Rabu, 05 Mei 2010

Program ReRa Untuk Kawan-Kawan MAPALA

Bagi yang mengetahui, judul tulisan ini barangkali agak menggelitik dan membongkar kemapanan berfikir. Memang, judul di atas merupakan sebuah “kenakalan berpikir” yang lahir dari kecemasan akibat melihat “kekuatan-kekuatan besar” yang disangka memiliki daya dobrak yang besar, nyatanya serupa dengan hembusan kecil yang hanya sanggup untuk memadamkan lilin.


Kalau ada yang duluan berkomentar bahwa ReRa itu merupakan program militer, barangkali pantas kalau pertanyaannya disambung menjadi, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”. Sebelum menjawab pertanyaan itu, tentu perlu mengupas secara singkat apa itu ReRa.


Dalam sejarah Indonesia program Restrukturisasi dan Rasionalisasi atau yang sering disebut ReRa menjadi sebuah terobosan bagi militer Indonesia di awal periode kemerdekaan. Secara garis besar program yang dicetuskan oleh Mohd. Hatta ini bertujuan untuk melakukan ‘Restrukturisasi’ atau perampingan segi jumlah tentara Indonesia. Serta ‘Rasionalisasi’ merupakan proses dimana individu membangun logika yang benar dan sistematis untuk digunakan pada keputusan. Serta proses indoktrinasi untuk menyatukan proses mental yang berbeda. Hatta melakukan restrukturisasi dan rasionalisasi bukan karena tidak ada alasan, tapi pemerintah tidak sanggup membiayai banyaknya tentara yang dimiliki negara setelah berhasil merebut kemerdekaaan dan menindak lanjuti perjanjian Renville agar secepatnya membentuk Negara Serikat Indonesia.


Catatan sejarah memang tidak seluruhnya mengabarkan kebaikan dan dampak positif dari program ini. Karena justru dari pelaksanaan program ReRa, banyak tentara laskar rakyat yang jumlahnya lebih besar dan lebih besar perjuangan nya dalam kemerdekaan justru pada akhirnya disisihkan. Namun beberapa pengaruh positif justru menjadi patokan pembangunan militer dan inspirasi bagi organisasi lain.


Kembali menjawab pertanyaan di bagian awal tentang, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”, jawaban nya adalah “banyak persamaan, sedikit perbedaan”. Mapala sebagai sebuah organisasi kampus yang menjadi tempat berkumpul para mahasiswa pencinta alam, dikenal memiliki kekuatan solidaritas dan kekompakan yang tinggi. Senang berpetualang di belantara hutan. Dan perlengkapan yang mapala punya, sebelas dua belas dengan perlengkapan punya militer. Selain itu organisasi mapala juga dikenal dengan latihan disiplin ala militer dan sistem komando dalam menggerakkan organisasi. Persamaan atau sedikit perbedaan yang lain, biarlah kawan-kawan Mapala atau serdadu militer saja yang menjawab.



Tantangan “petualangan” baru


Program ReRa yang dulu menjadi wacana militer Indonesia, rasanya pantas di wacanakan kembali di dalam tubuh mapala, dan ini didasarkan pada kebutuhan serta kondisi faktual-objektif yang terjadi hari ini.


Kondisi begitu ‘bejibun’nya permasalahan lingkungan yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan kemudian, seharusnya menyadarkan kawan-kawan mapala untuk turut ambil andil dalam perbaikan dan perubahan. Persoalan yang tengah marak seperti, penebangan liar, pencemaran udara, serta kerusakan lingkungan akibat penambangan, harusnya juga menjadi wacana baru untuk kemudian melahirkan tindakan baru. Inilah yang disebut Rasionalisasi ‘ala Mapala.


Kebutuhan akan pentingnya individu-individu atau kader yang turut ambil bagian dalam mewacanakan dan mengambil tindakan konkrit dalam menyelamatkan lingkungan, menjadi argumen yang rasional untuk “menggemukkan” organisasi mapala dengan anggota yang jumlahnya puluhan bukan belasan. Inilah yang disebut Restrukturisasi ‘ala Mapala.


