhi melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan membiarkan rakyat India dipukuli bertubi untuk mengusir penjajah Kolonial Inggris. Sekarang juga bukan zaman nya lagi kita ikut gaya Jhon Lennon menyerukan damai dengan tiduran diranjang dan memanjangkan rambut untuk menentang kebijakan perang Vietnam”.
Sekarang kita harus menggunakan jalan radikal untuk melawan. Anarki adalah pilihan. Kawan…tolong kau mainkan lagu ‘Bongkar’. 3 tahun Gubernur ini pegang kuasa tidak ada perubahan apa-apa. Semuanya omong kosong. Maka kita harus bakar! Mainkan lagu ‘Bongkar’ kawan. Karena di jalanan kita sandarkan cita-cita.
***
Duduk kaku dikursi ditemani secangkir kopi. Muda larut menatap layar monitor laptop. Tak sadar Muda kalau malam juga semakin larut. Muda lupakan secangkir kopi yang mulai mendingin. Muda menatap serius bacaannya di layar monitor. Muda gelisah bukan main. Folder file kliping media di baca lagi satu persatu-satu. Berita headline tentang isu pemerintahan menjadi fokus perhatiannya.
Diawal pemerintahan gagasan dan program gencar diluncurkan. Kepedulian terhadap rakyat kecil dipertunjukkan. Ke-ekslusifan ditinggalkan. Di awal, Irwandi bilang kalau Innova saja sudah cukup. Tapi nyatanya sekarang nyetir Jeep mewah. Di awal, Irwandi bikin feet and proper test untuk menyeleksi Kepala Dinas. Tapi daya serap APBA terus menurun. Di awal, Irwandi nyetir mobil sendiri, ngebut. Walau sakit tetap nyetir mobil sendiri, sambil pasang infus untuk bilang kalau lagi sakit. Di awal, Irwandi sahur dirumah Nek Aisyah. Tapi ternyata itu cuma di awal. Nek Aisyah cuma jadi bagian “sensasi” Irwandi.
Muda makin gelisah. Kerabat yang korup dilindungi oleh Irwandi. Irwandi lebih sering ke luar negeri daripada melihat rakyat di daerah sendiri. Walau terus menerus dikritik. Irwandi tidak juga bikin evaluasi. Irwandi tidak peduli. Serapan anggaran lemah, Irwandi cari alasan pengesahan telat. Kalau pengesahan tepat waktu, bikin alasan lain kalau kontraktor belum ambil amprahan. Dunia ini memang penuh pabrik alasan. Dimana sekarang Kredit Peumakmu Nanggroe? So nyang ka makmu jinoe…??? Irwandi atawa rakyat Aceh?
200 Ha Hutan Aceh per tahun hilang. Tapi Irwandi masih gagah bicara Aceh Green di luar negeri. Jualan hutan Aceh subur kepada asing, untuk kemudian dapat untung sendiri. Muda gelisah rumah hak korban konflik terabaikan. Pembangunan SDM dan lapangan kerja terabaikan. Pembangunan sarana pendidikan yang baik dan berpihak kepada rakyat terabaikan. Penegakan syariat Islam terabaikan. Perhatian kepada petani, nelayan, dan guru terabaikan. Perencanaan ekonomi yang mensejahterakan rakyat terabaikan. Dan yang tidak pernah terabaikan dan itu diakui sendiri oleh Irwandi adalah perempuan cantik, jalan-jalan ke luar negeri dan mengendarai mobil mewah.
Muda mengakhiri gelisah dengan lelah. Lelah akan macet nya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Lelah akan keadilan yang tidak juga kunjung datang. Lelah dengan pemimpin pemerintahan yang mempertontonkan kezaliman dan penindasan dengan bangganya. Kelelahan Muda dijawab dengan: “sudah cukup!”. Sambil mencopot kacamata, Muda berteriak, “ganti pemerintahan…!!!”
***
Muda yang ini sedang membaca sebuah buku bersampul merah. Dengan judul yang ditulis dengan warna hitam. Berisi perintah untuk menggusur kaum tua yang konservatif, korup dan feodal. Dan menggantikan nya dengan gerakan muda yang diisi oleh orang muda yang cerdas, berani dan progresif. Jemari Muda terus membolak-balikkan halaman demi halaman buku. Jemari yang tampak legam karena sering disengat matahari. Dahi Muda mengkerut membaca beberapa kalimat yang ada dibuku. Dahi yang sering terbakar dan dicium debu jalanan.
Kepala Muda terasa berat oleh jejalan kalimat-kalimat yang ada dibuku. Ruangan kosong terasa penuh oleh orang-orang yang Muda kagumi. Orang-orang yang lebih dulu memimpin. Orang-orang yang merasakan penderitaan sepanjang hidupnya. Orang-orang yang dibuang karena sangat ditakuti. Orang-orang yang ditahan tapi semangatnya mampu menembus tembok penjara dan membangkitkan semangat perlawanan. Orang-orang yang akhirnya mati dibunuh, tapi jiwanya tetap hidup disetiap sanubari para pejuang. Dan mereka adalah orang-orang Muda.
Muda tak tahan untuk melanjutkan membaca. Terlintas dibenaknya bagaimana orang Muda disekitarnya telah mati jiwa dan rasa. Orang Muda yang kemudian hidup oleh cita-cita masa lalu dan tidak memiliki cita-cita sendiri. Telah dikubur keberanian dan semangatnya oleh ketakutan akan kelaparan dan penderitaan. Orang-orang Muda yang tidak lagi memiliki arti untuk manusia lain.
