Kamis, 02 April 2009

Aceh Baru bukan sebutir air di daun kelor

Silam adalah perang yang urung berkesudahan
Silam adalah gelombang yang menyeret nyawa menuju baka
Tapi silam berhasil menjabatkan tangan orang-orang yang bermusuhan
Silam juga membuat dunia mengulurkan tangan persahabatan

Walau kini masih ada korban yang mengais-ngais kebenaran
Walau kini masih ada renta turun ke jalan mencari keadilan
Tapi kini membagi kami antara megaphone dan kamus bahasa Inggris
Kini menyadarkan kami untuk belajar dan berjuang

Karena esok kita merajut Aceh masa depan
Yang kita pintal dari Aceh baru yang kusampaikan

Saudaraku,
Aceh baru bukan sebutir air di daun kelor
Cuma bisa merasa urat daun, atau melihat awan dan matahari

Tapi Aceh baru adalah matahari
Yang memberikan energi bagi jutaan daun
Yang memanaskan air, memuai menjadi awan
Yang akhirnya menjadi hujan,
Mendamaikan, mensejahterakan…

Amnesia Akut Orang Indonesia

Entah kenapa orang-orang di Negara ini begitu cepat lupa pada peristiwa, orang dan pengalaman-pengalaman. Yang itu bahkan dialami sendiri olehnya. Sepertinya orang-orang di Negara ini mengalami masalah serius pada kekuatan daya ingat. Lihatlah bagaimana Prabowo yang 10 tahun lalu dihujat oleh puluhan ribu mahasiswa, dipecat dari dinas militer, dan berlumpur darah para korban pelangran HAM. Sekarang bisa mencuri perhatian publik sebagai calon Presiden. Hanya karena iklan-iklan yang dicekok ke mata orang-orang Indonesia. Dengan gaya humanis dan kharismatik, Prabowo tampil lagi sebagai bapak petani, pembela buruh dan nelayan, serta pribadi yang peduli pada nasib orang miskin dan anak-anak. Gempuran iklan-iklan Prabowo bersama Gerindra-nya ternyata ampuh memutar stir sejarah. Hanya 5 bulan, popularitas Prabowo menanjak menjadi calon Presiden yang patut diperhitungkan.

Begitulah orang-orang Indonesia. Orang-orang yang betul lupa siapa Prabowo, yang pada 1998 serempak disebut sebagai otak dibalik kasus penculikan para aktivis prodemokrasi. Makin aneh lagi ketika korban penculikan seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dan Desmond J Mahesa, kini bersama satu barisan bersama Prabowo. Ada apa dibalik semua ini?. Apa mungkin Pius lupa bagaimana rasanya disetrum. Apa Haryanto lupa rasanya sarapan pagi dengan laras senjata. Apa Desmond lupa rasanya tidur diatas balok es. Mungkin mereka semua telah lupa. Sama seperti kita yang juga lupa pada Petrus Bima, Noval Alkatiri, Wiji Thukul dan delapan orang kawan lainnya. Yang mampu Haryanto ingat adalah mereka dapat saling mengenal, karena suara mereka saat bercakap. Dan yang mampu kita ingat adalah iklan Prabowo di layar tv. Mata burung garuda ternyata ampuh menghipnotis daya ingat kita untuk akhirnya amnesia.

Tak jauh beda dengan Prabowo. Mantan Panglima ABRI Wiranto pun berbasib serupa. Tampil kembali di tv dengan gaya bersahaja, makan nasi aking, peduli pada nasib pendidikan dan pengayom bagi kaum muda. Menjadikan Wiranto seperti terlahir kembali. Orang-orang sudah lupa bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab atas berbagai kasus pelanggaran HAM dan KKN selama orde baru. Orang-orang lupa siapa Wiranto; tangan kanan nya Soeharto. Bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat. Di Aceh, Tim-tim, termasuk tragedi Mei ’98.

Padahal belum jauh jarak antara kematian rakyat Aceh; yang dibunuh, disiksa, dirampas hartanya, diambil suaminya, diperkosa isteri dan anaknya, dan direndahkan martabatnya. Padahal masih bergema teriakan minta ampun, mohon maaf, tangis mengiba dari rakyat Aceh, Tim-Tim dan para korban Mei ’98. Para prajurit ntah dimana, Sang Panglima kini bisa ngebut menuju kursi Presiden. Apa orang Aceh sudah memaafkan Wiranto saat dia mencabut DOM pada 7 Agustus ’99 ?. Apa rakyat Leste sudah memaafkan dan menutup duka mereka pada lembar kertas KKP ?. Dan apa para keluarga korban Mei ’98 sudah ikhlaskan keluarga mereka diganti dengan senyum Wiranto di layat tv ?. Rupanya hati nurani juga bisa membuat kita amnesia.

Sudah cukup PKS saja yang berucap bismillah lalu menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Jangan lagi kita orang-orang yang sadar dan punya moral memilih dan mengangkat para penjahat dan koruptor ke singgasana terhormat negeri ini. Ingatlah Prabowo yang pernah mencoba menerobos Istana Merdeka dengan pistol dan pisau rimba khas Kostrad di pinggang. Ingatlah Wiranto yang pernah memerintahkan ribuan pasukan ke Aceh dan kemudian melahirkan ribuan mayat, yatim, dan janda.

Mudah-mudahan kita tidak lupa pada Akbar Tandjung terdakwa kasus Buloggate, lepas terpidana korupsi karena mampu memelintir hukum. Juga tidak lupa pada Bob Hasan si raja tebang hutan. Dan jangan lupa pada Muchdi Pr, yang sim salabim bisa bebas sebebas maunya.

Apa kita juga akan memilih orang-orang seperti ini nantinya. Di Aceh ada banyak terdakwa dan mantan narapidana korupsi tampil gagah lagi di poster-poster kampanye dengan senyum hipokrit. Minta ampun kita semua apabila orang-orang ini dipilih lagi. Mau jadi apa negeri ini, apabila rakyat yang mengalami sendiri penderitaan, pemiskinan dan pembodohan, masih mau memilih para calon pemimpin yang punya catatan teramat hitam ?

Mencatat dan mengingatkan adalah kontribusi kita paling nyata bagi masa depan negeri ini. Semoga sejarah bukan lagi milik penguasa, yang dapat di bengkokkan atau sekali-kali dibikin lurus.

Lantas, apa kita masih mau percaya pada penjahat kemanusiaan, perusak hutan, dan koruptor…???