Kemudian rasanya pantas mapala juga mengambil doktrin politik “Jalan Tengah” hasil buah pikir Jenderal A.H. Nasution, yang kemudian melahirkan doktrin Dwifungsi Militer yang kita benci itu, menjadi wacana baru yang ‘ala mapala. Kalau dalam doktrin Dwifungsi Militer, militer sebagai fungsi pertahanan-keamanan juga ikut dalam fungsi politik-pemerintahan. Maka Dwifungsi Mapala yang pantas diwacanakan adalah; pertama, mapala berfungsi untuk penyaluran minat dan bakat. Kedua, fungsi mapala sebagai sebuah ‘Gerakan Lingkungan’. Dwifungsi Mapala ini tentu akan menjadi sebuah Tantangan “petualangan” baru bagi kawan-kawan mapala.


Yok lihat lebih dalam


Kita buka mata dan telinga, kemudian mencoba untuk ‘fair’ menilai. Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam ruang pikir kawan-kawan mapala, bukan bagian dalam ruang pikir NGO-INGO lingkungan yang berselemak di Aceh.


Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam aksi nyata dan tindakan konkrit kawan-kawan mapala, bukan bagian dari latar belakang proposal dan program plan NGO-INGO lingkungan yang berserak di Aceh.


Jadi seharusnya, mapala tidak menjadi “gerbong sempit” yang digerakkan oleh lokomotif NGO-INGO. Tapi sejatinya memimpin sekaligus menjadi lokomotif yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat Aceh termasuk NGO-INGO untuk ikut serta dalam perbaikan dan penyelamatan lingkungan.


Dan kembali, sebuah kabar duka kalau mapala dapat bergerak ketika “infus donor” mulai dialirkan kedalam tubuh organisasi mapala. Kekuatan solidaritas, semangat bertualang, disiplin, komando, dan kekompakan, mestinya menjadi modal besar untuk mengkomadoi gerakan lingkungan di Aceh.


Kalau kawan-kawan mapala masih menganggap Soe Hok Gie sebagai pendiri, maka mapala mesti menjadi gerakan, dan tak sekedar hobi. Karena Wanadri juga bukan sekedar hobi.

Pembodohan di ‘Hardiknas’ Oleh Mendiknas dengan judul: “Televisi Pendidikan Untuk Mencerahkan Anak Bangsa Di Daerah Tertinggal

Dalam suatu ruangan kelas yang pengap dan sempit. Murid-murid yang tidak bersepatu di sebuah Sekolah Dasar di Timika Papua sedang serius mendengarkan pengajaran dari bu guru. “Anak-anak… agar kalian dapat lebih cepat paham yang ibu ajarkan tadi, juga supaya bisa mempraktekkannya dirumah, jangan lupa rajin-rajin menonton TV Cita. Ketrampilan yang ibu ajarkan tadi juga ibu dapat dari menonton acara itu anak-anak….”.

Ya. Itulah barangkali gambaran yang ada di pikiran Hary Tanoesudibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) grup, yang juga Direktur Utama PT Global Mediacom, Tbk, sebuah perusahaan raksasa yang menggandeng Kemendiknas untuk meluncurkan program TV Citra Indonesia Terampil (Cita). Sebuah acara seremonial yang akbar dipersiapkan untuk mendukung peluncuran program ini. Acara ini juga dihadiri para kepala sekolah, guru, juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA, se-DKI Jakarta. Para pejabat menggandeng ibu pejabat dari Kemendiknas dengan berstelan jas lengkap turut hadir bersama seluruh pemilik saham dan petinggi dari perusahaan televisi dan komunikasi terkemuka di tanah air ini.

Rasa-rasanya, sebuah acara seremonial ini begitu selaras dan menjadi kabar bahagia di hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei memang sengaja dipilih oleh MNC dan Kemendiknas untuk menunjukkan betapa pedulinya pemerintah untuk memajukan pendidikan dan betapa bermurah hatinya sebuah perusahaan besar seperti MNC dalam mengangkat pendidikan Indonesia dari ketertinggalan.