Muda menutup buku dengan sebuah hentakan. Dirasakan kekecewaan akan bobroknya pemerintahan. Apa yang menjadi cita-cita ternyata harus kandas di ban mobil mewah dan terbentur meja negosiasi kepentingan elit. Muda hampir merasakan mati. Sebelum harapannya menghidupkannya kembali. Bahwa waktu belum menjauh. Jadi belum ada kata terlambat.
Muda mengenang…Bagaimana gaduhnya jalanan yang dilalui ribuan tapak kaki. Bagaimana riuhnya teriakan ‘hidup rakyat Aceh’ menggema. Bagaimana napas perjuangan masih cukup untuk menghidupkan keyakinan rakyat Aceh yang hampir musnah harapan nya karena konflik dan tsunami. Itu adalah kenangan Muda yang berjuang bersama ratusan ribu Muda lainnya untuk melahirkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang sesuai dengan MoU Helsinky dan cita-cita rakyat Aceh. Muda bergumam dalam perih, “meloloskan calon independen dalam pemilihan kepala daerah Aceh, ada keringatku disitu”.
Dan gumam Muda terus berlanjut. Dalam kenangan Muda yang makin legam kulitnya. Makin habis suaranya. Tapi Muda membawa kenangannya dengan penuh kecewa. Harapan yang dititipkan 3 tahun lalu berbuah pahit. “Irwandi dan Nazar adalah sebuah kesalahan…!!!”
Muda merasa harus menghentikan segalanya. Karena Muda terpaksa merasa berdosa atas kerakusan dan keserakahan penguasa. Mereka adalah orang-orang yang sudah lupa dengan nilai-nilai perjuangan. Dan hukuman bagi orang-orang yang lupa dengan nilai perjuangan dan orang-orang yang dulu bersama dalam perjuangan adalah mati sebagai pecundang, bukan sebagai pejuang.
Muda berdiri. Menatap sebuah foto yang terpasang diruangan itu. Di depan foto Panglima Tertinggi As-Syahid Tgk. Abdullah Syafii, Muda bersumpah….”aku akan melanjutkan perjuangan untuk Aceh merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penindasan dan merdeka dari ketidakadilan.”
“Aku akan berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. Dalam keyakinan kami, dimanapun tirani harus tumbang!”
***
Suara ini akan sampai kepadamu Irwandi. Yang akan diantar oleh seorang yang berpura-pura loyal. Menghampirimu sambil membungkuk. Sedang kau duduk di meja makan seperti tuan tanah zaman kolonial. Suara ini akan menjadikan sarapanmu jadi tak enak. Lantas kau marah dan arogan seperti biasa. Tapi aku tidak takut. Karena aku Muda.
Lihat baik-baik!
Kamis, 02 April 2009
Aceh Baru bukan sebutir air di daun kelor
Silam adalah gelombang yang menyeret nyawa menuju baka
Tapi silam berhasil menjabatkan tangan orang-orang yang bermusuhan
Silam juga membuat dunia mengulurkan tangan persahabatan
Walau kini masih ada korban yang mengais-ngais kebenaran
Walau kini masih ada renta turun ke jalan mencari keadilan
Tapi kini membagi kami antara megaphone dan kamus bahasa Inggris
Kini menyadarkan kami untuk belajar dan berjuang
Karena esok kita merajut Aceh masa depan
Yang kita pintal dari Aceh baru yang kusampaikan
Saudaraku,
Aceh baru bukan sebutir air di daun kelor
Cuma bisa merasa urat daun, atau melihat awan dan matahari
Tapi Aceh baru adalah matahari
Yang memberikan energi bagi jutaan daun
Yang memanaskan air, memuai menjadi awan
Yang akhirnya menjadi hujan,
Mendamaikan, mensejahterakan…
Amnesia Akut Orang Indonesia
Begitulah orang-orang Indonesia. Orang-orang yang betul lupa siapa Prabowo, yang pada 1998 serempak disebut sebagai otak dibalik kasus penculikan para aktivis prodemokrasi. Makin aneh lagi ketika korban penculikan seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dan Desmond J Mahesa, kini bersama satu barisan bersama Prabowo. Ada apa dibalik semua ini?. Apa mungkin Pius lupa bagaimana rasanya disetrum. Apa Haryanto lupa rasanya sarapan pagi dengan laras senjata. Apa Desmond lupa rasanya tidur diatas balok es. Mungkin mereka semua telah lupa. Sama seperti kita yang juga lupa pada Petrus Bima, Noval Alkatiri, Wiji Thukul dan delapan orang kawan lainnya. Yang mampu Haryanto ingat adalah mereka dapat saling mengenal, karena suara mereka saat bercakap. Dan yang mampu kita ingat adalah iklan Prabowo di layar tv. Mata burung garuda ternyata ampuh menghipnotis daya ingat kita untuk akhirnya amnesia.
Tak jauh beda dengan Prabowo. Mantan Panglima ABRI Wiranto pun berbasib serupa. Tampil kembali di tv dengan gaya bersahaja, makan nasi aking, peduli pada nasib pendidikan dan pengayom bagi kaum muda. Menjadikan Wiranto seperti terlahir kembali. Orang-orang sudah lupa bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab atas berbagai kasus pelanggaran HAM dan KKN selama orde baru. Orang-orang lupa siapa Wiranto; tangan kanan nya Soeharto. Bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat. Di Aceh, Tim-tim, termasuk tragedi Mei ’98.
