<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649</id><updated>2011-10-28T02:47:30.061+07:00</updated><category term='rebelholic'/><category term='#OccupyBandaAceh'/><category term='Opini'/><category term='books'/><title type='text'>REBELHOLIC...!</title><subtitle type='html'>-Catatan Anak Muda Aceh-

Tentang konflik, pergolakan pemikiran, gagasan, pergerakan &amp;amp; perkauman.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-2860586673425998156</id><published>2011-10-28T02:47:00.000+07:00</published><updated>2011-10-28T02:47:30.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='#OccupyBandaAceh'/><title type='text'>Lawan Manusia Rakus di Aceh</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;BANDA ACEH - Gerakan 99 persen mencanangkan aksi melawan  manusia-manusia rakus pada Selasa 1 November 2011 ini.&amp;nbsp; Gerakan yang  akan berlangsung di Banda Aceh ini dimotori Komunitas Tikar Pandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kawan, kita adalah 99% umat manusia yang melawan 1% manusia rakus  yang merampas tanah dan sumber daya alam,” begitu bunyi status yang  ditulis di akun page facebook Duduki Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpusat di Taman Sari, Banda Aceh, gerakan bernama Occupy Banda Aceh  ini diikuti puluhan lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa,aktifis,  pekerja sosial, seniman dan organisasi masyarakat dan kepemudaan.  Gerakan ini merupakan sebuah gerakan sosial yang bermula di Wall Street  Amerika Serikat dan akhirnya menjalar ke 90 negara dan 800 kota  diseluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerakan ini muncul akibat ketimpangan sosial dan krisis ekonomi  dunia yg diakibatkan oleh kejahatan korporasi dan tidak meratanya  distribusi kesejahteraan,” kata M Fauzan Febriansyah, Koordinator  Kampanye Occupy Banda Aceh, Kamis 27 Oktober 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fauzan, dari gerakan ini diharapkan dapat menjadi saluran  kritik atas kondisi kesenjangan sosial, kemiskinan, serta makin jauhnya  keadilan ekonomi bagi rakyat. “Kondisi ini terjadi akibat kebijakan  pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam konteks Aceh, kita lihat dan rasakan bersama, rakyat Aceh  tidak merasakan kesejahteraan dari sumber daya alam Aceh yang melimpah,  seperti tambang mineral, gas alam, hutan. Ironisnya, hasil SDA yang  melimpah itu akhirnya dikuasai oleh segelintir pemilik modal,  perusahaan, dan pejabat pemerintah yang sukses meraup keuntungan besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fakta kesenjangan ini kami simpulkan, bahwa hanya 1% dari populasi  yg menikmati SDA dan meraup untung, sedangkan 99% populasi yg lebih  besar terus terpuruk dalam lubang kemiskinan dan ketidakberdayaan.  kenapa kita yang 99% tidak berani bersuara dan berjuang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun lembaga yang akan ikut pada kegiatan ini adalah:&lt;br /&gt;1. Komunitas Tikar Pandan&lt;br /&gt;2. LBH Banda Aceh&lt;br /&gt;3. JKMA&lt;br /&gt;4. Walhi Aceh&lt;br /&gt;5. SMUR&lt;br /&gt;6. AJMI&lt;br /&gt;7. HAMAS&lt;br /&gt;8. Bem Fak.Hukum Unsyiah&lt;br /&gt;9. Simpul Intelektual Pemuda Perubahan (SIPP)&lt;br /&gt;10. Hipelmabdya&lt;br /&gt;11. Ippemal&lt;br /&gt;12. KontraS Aceh&lt;br /&gt;13. Komunitas KutuBuku&lt;br /&gt;14. Koalisi NGO HAM&lt;br /&gt;15. PCC&lt;br /&gt;16. Jaringan Kuala&lt;br /&gt;17. Pema USM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Aksi Gerakan 99% Duduki Banda Aceh:&lt;br /&gt;1. Konfrensi Pers, 27 Okt '11, pkl.14.00 wib&lt;br /&gt;2. Nonton Bareng dan diskusi film "Battle in Seattle" di Meuligoe Coffe Lampineung, 28 okt '11 pukul 20.00&lt;br /&gt;3. Diskusi kasus perampasan Sumber Daya Alam Aceh, 29 Okt '11 pukul 16.00&lt;br /&gt;4. Bagi-bagi selebaran, 30 Okt '11, pagi dan sore&lt;br /&gt;5. Seruan bersama dan Petisi Penyelamatan SDA Aceh, 31 Okt '11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Seluruh rangkaian kegiatan berpusat di Taman Kota, Sisi utara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-2860586673425998156?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://atjehpost.com/nanggroe/daerah/7934-ayo-lawan-manusia-rakus-di-aceeeh.html' title='Lawan Manusia Rakus di Aceh'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/2860586673425998156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/10/lawan-manusia-rakus-di-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2860586673425998156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2860586673425998156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/10/lawan-manusia-rakus-di-aceh.html' title='Lawan Manusia Rakus di Aceh'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-8462674942208707623</id><published>2011-10-27T17:28:00.000+07:00</published><updated>2011-10-27T17:28:08.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='#OccupyBandaAceh'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h2&gt;  Wow, Gerakan 99%Akan Duduki Banda Aceh&lt;/h2&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_785" style="width: 185px;"&gt;&lt;a href="http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2011/10/99-Duduki.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-785" height="300" src="http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2011/10/99-Duduki-175x300.jpg" title="99 Duduki Banda Aceh" width="175" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;Gerakan duduki Banda Aceh pada Selasa (1/11) - Ist&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Banda Aceh&lt;/strong&gt; – Gerakan 99 persen pada Selasa (1/11)  akan menduduki Banda Aceh. Aksi ini merupakan gerakan sosial untuk  melawan 1 persen manusia manusia rakus.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-784"&gt;&lt;/span&gt;“Mari kawan, kita adalah 99% umat manusia  yang melawan 1% manusia&amp;nbsp;rakus yang merampas tanah dan sumber daya alam,”  demikian status yang ditulis di akun page facebook Duduki Banda Aceh  yang terus meminta dukungan melalui dunia maya.&lt;br /&gt;Rencana aksi tersebut muncul dalam rapat di Kantor Komunitas Tikar  Pandan pada Rabu (26/10) diikuti puluhan lembaga swadaya masyarakat,  mahasiswa,aktifis, pekerja sosial, seniman dan organisasi masyarakat dan  kepemudaan. Mereka sepakat menggelar acara Occupy Banda Aceh yang  dipusatkan di Taman Sari.&lt;br /&gt;Rangkaian kegiatan Gerakan 99% Duduki Banda Aceh dimulai  Konferensi&amp;nbsp;Pers pada Kamis (27/10) pukul 14.00 Wib, dilanjutkan nonton  bareng dan diskusi film Battle in Seattle, Jumat (28/10). Selanjutnya,  diskusi kasus perampasan Sumber Daya Alam Aceh, Sabtu (29/10) pukul  16.00.&lt;br /&gt;Kemudian, pada Minggu (30/10) kegiatan pembagian selebaran Occupy  Banda Aceh.&amp;nbsp; Seruan bersama dan Petisi Penyelamatan SDA Aceh akan  dilakukan pada Senin (31/10).&lt;br /&gt;“Dalam konteks Aceh, kita lihat dan rasakan bersama, rakyat Aceh  tidak&amp;nbsp;merasakan kesejahteraan dari sumber daya alam Aceh yang  melimpah&amp;nbsp;seperti tambang mineral, gas alam, hutan,” ujar M. Fauzan  Febriansyah,&amp;nbsp;Koordinator Kampanye Acara kepada Acehcorner.com, kemarin.&lt;br /&gt;Fauzan juga mengajak semua kalangan masyarakat untuk ikut  bergabung&amp;nbsp;dalam aksi ini. “Siapa saja dapat bergabung, lepaskan atribut  organisasi/parpol/ormas, kita datang sebagai individu/warga negara yang  kritis dan perduli akan nasib generasi-generasi setelah kita,” tegasnya&lt;br /&gt;Seluruh rangkaian kegiatan, kata Fauzan, berpusat di Taman Kota, sisi utara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. [Zier]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-8462674942208707623?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://acehcorner.com/2011/10/27/wow-gerakan-99-akanduduki-banda-aceh/' title=''/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/8462674942208707623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/10/wow-gerakan-99akan-duduki-banda-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8462674942208707623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8462674942208707623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/10/wow-gerakan-99akan-duduki-banda-aceh.html' title=''/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-7337520520700327590</id><published>2011-02-06T00:22:00.001+07:00</published><updated>2011-02-06T00:26:38.215+07:00</updated><title type='text'>Wawancara Dengan Andre Vltcek</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menjelang siang, Muhajir menelpon. Aku diminta datang ke Hermes Hotel, ada wawancara dengan wartawan Amerika katanya. Sampai di Hermes, aku melihat Muhajir, seorang pria bule, dan dua orang perempuan. Yang seorang kukenal, seorang penulis yang berteman di facebook denganku. Namanya Linda Christanty. Muhajir sedang berdiskusi dan menjawab pertanyaan yang diajukan si bule yang diterjemahkan oleh seorang perempuan satu lagi yang memperkenalkan diri dengan nama Rosi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku menulis catatan ini karena ada beberapa hal yang penting. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;wawancara ini terkait soal advokasi penutupan PT. Lhoong Setia Mining. Penting rasanya menulis semua bagian dan kronik dari perjalanan advokasi ini. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;menjadi menarik karena ada wartawan asing yang tertarik dengan persoalan tambang, sumber daya alam, dan situasi politik Aceh pasca damai (khususnya di Lhoong). &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;ada komentar kami (aku dan Muhajir) yang penting untuk di catat. Dan bukan hanya menjadi catatan si wartawan, yang katanya akan menjadikan wawancara ini menjadi sebuah buku, tapi juga kami sebagai “aktor utama” dalam perjalanan advokasi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Harus dicatat bahwa, perjalanan advokasi Lhoong, sudah sangat panjang. Yang terbaru, Armansyah yang dulunya bekerja di PT. LSM terakhir melakukan demo bersama masyarakat desa Jantang, menuntut penutupan PT. LSM, (dengan argumen yang sama dengan apa yang kami tulis). Ada perpecahan di internal PT. LSM sendiri. Kami mendengar isu bahwa bulan Januari kemarin, PT. LSM melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kita bisa berasumsi, bahwa ada perpindahan penguasaan saham atau bisa juga ada perubahan struktur internal dan kebijakan yang diambil, terkait keberlangsungan perusahaan dsb. Barangkali, asumsi-asumsi tsb, bisa menjawab persoalan konflik internal yang menyebabkan Armansyah yang orang dalam, dan masyarakat desa Jantang yang sebelumnya mendukung keberadaan perusahaan, kemudian berbalik kemudi dan menuntut penutupan (dalam bacaan saya; lebih tepat disebut renegosiasi PT dengan masyarakat) yang bisa saja terkait ganti rugi tanah dan digunakan nya masyarakat Jantang sebagai pekerja di PT. LSM.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam komentar yang aku berikan, ada beberapa hal yang perlu dicatat:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bahwa pola yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan yang mengeruk hasil bumi Aceh adalah sama: kolaborasi antara Penguasa-Perusahaan-Pihak Keamanan. Misal: model ini juga terjadi di Arun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Penguasa dan pihak keamanan (militer &amp;amp; polisi) menerima keuntungan dalam bentuk fee atau upeti dari pihak perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Terkait soal “apakah masyarakat Aceh masih menganggap tanah sebagai identitas yang harus dipertahankan” aku menjawab: bahwa dalam kasus PT. LSM dan perusahaan lain yang ada di Aceh, asal ganti rugi cocok, tanah bisa mudah dijual ke perusahan. Ini mengindikasikan 2 hal; &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;masyarakat Aceh mulai menjadi materialis dan konsumtif. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;karena himpitan ekonomi dan kemiskinan masyarakat harus menjual tanah untuk menyambung hidup. &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;bisa keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Apakah dengan dirampasnya kekayaan Aceh, masyarakat akan menuntut kembali merdeka”. Aku rasa dari dulu, bukan merdeka yang dituntut rakyat Aceh, tapi keadilan! Sejak perjuangan Abu Daud Beureueh, Hasan Tiro, hingga sekarang, rakyat Aceh tetap menuntut keadilan. Jadi apabila keadilan tidak hadir, maka bukan tidak mungkin pemberontakan baru akan terjadi di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hari ini masyarakat makin terjepit dan dilematis. Kelompok yang diharapkan membuat perubahan dan perbaikan dalam hal ini GAM yang bertransformasi ke dalam Partai Aceh, nyata nya tidak tetap membuat masyarakat kecewa. Malah, banyak ex-combatan sendiri yang terlibat dan menjadi aktor baru dalam mengeruk sumber daya alam Aceh untuk keuntungan sendiri dan golongan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Itu adalah beberapa cuplikan dari diskusi yang terjadi. Si wartawan bule bernama Andre Vltcek. Dan semoga buku yang ia tulis nanti bermanfaat bagi rakyat Indonesia, terutama rakyat Aceh yang terus dizalimi (oleh penguasa Indonesia, dan penguasa Aceh sendiri).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-7337520520700327590?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/7337520520700327590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/02/wawancara-dengan-andre-vltcek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7337520520700327590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7337520520700327590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/02/wawancara-dengan-andre-vltcek.html' title='Wawancara Dengan Andre Vltcek'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-3638247795474362881</id><published>2011-01-03T21:54:00.000+07:00</published><updated>2011-01-03T21:54:09.020+07:00</updated><title type='text'>Keadilan Yang Tiarap  (Sebuah Pelajaran dari Guatemala)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cerita di balik film Killer’s Paradise&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Killer's Paradise adalah sebuah film dokumenter yang dibuat pada tahun 2007. Berkisah tentang tingkat pembunuhan yang tinggi terhadap perempuan Guatemala yang belum selesai sejak akhir Perang Saudara Guatemala . Lebih dari 2.200 perempuan dibunuh di Guatemala antara 2001 dan 2008, dan banyak lagi diperkosa, disiksa, dan dimutilasi. Film ini juga menampilkan keengganan pemerintah untuk menyelidiki pembunuhan, karena perilaku korup dan ketakutan akan pembalasan dari pelaku. Selain itu, hukum juga tak bisa diharap, seorang pemerkosa bisa dibebaskan jika korbannya setuju untuk menikah dengannya, yang berarti bahwa banyak korban kasus perkosaan “selesai” dengan dipaksa menikah dengan pelaku karena takut akan dibunuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tragedi ini merupakan dampak Perang Saudara di Guatemala dari 1960-1996. Perebutan kekuasaan, pelanggaran hak sipil penduduk, kemiskinan dan masalah rasial menjadi akar konflik yang berlangsung lebih dari 3 dasawarsa. Penduduk asli Guatemala yang berkulit gelap (suku Maya) merupakan kelompok mayoritas dan mencakup lebih dari separuh rakyat nasional. Namun mereka tidak memiliki lahan. Sedangkan kelompok pemilik tanah adalah kelompok penduduk berkulit putih keturunan imigran Eropa di Guatemala. Konflik ini menelan korban hilang sebanyak 40.000 sampai 50.000 jiwa hilang dan sekitar 200.000 tewas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Human Rigth Watch&lt;span class="citation"&gt; &lt;/span&gt;pernah mengeluarkan laporan yang menggambarkan tindakan luar biasa kejam oleh pasukan bersenjata, atas sebagian besar warga sipil tak bersenjata. Salah satu contoh yang diberikan adalah pembantaian lebih dari 160 warga sipil oleh tentara pemerintah di desa Las Dos Erres pada tahun 1982. Pelanggaran termasuk; mengubur hidup-hidup masyarakat desa, membunuh bayi dengan membanting kepala mereka ke tembok, menjaga perempuan muda hidup untuk diperkosa selama tiga hari. Pembantaian yang terjadi bukanlah peristiwa yang sembunyi-sembunyi, tapi menjadi hal yang diketauhi luas oleh publik.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_edn1" name="_ednref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 400 pembantaian didokumentasikan oleh komisi kebenaran - beberapa di antaranya, menurut komisi itu, merupakan "tindakan genosida".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bagaimana dengan Aceh ?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tidaklah jauh berbeda apa yang terjadi di Guatemala dengan apa yang kita alami di Aceh. ‘Setali tiga uang’ menjadi peribahasa yang pantas. Kita merasakan rezim kediktatoran yang kejam dan sama sekali tidak menghormati hak asasi manusia. Diskriminasi etnis, kekerasan ekonomi, penghilangan paksa dan pembantaian menjadi “hal biasa”. Hukum dipenjara, keadilan pun tiarap. Bersamaan dengan dipenjara nya orang-orang yang menyuarakan keadilan dan demokrasi. Bersamaan pula dengan masyarakat yang tiarap, karena ketakutan mendengar desingan peluru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Juli s/d Agustus 1998 melakukan penyelidikan di Aceh. Laporan pendahuluannya menyebutkan telah menemukan bukti-bukti adanya, paling tidak, 781 orang meninggal, 163 hilang, 368 kasus penyiksaan, dan 102 kasus pemerkosaan yang terjadi antara tahun 1989 dan 1998.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_edn2" name="_ednref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ini hanyalah sebagaian kecil kasus yang berhasil diidentifikasi dan diverifikasi oleh Komnas HAM. Jumlah yang sebenarnya tentu jauh lebih banyak dan mencengangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada November 1999, Kejaksaan Agung melakukan penyelidikan terhadap lima kasus yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KPTKA). Lima kasus tersebut masing-masing adalah kasus pemerkosaan di Pidie yang terjadi pada Agustus 1996; kasus penyiksaan dan penghilangan paksa di &lt;i&gt;Rumoh Geudong &lt;/i&gt;di Pidie antara 1997 dan 1998; Pembunuhan tujuh warga sipil di Idi Cut, Aceh Timur pada 1999; Pembantaian 46 warga sipil di Simpang KKA, Aceh Utara pada Mei 1999; dan pembantaian Tgk. Bantaqiyah dan pengikutnya di desa Blang Meurandeh, Beutong Ateuh, Aceh Barat pada Juli 1999.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_edn3" name="_ednref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;5 Tahun Perdamaian, Adakah      Keadilan Bagi Korban ?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perdamaian ini makin tua usia. Namun ironis! Makin tua usia damai, keadilan ternyata justru makin menjauh dari korban. Seharusnya hak korban atas kebenaran, kepastian hukum, serta hak perbaikan dan jaminan tidak akan berulangnya kekerasan telah dipenuhi oleh pemerintah. Selain itu, pelaku juga harus dihukum. Agar si pelaku tidak merasa kebal hukum. Apabila ini terjadi justru sangat berbahaya, karena tidak ada efek jera, dan melahirkan impunitas (kekebalan dari pertanggung jawaban hukum) dan memberikan peluang berulangnya pola pelanggaran HAM di masa depan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Selain itu apabila masalah pelanggaran HAM masa lalu tidak segera diselesaikan, akan berakibat hilangnya rasa kepercayaan kepada pemerintah dan keputus-asaan korban pelanggaran HAM. Konsekuensi yang harus diterima oleh korban adalah mereka tidak diperhatikan, dan terjadi “perdamaian” dengan pelaku diluar konteks hukum yang kontraproduktif dengan penegakan hukum dan penghormatan Hak Asasi Manusia. Karena ternyata kita memilih untuk menjadi amnesia, melupakan pelanggaran dan kekerasan masa lalu. Hingga kita sendiri tidak dapat membedakan, mana rezim korup-militeristik yang melanggar HAM di masa lalu, dengan pemerintahan sekarang pasca damai. Karena tidak adanya pengungkapan kebenaran dan pertanggung jawaban. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam MoU Helsinky (dalam Pasal 2 Poin 3) dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dalam pasal 229 ayat 1-4, telah disepakati sebuah mekanisme untuk pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi, dengan cara membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Mekanisme KKR dipilih karena didasarkan pada pada &lt;i&gt;best practice &lt;/i&gt;dibelahan dunia lain, yang menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menjadi pengawal suatu transisi politik (akibat konflik dan otoritarianisme) adalah pembentukan suatu komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Model komisi ini telah berhasil dilakukan di 30 negara, dan memberikan kontribusi positif bagi perdamaian dan demokrasi, serta reformasi institusi dan kebijakan. Pembentukan KKR juga tertuang dalam UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM pada pasal 47.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Melawan Lupa !&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hingga sejauh ini, perjuangan menuntut pembentukan KKR terus disuarakan. Yang fenomenal adalah dilakukan nya sebuah acara Pengungkapan Kebenaran Versi Korban, pada peringatan 11 tahun tragedi Simpang KKA, Krueng Geukuh, Aceh Utara tanggal 3 Mei 2010. Acara tersebut bukan hanya sebagai bentuk dorongan kepada pemerintah untuk mempercepat proses pembentukan KKR, namun juga menampilkan prosesi pengungkapan kebenaran yang nantinya akan dilakukan apabila KKR telah resmi dibentuk di Aceh. Dan yang terakhir adalah aksi pendudukan selama 3 hari di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia Se-dunia, pada tanggal 8 s/d 10 Desember 2010. Aksi mencapai kata sepakat dengan DPRA Aceh yang berkomitmen untuk membahas dan mensahkan Qanun KKR Aceh selambat-lambatnya bulan Juni 2011. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa yang menjadi ujung tombak perubahan, memantapkan tekad dan merapatkan barisan demi terbentuknya KKR Aceh. Tentu tak ada yang mengharapkan peristiwa masa lalu kembali terulang. Tak ada pula yang mengharapkan peristiwa yang terjadi di Guatemala terjadi di Aceh. Membentuk KKR bukanlah semata perjuangan untuk pengungkapan kebenaran dan pemenuhan hak korban, tapi juga perjuangan membangun peradaban. Di awal tahun ini, pastikan kita bergerak untuk membangunkan keadilan yang tiarap, dengan melawan lupa!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="edn1"&gt;  &lt;div class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_ednref1" name="_edn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="printonly"&gt;&lt;a href="http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&amp;amp;sl=en&amp;amp;u=http://hrw.org//backgrounder/americas/guatemala101603.htm&amp;amp;prev=/search%3Fq%3Dkiller%2Bparadise%26hl%3Did%26sa%3DX%26biw%3D1280%26bih%3D613%26tbas%3D0%26prmd%3Divns&amp;amp;rurl=translate.google.co.id&amp;amp;usg=ALkJrhjbGYdcJDFtO8XyIPt6VJhPjHtfrg"&gt;http://hrw.org//backgrounder/americas/guatemala101603.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn2"&gt;  &lt;div class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_ednref2" name="_edn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hlm 18, &lt;b&gt;Tawaran Model Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Aceh&lt;/b&gt;, Tim KPK Aceh, 2007.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn3"&gt;  &lt;div class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3304953833862815649#_ednref3" name="_edn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-3638247795474362881?