Minggu, 29 Maret 2009
Membangun Mazhab Darussalam
Pergolakan pemikiran akhirnya menciptakan blok-blok ide, yang lahir akibat tarung benar-salah, tarung tesis-antitesis-sintesis. Dan yang paling membuat takjub, bahwa tarung pikir ini bukan hanya melahirkan blok-blok ide, tapi terus melahirkan generasi pemikir. Generasi pengubah wajah manusia dan dunia, generasi pensejahtera dan penghisap.
Kita lewati saja para pemikir tunggal yang kemudian jadi pesohor karena teori, temuan dan gagasan-gagasan mereka. Mari kita lihat blok-blok pemikir yang akhirnya mampu menghegemoni sebuah jalan pikir dan mengorientasi sebuah perubahan.
Lahir Mazhab Frankfurt dari Universitas Frankfurt Jerman, tempat berkumpulnya filsuf sosial yang melahirkan teori Kritis. Medan perangnya para pembangkang Marxis, seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno da Jurgen Habermas. Yang kemudian mengkritisi penggunaan teori Marx yang mereka anggap terlalu sempit, dan kemudian merapatkan diri pada ketertarikan neo-Marxisme.
Sekarang kajian kritis dari para Legiun Mazhab Frankfurt bukan hanya mampu melahirkan tumpukan kertas teori kritis yang bisa jadi makin usang. Namun lebih dari itu, mampu merasuk ke meja-meja diskusi para pemikir muda. Pemuda dari sudut Caracas, pemuda pinggiran Havana, dan bahkan pemuda Kutaraja yang terus membolak-balik bacaan nya, sambil mengerutkan dahi. Yahh.., berkerutlah selagi masih bisa!
Bidak Blok Catur Gagasan di Indonesia
Lain Mazhab Frankfurt, lain lagi Mafia Ohio. Sebutan Mafia Ohio tiba-tiba santer dan melekat di telinga orang Indonesia. Indonesia pra dan pasca reformasi jadi riuh dengan kehadiran para Mafia Ohio yang sangat menonjol dalam pemikiran politik di tanah ini. Ternyata sang Bos Mafia adalah R. Willian Liddle, guru besar di Departemen Ilmu Politik, Ohio State University. Liddle adalah seorang Indonesianis. Ilmuan politik Amerika yang meneliti di sini dari tahun 1960-an.
Sang bos ternyata punya murid Indonesia yang luar biasa. Jika diukur dari pengaruh, posisi, dan beberapa hasil karya. Diantaranya ada Ahmad Syafii Maarif yang mantan ketua PP Muhammadiyah, Denny JA yang mantan ketua LSI, sampai pada orang-orang yang sering muncul di TV dan kita baca buku-bukunya seperti Salim Said, Makarim Bisono, Rizal Mallarangeng dan Eep Saefulloh Fatah. Ini cuma sebagian, yang lain ada bayak lagi. Ide, prediksi dan gagasan Liddle bersama muridnya, ternyata mampu mempengaruhi peta politik Indonesia. Satu contoh saja, mengenai komentar Liddle sebelum pemilu presiden 2004, dimana dia memprediksi bahwa SBY akan menang. Walaupun murid-muridnya tidak selalu sepaham dengan sang guru, atau bahkan bersebrangan, ini tidak merubah da meretakkan geng Mafia Ohio dalam pergolakan politik di Indonesia. Ada juga geng lain memang, tapi yang satu ini lebih sering disebut mazhab, yaitu Mazhab Cornell yang dirintis oleh George Kahin yang mendirikan Modern Indonesia Project di tahun 1954, dengan 3 murid jagoan semacam: Ben Anderson, Dan Lev, dan Takeshi Siraishi.
Buat urusan ekonomi, ekonom dan birokrat Indonesia pernah begitu mengimani konsep ekonomi dari kelompok Mafia Berkeley. Orang-orang yang pernah belajar di kampus Berkeley. Mafia Berkeley menjadi aktor dibalik layar dari kejayaan dan keruntuhan ekonomi orde baru. Dengan si Bos Widjojo Nitisastro, lengkap dengan muridnya. Konsep ekonomi mereka disebut widjojonomics.
Adakah Mazhab dan Mafia Ilmuan di kita?
Menjawab ini ternyata ternyata perkara sulit. Miris bahkan. Kampus kita (unsyiah.red), cuma sangkar bagi para pemikir. Kerangkeng untuk sebuah revolusi pemikiran. Penjaranya kreativitas dan inovasi visioner.