Padahal belum jauh jarak antara kematian rakyat Aceh; yang dibunuh, disiksa, dirampas hartanya, diambil suaminya, diperkosa isteri dan anaknya, dan direndahkan martabatnya. Padahal masih bergema teriakan minta ampun, mohon maaf, tangis mengiba dari rakyat Aceh, Tim-Tim dan para korban Mei ’98. Para prajurit ntah dimana, Sang Panglima kini bisa ngebut menuju kursi Presiden. Apa orang Aceh sudah memaafkan Wiranto saat dia mencabut DOM pada 7 Agustus ’99 ?. Apa rakyat Leste sudah memaafkan dan menutup duka mereka pada lembar kertas KKP ?. Dan apa para keluarga korban Mei ’98 sudah ikhlaskan keluarga mereka diganti dengan senyum Wiranto di layat tv ?. Rupanya hati nurani juga bisa membuat kita amnesia.
Sudah cukup PKS saja yang berucap bismillah lalu menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Jangan lagi kita orang-orang yang sadar dan punya moral memilih dan mengangkat para penjahat dan koruptor ke singgasana terhormat negeri ini. Ingatlah Prabowo yang pernah mencoba menerobos Istana Merdeka dengan pistol dan pisau rimba khas Kostrad di pinggang. Ingatlah Wiranto yang pernah memerintahkan ribuan pasukan ke Aceh dan kemudian melahirkan ribuan mayat, yatim, dan janda.
Mudah-mudahan kita tidak lupa pada Akbar Tandjung terdakwa kasus Buloggate, lepas terpidana korupsi karena mampu memelintir hukum. Juga tidak lupa pada Bob Hasan si raja tebang hutan. Dan jangan lupa pada Muchdi Pr, yang sim salabim bisa bebas sebebas maunya.
Apa kita juga akan memilih orang-orang seperti ini nantinya. Di Aceh ada banyak terdakwa dan mantan narapidana korupsi tampil gagah lagi di poster-poster kampanye dengan senyum hipokrit. Minta ampun kita semua apabila orang-orang ini dipilih lagi. Mau jadi apa negeri ini, apabila rakyat yang mengalami sendiri penderitaan, pemiskinan dan pembodohan, masih mau memilih para calon pemimpin yang punya catatan teramat hitam ?
Mencatat dan mengingatkan adalah kontribusi kita paling nyata bagi masa depan negeri ini. Semoga sejarah bukan lagi milik penguasa, yang dapat di bengkokkan atau sekali-kali dibikin lurus.
Lantas, apa kita masih mau percaya pada penjahat kemanusiaan, perusak hutan, dan koruptor…???
Minggu, 29 Maret 2009
Membangun Mazhab Darussalam
Pergolakan pemikiran akhirnya menciptakan blok-blok ide, yang lahir akibat tarung benar-salah, tarung tesis-antitesis-sintesis. Dan yang paling membuat takjub, bahwa tarung pikir ini bukan hanya melahirkan blok-blok ide, tapi terus melahirkan generasi pemikir. Generasi pengubah wajah manusia dan dunia, generasi pensejahtera dan penghisap.
Kita lewati saja para pemikir tunggal yang kemudian jadi pesohor karena teori, temuan dan gagasan-gagasan mereka. Mari kita lihat blok-blok pemikir yang akhirnya mampu menghegemoni sebuah jalan pikir dan mengorientasi sebuah perubahan.
Lahir Mazhab Frankfurt dari Universitas Frankfurt Jerman, tempat berkumpulnya filsuf sosial yang melahirkan teori Kritis. Medan perangnya para pembangkang Marxis, seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno da Jurgen Habermas. Yang kemudian mengkritisi penggunaan teori Marx yang mereka anggap terlalu sempit, dan kemudian merapatkan diri pada ketertarikan neo-Marxisme.
Sekarang kajian kritis dari para Legiun Mazhab Frankfurt bukan hanya mampu melahirkan tumpukan kertas teori kritis yang bisa jadi makin usang. Namun lebih dari itu, mampu merasuk ke meja-meja diskusi para pemikir muda. Pemuda dari sudut Caracas, pemuda pinggiran Havana, dan bahkan pemuda Kutaraja yang terus membolak-balik bacaan nya, sambil mengerutkan dahi. Yahh.., berkerutlah selagi masih bisa!
Bidak Blok Catur Gagasan di Indonesia
Lain Mazhab Frankfurt, lain lagi Mafia Ohio. Sebutan Mafia Ohio tiba-tiba santer dan melekat di telinga orang Indonesia. Indonesia pra dan pasca reformasi jadi riuh dengan kehadiran para Mafia Ohio yang sangat menonjol dalam pemikiran politik di tanah ini. Ternyata sang Bos Mafia adalah R. Willian Liddle, guru besar di Departemen Ilmu Politik, Ohio State University. Liddle adalah seorang Indonesianis. Ilmuan politik Amerika yang meneliti di sini dari tahun 1960-an.
Sang bos ternyata punya murid Indonesia yang luar biasa. Jika diukur dari pengaruh, posisi, dan beberapa hasil karya. Diantaranya ada Ahmad Syafii Maarif yang mantan ketua PP Muhammadiyah, Denny JA yang mantan ketua LSI, sampai pada orang-orang yang sering muncul di TV dan kita baca buku-bukunya seperti Salim Said, Makarim Bisono, Rizal Mallarangeng dan Eep Saefulloh Fatah. Ini cuma sebagian, yang lain ada bayak lagi. Ide, prediksi dan gagasan Liddle bersama muridnya, ternyata mampu mempengaruhi peta politik Indonesia. Satu contoh saja, mengenai komentar Liddle sebelum pemilu presiden 2004, dimana dia memprediksi bahwa SBY akan menang. Walaupun murid-muridnya tidak selalu sepaham dengan sang guru, atau bahkan bersebrangan, ini tidak merubah da meretakkan geng Mafia Ohio dalam pergolakan politik di Indonesia. Ada juga geng lain memang, tapi yang satu ini lebih sering disebut mazhab, yaitu Mazhab Cornell yang dirintis oleh George Kahin yang mendirikan Modern Indonesia Project di tahun 1954, dengan 3 murid jagoan semacam: Ben Anderson, Dan Lev, dan Takeshi Siraishi.