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/3638247795474362881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/01/keadilan-yang-tiarap-sebuah-pelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/3638247795474362881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/3638247795474362881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2011/01/keadilan-yang-tiarap-sebuah-pelajaran.html' title='Keadilan Yang Tiarap  (Sebuah Pelajaran dari Guatemala)'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-4750328304752756551</id><published>2010-05-05T16:34:00.002+07:00</published><updated>2010-05-05T16:34:23.223+07:00</updated><title type='text'>Program ReRa Untuk Kawan-Kawan MAPALA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bagi yang mengetahui, judul tulisan ini barangkali agak menggelitik dan membongkar kemapanan berfikir. Memang, judul di atas merupakan sebuah “kenakalan berpikir” yang lahir dari kecemasan akibat melihat “kekuatan-kekuatan besar” yang disangka memiliki daya dobrak yang besar, nyatanya serupa dengan hembusan kecil yang hanya sanggup untuk memadamkan lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang duluan berkomentar bahwa ReRa itu merupakan program militer, barangkali pantas kalau pertanyaannya disambung menjadi, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”. Sebelum menjawab pertanyaan itu, tentu perlu mengupas secara singkat apa itu ReRa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Indonesia program Restrukturisasi dan Rasionalisasi atau yang sering disebut ReRa menjadi sebuah terobosan bagi militer Indonesia di awal periode kemerdekaan. Secara garis besar program yang dicetuskan oleh Mohd. Hatta ini bertujuan untuk melakukan ‘Restrukturisasi’ atau perampingan segi jumlah tentara Indonesia. Serta ‘Rasionalisasi’ merupakan proses dimana individu membangun logika yang benar dan sistematis untuk digunakan pada keputusan. Serta proses indoktrinasi untuk menyatukan proses mental yang berbeda. Hatta melakukan restrukturisasi dan rasionalisasi bukan karena tidak ada alasan, tapi pemerintah tidak sanggup membiayai banyaknya tentara yang dimiliki negara setelah berhasil merebut kemerdekaaan dan menindak lanjuti perjanjian Renville agar secepatnya membentuk Negara Serikat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah memang tidak seluruhnya mengabarkan kebaikan dan dampak positif dari program ini. Karena justru dari pelaksanaan program ReRa, banyak tentara laskar rakyat yang jumlahnya lebih besar dan lebih besar perjuangan nya dalam kemerdekaan justru pada akhirnya disisihkan. Namun beberapa pengaruh positif justru menjadi patokan pembangunan militer dan inspirasi bagi organisasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali menjawab pertanyaan di bagian awal tentang, “Apa hubungan nya antara Mapala dengan Militer?”, jawaban nya adalah “banyak persamaan, sedikit perbedaan”. Mapala sebagai sebuah organisasi kampus yang menjadi tempat berkumpul para mahasiswa pencinta alam, dikenal memiliki kekuatan solidaritas dan kekompakan yang tinggi. Senang berpetualang di belantara hutan. Dan perlengkapan yang mapala punya, sebelas dua belas dengan perlengkapan punya militer. Selain itu organisasi mapala juga dikenal dengan latihan disiplin ala militer dan sistem komando dalam menggerakkan organisasi. Persamaan atau sedikit perbedaan yang lain, biarlah kawan-kawan Mapala atau serdadu militer saja yang menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan “petualangan” baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ReRa yang dulu menjadi wacana militer Indonesia, rasanya pantas di wacanakan kembali di dalam tubuh mapala, dan ini didasarkan pada kebutuhan serta kondisi faktual-objektif yang terjadi hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi begitu ‘bejibun’nya permasalahan lingkungan yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan kemudian, seharusnya menyadarkan kawan-kawan mapala untuk turut ambil andil dalam perbaikan dan perubahan. Persoalan yang tengah marak seperti, penebangan liar, pencemaran udara, serta kerusakan lingkungan akibat penambangan, harusnya juga menjadi wacana baru untuk kemudian melahirkan tindakan baru. Inilah yang disebut Rasionalisasi ‘ala Mapala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan akan pentingnya individu-individu atau kader yang turut ambil bagian dalam mewacanakan dan mengambil tindakan konkrit dalam menyelamatkan lingkungan, menjadi argumen yang rasional untuk “menggemukkan” organisasi mapala dengan anggota yang jumlahnya puluhan bukan belasan. Inilah yang disebut Restrukturisasi ‘ala Mapala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian rasanya pantas mapala juga mengambil doktrin politik “Jalan Tengah” hasil buah pikir Jenderal A.H. Nasution, yang kemudian melahirkan doktrin Dwifungsi Militer yang kita benci itu, menjadi wacana baru yang ‘ala mapala. Kalau dalam doktrin Dwifungsi Militer, militer sebagai fungsi pertahanan-keamanan juga ikut dalam fungsi politik-pemerintahan. Maka Dwifungsi Mapala yang pantas diwacanakan adalah; pertama, mapala berfungsi untuk penyaluran minat dan bakat. Kedua, fungsi mapala sebagai sebuah ‘Gerakan Lingkungan’. Dwifungsi Mapala ini tentu akan menjadi sebuah Tantangan “petualangan” baru bagi kawan-kawan mapala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yok lihat lebih dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita buka mata dan telinga, kemudian mencoba untuk ‘fair’ menilai. Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam ruang pikir kawan-kawan mapala, bukan bagian dalam ruang pikir NGO-INGO lingkungan yang berselemak di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan illegal logging di seluruh Aceh, persoalan tambang di Lhoong dan Manggamat, persoalan program ngawur ‘Aceh Green’, dan persoalan perdagangan karbon, sejatinya menjadi bagian dalam aksi nyata dan tindakan konkrit kawan-kawan mapala, bukan bagian dari latar belakang proposal dan program plan NGO-INGO lingkungan yang berserak di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seharusnya, mapala tidak menjadi “gerbong sempit” yang digerakkan oleh lokomotif NGO-INGO. Tapi sejatinya memimpin sekaligus menjadi lokomotif yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat Aceh termasuk NGO-INGO untuk ikut serta dalam perbaikan dan penyelamatan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kembali, sebuah kabar duka kalau mapala dapat bergerak ketika “infus donor” mulai dialirkan kedalam tubuh organisasi mapala. Kekuatan solidaritas, semangat bertualang, disiplin, komando, dan kekompakan, mestinya menjadi modal besar untuk mengkomadoi gerakan lingkungan di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kawan-kawan mapala masih menganggap Soe Hok Gie sebagai pendiri, maka mapala mesti menjadi gerakan, dan tak sekedar hobi. Karena Wanadri juga bukan sekedar hobi.&lt;/span&gt;                                &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-4750328304752756551?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/4750328304752756551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/program-rera-untuk-kawan-kawan-mapala.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4750328304752756551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4750328304752756551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/program-rera-untuk-kawan-kawan-mapala.html' title='Program ReRa Untuk Kawan-Kawan MAPALA'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-5603030123176575236</id><published>2010-05-05T16:33:00.000+07:00</published><updated>2010-05-05T16:33:28.184+07:00</updated><title type='text'>Pembodohan di ‘Hardiknas’ Oleh Mendiknas dengan judul: “Televisi Pendidikan Untuk Mencerahkan Anak Bangsa Di Daerah Tertinggal</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam suatu ruangan kelas yang pengap dan sempit. Murid-murid yang tidak bersepatu di sebuah Sekolah Dasar di Timika Papua sedang serius mendengarkan pengajaran dari bu guru. “Anak-anak… agar kalian dapat lebih cepat paham yang ibu ajarkan tadi, juga supaya bisa mempraktekkannya dirumah, jangan lupa rajin-rajin menonton TV Cita. Ketrampilan yang ibu ajarkan tadi juga ibu dapat dari menonton acara itu anak-anak….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah barangkali gambaran yang ada di pikiran Hary Tanoesudibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) grup, yang juga Direktur Utama PT Global Mediacom, Tbk, sebuah perusahaan raksasa yang menggandeng Kemendiknas untuk meluncurkan program TV Citra Indonesia Terampil (Cita). Sebuah acara seremonial yang akbar dipersiapkan untuk mendukung peluncuran program ini. Acara ini juga dihadiri para kepala sekolah, guru, juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA, se-DKI Jakarta. Para pejabat menggandeng ibu pejabat dari Kemendiknas dengan berstelan jas lengkap turut hadir bersama seluruh pemilik saham dan petinggi dari perusahaan televisi dan komunikasi terkemuka di tanah air ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya, sebuah acara seremonial ini begitu selaras dan menjadi kabar bahagia di hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei memang sengaja dipilih oleh MNC dan Kemendiknas untuk menunjukkan betapa pedulinya pemerintah untuk memajukan pendidikan dan betapa bermurah hatinya sebuah perusahaan besar seperti MNC dalam mengangkat pendidikan Indonesia dari ketertinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri M. Nuh sampai memberi komentar, "MNC bisa menjadi sumber inspirasi bagi kawan-kawan. Para perusahaan-perusahaan, tidak usah ragu untuk membantu dunia pendidikan karna pasti itu jatuhnya ke kita sendiri. Saya kira ini contoh yang bagus untuk sumber inspirasi,".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat sangat luar biasa! Tapi mari kita lihat lebih jeli. Ternyata program televisi ini hanya dapat dinikmati lewat saluran tv kabel (berlangganan) Indovision. Lantas, kita wajib bertanya, bagaimana pelajar di daerah tertinggal dapat menikmati siaran tv ini? Apakah harus beli tv dulu kalau tak punya tv? Lalu setelah punya tv mesti beli seperangkat alat tv kabel dan berlangganan tv kabel? Kalau tak sanggup beli tv bagaimana? Apakah pemerintah mau menyediakan tv sekaligus tv kabel untuk tiap rumah di pelosok??? Karena pemerintah pasti tahu kalau kami yang katanya masyarakat daerah tertinggal untuk makan saja susah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu! Ini jelas-jelas penipuan dan pembodohan! Simaklah, ternyata Sky Vision (Indovision), merupakan anak usaha PT Global Mediacom yang tergabung dalam MNC group. Kalau Direktur Global Mediacom adalah Harry Tanoesudibjo, maka Direktur Sky Vision (Indovision) adalah Rudy Tanoesudibjo yang merupakan abang kandung Harry Tanoe. Ya, kedua bersaudara inilah yang kemudian menggerakkan bisnis televisi di Indonesia. Dan kedua bersaudara inilah yang juga mengotori hari pendidikan nasional dengan siasat licik yang pantas distempel dengan kapitalisme pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedua kakak beradik Rudy Tanoe dan Harry Tanoe dalam dunia “bisnis” juga disebut sebagai Mafia Indonesia yang disebut ‘Geng Sembilan’. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan cari tahu sendiri siapa-siapa ‘Geng Sembilan’ ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu menjijikkan rasanya apa yang disampikan Harry Tanoe dalam pidato seremonial, "Ini dilandasi keinginan kami untuk berpartisipasi ambil bagian dalam membangun bangsa kita. Karena masih banyaknya masyakat yang belum mengenyam pendidikan, oleh karena itu kami memikirkan cara cepat untuk membantu yaitu dengan menggunakan satelit yang bisa menjangkau seluruh pelosok melalui program keterampilan yang singkat dan padat. Dengan demikian banyak masyarakat kita yang bisa dibantu,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teranglah sudah, Harry Tanoe meluncurkan program “baik” siaran Tv Edukasi Cita yang dijalankan oleh perusahaan nya Global Mediacom, dan kemudian si kakak yang memiliki perusahaan Sky Vision (Indovision) melahap keuntungan sebesar-besarnya. Karena, rakyat yang mau menonton Tv Cita (Harry Tanoe), mesti beli dulu satu set tv kabel Indovison (Rudy Tanoe). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya rakyat juga yang dibodohi. Ditipu sampai mati. Program Tv edukasi Cita yang “mulia”, yang kita sangka “murah hati” nya pengusaha, ternyata modus baru menipu rakyat untuk menghisap kapital berlipat-lipat ganda. Bayangkan, berapa harga tv kabel itu, 1 juta? 2 juta? Berapa harga berlangganan nya, 300 ribu? 500 ribu? Rakyat daerah terpencil mana yang sanggup membayar…??? Apakah Timika..? Apakah Majene..? Apakah Kluet..? Apakah Nemberala..