Menteri M. Nuh sampai memberi komentar, "MNC bisa menjadi sumber inspirasi bagi kawan-kawan. Para perusahaan-perusahaan, tidak usah ragu untuk membantu dunia pendidikan karna pasti itu jatuhnya ke kita sendiri. Saya kira ini contoh yang bagus untuk sumber inspirasi,".

Terlihat sangat luar biasa! Tapi mari kita lihat lebih jeli. Ternyata program televisi ini hanya dapat dinikmati lewat saluran tv kabel (berlangganan) Indovision. Lantas, kita wajib bertanya, bagaimana pelajar di daerah tertinggal dapat menikmati siaran tv ini? Apakah harus beli tv dulu kalau tak punya tv? Lalu setelah punya tv mesti beli seperangkat alat tv kabel dan berlangganan tv kabel? Kalau tak sanggup beli tv bagaimana? Apakah pemerintah mau menyediakan tv sekaligus tv kabel untuk tiap rumah di pelosok??? Karena pemerintah pasti tahu kalau kami yang katanya masyarakat daerah tertinggal untuk makan saja susah!

Terlalu! Ini jelas-jelas penipuan dan pembodohan! Simaklah, ternyata Sky Vision (Indovision), merupakan anak usaha PT Global Mediacom yang tergabung dalam MNC group. Kalau Direktur Global Mediacom adalah Harry Tanoesudibjo, maka Direktur Sky Vision (Indovision) adalah Rudy Tanoesudibjo yang merupakan abang kandung Harry Tanoe. Ya, kedua bersaudara inilah yang kemudian menggerakkan bisnis televisi di Indonesia. Dan kedua bersaudara inilah yang juga mengotori hari pendidikan nasional dengan siasat licik yang pantas distempel dengan kapitalisme pendidikan.

Dan kedua kakak beradik Rudy Tanoe dan Harry Tanoe dalam dunia “bisnis” juga disebut sebagai Mafia Indonesia yang disebut ‘Geng Sembilan’. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan cari tahu sendiri siapa-siapa ‘Geng Sembilan’ ini.

Dan begitu menjijikkan rasanya apa yang disampikan Harry Tanoe dalam pidato seremonial, "Ini dilandasi keinginan kami untuk berpartisipasi ambil bagian dalam membangun bangsa kita. Karena masih banyaknya masyakat yang belum mengenyam pendidikan, oleh karena itu kami memikirkan cara cepat untuk membantu yaitu dengan menggunakan satelit yang bisa menjangkau seluruh pelosok melalui program keterampilan yang singkat dan padat. Dengan demikian banyak masyarakat kita yang bisa dibantu,"

Teranglah sudah, Harry Tanoe meluncurkan program “baik” siaran Tv Edukasi Cita yang dijalankan oleh perusahaan nya Global Mediacom, dan kemudian si kakak yang memiliki perusahaan Sky Vision (Indovision) melahap keuntungan sebesar-besarnya. Karena, rakyat yang mau menonton Tv Cita (Harry Tanoe), mesti beli dulu satu set tv kabel Indovison (Rudy Tanoe).

Akhirnya rakyat juga yang dibodohi. Ditipu sampai mati. Program Tv edukasi Cita yang “mulia”, yang kita sangka “murah hati” nya pengusaha, ternyata modus baru menipu rakyat untuk menghisap kapital berlipat-lipat ganda. Bayangkan, berapa harga tv kabel itu, 1 juta? 2 juta? Berapa harga berlangganan nya, 300 ribu? 500 ribu? Rakyat daerah terpencil mana yang sanggup membayar…??? Apakah Timika..? Apakah Majene..? Apakah Kluet..? Apakah Nemberala..?

Dan bagaimana kalau pemerintah yang terpaksa menyediakan televise plus tv kabel Indovision. Apakah Anggaran Pendidikan Nasional..? Ataukah APBD..? Ataukah APBK..?