Buat urusan ekonomi, ekonom dan birokrat Indonesia pernah begitu mengimani konsep ekonomi dari kelompok Mafia Berkeley. Orang-orang yang pernah belajar di kampus Berkeley. Mafia Berkeley menjadi aktor dibalik layar dari kejayaan dan keruntuhan ekonomi orde baru. Dengan si Bos Widjojo Nitisastro, lengkap dengan muridnya. Konsep ekonomi mereka disebut widjojonomics.
Adakah Mazhab dan Mafia Ilmuan di kita?
Menjawab ini ternyata ternyata perkara sulit. Miris bahkan. Kampus kita (unsyiah.red), cuma sangkar bagi para pemikir. Kerangkeng untuk sebuah revolusi pemikiran. Penjaranya kreativitas dan inovasi visioner.
Yang mau membuat perubahan diremehkan. Yang sedikit kritis dikucilkan. Yang mau melawan system akhirnya ditinggalkan. Membangun diskusi kritis dicurigai tindakan subversif. Bertanya tentang tata kelola kampus dibalas ancam dengan masa depan akademik. Memperdebatkan syariat harus siap dituduh kafir. Mengkaji Marx dianggap komunis. Mempersoalkan kegiatan mengaji yang dikelola mahasiswa dilabel orang anti-Islam dan syariat. Mahasiswa yang melakukan aksi dikencingi dosen dengan tuduhan makan duit, ditunggangi, untuk kepentingan politik. Dosen bilang mahasiswa itu kuliah saja, kalau kritis nanti tidak tamat kuliah.
Kalau mau nilai ‘A’ jawab saja sesuai diktat saat final. Kalau sedikit kritis dan menambahkan analisa sendiri, harus tegar lihat ‘C’ di papan pengumuman. Diutamakan ke kampus dengan kemeja, bersepatu, serta bawa alat tulis. Tidak bawa otak tak apa-apa, diam di kelas atau tidur saja saat dosen mengajar lebih baik daripada mengkritik yang si dosen ajarkan. Selebaran diskusi dan tulisan politik di kampus tak dilirik. Lebih ditunggu majalah sophie martin atau brosur kosmetik. Kuliah semata untuk nilai ‘A’. Kuliah untuk menghabiskan duit orang tua. Tanpa harus kritis, tanpa harus bersusah payah, yang penting ‘A’, yang penting orang tua kirim duit.
Entah ini salahnya mahasiswa atau dosen. Tapi keduanya harus bertanggung jawab. Dan harus bertanggung jawab untuk membangun budaya dan tradisi keilmuan dikampus Unsyiah. Kampus yang katanya jantong hatee rakyat Aceh.
Kampus Unsyiah miskin akademisi. Yang ramai cuma supporter dan komentator. Kalau di Indonesia ada widjojonomics, apa di Unsyiah ada masbarnomics? Yang mampu mengorientasikan pembangunan ekonomi pro-rakyat dan menyiapkan blueprint untuk itu? Mungkinkah ada ilmuan hukum dan politik yang mampu merancang dan mendorong suatu system hukum dan politik yang lebih dari sekedar seminar dan qanun? Mungkinkah ada ilmuan pertanian yang berhasil menciptakan pupuk murah namun berkualitas. Dan menghijaukan Aceh bukan dengan sawit? Mungkinkah ada arsitek dan kontraktor yang bisa membangun bangunan selain ruko-ruko? Mungkinkah dokter yang mau mengobati tanpa dibayar? Benar-benar tidak dibayar! Bukan bikin baksos karena dibayar yayasan atau karena proyek dosen dan si mahasiswa kedokteran ikut untuk dapat nilai ‘A’.
Dikampus cuma ada Darni and the genk, anti kritik dan otoriter. Sumringah menerima tamu asing, kucing-kucingan berdiskusi dengan mahasiswa. Dikampus cuma ada Masbar, ekonom besar tanpa blueprint. Dikampus cuma ada Mawardi, pakar hukum yang lebih sering tampil di Serambi daripada terlihat di kampus. Dikampus cuma ada Syahrul, yang melarang mahasiswanya untuk ikut aksi turun ke jalan. Dikampus cuma ada Mustanir, yang menjadikan kampus mipa sarang kader partai.
Padahal mereka semua adalah para guru, padahal aku bisa belajar dengan mereka-mereka. Tapi tenyata masih lebih baik aku yang seorang Ottoisme. Yang berguru sosial-politik dengan Otto si anak hilang. Yang punya gagasan untuk membangun sebuah tradisi dan kajian keilmuan di kampus. Lalu kemudian kulanjutkan dengan tesis Mazhab Darussalam.
Mazhab ilmu dengan orientasi ke-Acehan. Mendidik generasi pembelajar dengan spirit perjuangan. Berwatak inklusif dan kosmopolit. Bersikap terbuka dan merindukan perubahan. Melahirkan orang-orang yang progresif dalam berpikir dan militan dalam bekerja. Mazhab Darussalam akan menjadi pioneer bagi lahirnya epistemologi ke-Acehan. Aliran baru dengan Aceh sebagai kiblat dan landasan pikir.
Boleh saja dokter, boleh saja arsitek, boleh saja sejarawan, boleh saja teknokrat, boleh saja juris, boleh saja filsuf, dan boleh saja ekonom. Tapi tetap sebagai pendukung epistemologi ke-Acehan.