Yang mau membuat perubahan diremehkan. Yang sedikit kritis dikucilkan. Yang mau melawan system akhirnya ditinggalkan. Membangun diskusi kritis dicurigai tindakan subversif. Bertanya tentang tata kelola kampus dibalas ancam dengan masa depan akademik. Memperdebatkan syariat harus siap dituduh kafir. Mengkaji Marx dianggap komunis. Mempersoalkan kegiatan mengaji yang dikelola mahasiswa dilabel orang anti-Islam dan syariat. Mahasiswa yang melakukan aksi dikencingi dosen dengan tuduhan makan duit, ditunggangi, untuk kepentingan politik. Dosen bilang mahasiswa itu kuliah saja, kalau kritis nanti tidak tamat kuliah.
Kalau mau nilai ‘A’ jawab saja sesuai diktat saat final. Kalau sedikit kritis dan menambahkan analisa sendiri, harus tegar lihat ‘C’ di papan pengumuman. Diutamakan ke kampus dengan kemeja, bersepatu, serta bawa alat tulis. Tidak bawa otak tak apa-apa, diam di kelas atau tidur saja saat dosen mengajar lebih baik daripada mengkritik yang si dosen ajarkan. Selebaran diskusi dan tulisan politik di kampus tak dilirik. Lebih ditunggu majalah sophie martin atau brosur kosmetik. Kuliah semata untuk nilai ‘A’. Kuliah untuk menghabiskan duit orang tua. Tanpa harus kritis, tanpa harus bersusah payah, yang penting ‘A’, yang penting orang tua kirim duit.
Entah ini salahnya mahasiswa atau dosen. Tapi keduanya harus bertanggung jawab. Dan harus bertanggung jawab untuk membangun budaya dan tradisi keilmuan dikampus Unsyiah. Kampus yang katanya jantong hatee rakyat Aceh.
Kampus Unsyiah miskin akademisi. Yang ramai cuma supporter dan komentator. Kalau di Indonesia ada widjojonomics, apa di Unsyiah ada masbarnomics? Yang mampu mengorientasikan pembangunan ekonomi pro-rakyat dan menyiapkan blueprint untuk itu? Mungkinkah ada ilmuan hukum dan politik yang mampu merancang dan mendorong suatu system hukum dan politik yang lebih dari sekedar seminar dan qanun? Mungkinkah ada ilmuan pertanian yang berhasil menciptakan pupuk murah namun berkualitas. Dan menghijaukan Aceh bukan dengan sawit? Mungkinkah ada arsitek dan kontraktor yang bisa membangun bangunan selain ruko-ruko? Mungkinkah dokter yang mau mengobati tanpa dibayar? Benar-benar tidak dibayar! Bukan bikin baksos karena dibayar yayasan atau karena proyek dosen dan si mahasiswa kedokteran ikut untuk dapat nilai ‘A’.
Dikampus cuma ada Darni and the genk, anti kritik dan otoriter. Sumringah menerima tamu asing, kucing-kucingan berdiskusi dengan mahasiswa. Dikampus cuma ada Masbar, ekonom besar tanpa blueprint. Dikampus cuma ada Mawardi, pakar hukum yang lebih sering tampil di Serambi daripada terlihat di kampus. Dikampus cuma ada Syahrul, yang melarang mahasiswanya untuk ikut aksi turun ke jalan. Dikampus cuma ada Mustanir, yang menjadikan kampus mipa sarang kader partai.
Padahal mereka semua adalah para guru, padahal aku bisa belajar dengan mereka-mereka. Tapi tenyata masih lebih baik aku yang seorang Ottoisme. Yang berguru sosial-politik dengan Otto si anak hilang. Yang punya gagasan untuk membangun sebuah tradisi dan kajian keilmuan di kampus. Lalu kemudian kulanjutkan dengan tesis Mazhab Darussalam.
Mazhab ilmu dengan orientasi ke-Acehan. Mendidik generasi pembelajar dengan spirit perjuangan. Berwatak inklusif dan kosmopolit. Bersikap terbuka dan merindukan perubahan. Melahirkan orang-orang yang progresif dalam berpikir dan militan dalam bekerja. Mazhab Darussalam akan menjadi pioneer bagi lahirnya epistemologi ke-Acehan. Aliran baru dengan Aceh sebagai kiblat dan landasan pikir.
Boleh saja dokter, boleh saja arsitek, boleh saja sejarawan, boleh saja teknokrat, boleh saja juris, boleh saja filsuf, dan boleh saja ekonom. Tapi tetap sebagai pendukung epistemologi ke-Acehan.