Karena simaklah kembali, pemerintah menyediakan balai-balai pendidikan dan pelatihan keterampilan di seluruh Indonesia, yang di bawah Kementerian Diknas, akan menyiarkan program pelatihan dengan nama TV Citra Indonesia Terampil (CITA) melalui Indovision di channel 845. Nantinya masyarakat yang mengikuti kelas pelatihan tersebut akan dapat menyaksikan dan mempraktekan tayangan dari program pelatihan yang disuguhkan. Untuk perangkat siaran, saat ini sudah terpasang 100 set perangkat siaran yang diletakkan di balai-balai pendidikan di seluruh Indonesia. Nanti diakhir tahun, target terpasang ada 1.000 perangkat siaran. Lucu sekali, dagelan persekongkolan menteri kapitalis dengan pemodal.


Benar-benar pemerintah telah menjadi budak para pemodal, bermain di lingkaran kekuasaan untuk mengeruk keuntungan dari uang rakyat. Pemerintah saat ini adalah komprador-komprador pemodal. Agen-agen neoliberalime. Dan dengan senang hati menjual “masyarakat daerah terpencil” untuk kenyang perut sendiri. Itu dilakukan ditengah siaran tv silang berganti menayangkan rendahnya fasilitas pendidikan, beberapa pelajar berprestasi, trauma pelajar karena UN, pelajar-pelajar yang putus sekolah, dan mahalnya ongkos pendidikan. Di hari ini, 2 Mei 2010, hari pendidikan nasional.

Ironis!

*M. Fauzan Febriansyah (aktivis mahasiswa Aceh) …. Meneriakkan kata: “LAWAN!”

Kuberi Judul: “Nyala Hidup, Hidup Nyala…”

Suatu ketika guru bijak mengajukan pertanyaan. “ada dua buah bola lampu. Bermerk sama, perawatan yang sama, sama-sama 15 watt, dan dulu dibeli di toko yang sama, pokoknya semuanya sama”. Dengan mimik yang lebih serius sang guru bijak melanjutkan… kemudian mengangkat tangan, mencontohkan sambil menjelaskan. “Tapi anehnya, yang satu Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…” Tangan sang guru bijak pun berkedap-kedip.

“Dan yang satu nya lagi hiduuuuuppppp terusssssss……” Nah, Pertanyaan nya adalah bola lampu yang mana yang paling banyak menghabiskan arus….??” Bocah gondrong menjawab yang hidup-nyala, hidup-nyala. Yang lain nya pun serempak menyahut “yang hidup-nyala, hidup-nyala guru!” Sang guru bijak pun terkekeh. Membiarkan pertanyaannya tersimpan dalam ruang penasaran di pikiran bocah-bocah yang mendengar.

***

Di sebuah kamar dengan sebuah lampu yang akhir-akhir ini lebih sering padam. Daripada hidup, atau hidup-nyala, hidup-nyala. Cahaya-cahaya yang menerangkan cuma berasal dari lampu layar telepon seluler blackberry yang makin sering digenggam oleh pelacur ibukota. Layar blackberry pun menampilkan laman jejaring sosial facebook yang sekarang dijadikan media transaksi pelacur ibukota. Namun yang bikin beda dari barang milik pelacur ibukota adalah “lempar-lempar” komentar di bawah status facebook antara satu blackberry dengan blackberry lain. Blackberry yang satu hiduuuuupppp terusssss, dan satunya lagi hidup-nyala, hidup-nyala.

Lempar-lempar komentar makin ngeri. Aroma politik yang menebar bau amis, padahal entah kapan telepon seluler baunya amis. Komentar-komentar yang tarik garis dan bikin sudut. Bikin blok kiri dan blok kanan. Merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan. Kalau dibilang kanan, blackberry dan facebooknya terbilang kiri. Hah…! Ini lakon koq mirip Nagabonar. Ada Jenderal selepas main catur, kemudian tarik-tarik garis di tanah, dan ribut lagi soal muka bapak siapa yang digambar. Beralihlah ribut soal garis-garis ditanah yang kata Jenderal Nagabonar itu muka nya bapak Jenderal Mariam. Halah… padahal keduanya bukan jenderal. Dan kenapa pula dari main catur, ributnya soal garis kiri dan garis kanan…?! Ini zaman sudah maju 100 tahun, atau mundur 100 tahun…?? Mestinya ini zaman maju 100 tahun, tapi para Jenderal nya punya karakter para Jenderal 100 tahun lewat.