Kemarin ini cuma mimpi, sekarang jadi gagasan, dan pasti besok jadi kenyataan.
Sabtu, 28 Maret 2009
Yang tetap menyejukkan dan menjadi sumber kehidupan. Siklus, waktu, bentuk, kondisi, atau apapun tidak mampu merubah hakikat air. Dia abadi".
Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Aku jadi terinspirasi ketika membaca sebaris kata berbunyi “seonggok daging”. Pikiran tiba-tiba melayang lalu terjun bebas dengan kritis untuk membalas sebaris kata yang lazim dan acap terucap saat menjelang lebaran dan hari besar. Coba kutangkap bahasa tersirat dari dua kata dengan tambahan ‘se’ itu. Sepertinya orang yang berucap sedang gamang, pupus, atau bisa jadi telah lumer dengan keputus-asaan persis seperti bubur kacang hijau untuk sarapan pagi.
Kalau dibaca lengkap si bocah gamang hendak memasukkan semua orang yang berhasil kutangkap maksud tersiratnya, menjadi sama dengan kegamangan, kepupusan dan keputus-asaan yang dia punya. Siapa kau? dan siapa aku?? Yang dimaksud “daging berjalan yang diselamatkan”…??? Maaf! Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Bocah, coba kau ingat-ingat lagi.
Barangkali kau memang bocah yang diselamatkan. Karena memang kau hampir hilang arah, tersesat dalam kekuatanmu untuk berbuat, tiba-tiba gelap saat kau mencoba menemukan jati diri dan tujuan mu. Kau memang diselamatkan atau mungkin tersesat pada suatu cekungan getaran akibat kau sering meloncat-loncat. Dan aku, coba kau ingat-ingat lagi bocah, cuma seorang balita polos, yang sedang bermain-main tanpa tujuan jelas. Tapi aku serius pada permainan ini. Aku terus bermain untuk menghabiskan energiku, terus bermain hanya untuk berkenal dengan teman-teman baru, terus bermain sampai akhirnya kutemukan tujuan dan impianku dari permainan-permainan yang aku mainkan. Bocah, aku hanya balita pemimpi yang sedang bermain.
Apa kau pernah diajarkan matematika bocah? Pernahkah kau tahu tentang diagram venn? Dan pernahkah kau tau fisika bocah? Tentang hukum daya tarik atau magnetik? Yang kulakuan hanya bermain, yang kusamakan rumus fisika nya dengan membuat sebuah getaran. Getaran yang kulakukan, cepat atau lambat akan dirasa oleh lingkungan dan bumi ini. Getaran kulakuan, hukum daya tarik terjadi. Aku menjadi sebuah
Di antara milyaran
Kemudian, saat aku berhasil menjadi pusat getaran kecil dan bertemu dengan kutub pusat getar yang lebih besar, akan terbentuk sebuah arsiran. Persis seperti arsiran antara dua lingkaran, yang tidak peduli dengan ukuran bentuk (apakah besar atau kecil). Arsiran terbentuk. Getaran menyatu menjadi sebuah kekuatan magnetik dengan skala lebih besar dari sebelumnya. Itulah aku bocah.
Apa kau pernah belajar hukum alam bocah? Apakah kau pernah diajarkan biologi? Aku sadar betul bahwa tubuhku ini adalah air. Dan aku menggunakan filosofi nya dalam bermain. Aku berusaha dan sampai sekarang masih berusaha menjadi air. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air mengisi seluruh bentuk wadah. Dipanaskan akan memuai, di dinginkan akan mengeras dan memadat menjadi es. Tapi bentuk tidak merubah hakikatnya. Yang tetap menyejukkan. Sumber kehidupan. Mendamaikan. Mensejahterakan. Waktu, siklus, bentuk, kondisi atau apapun tidak mampu merubah hakikat air.
Aku akan terus mengalir bocah. Sekalipun berada pada saluran yang buntu, aku akan berusaha menemukan celah untuk keluar. Dan selagi aku mengalir barang tentu aku akan bertemu dengan beragam rupa makhluk, beragam rupa benda, beragam rupa sampah, beragam rupa puing, beragam rupa air. Yang secara tak sadar menyatu bersamaku saat aku mengalir. Dan kau bocah, berjongkok di tepian saja dan menonton aku mengalir.
Huh! Aku malas melihat muka-muka yang patah arang, aku sudah muak mendengar celoteh frustasi bocah yang terjebak antara komik dan sosialisme. Entah apa yang bocah-bocah ini pikirkan. Sepertinya mereka bingung, linglung, dan frustasi akan perubahan-perubahan sekitar. Dasar bocah! Terlampau ambil pusing memikirkan transisi masa kanak-kanak menjadi remaja. Mending aku si balita, yang cuma berpikir: “ayo kita main saja”.
Orang-orang ini terlalu goblok. Tidak melihat dan tidak membaca. Mereka menjebakkan diri pada transisi kanak-kanak ke remaja. Pengecut dan serba takut. Mereka tidak melihat ada harapan. Mereka tidak sadar bahwa perubahan sedang dilakukan. Dan mereka tidak membaca!
Sebagian lagi pengecut dan serba takut. Takut untuk memulai, dan yang lebih parah mereka takut gagal. Aku ini balita yang belum pernah menang. Aku gagal terus. Tapi aku masih punya nyali untuk mencoba lagi. Aku masih yakin punya energi untuk terus menerima kegagalan lagi. Bagiku gagal itu biasa. Bukan hal yang memalukan kawan, yang memalukan itu kalau kau takut gagal dan tak berani melanjutkan permainan. Kawan, “kebahagiaan hanya untuk mereka yang pernah mencoba, pernah berusaha dan pernah gagal. Karena cuma mereka yang bisa menghargai betapa berharganya orang-orang yang pernah menyentuh kehidupan mereka”.