Kemarin ini cuma mimpi, sekarang jadi gagasan, dan pasti besok jadi kenyataan.
Sabtu, 28 Maret 2009
Yang tetap menyejukkan dan menjadi sumber kehidupan. Siklus, waktu, bentuk, kondisi, atau apapun tidak mampu merubah hakikat air. Dia abadi".
Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Aku jadi terinspirasi ketika membaca sebaris kata berbunyi “seonggok daging”. Pikiran tiba-tiba melayang lalu terjun bebas dengan kritis untuk membalas sebaris kata yang lazim dan acap terucap saat menjelang lebaran dan hari besar. Coba kutangkap bahasa tersirat dari dua kata dengan tambahan ‘se’ itu. Sepertinya orang yang berucap sedang gamang, pupus, atau bisa jadi telah lumer dengan keputus-asaan persis seperti bubur kacang hijau untuk sarapan pagi.
Kalau dibaca lengkap si bocah gamang hendak memasukkan semua orang yang berhasil kutangkap maksud tersiratnya, menjadi sama dengan kegamangan, kepupusan dan keputus-asaan yang dia punya. Siapa kau? dan siapa aku?? Yang dimaksud “daging berjalan yang diselamatkan”…??? Maaf! Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!
Bocah, coba kau ingat-ingat lagi.
Barangkali kau memang bocah yang diselamatkan. Karena memang kau hampir hilang arah, tersesat dalam kekuatanmu untuk berbuat, tiba-tiba gelap saat kau mencoba menemukan jati diri dan tujuan mu. Kau memang diselamatkan atau mungkin tersesat pada suatu cekungan getaran akibat kau sering meloncat-loncat. Dan aku, coba kau ingat-ingat lagi bocah, cuma seorang balita polos, yang sedang bermain-main tanpa tujuan jelas. Tapi aku serius pada permainan ini. Aku terus bermain untuk menghabiskan energiku, terus bermain hanya untuk berkenal dengan teman-teman baru, terus bermain sampai akhirnya kutemukan tujuan dan impianku dari permainan-permainan yang aku mainkan. Bocah, aku hanya balita pemimpi yang sedang bermain.
Apa kau pernah diajarkan matematika bocah? Pernahkah kau tahu tentang diagram venn? Dan pernahkah kau tau fisika bocah? Tentang hukum daya tarik atau magnetik? Yang kulakuan hanya bermain, yang kusamakan rumus fisika nya dengan membuat sebuah getaran. Getaran yang kulakukan, cepat atau lambat akan dirasa oleh lingkungan dan bumi ini. Getaran kulakuan, hukum daya tarik terjadi. Aku menjadi sebuah
Di antara milyaran
Kemudian, saat aku berhasil menjadi pusat getaran kecil dan bertemu dengan kutub pusat getar yang lebih besar, akan terbentuk sebuah arsiran. Persis seperti arsiran antara dua lingkaran, yang tidak peduli dengan ukuran bentuk (apakah besar atau kecil). Arsiran terbentuk. Getaran menyatu menjadi sebuah kekuatan magnetik dengan skala lebih besar dari sebelumnya. Itulah aku bocah.
Apa kau pernah belajar hukum alam bocah? Apakah kau pernah diajarkan biologi? Aku sadar betul bahwa tubuhku ini adalah air. Dan aku menggunakan filosofi nya dalam bermain. Aku berusaha dan sampai sekarang masih berusaha menjadi air. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air mengisi seluruh bentuk wadah. Dipanaskan akan memuai, di dinginkan akan mengeras dan memadat menjadi es. Tapi bentuk tidak merubah hakikatnya. Yang tetap menyejukkan. Sumber kehidupan. Mendamaikan. Mensejahterakan. Waktu, siklus, bentuk, kondisi atau apapun tidak mampu merubah hakikat air.
Aku akan terus mengalir bocah. Sekalipun berada pada saluran yang buntu, aku akan berusaha menemukan celah untuk keluar. Dan selagi aku mengalir barang tentu aku akan bertemu dengan beragam rupa makhluk, beragam rupa benda, beragam rupa sampah, beragam rupa puing, beragam rupa air. Yang secara tak sadar menyatu bersamaku saat aku mengalir. Dan kau bocah, berjongkok di tepian saja dan menonton aku mengalir.