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana kalau pemerintah yang terpaksa menyediakan televise plus tv kabel Indovision. Apakah Anggaran Pendidikan Nasional..? Ataukah APBD..? Ataukah APBK..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena simaklah kembali, pemerintah menyediakan balai-balai pendidikan dan pelatihan keterampilan di seluruh Indonesia, yang di bawah Kementerian Diknas, akan menyiarkan program pelatihan dengan nama TV Citra Indonesia Terampil (CITA) melalui Indovision di channel 845. Nantinya masyarakat yang mengikuti kelas pelatihan tersebut akan dapat menyaksikan dan mempraktekan tayangan dari program pelatihan yang disuguhkan. Untuk perangkat siaran, saat ini sudah terpasang 100 set perangkat siaran yang diletakkan di balai-balai pendidikan di seluruh Indonesia. Nanti diakhir tahun, target terpasang ada 1.000 perangkat siaran. Lucu sekali, dagelan persekongkolan menteri kapitalis dengan pemodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar pemerintah telah menjadi budak para pemodal, bermain di lingkaran kekuasaan untuk mengeruk keuntungan dari uang rakyat. Pemerintah saat ini adalah komprador-komprador pemodal. Agen-agen neoliberalime. Dan dengan senang hati menjual “masyarakat daerah terpencil” untuk kenyang perut sendiri. Itu dilakukan ditengah siaran tv silang berganti menayangkan rendahnya fasilitas pendidikan, beberapa pelajar berprestasi, trauma pelajar karena UN, pelajar-pelajar yang putus sekolah, dan mahalnya ongkos pendidikan. Di hari ini, 2 Mei 2010, hari pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*M. Fauzan Febriansyah (aktivis mahasiswa Aceh) …. Meneriakkan kata: “LAWAN!”&lt;/span&gt;                &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-5603030123176575236?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/5603030123176575236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/pembodohan-di-hardiknas-oleh-mendiknas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5603030123176575236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5603030123176575236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/pembodohan-di-hardiknas-oleh-mendiknas.html' title='Pembodohan di ‘Hardiknas’ Oleh Mendiknas dengan judul: “Televisi Pendidikan Untuk Mencerahkan Anak Bangsa Di Daerah Tertinggal'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-8855471259421031151</id><published>2010-05-05T16:30:00.000+07:00</published><updated>2010-05-05T16:30:10.270+07:00</updated><title type='text'>Kuberi Judul: “Nyala Hidup, Hidup Nyala…”</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Suatu ketika guru bijak mengajukan pertanyaan. “ada dua buah bola lampu. Bermerk sama, perawatan yang sama, sama-sama 15 watt, dan dulu dibeli di toko yang sama, pokoknya semuanya sama”. Dengan mimik yang lebih serius sang guru bijak melanjutkan… kemudian mengangkat tangan, mencontohkan sambil menjelaskan. “Tapi anehnya, yang satu Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…” Tangan sang guru bijak pun berkedap-kedip.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Dan yang satu nya lagi hiduuuuuppppp terusssssss……” Nah, Pertanyaan nya adalah bola lampu yang mana yang paling banyak menghabiskan arus….??” Bocah gondrong menjawab yang hidup-nyala, hidup-nyala. Yang lain nya pun serempak menyahut “yang hidup-nyala, hidup-nyala guru!” Sang guru bijak pun terkekeh. Membiarkan pertanyaannya tersimpan dalam ruang penasaran di pikiran bocah-bocah yang mendengar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di sebuah kamar dengan sebuah lampu yang akhir-akhir ini lebih sering padam. Daripada hidup, atau hidup-nyala, hidup-nyala. Cahaya-cahaya yang menerangkan cuma berasal dari lampu layar telepon seluler blackberry yang makin sering digenggam oleh pelacur ibukota. Layar blackberry pun menampilkan laman jejaring sosial facebook yang sekarang dijadikan media transaksi pelacur ibukota. Namun yang bikin beda dari barang milik pelacur ibukota adalah “lempar-lempar” komentar di bawah status facebook antara satu blackberry dengan blackberry lain. Blackberry yang satu hiduuuuupppp terusssss, dan satunya lagi hidup-nyala, hidup-nyala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lempar-lempar komentar makin ngeri. Aroma politik yang menebar bau amis, padahal entah kapan telepon seluler baunya amis. Komentar-komentar yang tarik garis dan bikin sudut. Bikin blok kiri dan blok kanan. Merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan. Kalau dibilang kanan, blackberry dan facebooknya terbilang kiri. Hah…! Ini lakon koq mirip Nagabonar. Ada Jenderal selepas main catur, kemudian tarik-tarik garis di tanah, dan ribut lagi soal muka bapak siapa yang digambar. Beralihlah ribut soal garis-garis ditanah yang kata Jenderal Nagabonar itu muka nya bapak Jenderal Mariam. Halah… padahal keduanya bukan jenderal. Dan kenapa pula dari main catur, ributnya soal garis kiri dan garis kanan…?! Ini zaman sudah maju 100 tahun, atau mundur 100 tahun…?? Mestinya ini zaman maju 100 tahun, tapi para Jenderal nya punya karakter para Jenderal 100 tahun lewat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tapi ini zaman memang keblinger. Blackberry hidup terus, facebook hidup-nyala, hidup-nyala…tapi listrik padam terus. Yang protes listrik padam terus, juga dari yang punya blackberry yang hidup terus, dan facebook yang hidup-nyala, hidup nyala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini zaman memang keblinger, semua sama-sama punya blackberry, sama-sama pakai facebook, sama-sama rasain listrik padam, dan sama-sama merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan… tapi, ini zaman suka bikin ribut yang suka sama-sama. Entah keblinger yang pernah bilang “sama rata, sama rasa”. Atau keblinger yang baca “sama rata, sama rasa”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini zaman memang keblinger. “Keblinger” persis dengan makna Soekarno mengucap keblinger! Berteriak ‘hidup’ rakyat di blackberry, mengutip kalimat dari pamflet ‘Njala’ di facebook. Ini zaman dengan orang-orang yang persis dengan judul buku Soe Hok Gie “Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan”. Tapi, entah orang kiri yang berada disimpang? Atau, entah orang yang sedang berada di simpang kiri?... Tapi yang pasti, ini zaman dengan orang-orang yang sukar bedakan hidup dan nyala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini zaman dengan orang-orang yang mempersoalkan, mana yang teriak ‘hidup’ rakyat! Dengan sebenar-benarnya teriakan ‘Hidup Rakyat’…! Dan mana yang menulis seperti pamflet ‘Njala’! dengan sebenar-benarnya tulisan ‘Njala’…!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini zaman betul-betul keblinger. Tiga ‘setan oeang’ berdiri mengangkang dan berak di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Dan tiga setan oeang sedang menghitung berapa tumpuk duit yang bisa dibagi, sambil melirik berapa tumpuk taik yang sudah menghias di kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Setan pertama bersungut listrik, dengan perut buncit disesaki kapital. Kapital yang diperoleh dari nilai lebih hasil hisap-menghisap arus listrik milik Bu Minah penjual es mambo di kantin SD, dan bang Him si tukang las. Setan bersungut listrik mulai menghitung tetesan-tetesan kapital yang bisa dibagi ke setan kedua dan ketiga. Setan kedua menenteng senjata, senjata dari pajak pak guru Sofyan dan pajak hasil keringat pedagang eceran. Setan ketiga berselempang bendera, yang sedang laku di pasar politik dan meja kerja kepala dinas. Dan ketiga setan sedang bekerja menyusun cara untuk melipat kapital, mengajak setan yang lain menikmati tetesan sambil terbahak menyaksikan tumpukan taik di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala sedang keblinger! Bertengkar remeh temeh dengan gaya debat Aidit, Disman dan Nyoto di kantor CC. Tapi medan tengkar pun di blackberry dan facebook yang jadi mahakarya imperialis-kapitalis sekarang. Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu imperialis. Imperialis yang tidak sama dengan amtenar-amtenar dan pejabat pemerintah.. . Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu kapitalis. Kapitalis yang tidak sama dengan bangsa asing, yang tidak sama dengan negara-negara maju. Imperialis itu adalah hasrat untuk menguasai atau mempengaruhi ekonomi-politik bangsa lain. Yang bukan hanya kita temukan pada bangsa-bangsa Amerika dan Eropa, tapi juga pada nafsu Sriwijaya yang menaklukkan semenanjung Malaka, kerajaan Melayu dan negeri Campa. Juga kita temukan pada Majapahit yang mempengaruhi semua pulau nusantara, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Sekali lagi, imperialis adalah soal hasrat mempengaruhi dan menguasai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan kapitalis itu sesederhana ceramahku pada bocah-bocah yang baru selesai bermain bola. Kapitalis itu adalah bola Nike yang dengan gagah dimainkan Lionel Messi pada sebuah iklan. Kulit bola Nike diambil dari kulit lembu petani miskin di Sri Lanka dan Afrika. Dijahit oleh anak-anak yatim di Palestine dan Aljazair. Dipermak oleh buruh-buruh di Brazil dan Ekuador. Dengan upah si yatim dan para buruh tidak lebih dari 2 dollar untuk pekerjaan selama 12 jam sehari. Dan sampai ke pabrik utama di Amerika, kembali bola-bola itu sampai ke tangan-tangan para imigran gelap dari Afrika, Mexico dan Kuba, untuk di percantik dan dikemas lebih menarik. Dan setelah dipasarkan dengan gambar Lionel Messi, harga bola Nike itu pun melambung menjadi 60 dollar!!! Berpuluh kali lipat harganya setelah disentuh tangan yatim Aljazair dan keringat buruh imigran gelap Kuba. Disitulah dia kapitalis. Suatu sistem yang timbul dari cara produksi yang memisahkan para buruh dengan alat-alat produksi. Dan memakan keuntungan berkali lipat dari keringat dan kerja keras para buruh. Tapi tapi tapi… disitulah blackberry yang cantik diproduksi dan dipasarkan. Diproduksi dengan cara-cara kapitalis, dan dipasarkan dengan cara imperialis!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan memang ini zaman keblinger. Santai-santai orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Menggenggam blackberry, menyalakan facebook, berdiskusi, saling sindir, sampai debat kusir, dengan penuh semangat dan menyala-nyala. Ini soal bukan soal menggunakan teknologi, ini soal bukanlah persoalan mengikuti tren tapi tetap kritis. Ini antara persoalan prinsip dan implementasi, dibumikan menjadi aksi dan reaksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tapi tapi tapi… prinsipnya kiri, implementasi borjuasi, aksi-nya massa, reaksi-nya ereksi kemudian o-na-ni, olah sana sini! Ah zaman.., aku tak berani menyebut diri kiri, karena kiri itu adalah pilihan hidup, tata cara pergaulan hidup. Dan aksi massa itu adalah sarana menuju cita-cita, cita-cita untuk hidup sama rasa-sama rata. Tapi tapi tapi… kini prinsip jadi jargon, dan sarana menjadi alat tukar di meja negosiasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Baiklah, okelah kalau begitu. Silahkan lanjutkan perang urat saraf prinsip, dan aksi massa negosiasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Buatku dan kau, kau dan kau, yang baru memulai, dan belum berada di simpang. Kiri itu adalah cara pandang hidup, yang berada di dalam massa, susah senang dengan massa , dan berjuang untuk massa. Bermusuhan dengan imperialisme dan kapitalisme. Berkawan dengan mereka yang tertindas, dan orang-orang yang berusaha hidup untuk menyala!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Buatku dan kau, kau, dan kau, yang ngefans dengan yang berbau kiri. Banyak-banyaklah kita membaca, hemat-hematlah berbicara, dan pandai-pandai melihat dan menimbang-nimbang, karena salah benar bukan cuma urusan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan ingat pesan Che, dalam persatuan ada kekuatan. Juga belum ada gerakan yang menimbang-nimbang main hati. Kalau terlalu banyak main hati, bergabunglah bersama Andra and The Backbone, atau jadilah anak band.