Tapi ini zaman memang keblinger. Blackberry hidup terus, facebook hidup-nyala, hidup-nyala…tapi listrik padam terus. Yang protes listrik padam terus, juga dari yang punya blackberry yang hidup terus, dan facebook yang hidup-nyala, hidup nyala.

Ini zaman memang keblinger, semua sama-sama punya blackberry, sama-sama pakai facebook, sama-sama rasain listrik padam, dan sama-sama merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan… tapi, ini zaman suka bikin ribut yang suka sama-sama. Entah keblinger yang pernah bilang “sama rata, sama rasa”. Atau keblinger yang baca “sama rata, sama rasa”.

Ini zaman memang keblinger. “Keblinger” persis dengan makna Soekarno mengucap keblinger! Berteriak ‘hidup’ rakyat di blackberry, mengutip kalimat dari pamflet ‘Njala’ di facebook. Ini zaman dengan orang-orang yang persis dengan judul buku Soe Hok Gie “Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan”. Tapi, entah orang kiri yang berada disimpang? Atau, entah orang yang sedang berada di simpang kiri?... Tapi yang pasti, ini zaman dengan orang-orang yang sukar bedakan hidup dan nyala.

Ini zaman dengan orang-orang yang mempersoalkan, mana yang teriak ‘hidup’ rakyat! Dengan sebenar-benarnya teriakan ‘Hidup Rakyat’…! Dan mana yang menulis seperti pamflet ‘Njala’! dengan sebenar-benarnya tulisan ‘Njala’…!

Ini zaman betul-betul keblinger. Tiga ‘setan oeang’ berdiri mengangkang dan berak di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Dan tiga setan oeang sedang menghitung berapa tumpuk duit yang bisa dibagi, sambil melirik berapa tumpuk taik yang sudah menghias di kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Setan pertama bersungut listrik, dengan perut buncit disesaki kapital. Kapital yang diperoleh dari nilai lebih hasil hisap-menghisap arus listrik milik Bu Minah penjual es mambo di kantin SD, dan bang Him si tukang las. Setan bersungut listrik mulai menghitung tetesan-tetesan kapital yang bisa dibagi ke setan kedua dan ketiga. Setan kedua menenteng senjata, senjata dari pajak pak guru Sofyan dan pajak hasil keringat pedagang eceran. Setan ketiga berselempang bendera, yang sedang laku di pasar politik dan meja kerja kepala dinas. Dan ketiga setan sedang bekerja menyusun cara untuk melipat kapital, mengajak setan yang lain menikmati tetesan sambil terbahak menyaksikan tumpukan taik di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala.

Orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala sedang keblinger! Bertengkar remeh temeh dengan gaya debat Aidit, Disman dan Nyoto di kantor CC. Tapi medan tengkar pun di blackberry dan facebook yang jadi mahakarya imperialis-kapitalis sekarang. Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu imperialis. Imperialis yang tidak sama dengan amtenar-amtenar dan pejabat pemerintah.. . Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu kapitalis. Kapitalis yang tidak sama dengan bangsa asing, yang tidak sama dengan negara-negara maju. Imperialis itu adalah hasrat untuk menguasai atau mempengaruhi ekonomi-politik bangsa lain. Yang bukan hanya kita temukan pada bangsa-bangsa Amerika dan Eropa, tapi juga pada nafsu Sriwijaya yang menaklukkan semenanjung Malaka, kerajaan Melayu dan negeri Campa. Juga kita temukan pada Majapahit yang mempengaruhi semua pulau nusantara, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Sekali lagi, imperialis adalah soal hasrat mempengaruhi dan menguasai.