Huh! Aku malas melihat muka-muka yang patah arang, aku sudah muak mendengar celoteh frustasi bocah yang terjebak antara komik dan sosialisme. Entah apa yang bocah-bocah ini pikirkan. Sepertinya mereka bingung, linglung, dan frustasi akan perubahan-perubahan sekitar. Dasar bocah! Terlampau ambil pusing memikirkan transisi masa kanak-kanak menjadi remaja. Mending aku si balita, yang cuma berpikir: “ayo kita main saja”.
Orang-orang ini terlalu goblok. Tidak melihat dan tidak membaca. Mereka menjebakkan diri pada transisi kanak-kanak ke remaja. Pengecut dan serba takut. Mereka tidak melihat ada harapan. Mereka tidak sadar bahwa perubahan sedang dilakukan. Dan mereka tidak membaca!
Sebagian lagi pengecut dan serba takut. Takut untuk memulai, dan yang lebih parah mereka takut gagal. Aku ini balita yang belum pernah menang. Aku gagal terus. Tapi aku masih punya nyali untuk mencoba lagi. Aku masih yakin punya energi untuk terus menerima kegagalan lagi. Bagiku gagal itu biasa. Bukan hal yang memalukan kawan, yang memalukan itu kalau kau takut gagal dan tak berani melanjutkan permainan. Kawan, “kebahagiaan hanya untuk mereka yang pernah mencoba, pernah berusaha dan pernah gagal. Karena cuma mereka yang bisa menghargai betapa berharganya orang-orang yang pernah menyentuh kehidupan mereka”.
Lainnya lagi, benar seperti kata Pram. Di Eropa orang-orang berusaha memberikan sesuatu pada umat manusia, hingga kemudian mereka memperoleh penghargaan dan tercatat pada sejarahnya. Di tanah kita ini, semua orang menyibukkan diri untuk berebut kekuasaan dan penghargaan. Makin muram ketika aku hampir tahu bahwa kalian juga takut untuk bermimpi dan memiliki impian. Kalian sudah tidak berani melakukan apapun, apa untuk bermimpi pun kalian takut bocah…?! Apalagi yang bisa menggerakkan kalian??
Aku masih punya mimpi, dan aku tidak berharap ada orang lain yang bisa kuminta untuk mewujudkan mimpiku. Aku harus mewujudkankan nya sendiri. Dengan atau tanpa…
Bocah, jangan kau coba-coba suntikkan virus gamang dan frustasi mu padaku. Kalau kau punya impian, wujudkan! Kalau kau tak berani bermimpi, katakan kau tak berani!! Kalau kau mau berbuat, kau berbuatlah! Kalau kau takut gagal, proklamirkan kalau kau pengecut!! Bukan waktunya lagi sekarang menonton dan berkomentar. Atau kau merasa sudah memiliki peran dan berbuat dengan alibi menonton dan berkomentar? Bukan masanya lagi untuk meminta dimaklumi segala kekurangan dan dimaafkan segala kesalahan. Memaklumi dan memaafkan itu urusan Tuhan, dan biarkan itu menjadi urusan Tuhan (itupun kalau kau percaya Tuhan bocah).
Sekali lagi bocah, aku akan terus mengalir. Aku tahu sekarang aku masih berada diselokan. Kotor, bau, dan hitam. Aku tahu itu bocah! Tapi aku juga tahu, bahwa seberapapun jauh jaraknya, seberapapun kotor, bau dan hitamnya aku. Suatu saat aku akan menemukan sungai kecil, dan kemudian aku akan menemukan sungai yang lebih besar! Nanti tolong kau jawab bocah, seberapa kotor, bau dan hitam nya aku saat itu?. Dan bocah, aku juga tahu, malah aku yakin. Bahwa nantinya aku akan berada di tengah samudera. Samudera yang luas, sumber penghidupan walau kadangkala mematikan, yang mensejahterakan, mendamaikan, samudera asal usul peradaban. Aku akan terus mengalir, sampai aku menemukan samudera.
Apakah kau pernah tahu bocah, bahwa Cak Munir saat baru saja membuka pintu gerbang transisi pernah berkata: “Sekaranglah saatnya semua orang mulai membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru. Meskipun harus di awali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya rasa tapi juga cita-cita”.
Walau aku tidak sempat berkenalan dan berjumpa dengan Cak Munir. Membaca tulisan dan memahami kata-kata nya sama seperti rasa aku sedang duduk berdiskusi dengannya. Aku telah berguru pada Cak Munir. Dan kau pahamilah sendiri kata-kata itu, kalau kau berani untuk memahaminya.
Aku akan terus membuat getaran. Dan sebagian yang tadi juga masih bergetar. Semoga aku masih bisa menyatu dalam sebuah