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Buat yang tak paham antara hidup terus dan hidup-nyala hidup-nyala, keduannya sama aja tolol!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan buat yang berada di simpang jalan, sering-sering kau lewat disimpang Kodim, persis di depan kantor Golkar, ditempat yang sering mangkal Polantas yang suka merazia seenak perutnya itu. Nah, kau tengok ada rambu jalan dengan tulisan “KE KIRI JALAN TERUS”…..!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sorry mamen kalau curhat, ke tower juga kita akan ngopi…ha ha ha!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-8855471259421031151?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/8855471259421031151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/kuberi-judul-nyala-hidup-hidup-nyala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8855471259421031151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8855471259421031151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/05/kuberi-judul-nyala-hidup-hidup-nyala.html' title='Kuberi Judul: “Nyala Hidup, Hidup Nyala…”'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-4596682030946146120</id><published>2010-02-02T08:48:00.000+07:00</published><updated>2010-02-02T08:48:52.500+07:00</updated><title type='text'>Uraian Pertanggung Jawaban Pada Milad Ku ke-23; Kritik dan Otokritik</title><content type='html'>23 tahun sudah. Aku tulis ini sebagai suatu pertanggung jawaban. Bahwa panjang usia berbanding lurus dengan tanggung jawab untuk memenuhi fitrah manusia sebagai khalifah di dunia dan menjadi berguna bagi sesama. Karena memang, semua yang dicipta-Nya, terutama di bumi manusia, tidak ada yang lahir sia-sia. Maka hanya aku tulis. Sebaris demi baris. Karena aku tidak mau menjejak di atas pasir pantai, yang sebentar disapu ombak hilang tak berbekas. Juga supaya suara ini tidak hilang ditelan angin. Dan sebagai “perjuangan melawan lupa” sebagaimana ditulis Milan Kundera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul surat ini sama sebagaimana judul pledoi yang pernah disampaikan kawan Disman pada sidang Mahmilub Juli 1967 pasca peritiwa ’65. Tapi sebagaimana Disman, aku juga tak mau surat ini disebut pledoi. Karena bukan untuk membela diri dan mengelak kealpaan, dari sepancung umur yang ditambahNya dari 22. Yang selama setahun ini telah terjadi begitu macam rupa. Melainkan tulisan ini sebagai cermin mawas diri. Sebagai dera. Dan sebagai kawan yang mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali harus menunduk dalam dan memberi penghormatan bagi mereka-mereka yang sudah, sedang dan terus berjuang. Selamanya, salamku… hanya untuk kalian, para pencari kebenaran dan pejuang keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kalian yang bersabar dan mengasihi tanpa pamrih; ternyata anakmu telah makin tua ma... Entah dia makin dewasa atau tidak. Entah dia lebih berguna atau tidak. Entah dia telah lebih banyak bersyukur atau tidak. Entah dia bisa membahagiakan atau tidak. Tapi kau tetap berdoa untuknya. Tetap kau beri kasih sayang yang tak pernah kurang. Tetap kau beri kehangatan. Tetap kau beri pijatan saat dia penat dan lelah. Tetap kau masakkan kesukaannya. Tetap kau terjaga saat dia sakit. Dan kau lakukan itu semua, terkadang saat kau benar-benar lelah. Tapi kau enggan menjawab nanti. Kau buang jauh kata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan jemarimu yang telah tua. Tanganmu yang mengeriput. Wajahmu yang tak lagi seperti dulu. Kurasakan bahwa semuanya ternyata begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tidak lagi tidur di ayunan sarung yang digantung dipintu. Rasanya baru kemarin kau menemaniku mendaftar TK dan menungguku seharian. Rasanya baru kemarin aku tidur manja dipelukanmu. Tapi waktu begitu cepat. Rupanya sekarang aku makin jarang ada dirumah. Rupanya aku terlalu sibuk dan tak bisa makan dirumah. Rupanya sekarang aku bilang tak sempat untuk membantumu, meringankan  tumpukan pekerjaan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu bersemangat dan punya waktu untuk menanyakan apa saja yang sedang kukerjakan sekarang. Tapi aku tak punya waktu untuk bertanya apa yang bisa kubantu untuk kukerjakan. Kau hanya bisa mengeluh lelah. Tapi lelah tak juga bisa menghentikanmu, untuk tidak memasak dan mengurus rumah. Lelah juga tak bisa menghentikanmu untuk sejenak meluangkan waktu beristirahat. Lelah membuatmu makin bersabar, bersyukur dan berdoa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata anakmu telah makin tua pak… Entah dia bisa mandiri atau tidak. Entah dia lebih tekun atau tidak. Entah dia lebih bertanggung jawab atau tidak. Entah dia bisa membanggakan atau tidak. Tapi kau tetap berjuang untuknya. Kau selalu berusaha berikan yang terbaik. Kau selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya. Diantara kelebihan dan kekurangan kau berpesan untuk selalu bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat uban dirambutmu. Mendengar kau yang mulai mengeluh sakit. Merasakan kegagahanmu yang mulai dimakan oleh waktu. Memang waktu begitu cepat pak. Rasanya baru kemarin kau memapahku belajar jalan. Rasanya baru kemarin aku merengek minta dibelikan mainan. Rasanya baru kemarin kita pergi jalan-jalan. Rasanya baru kemarin sore kau mengantarku pergi mengaji. Ternyata sekarang kita makin jarang terlihat bersama. Makin tua usia, dua laki-laki pun terpisah dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku belum lupa tiap sore aku merengek minta jalan-jalan dan dibelikan mainan. Kau buang jauh-jauh lelah dan mengajakku putar-putar kota. Jalur biasa, Mesjid Raya, Blang Padang dan Simpang Lima. Tapi sekarang kita makin jarang jalan bersama. Rupanya jalan-jalan itu cuma persoalan anak kecil saja. Seperti nasehat-nasehat bijak yang kau beri pada saat aku kecil dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih kuat dibenakku nasehat-nasehatmu dulu. Ternyata dia tumbuh berurat berakar. Kau memang makin banyak diam. Tapi aku yang mulai banyak bertanya sekarang. Karena aku makin takut kita semakin hening dalam kesunyian. Walau kutahu kau selalu melihatku. Selalu memperhatikan dan mendengarkan. Memang kita laki-laki yang tidak banyak berbeda. Kau menurunkan sifat dan perangai yang serupa. Walau kutahu tentu saja kau mengharap lebih padaku. Mengharap aku melakukan dengan lebih baik, lebih bijak, lebih berani, dan lebih cermat dibanding dengan yang telah kau lakukan dulu. Dan mengerjakan nya dengan lebih sabar, lebih tekun, lebih disiplin dan lebih ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku yang harus memperhatikanmu seksama. Mengajakmu untuk terus berdiskusi. Hingga bisa kutemukan kekuranganmu yang harus kita perbaiki bersama dalam diriku. Karena kau tidak menulis maka aku belajar untuk menulis. Karena kau kurang konsisten maka aku belajar untuk lebih konsisten. Karena kau mengalah maka aku berusaha untuk terus menantang. Walau sebenarnya aku merasa kalah jauh saingan dalam pengalaman muda. Pada umur dua tiga mungkin sudah lebih segalanya yang telah kau lakukan dan kau rasa. Telah lebih banyak kesulitan yang kau lalui. Telah lebih matang sikapmu menentukan pilihan. Sedang aku masih saja gegabah dan tergesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau didik aku untuk dekat dengan alam. Tapi aku lebih memilih televisi dan video game. Dulu kau memelihara banyak ayam, tapi aku hanya berkeinginan memiliki banyak tamiya. Sekarang kau memiliki luang, dan menghabiskan waktu menanam terong, gambas, tomat dan kacang panjang dihalaman depan. Tapi aku lebih menghabiskan luang bersama buku, ngopi, dan dvd. Aku beretorika dan berteori, tapi kau bersikeras mencontohkan terampil dan mandiri. Kau sering berpesan agar menjaga silaturahmi dengan keluarga dan saudara, tapi aku dimanapun dan kapanpun selalu bersama teman sebaya. Karena berkebun dihalaman depan, tangan dan kakimu sering tergores dan diplester. Baru garap kebun dua langkah, tangan dan kaki bisa terluka. Bagaimana tangan dan kaki para pekebun di Samar Kilang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak pelajaran dari kehidupan. Begitu baik rupanya kehidupan mentraktirku dengan nilai, faedah, hikmah dan moral. Cuma selama ini kusiakan traktiran kehidupan, hanya karena aku malas berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibawa hanyut pada kenangan masa kecil. Bahwa kalian juga tak selamanya bijak. Bahwa kalian lebih sering mengelak ketimbang memberi jawaban atas rasa penasaran. Menghadapi bocah yang semaunya, nakal dan keras kepala. Aku ingat bahwa tayangan tv favoritku dulu adalah lagu Garuda Pancasila yang diputar sebelum tayangan dunia dalam berita. Aku senang bukan kepalang mendengar lagu itu. Merasa gagah dan bangga. Kutatap tv dalam-dalam dan khusyuk mendengarkan. Lagu itu kuhafalkan sampai sekarang. Walau permintaanku sampai sekarang belum dikabulkan. Kenapa tidak bapak bilang saja kalau burung Garuda itu tidak ada? Jadi aku tidak harus menunggu agar bisa kita pelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku dipanggil Pak Kontak oleh sanak saudara. Tokoh serial TVRI tentang petani Jawa yang hidup tentram makmur karena kebaikan pemerintah terhadap kaum tani. Tapi kenapa mama tidak bilang kalau aku tidak suka dipanggil demikian. Seharusnya aku didekatkan dengan tokoh pahlawan atau superhero. Bukan petani yang hidup di pedesaan dengan sederhana dan tentram, karena pemerintah sangat memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki SD, aku ingat saat aku bertanya pada bapak, sebab guru disekolah tidak bisa menjawab. Kenapa cuma ada 3 partai di negara kita? Yang berlambang bintang, beringin, dan banteng. Kenapa bukan 5? Bukankah partai di Indonesia ada 5 sesuai Pancasila? Kemana partai berlambang rantai dan padi kapas? Kau menjawab, “karena sudah begitu diatur pemerintah. Mungkin nanti juga 5. Tapi dulu ada banyak partai di Indonesia”. Ini jawaban lumayan baik. Tidak mengelak dan tidak menipu. Walau aku masih belum puas. Kenapa partai di Indonesia bukan 5 sesuai Pancasila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika kita pulang kampung. Aku masih SD kelas III. Dirumah nenek sanak famili bercerita, dalam bahasa Aceh yang mulai kumengerti. Bahwa ada lembu saudara yang diambil paksa oleh tentara. Juga ada sanak saudara yang dipukul oleh tentara. Jelas makin tak kumengerti mengapa tentara yang gagah berani jahat kepada saudara di kampungku. Mama merasa aku mengerti, dari melihat raut wajah dan telinga yang kupaksa mendengar. Dalam perjalanan pulang mama mengingatkan supaya jangan cerita-cerita dengan teman disekolah, tentang saudara di kampung kita. Dan ini untuk pertama kalinya aku merasa dibungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin besar aku terus menemukan jawaban. Tentang keganjilan yang hidup bersama kita. Jawaban-jawaban yang tak kudapat dari kalian. Karena dari kalian aku hanya didengarkan hal yang baik-baik. Sedang dari koran dan tabung televisi aku melihat keganjilan mulai didebat dan dijawab. Namun sungguh aku merasa kalian adalah orang tua terbaik. Tidak pernah aku dibentak dan dikasari. Ketika suatu kali aku pulang dengan baju kotor karena berkelahi, bapak hanya bertanya, “siapa yang salah dan siapa yang memulai?”