Dan kapitalis itu sesederhana ceramahku pada bocah-bocah yang baru selesai bermain bola. Kapitalis itu adalah bola Nike yang dengan gagah dimainkan Lionel Messi pada sebuah iklan. Kulit bola Nike diambil dari kulit lembu petani miskin di Sri Lanka dan Afrika. Dijahit oleh anak-anak yatim di Palestine dan Aljazair. Dipermak oleh buruh-buruh di Brazil dan Ekuador. Dengan upah si yatim dan para buruh tidak lebih dari 2 dollar untuk pekerjaan selama 12 jam sehari. Dan sampai ke pabrik utama di Amerika, kembali bola-bola itu sampai ke tangan-tangan para imigran gelap dari Afrika, Mexico dan Kuba, untuk di percantik dan dikemas lebih menarik. Dan setelah dipasarkan dengan gambar Lionel Messi, harga bola Nike itu pun melambung menjadi 60 dollar!!! Berpuluh kali lipat harganya setelah disentuh tangan yatim Aljazair dan keringat buruh imigran gelap Kuba. Disitulah dia kapitalis. Suatu sistem yang timbul dari cara produksi yang memisahkan para buruh dengan alat-alat produksi. Dan memakan keuntungan berkali lipat dari keringat dan kerja keras para buruh. Tapi tapi tapi… disitulah blackberry yang cantik diproduksi dan dipasarkan. Diproduksi dengan cara-cara kapitalis, dan dipasarkan dengan cara imperialis!

Dan memang ini zaman keblinger. Santai-santai orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Menggenggam blackberry, menyalakan facebook, berdiskusi, saling sindir, sampai debat kusir, dengan penuh semangat dan menyala-nyala. Ini soal bukan soal menggunakan teknologi, ini soal bukanlah persoalan mengikuti tren tapi tetap kritis. Ini antara persoalan prinsip dan implementasi, dibumikan menjadi aksi dan reaksi.

Tapi tapi tapi… prinsipnya kiri, implementasi borjuasi, aksi-nya massa, reaksi-nya ereksi kemudian o-na-ni, olah sana sini! Ah zaman.., aku tak berani menyebut diri kiri, karena kiri itu adalah pilihan hidup, tata cara pergaulan hidup. Dan aksi massa itu adalah sarana menuju cita-cita, cita-cita untuk hidup sama rasa-sama rata. Tapi tapi tapi… kini prinsip jadi jargon, dan sarana menjadi alat tukar di meja negosiasi.

Baiklah, okelah kalau begitu. Silahkan lanjutkan perang urat saraf prinsip, dan aksi massa negosiasi.

***

Buatku dan kau, kau dan kau, yang baru memulai, dan belum berada di simpang. Kiri itu adalah cara pandang hidup, yang berada di dalam massa, susah senang dengan massa , dan berjuang untuk massa. Bermusuhan dengan imperialisme dan kapitalisme. Berkawan dengan mereka yang tertindas, dan orang-orang yang berusaha hidup untuk menyala!

Buatku dan kau, kau, dan kau, yang ngefans dengan yang berbau kiri. Banyak-banyaklah kita membaca, hemat-hematlah berbicara, dan pandai-pandai melihat dan menimbang-nimbang, karena salah benar bukan cuma urusan Tuhan.

Dan ingat pesan Che, dalam persatuan ada kekuatan. Juga belum ada gerakan yang menimbang-nimbang main hati. Kalau terlalu banyak main hati, bergabunglah bersama Andra and The Backbone, atau jadilah anak band.

Buat yang tak paham antara hidup terus dan hidup-nyala hidup-nyala, keduannya sama aja tolol!

Dan buat yang berada di simpang jalan, sering-sering kau lewat disimpang Kodim, persis di depan kantor Golkar, ditempat yang sering mangkal Polantas yang suka merazia seenak perutnya itu. Nah, kau tengok ada rambu jalan dengan tulisan “KE KIRI JALAN TERUS”…..!!!

***

Sorry mamen kalau curhat, ke tower juga kita akan ngopi…ha ha ha!!!