Lainnya lagi, benar seperti kata Pram. Di Eropa orang-orang berusaha memberikan sesuatu pada umat manusia, hingga kemudian mereka memperoleh penghargaan dan tercatat pada sejarahnya. Di tanah kita ini, semua orang menyibukkan diri untuk berebut kekuasaan dan penghargaan. Makin muram ketika aku hampir tahu bahwa kalian juga takut untuk bermimpi dan memiliki impian. Kalian sudah tidak berani melakukan apapun, apa untuk bermimpi pun kalian takut bocah…?! Apalagi yang bisa menggerakkan kalian??
Aku masih punya mimpi, dan aku tidak berharap ada orang lain yang bisa kuminta untuk mewujudkan mimpiku. Aku harus mewujudkankan nya sendiri. Dengan atau tanpa…
Bocah, jangan kau coba-coba suntikkan virus gamang dan frustasi mu padaku. Kalau kau punya impian, wujudkan! Kalau kau tak berani bermimpi, katakan kau tak berani!! Kalau kau mau berbuat, kau berbuatlah! Kalau kau takut gagal, proklamirkan kalau kau pengecut!! Bukan waktunya lagi sekarang menonton dan berkomentar. Atau kau merasa sudah memiliki peran dan berbuat dengan alibi menonton dan berkomentar? Bukan masanya lagi untuk meminta dimaklumi segala kekurangan dan dimaafkan segala kesalahan. Memaklumi dan memaafkan itu urusan Tuhan, dan biarkan itu menjadi urusan Tuhan (itupun kalau kau percaya Tuhan bocah).
Sekali lagi bocah, aku akan terus mengalir. Aku tahu sekarang aku masih berada diselokan. Kotor, bau, dan hitam. Aku tahu itu bocah! Tapi aku juga tahu, bahwa seberapapun jauh jaraknya, seberapapun kotor, bau dan hitamnya aku. Suatu saat aku akan menemukan sungai kecil, dan kemudian aku akan menemukan sungai yang lebih besar! Nanti tolong kau jawab bocah, seberapa kotor, bau dan hitam nya aku saat itu?. Dan bocah, aku juga tahu, malah aku yakin. Bahwa nantinya aku akan berada di tengah samudera. Samudera yang luas, sumber penghidupan walau kadangkala mematikan, yang mensejahterakan, mendamaikan, samudera asal usul peradaban. Aku akan terus mengalir, sampai aku menemukan samudera.
Apakah kau pernah tahu bocah, bahwa Cak Munir saat baru saja membuka pintu gerbang transisi pernah berkata: “Sekaranglah saatnya semua orang mulai membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru. Meskipun harus di awali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya rasa tapi juga cita-cita”.
Walau aku tidak sempat berkenalan dan berjumpa dengan Cak Munir. Membaca tulisan dan memahami kata-kata nya sama seperti rasa aku sedang duduk berdiskusi dengannya. Aku telah berguru pada Cak Munir. Dan kau pahamilah sendiri kata-kata itu, kalau kau berani untuk memahaminya.
Aku akan terus membuat getaran. Dan sebagian yang tadi juga masih bergetar. Semoga aku masih bisa menyatu dalam sebuah
Senin, 02 Februari 2009
Surat Cinta Pada Milad ku ke-22
Terima kasih dan cinta yang tidak ternilai untuk semua sahabat, guru dan keluarga. Yang masih meletakkan ku pada serambi hati mereka. Yang tak dibiarkan tergeletak kemudian usang berdebu. Aku yang selalu dijaga dan diperhatikan. Akhirnya, Aku harus menunduk dan mengakui bahwa tanpa kalian aku bukanlah apa dan siapa...
Untuk keluarga ku ; bapak, mama, boy, akmal, dan tia. Maafkan jika 22 tahun kemarin anak dan abangmu belum bisa membahagiakan serta membanggakan kalian. Maafkan jika anakmu belum bisa membalas kesusahan dan kesabaran kalian dalam mendidik dan membesarkanku. Maafkan abangmu adik-adikku, pabila belum menjadi tauladan buat kalian. Harapku; semoga doa untukku masih terus mengangkasa ke pintu langit dunia. Dalam setiap lafaz doa pada fardhu dan sunnah, pada qiyamulail dan dhuha. Pada setiap lantunan surah, hingga setiap dzikir pagi dan petang. Hanya doa kalian yang buatku tegar dan menjadi cahaya jalanku menuju kebanggaan dan cita-cita kita. Kuberikan untuk kalian pelukan terhangat, untuk cinta, suka duka dan kebersamaan kita bersama.
Untuk guru-guruku ; mereka semua, yang mengeja kata hingga aku dapat membaca, mengajarkan menulis, menerangkan ilmu pengetahuan, memperlihatkan realita, membentuk keberanian, menjelaskan mana yang hak dan mana yang bathil, mengajarkan keadilan, dan memotivasi untuk terus berjuang demi kebenaran. Kutegakkan kepalaku, kuangkat setinggi-tingginya kedua tangan, memohon dibuka nya pintu langit, bagi doa-doa ku yang kusampaikan, semoga ridha Yang Maha senantiasa menyertai nafas dan langkah mereka.
Untuk semua sahabatku ; tiada kata yang akan terwakilkan untuk semua kenangan, kebersamaan, dan kekompakan. Semua tawa dan tangis yang tercurah, semua senyum yang tercipta. Hari ini kuberikan cinta ku untuk kalian, dan maukah kita terus bergenggam dan berjalan bersama?