. Aku menjawab dengan menangis terisak dan mengaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aku belum termasuk yang bersesuai dengan harapan. Mohon maaf pak, tanpa sepengetahuanmu namamu dicatut sebagai sambungan ‘bin’ dibelakang namaku karena aku diperiksa polisi. Karena bukan hanya sekali, lantas kau kemudian mengetahui. Tapi tak ada yang bisa kau lakukan. Karena dari mulutmu kau keluarkan kata tegar menghadapi konsekuensi dari perbuatan. Mohon maaf ma, karena sedikit sekali aku melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia. Padahal tiap malam kau menengadahkan tangan untuk berdoa. Mohon maaf untuk kalian berdua karena doa dan harapan kalian pada namaku, belum mengantarkan kita pada kemenangan. Tapi aku bahagia bersama kalian. Barangkali kalian tidak pernah membaca Gibran. Tapi kalian telah melampaui perasaan dan estetika dari seluruh makna kata-katanya. Aku kutip Gibran, untuk mengingat cara dan perlakuan kalian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak bukanlah anakmu&lt;br /&gt;Mereka adalah anak-anak kehidupan…&lt;br /&gt;Cinta kasihmu dapat kau berikan pada mereka, tapi bukan pikiranmu&lt;br /&gt;Karena mereka mempunyai pikiran sendiri&lt;br /&gt;Raga mereka dapat kau kurung, tapi tidak jiwa mereka&lt;br /&gt;Karena jiwa mereka tinggal dirumah masa depan&lt;br /&gt;Yang tak dapat kau kunjungi&lt;br /&gt;Bahkan tidak melalui mimpimu&lt;br /&gt;Kau dapat berjuang untuk menyerupai mereka &lt;br /&gt;Tapi jangan coba buat mereka menyerupaimu&lt;br /&gt;Karena hidup tidak berjalan mundur&lt;br /&gt;Ataupun berlambat-lambat dengan hari kemarin&lt;br /&gt;Kau adalah busur yang memastikan mereka,&lt;br /&gt;Anak panah yang berjiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah tumbuh dengan jiwaku sendiri. Dengan langkah yang kumulai perlahan, yang hanya kalian bekali dengan kejujuran dan percaya diri. Tidak ada yang kurang dari yang kalian berikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaslah hatiku digedor kencang, dan diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Untuk kalian yang tumbuh bersama disetiap detak nadi; sekarang abang kalian makin tua. Entah dia makin bijaksana atau tidak. Entah dia bisa menjadi tauladan atau tidak. Entah dia senantiasa menasehati atau tidak. Entah dia mampu melindungi atau tidak. Tetap kalian memanggilku abang. Tetap kalian memberikan bantuan saat aku butuh pertolongan. Tetap kalian berikan hangat dalam senyum dan tawa saat kita punya waktu untuk bergurau dan berkumpul bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihatmu besar dengan semangat yang luar biasa. Penuh percaya diri dengan ketekunan yang semestinya. Sudah sepantasnya aku mengucapkan salut dan bangga padamu. Bahwa ketekunan dan keuletanmu benar menampakkan seberkas cahaya keberhasilan. Kau memang melankolis sejak kecil. Penurut, selalu teratur dan terbiasa menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Sebuah salam hormat dan terimakasih untukmu, yang secara tak langsung menasehatiku untuk lebih ulet, tekun dan rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata begitu cepat kau dewasa. Tak terbayang saat aku melihat foto masa kecil kita dulu, bahwa kau bisa tegap besar dan percaya diri seperti sekarang. Karena wajahmu selalu memberi kesan pendiam dan pemalu. Tak terbayang aku, bahwa kau juga bisa tampil dengan berani. Padahal dulu, tubuh dan jiwamu yang lemah membuatmu sering ditindas dan tak berani melawan. Tak terbayang aku, bahwa sekarang kita begitu akur, padahal dulu berkelahi adalah urusan kita sehari-hari. Dengan urusan kecil nan sepele. Entah karena mainan, game atau main bola. Walaupun demikian tentu aku tak bisa biarkan kau dipukul atau ditindas, karena aku diingatkan bapak untuk saling menjaga dan melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pantas aku mengingat-ingat mainan kita yang dibeli dua. Diajak jalan-jalan berdua. Dan sepotong-sepotong memori dalam wisata dan tamasya kecil kita berdua. Tapi yang sedikit agak beda, kau lebih sering diajak menginap dirumah saudara, karena memang kau penurut, pendiam dan tak banyak tingkah. Dan aku dari dulu banyak menghabiskan waktu bersama kawan sebaya, karena rupanya menyertai adik dalam permainan masa kecil akan menambah tanggung jawab dan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ichwan saudaraku, kau telah tumbuh dan besar. Telah punya mimpi dan cita-cita. Mimpi dan cita yang besar pula. Maka sekarang saatnya kita berlomba. Berlomba meraih cita dan mimpi kita. Dan ingat adikku, bukan saatnya lagi kau mengalah kalau aku memaksa ingin duluan, seperti dulu kita rebutan mainan. Juga bukan saling menjatuhkan dan mengalahkan, saat kita berduel di video game. Tapi kita berlomba dan berpacu, siapa yang sampai lebih dulu di garis finish ‘khairunnas anfa uhum linnas’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Akmal. Aku menulis ini sambil melihatmu, yang tertidur pulas dan mendengkur. Memang kita dari dulu selalu serasi dan kompak. Sekamar denganmu pun aku tak keberatan. Berbagi sesuatu denganmu juga rasanya menyenangkan. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk demikian kompak. Kita jarang bertengkar dan menyalahkan, karena kita memang mirip pada sifat dan perilaku. Kenyataan bahwa kita serupa membuatku merasa kau adalah teman pendengar dan pengikut yang setia. Entah aku bisa terus menjadi kebanggaanmu atau tidak. Tapi kekagumanmu yang tersembunyi, menjadi cambuk penyemangat untukku berusaha menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lekang dari ingatan, waktu mama melahirkanmu. Melihat dari dekat adik baru yang lucu. Kau usia dua tahun, yang rajin mandi dan selalu rapi jali. Makin bertambah usia, rupanya kau makin nakal dan sulit diatur. Hobimu berganti menjadi penghancur keramik dan penangis yang kencang gemilang. Makin tambah lagi usia, rupanya baru kelihatan kau yang cerdik dan banyak akal. Kecilmu gendut, tapi kurus waktu besar. Kau lincah dan bertenaga. Lihai dan jago mengocek bola. Untuk urusan bola kita berdua sama maniak nya. Aku mengidolakan Raul Gonzales, dan kau mengidolakan Roberto Baggio, idolanya Raul Gonzales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang kita menjalani rutinitas, hobi dan kegemaran yang serupa. Kita keluar tengah malam untuk nonton bola bersama. Bertemu di warung kopi yang sama. Memiliki tim sepakbola favorit yang sama. Mempunyai aktivitas sosial yang sama. Menceburkan diri dalam medan pertempuran yang sama. Sampai minat bacaan yang sama. Dan berapa banyak kesamaan lagi antara kita berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau boleh aku menyampaikan pesan. Temukanlah mimpi dan citamu sendiri. Tentukan sekarang. Dan lihat sampai dekat, terus dekati dengan penuh antusias dan semangat. Lewati dengan penuh tanggung jawab dan percaya diri. Lakukan dengan usaha terbaik yang bisa kau berikan. Pastikan kau melangkah dengan keyakinan bahwa semuanya mungkin. Hingga mimpi dan cita itu bisa diraba dan digenggam. Dan aku akan berusaha memastikan, bahwa kau berhasil menggenggam mimpi dan citamu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kalian berdua, barangkali aku hanya mengingatkan potongan-potongan memori masa kecil, beberapa tempat, mainan rebutan kita atau kesukaan kita. Sebelum kita benar-benar lupa. Karena aku yakin, sekecil apapun, seremeh apapun, sekilat apapun masa-masa itu lewat. Tapi masa-masa itu telah mengantar kita menjadi hari ini. Maka terimakasih untuk lagu Garuda Pancasila, Unyil, Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya, Spica, Bobo, Doraemon, Detektif Conan, Komik Kungfu Boy, Komik Offside, Lupus, God Bless, P Project, Dewa 19, Slank, Iwan Fals, Bon Jovi, G n R, MLTR, Real Madrid, Batistuta, Baggio, Liga Champion, Winning Eleven dan Football Manager. Terimakasih untuk lapangan Galapagos, kuburan Raja Reubah, BLK, sawah belakang rumah tempat kita mencari ikan laga, Meunasah Al-Hasanah, Rental PS Mentari, dan jalan semen depan rumah yang paritnya sering disinggahi bola kaki saat kita main bola disitu, dan aku belum lupa baunya. Dan terimakasih untuk semua teman-teman yang juga “menghuni” tempat-tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Tia. Barangkali kau terlalu cepat tumbuh, dan aku tak sempat menyimak kedewasaan mu. Tapi sekarang aku sadar bahwa kau bukanlah perempuan kecil yang dulu telah lama ditunggu. Yang sejak semula diharap menjadi penutup dan simpul persaudaraan dari tiga laki-laki. Kau telah dewasa dengan ciri dan watakmu sendiri. Yang berbeda dari ketiga kami. Entah sekarang aku menjadi lebih baik. Atau aku sekarang sudah jarang usil padamu. Namun aku punya harapan besar, kaulah yang menjadi penyangga keutuhan persaudaraan dan keluarga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sebentar memang aku menikmati kau beranjak. Seiring kemudian aku sendiri pun beranjak dengan kesibukanku sendiri. Tapi bukan berarti aku tak sempat usil dan jahil padamu. Membuatmu lekas marah dan kemudian membanting pintu. Mungkin itulah kejahilan paling menyenangkan dan paling terkenang yang bisa aku berikan untukmu. Rasanya aku ingin mengulang kembali kejahilanku, apabila aku kemudian merindu wajah amarahmu yang merah padam. Namun rasanya, bukan jaman nya lagi buatku dan untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang terbelah pasti terlihat indah apabila berkumpul dan berdiskusi. Aku dan akmal yang punya bacaan serupa, kau dan boy dengan bacaan yang serupa pula. Ketika aku ingatkan mama tentang kita yang terbelah dua, mama membalasnya dengan senyum lebar diikuti hela tawa. Barangkali mama bersyukur bahwa kita berbeda-beda tapi tetap akur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kau telah punya mimpi barangkali. Menuju segala keinginan yang kau punya. Dengan jalan yang sudah kau tahu pasti terjalnya. Berkendara dengan segala usaha upaya yang bisa kau lakukan. Namun kalau boleh aku berpesan. Tetaplah memiliki keserdehanaan hati, yang tidak riuh seperti pasar malam. Yang tetap berusaha memberi dikala sempit dan berbagi disaat lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kita  yang punya banyak mimpi, aku mengutip syair Rumi untuk kita,&lt;br /&gt;“kamu dilahirkan dengan sayap, mengapa kamu lebih suka merangkak dalam hidup?”&lt;br /&gt;Maka kalau demikian adanya, tentulah tidak ada pilihan dari kita selain memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita berikan untuk hidup dan kehidupan. Sebelum kita lalai dan akhirnya berbuat zalim dari sebuah nikmat Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku kembali diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk khadim, Sang Pemula; Pada akhirnya aku berkesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi berdua. Mendengar hentak-hentak suaramu dari dekat. Setelah sebelumnya Sang Pemula hanya merupakan sebaris nama yang sering muncul dalam warta dan penutup dalam sebuah tajuk opini. Namun entah aku bisa benar memahamimu atau tidak. Entah bisa melampaui jejak langkahmu atau tidak. Tetap kau bersedia meluangkan waktu untuk sejenak berbincang atau membalas komentar. Tetap kau sirami gagasan dan nasehat, tanpa kau mendahului dengan pertanyaan: “sudah kemana gagasan dan nasehat yang kemarin? Sudah tumbuh jadi apa gagasan-gagasan dan nasehat itu?”. Entah aku telah membacamu dengan baik atau tidak, tapi tetap ada waktu untuk memberikan jawaban-jawaban bagiku dan beberapa orang yang malas membaca, yang barangkali bisa dipersingkat dengan jawaban, “bacalah buku ini, bab sekian, halaman sekian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesewenang-wenanganku aku menganggapmu sebagai titisan Tirto Adhi Surjo, yang menjadi sang pemula bagi kebangkitan bumiputera. Tajam sekali kau punya pena. Yang bisa buat pembesar yang kena kritik jadi “moentah darah”. Kau telah memilih menyuluh bangsamu dengan jurnalistik. Lewat tulisanmu kau telah titipkan rasa dan semangat pembebasan dalam hati aneuk bangsa, dan kau gerakkan hati-hati itu dalam mesin organisasi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Tirto, kau berhasil mengumpulkan dan menggerakkan ribuan orang. Untuk protes, untuk berbicara, untuk menyatakan; bahwa ditanah luhur ini, tanah tempat berdiri orang-orang yang tidak pernah takluk ini, tanah yang memberikan penghidupan ini, tanah yang isinya menjadi penyangga negara ini, telah terjadi penindasan, pembantaian, penghilangan, pemusnahan, pembasmian, dan pelucutan. Terhadap hak asasi, harga diri, martabat, kemanusiaan, kedamaian, keadilan, sejarah dan masa depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka masih dalam kesewenang-wenanganku, aku makin tak ragu menganggapmu sebagai titisan Tirto, yang juga punya kumis sebesar tinju, yang terlahir dari seorang pemimpin, yang memiliki ketulusan seorang khadim, dan kecakapan menulis yang luar biasa. Dan apa-apa yang kau lakukan itu, apa-apa yang kau buat hingga menggerakkan ribuan orang itu, tanpa mengatasnamakan nabi, raja, wali, keramat, atau iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sedikit sulit kumengerti hingga hari ini. Mengapa kau memberikan buku Revolusi Permanen, sebuah teori analisis perjuangan kelas dari kamerad Trotsky padaku? Karena buku ini akhirnya sulit kumengerti, karena pikiranku sudah duluan tegang sebab kau yang member. Selain aku terus mencari apa kaitannya dengan perjuangan Aceh kita? Karena kau yang memberi, maka dijidatku langsung tertempel “ini formulasi gerakan untuk Aceh”. Akhirnya Sang Pemula, aku belum menemukan jawaban, serta tidak menemukan kaitan besarnya sama sekali. Selain, sejarah buku ini dan Trotsky sendiri yang terus diburu dan akhirnya dibunuh agen Stalin. Mengetahui kritik sejarah terhadap revolusi Oktober 1917. Serta kebutuhan akan partai independen yang mengekspresikan kepentingan kaum tani dan demokrasi borjuis kecil. Lantas, apa yang bisa digunakan dari gagasan Trotsky untuk membangun Aceh…? Akhirnya, Revolusi Permanen itu menjadi kritik bagiku yang masih lemah memahami buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu Sang Pemula, kutuliskan sebuah syair, yang sejak pertama sudah kutangkap ketulusan hatimu selayaknya seorang khadim;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ode untuk khadim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tiba setengah jalan&lt;br /&gt;mengikuti jamaah menjadi masbuq&lt;br /&gt;diantara sebaris shaf muda sebaya,&lt;br /&gt;yang lebih banyak tua dan setengah baya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melihat khadim shubuh itu&lt;br /&gt;yang khidmat membaca kitab&lt;br /&gt;selepas shalat dua rakaat&lt;br /&gt;mengiringi semburan merah fajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menemukan khadim kembali&lt;br /&gt;menjelang dhuhur yang masih terik&lt;br /&gt;bersama sepotong pena dan beberapa carik kertas&lt;br /&gt;menggigil dia menulis ditengah terik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ashar telah digerbang &lt;br /&gt;rupanya muazzin yang tak datang&lt;br /&gt;khadim bergegas angkat suara&lt;br /&gt;lantunkan adzan serukan panggilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesaat sebelum merah kembali dalam senja&lt;br /&gt;khadim berdiri menerka masa depan&lt;br /&gt;dari pintu meunasah yang diharap jadi mesjid&lt;br /&gt;ditemani burung-burung yang kembali pulang, &lt;br /&gt;pada keluarga mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kampungku kampungku…&lt;br /&gt;telah riuh karena adzan&lt;br /&gt;kerikil dan pasir tersapu tapak-tapak kaki jamaah magrib&lt;br /&gt;yang datang dari segala tikung dan lorong penjuru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulihat khadim membetulkan wudhu bocah ingusan&lt;br /&gt;dengan sabar dia ajarkan&lt;br /&gt;terlebih dulu berkumur sebelum menyapu rambut&lt;br /&gt;tak boleh lupa menutup keran&lt;br /&gt;supaya air tidak terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah selesai qamat berkumandang&lt;br /&gt;ternyata imam berhalangan&lt;br /&gt;aku berada di shaf depan,&lt;br /&gt;mempersilahkan khadim menjadi imam&lt;br /&gt;khadim mempersilahkan yang lain menjadi imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada  yang hitam keningnya&lt;br /&gt;bapak tua yang panjang janggutnya&lt;br /&gt;anak muda yang gantung celananya&lt;br /&gt;dan pria yang banyak hafalannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang banyak hafalannya menjadi imam&lt;br /&gt;dipersilahkan yang tua janggutnya panjang&lt;br /&gt;kutersenyum kepada khadim yang dibalas dengan senyuman&lt;br /&gt;dalam hati kubertanya,&lt;br /&gt;kenapa khadim tak menjadi imam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ber-I’tikaf selesai magrib menunggu isya&lt;br /&gt;di meunasah kampungku yang ramai pada magrib saja&lt;br /&gt;di meunasah kampungku yang bersebelahan dengan kuburan&lt;br /&gt;di meunasah kampungku yang sering menshalatkan jenazah&lt;br /&gt;korban kebiadaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuberdzikir tapi tak khusyuk&lt;br /&gt;terganggu khadim yang membetulkan lampu&lt;br /&gt;lampu yang sejak tadi redup mati hidup&lt;br /&gt;ingin membantu khadim membetulkan lampu&lt;br /&gt;tapi dzikirku menahan diri untuk tetap duduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuberikan jeda pada dzikir yang tak khusyuk&lt;br /&gt;interupsi persoalan khadim, meunasah dan kampung&lt;br /&gt;melempar-lempar pertanyaan di kepala, &lt;br /&gt;urusan ketiganya kubanding,  walau tak sebanding&lt;br /&gt;rupanya ketiga-tiganya berkaitan, bertautan, bercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang Isya hampir tiba&lt;br /&gt;imam berhalangan, banyak hafalan ada urusan&lt;br /&gt;janggut panjang dan anak muda gantung celana sudah pulang&lt;br /&gt;tinggal lah sebaris shaf muda sebaya&lt;br /&gt;yang lebih banyak tua dan setengah baya&lt;br /&gt;mestilah yang ikhlas, istiqamah, dan amanah yang jadi imam&lt;br /&gt;kenapa khadim tak menjadi imam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membacamu, berbicara tentang “meunasah masa depan”, jauh satu dasawarsa ke belakang. Sebelum kampungku gaduh riuh karena debu dan pasir menyatu dalam tulang belulang. Terimakasih mesti kuucap karena satu baris kalimat “kesalehan dan spirit protes”, yang ternyata melebur dalam khidmat semangatku. Barangkali ini cuma penggalan-penggalan, dari kesan-kesanku yang melihat dan menilai Sang Pemula dalam kesewenang-wenangan. Namun aku masih bermalas-malasan dengan tak tau malu dan mencari-cari  dalih alasan yang menjadi hijab jalan ketekunan. Kalau boleh aku bertanya, apa yang kau lakukan pada usia dua tiga?&lt;br /&gt;Rasa-rasanya hati dan kepalaku di palu, dan diteriakkan: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Untuk kalian yang melawan; Ternyata jalan kita tak panjang. Terlalu cepat rupanya kita tiba di simpang. Entah aku telah berjalan dengan benar atau tidak. Entah selama perjalanan aku melakukan dan berkorban dengan segenap penuh atau tidak. Tapi kita telah jauh melangkah. Dan jalan pulang juga hilang dalam langkah. Maka kepada kalian kawan-kawan pimpinan, kita tidak punya jalan pulang! Entah berapa sudah yang menyerah dalam perjalanan. Entah berapa pula yang menyesal. Entah berapa pula yang membuat kita menunggu karena banyak yang ketinggalan. Tapi kita tetap terus berjalanan dengan lambat dan tertatih. Entah berapa kali aku dengar banyak yang mengeluh, sampai bosan kudengar terus ada yang menggerutu. Tapi ternyata tetap ada yang menyela, memberi semangat dengan silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku heran, kenapa begitu cepat kita tiba di simpang. Padahal rasanya aku baru mulai berjalan. Padahal dalam perjalanan kita begitu banyak ambil waktu untuk istirahat. Tapi kenapa kita lekas tiba di simpang? Memalingkan muka ke kiri dan kanan, lantas saling bertanya kenapa kita tiba di simpang? Padahal simpang bukan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus mengulang perjalanan dalam ruang fikir yang tak punya tapal batas. Ruang fikir yang tak kenal simpang dan jalan buntu. Supaya aku bisa tahu kenapa kita lekas berada di simpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita tidak melihat siapa-siapa yang ikut dalam perjalanan. Atau kita melihat, tapi kita tidak bertanya satu-satu alasan mereka ikut dalam perjalanan. Maka bisa jadi kita memimpin jalan orang-orang yang tidak satu tujuan. Karena rupanya banyak yang ikut-ikutan. Banyak pula yang kehilangan arah dan tersesat di jalanan. Ada yang melihat dan mengambil keputusan untuk ikut. Juga ada yang  putus asa dan minta ikut dengan harap semoga dia menemukan jalan baru. Kita telah berhasil mengajak semua untuk ikut jalan. Tapi tak berhasil menyampaikan tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu aku mengambil oper tanggung jawab yang paling besar dari semua kawan-kawan pimpinan. Bahwa sebagai pemandu yang berada di depan, aku terlalu bersemangat untuk terus jalan. Senang melihat hal yang besar-besar dan membayangkan gemilangnya tempat tujuan. Tapi aku mengakui telah luput menanggapi hal yang remeh temeh. Bahwa ada yang kehausan, ada yang minta pulang, ada yang rindu kampung halaman, ada yang menggerutu terjalnya jalan, ada yang mengeluh jauhnya perjalanan, ada yang berselisih sesama petualang, ada yang tak fokus berjalan, dan banyak yang duduk beristirahat dengan sesukanya. Aku berkompromi pada mereka yang haus, mereka yang mengeluh, mereka yang berselisih, dan mereka yang beristirahat. Tanpa menimbang-nimbang waktu dan ketepatan kita sampai di tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan kita kadang gemuk kadang kurus. Waktu gemuk semuanya merasa berhak atas koloni dan berceramah sana sini. Waktu kurus semuanya pura-pura tak melihat atau peduli. Yang pura-pura peduli, berjanji untuk beri solusi dan rancang koloni. Yang pura-pura melihat, merasa perlu tarik kembali koloni, juga perlu peta direvisi. Aku juga ambil oper tanggung jawab karena tak tegas, tak mengevaluasi dan tak memecat semua yang pura-pura. Karena ternyata yang pura-pura hanya mengambil waktu yang banyak dalam berdebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil beberapa yang tersesat dan putus asa. Dan membawa beberapa yang telah mengambil keputusan. Orang-orang ini kita sebut kader petualang. Kader-kader ini membawa beberapa lagi yang ikut-ikutan. Namun semuanya yang ikut kita sebut kader petualang. Yang kuambil, yang kubawa, serta yang ikut-ikutan telah kugabungkan dalam satu barisan besar petualang. Sebab kuharap mereka bisa membangun rasa, memiliki kesetiakawanan dan bersetia pada semua kader petualang. Tidak kujadikan mereka bebek-bebek yang mengekorku dari belakang. Kuberikan wewenang kawan-kawan pimpinan untuk mendidik dan mengajari. Karena sejak awal kusadari keterbatasan. Semoga dari kawan-kawan pimpinan bakal diperoleh kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang diambil, yang dibawa, dan yang ikut-ikutan ternyata lebih dominan, dan akhirnya menjadi tolak ukur barisan, menjadi tulang punggung pergerakan, menjadi simbol politik kewenangan. Maka kemana barisan lain yang semestinya diambil, dibawa, diikutkan, dididik dan diajari oleh kalian kawan-kawan pimpinan? Yang kemudian digabungkan menjadi satu barisan maha besar untuk kita bangun rasanya, kita bangun kesetiakawanannya, kita bangun kepeduliannya, dan kita bangkitkan semangatnya. Kesalahan barisan yang didominasi, juga kuambil oper tanggung jawab dari kalian kawan-kawan pimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya kita sadar bahwa barisan tidak dibangun dan dipimpin dengan kediktatoran. Kita telah memilih kepemimpinan kolektif sebagai landasan. Sentralisme demokrasi kita lakukan, dengan lebih mendahulukan dan menitikberatkan demokrasi ketimbang sentralisme. Maka semestinya kita sebagai pimpinan bahu-membahu menggerakan barisan untuk terus jalan, untuk menghentikan mengeluh dan menggerutu, untuk meyakinkan dan menyemangati. Bukan kita menjadi bagian yang beristirahat, mengeluh, dan kehilangan semangat dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah benar diawal. Membangun gerakan dengan orang-orang biasa. Kita sudah benar, karena yang awal bergerak berdasarkan pengetahuan dan kesadaran. Tapi kita juga luput kawan-kawan pimpinan. Kebanyakan yang bergerak adalah orang-orang yang merasa iba. Gerakan yang hanya memiliki rasa iba tidak panjang umurnya. Kita tak cepat menyebarkan ketegangan sosial yang terjadi disekitar kita. Kita tak cepat merumuskan dan menjelaskan kita pro kepada apa. Dan terlambat mengabarkan arah tujuan dalam agitasi dan propaganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh disesali kita tak terus menerus