Sahabat, aku yang teguh diatas pundak kalian, yang juga akan jatuh dibawah kaki kalian. Teruslah mengingatkan aku, sahabatmu yang pelupa. Akan cita-cita, usaha, dan cinta. Tetaplah menjadi cermin tulus untukku, tetaplah menyemangati, tetaplah bersama. Untuk kalian yang bersamaku meneteskan keringat di jalan, yang bersama berseru untuk keadilan, yang berjuang untuk mereka yang tertindas! Sahabat, Sebelah tubuhku adalah milik mereka-mereka, yang akan menjadi makanan bagi mereka yang lapar, yang akan dijadikan susu untuk bayi-bayi yang kehausan, dan dijadikan baju untuk mereka yang kedinginan. Dan setengahnya lagi adalah kayu bakar. Yang semoga menjadi kayu bakar-kayu bakar terbaik. Untuk menyalakan api perjuangan.
Untuk mereka yang mencintai ; aku akan lapuk, usang, berdebu, hingga ditinggalkan dan musnah. Aku tidak memiliki apa-apa hari ini, sampai besok pun tidak memiliki apa-apa. Yang kalian lihat hari ini adalah fatamorgana dan bagian metamorfosa yang belum sempurna. Kalian yang akhirnya sendu, kalian yang akhirnya kecewa, kalian yang tersakiti apabila melihatku dalam bayangan mimpi. Diantara mata kalian yang tertidur dan terjaga. Yang kalian harap ada pada mereka yang berharap. Bukan padaku.
Untuk dia yang mencintai ; terimakasih karena telah mengatakan dan melakukannya.
Untuk dia yang tak pernah pupus ; aku akan selalu mengingat dan menyimpan bahasamu.
Untuk Dia yang selalu kuharap dapat bertemu ; Sudah 22 tahun aku menghirup nafasMu, berjalan diatas tanahMu, melihat kebesaranMu dan berpijak di duniaMu. Aku bukanlah makhluk yang taat dan patuh, bukanlah bagian dari yang pandai bersyukur, bukan juga bagian yang penyampai. Aku adalah pembangkang yang melakukan apapun semauku. Yang sesekali sujud dan menengadahkan tangan. Sesekali membasahi bibir dengan ucapan kemuliaan dan keagungan untukMu. Andai jiwa ini tak pantas bersama pahlawan-panutanku yang mulia dan agung di surga. Maka campakkan jiwa ini ke neraka untuk membakar mereka yang menindas makhlukMu di dunia. Sebagai balasan atas abai dan lalaiku.
Akhirnya pak, ma, boy, mal, tia, guru, bung, dan sahabat-sahabatku. Selamanya... Salamku hanya untuk; mereka yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan.
Salamku untuk kalian yang 'tercinta'...
Interupsi! Pendidikan Adalah Hak Bukan Barang Dagangan
Dalam alinea ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa tujuan negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian pada pasal 31 ayat 1 UUD 1945 dengan tegas disebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Serta pada pasal-pasal berikutnya diatur mengenai tanggung jawab negara untuk membiayai pendidikan dan mengusahakan suatu sistem pendidikan yang akan mendorong kemajuan bangsa. UU BHP yang telah disetujui oleh DPR tentu bertentangan dengan amanat konstitusi, karena UU BHP jelas ber-spirit privatisasi dan liberalisasi. UU ini juga bertentangan dengan UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948 yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu hak dasar bagi setiap warga negara dan wajib dipenuhi oleh negara. Hal yang sama dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 20/2003. Pemerintah dan pemerintah daerah diwajibkan memberi layanan dan kemudahan, serta menjamin pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa ada diskriminasi. Sungguh ironis! Pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif malah membuat suatu kebijakan yang jelas inkonstitusional dan irrasional.
UU BHP akan membebankan 1/3 pembiayaan pendidikan kepada masyarakat (mahasiswa). Katakanlah Universitas Syiah Kuala pertahun membutuhkan biaya operasional sebesar 90 milyar rupiah. Maka dalam hitungan matematis, mau tidak mau mahasiswa wajib menanggung 30 milyar rupiah. Langkah rasional yang tentu saja diambil oleh pihak rektorat adalah dengan cara menaikkan SPP demi menutupi kekurangan. Hal ini akan sangat memberatkan. Terlebih kepada golongan mahasiswa tidak mampu. Mengecap pendidikan tinggi hanyalah sebuah angan-angan. Dampak massif dari permasalahan tadi akan menghilangkan kesempatan belajar jutaan generasi bangsa. Bayangkan, apabila biaya pendidikan tinggi begitu mahal, maka bagi masyarakat miskin tidak ada pilihan selain memilih langsung bekerja dengan ijazah tamatan SMA. Pertanyaannya, dimana tempat bekerja dengan ijazah SMA? Tentu ini akan sangat merugikan bagi bangsa Indonesia yang sedang dalam tahap berkembang dan belomba dalam mencetak para calon intelektual. Karena bukannya mempersiapkan intelektual profesional dan berkualitas, malah merencanakan suatu sistem yang mempersiapkan generasi bangsa menjadi generasi kuli.
Munculnya UU BHP merupakan mata rantai penetrasi kepentingan asing yang dilakukan secara sistematis didorong oleh WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Dimulai dengan ratifikasi Perjanjian Umum Mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT) serta Perjanjian Umum Mengenai Perdagangan Sektor Jasa (GATS), yang memasukkan layanan pendidikan sebagai komoditas yang bebas sesuai dengan hukum pasar bebas. Penetrasi ini dilanjutkan melalui UU Sisdiknas, dimana dalam UU ini membuka jalan bagi pihak asing untuk masuk dalam dunia pendidikan. Penetrasi asing ini dipertegas dengan UU no. 25 / 2007 tentang Penanaman Modal Asing, dan UU BHP ini dilengkapi dengan Perpres No. 77 /2007 yang intinya modal asing diperkenankan masuk sampai 49% di dunia pendidikan.
Memberikan ruang modal asing untuk masuk ke dalam pengelolaan pendidikan hingga 49% jelas akan mengkerdilkan posisi bangsa ini yang sebetulnya kaya akan sumber daya alam berlimpah. Penting untuk dipahami bahwa investasi merupakan upaya mencari keuntungan, dan bukanlah hibah atau pemberian cuma-cuma. Paradigma pendidikan berbasis dagang belum cocok diberlakukan di Indonesia. Masyarakat kita belum siap menjadi konsumen dari penyelenggara pendidikan. Liberalisasi pendidikan akan memberikan ruang menganga bagi bangsa ini untuk kembali dijajah oleh bangsa asing lewat cara baru (neo-imperialisme), dan mengikhlaskan pendidikan kita untuk dijadikan ladang keuntungan atas investasi yang dilakukan, atau minimal sekali manajemen universitas di Indonesia akan berada dibawah kendali negara kapitalis-imperialis. Sungguh ironis. Terlebih apabila kita mengenang manifesto Bung Karno tentang nation and character building.
BHP bukan solusi
UU BHP bukanlah sebuah solusi bijak dalam upaya memajukan pendidikan bangsa. UU ini memiliki banyak kontradiksi. Misalnya BHP itu berprinsip nirlaba (tidak berorientasi mencari keuntungan), namun disisi lain mengatur mengenai investasi (yang berprinsip mencari keuntungan). Sangat kontradiktif. Gagasan subsidi silang justru akan menyebabkan polarisasi diantara mahasiswa, dimana mahasiswa yang mensubsidi mahasiswa yang tidak mampu akan merasa memiliki kuasa, kemudian berefek hilangnya rasa percaya diri bagi yang mahasiswa yang tidak mampu. Dari sudut pandang pengganggaran, UU BHP ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat mencoba ”lari” dari tanggungjawab dalam upaya menyediakan 20 persen anggaran pendidikan. Melalui UU ini pemerintah pusat mengalihkan tanggungjawabnya kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Penyelenggaraan BHP akan dibebankan pada APBD dan menjadi tanggungjawab pemerintah daerah masing-masing serta peserta didik. UU BHP ini juga merupakan pemborosan terhadap anggaran. BHP dibentuk di pemerintahan daerah baik lembaga formal maupun non formal (asing). Konsekwensinya akan ada tambahan pembiayaan mengenai belanja modal, barang dan pengawai. Pengabdian guru atau dosen juga dirasa akan terkontaminasi dengan aspek materialisme semata. Jadi, nilai pengabdian hanya diukur dengan uang. Nantinya guru/dosen akan berstatus sebagai karyawan BHP dengan standar upah dan kenaikan jabatan yang sangat ditentukan oleh satuan pendidikan dimana ia bekerja sesuai dengan kontrak kerja. Bukan tidak mungkin nasib guru/dosen akan lebih buruk lagi dibanding buruh. Selain itu, hubungan guru dengan pemimpin satuan pendidikan menjadi seperti layaknya majikan dan buruh. Dan hubungan guru/dosen dengan peserta didik ibarat pelayan dan tamu restoran. Apabila pelayan “terlambat” menyajikan makanan maka sang tamu berhak membanting meja.
Bagaimana menyelamatkan Jantong Hatee?
Sangat menggelikan bagi kita semua saat Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA mengatakan bahwa BHP merupakan solusi untuk meningkatkan profesionalitas, atau berkilah kalau transparansi dan akuntabilitas akan terlaksana apabila Unsyiah menjadi BHP. Sejatinya, kunci perwujudan profesionalitas, transparansi dan akuntabilitas hanyalah terletak pada integritas dan kejujuran para stakeholder universitas. Bukan bergantung pada aturan normatif undang-undang yang selalu tekesan sangat ideal. Mewujudkan profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas tidak perlu menunggu UU BHP. Sudah sepatutnya ketiga hal tersebut terwujud sejak dulu berdasar pada AD/ART Unsyiah, UU Sisdiknas, atau pada kesadaran amanah yang bersifat religius.
Upaya secara nasional untuk judicial review merupakan langkah konkrit penyelamatan pendidikan nasional. Namun solusi alternatif lain dalam konteks Aceh juga harus disiapkan, apabila judicial review akhirnya ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Menjadikan UU Pemerintahan Aceh yang merupakan grundnorm bagi rakyat Aceh, dapat menjadi payung hukum dalam pengelolaan pendidikan di NAD. Serta memaksimalkan anggaran baik lokal maupun nasional untuk kemajuan pendidikan, dirasa merupakan tawaran solusi bijak saat ini. Selain partisipasi rakyat Aceh yang maksimal dalam memantau dan memajukan pendidikan. Serta yang penting diingat, bahwa pendidikan bukanlah barang dagangan (komoditas), melainkan suatu hak dasar dan alat untuk mencerdaskan manusia. Pendidikan merupakan alat pembebas manusia dari berbagai masalah dan mecapai kemajuan.
(Penulis adalah Koordinator Mahasiswa Peduli Keadilan (MPK), Mahasiswa Fak.Hukum Unsyiah, dan aktivis Front Mahasiswa Aceh Tolak BHP)