mencelupkan diri bersama massa yang tertindas dan terzalimi. Tidak terus menerus bersama rakyat yang lapar dan tersakiti. Kita, dan aku terutama, telah merasa cukup puas merasakan sebentar bersama mereka yang tertindas, lapar dan tersakiti. Padahal aku lihat dengan sadar, kita dari kelas yang mapan dan berpengetahuan. Yang seharusnya dilucuti kemapanan kita oleh perasaan tertindas dan tersakiti mereka. Yang seharunya bermanfaat pengetahuan kita karena memikirkan ganjalan lapar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang disanjung, kita yang berani dan kita yang melawan, ternyata tak cukup hebat dan punya nyali untuk terus bersama mereka rakyat yang lapar dan tertindas. Dan kita yang dikagumi, kita yang hebat, dan kita yang pandai, ternyata tak cukup punya kekuatan dalam membangun. Kita pandai dalam melawan, tapi gagal dalam membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagian tanggung jawabku yang paling besar adalah memberikan ruang yang begitu lapang kepada para petualang yang dominan. Untuk belajar dari yang lain, membangun rasa dan kesetiakawanan dengan alamiah, dan tidak meninggalkan tanggung jawab pada setiap perbuatan dan tindakan. Ternyata yang dipelajari adalah cara berdalih dan culas. Yang dibangun adalah egoisme dan kolonisentris. Yang didapat adalah kepengecutan dan ketidaksenangan. Tanpa aku bisa protes, tanpa aku bisa interupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang ternyata mempercepat kita berada disimpang. Begitu bergegasnya membawa kita, tanpa kita bisa memilih, tanpa kita bisa meminta. Ketika aku berada disimpang, dan coba menentukan arah tujuan. Ternyata ada yang menyalak dalam kegelapan. Ini yang buatku kesal dan marah besar. Ternyata proses dianggap sebagai wafelijzerpolitiek. Bedebah! Ini seperti duri yang ditenteng sepanjang jalan. Cikal bakal kapitalis birokrat yang masih mungil. Yang mengukur perbuatan atau perjuangan sebagai “investasi politik” yang nanti bisa ditarik dari tabungan. Tapi kini kupendam dalam-dalam kesal dan amarah itu. Kubiarkan saja duri itu terus ditenteng-tenteng sepanjang jalan. Filosofiku dalam perkawanan seperti makanan. Bagiku, tidak ada makanan yang tidak enak, yang ada hanya yang enak dan enak sekali. Demikian juga, tidak ada kawan yang tidak baik, yang ada hanya yang baik dan baik sekali. Tapi bagiku kalian adalah basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian kawan-kawan pimpinan, aku telah belajar banyak dari kalian. Telah berdiri di atas pundak-pundak kalian. Telah bersama kita berproses dalam jalan yang terus berliku, cadas menanjak, dan curam membatas. Telah kita merasa tinggi untuk berusaha rendah hati. Telah kita merasa berani dalam takut yang selalu hadir. Dan telah kita berusaha meraih mimpi, melewati malam dalam lapar. Maafku untuk diam dan keheningan. Aku yang jalang ini, telah berteriak dalam gema suara yang sama dengan kalian, yang selamanya akan menjadi ngiang pada langkah kaki berikutnya. Aku yakinkan hati, bahwa kita akan bertemu kembali pada simpang yang entah dimana. Tanpa kita bisa memilih, tanpa kita bisa meminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Cak Munir pernah berujar: “sekaranglah saatnya orang membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru, meskipun harus diawali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya sekedar wilayah tapi juga rasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Bachir berkata: “aku beku dibawah matahari”. Maka aku dengan lantang berkata: “aku bangga dan terhormat dibawah rencong kembar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lemah kakiku melangkah, makin terngiang gema teriakan: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Guruku; Karenamu lah uraian ini kutulis. Sebagai penawar racun amarah dan kesedihan. Yang tak kutemukan lagi obat yang lain, setelah lelah kucari. Karenamu lah pertanggung jawaban ini kutulis. Sebelum aku tiba dikesimpulan, bahwa pertemuan adalah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tak merasa lagi ini miladku. Karena pertanggung jawabanku ada di sepuluh hari nanti.  Saat dua tahun ke belakang telah kubuat gempita. Termakan setahun tetap gempita. Namun ada yang hilang, tak banyak yang datang. Dan di sepuluh hari depan, niscaya aku yang paling menjadi murung dan tunduk. Merasa bahwa perjalanan tak membawa kita pada jalan yang datar dan sedikit lapang. Merasa bahwa maklumatku ternyata ingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali lebih tepat kusudahi kemurungan. Kembali berpikir dan mencari jalan keluar. Memutuskan untuk kembali melangkah. Setelah aku menjadi sendiri di persimpangan. Ditambah kesialan tersandung akar pohon yang panjang. Memang sial bagi mereka yang sendiri. Semoga aku tidak terluka karena sandungan. Semoga jalan masih menyediakan tempat untuk ku melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, entah apalagi yang bisa kulakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas ilmu yang kau berikan. Entah apalagi yang nanti kemudian bisa kuselesaikan sebagai balasan kepercayaan yang kau berikan. Tapi rasa-rasanya, kalau aku mengukur dan mengulang-ulang, atas apa yang kulakukan dan terjadi. Ternyata aku hanya membagi kesialan, kekalahan dan kegagalan. Entahlah… aku hanya berharap sangat, ini jawaban dari permintaanku kepada Tuhan, supaya Dia memberikanku jalan agar menjadi lebih tegar dan lebih kuat. Maka kemudian Dia memberiku masalah-masalah yang tak putus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku kau seperti Eduardo Chibas, yang berhasil menjauhkan dan memperluas jarak pandang dari yang kuketahui dan kulihat sebelumnya. Mempertemukanku dengan semua guru tempat kau belajar. Memberikanku keyakinan, bahwa perubahan itu dekat sekali. Hanya tinggal kita bersungguh-sungguh. Pensar como un revolucionario, hablar como un revolucionario, y actuar como revolucionarios.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menegurku lewat tulisan Che, bahwa kader adalah tulang punggung pergerakan. Namun kuakui, aku tidak sungguh-sungguh mengikuti dan menjalankan garis Che. Padahal kondisi objektif tidaklah jauh berbeda. Aku tidak sungguh-sungguh mencari formulasi dalam membangun kader-kader yang mapan. Karena memang tantangan kenyataan jauh lebih berat. Tak banyak kawan pimpinan yang mengambil peran dan serius dalam mengembangkan kader. Terlebih kawan-kawan pimpinan tidak membaca Che barangkali. Atau mungkin tidak mengetahui sama sekali bahwa kader adalah tulang punggung pergerakan. Tapi sekalipun mereka tidak tahu, pastinya mereka sadar. Dan sebagaimana Che berpesan, bahwa kader adalah tanggung jawab kolektif organisasi, dan harus diperlihatkan contoh-contoh dari kebenaran dan semboyan revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak memantapkan posisi sebagai pemimpin. Bagiku pemimpin diukur dari pengaruh. Dan kekuatan pengaruhku tentu tidak sebanding dengan pengaruh yang kau miliki. Kemudian persoalan pengaruh itu juga yang menjadikan kader-kader organisasi tidak memiliki keberanian mengambil tindakan. Mengecilkan diri menjadi opas-opas yang menunggu perintah. Pengaruhku tidak kumantapkan. Distribusi peran yang diharapkan ternyata tidak berjalan. Potensi yang masing-masing dimiliki kader tidak melejitkan potensi dan kekuatan organisasi. Kekosongan pengaruh diantara kader, memaksakan pengaruhmu diterima sebagai panduan, yang kemudian dengan begitu pelan dan lama menjadi suatu dasar pijakan dan pertimbangan. Pengaruhmu menjadi sangat rasional dan diterima, yang akhirnya mengesampingkan sentralisme demokrasi dan kepemimpinan kolektif yang menjadi pijakan dan pertimbangan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpekaan-ku dalam melihat masalah, dan kecakapan memperkuat pengaruh untuk menggerakkan organisasi, menjadikanmu tertarik terlalu jauh dari peran dan posisi yang telah kita bagi. Maka aku bertanggung jawab penuh atas masalah ini dan dampak yang terjadi kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, aku membaca kembali tulisan Che yang pernah kau bagi. Tulisan “dalam persatuan ada kekuatan”, yang tercetak lebih tebal dan bewarna merah. Tulisan ini begitu terasa makna nya sekarang. Peringatan yang semestinya ditempel di setiap jidat para kader. Aku tak membawa penyesalan. Pesan gurumu “seperti membangun istana pasir…”, menjadi penghibur yang setia saat aku melewati masa-masa seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, aku akan terus belajar darimu, walau kita tak lagi terlihat seperti murid dan guru. Kuperhatikan dan kucermati dengan seksama. Langkah benar dan langkah salah yang kau ambil. Tidak soal kita jauh atau dekat, karena sebetulnya kita sangat dekat. Makin jauh pasti membuat kita tambah dekat, karena kita akan lebih serius mencari tahu perkembangan dan langkah-langkah yang sedang kita jalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling baik yang kudapat adalah aku meyakini kekuatan aksi massa. Dan kau adalah guru yang membuktikan kekuatan aksi massa. Maka selamanya kita mesti percaya kekuatan aksi massa. Percaya bahwa aksi massa adalah jalan keluar. Dan tak meninggalkan kekuatan aksi, sekalipun dalam pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aku sekarang hanya sedang dimabuk belia, teler dalam merahnya revolusi yang berkobar-kobar. Tapi yang bukan barangkali, adalah kebencianmu kepada kelas penghisap. Yang bermuka baik sambil terus mengeruk untung. Senjata yang dijadikan alat untuk menindas dan menakut-nakuti. Dan seragam yang dipakai untuk melindungi kebusukan. Kebenciamu itu pula yang menular kepadaku. Menjangkiti dan memanaskan seluruh tubuh. Maka aku menambah kebencian. Pada mereka yang ngomong panjang lebar mencari jalan keluar untuk yang lapar, sambil mencongkel iga bakar yang tersangkut di sela gigi. Pada mereka yang bicara tentang keadilan dan hak asasi, dari moncong-moncong beraroma vodka dan martini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, bagiku kau seperti Mas Tjokro. Yang banyak berkorban untuk menjadikan tempatmu menjadi padepokan. Mengurusi pemuda-pemuda yang sebetulnya lebih mirip berandalan. Anak-anak jalanan yang baru terbebas dari penjara. Semuanya bermasalah. Ada yang masuk penjara karena masalah dirumah. Ada yang sering berkelahi dan terlibat baku hantam antar gangster. Ada yang sedang mencoba-coba dan mencari jati diri. Ada pula yang putus asa dan ingin mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terimakasih karena telah bersedia menjadikan tempatmu menjadi padepokan. Menjadi kawan dan meringankan beban pemuda-pemuda jalanan dan jalang sepertiku dan kawan-kawan pimpinan. Serta untuk para kader muda yang setengah matang. Aku hanya menitip harap semoga benar proses ini membawa kita pada filosofi ‘belah bambu’ yang kita anut. Karena kita adalah sama. Sama rata sama merasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kau dan aku tak saling menyalahkan nasib. Karena aku tak mengambil kesimpulan, bahwa pertemuan adalah kesalahan. Sajak Chairil kubacakan, untuk kau dan padepokan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jalan aku tidak tahu apa nasib waktu!&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda yang lincah,&lt;br /&gt;yang tua-tua keras, bermata tajam.&lt;br /&gt;Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya&lt;br /&gt;kepastian ada di sisiku selama menjaga&lt;br /&gt;daerah mati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang berani hidup.&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang masuk menemu&lt;br /&gt;malam.&lt;br /&gt;Malam yang berwangi mimpi, terlucut debut.&lt;br /&gt;Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhempas aku dalam gelap, digedor lagi hati ini dan diucapkan salam: “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Dalam keheningan malam yang senyap. Setelah bertubi aku ditampar-tampar dengan salam “Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kau dustakan…?”. Aku merasa harus bertanya pada-Mu sekarang. Bercerita pada-Mu tentang ujian-ujian yang Kau beri. Dan aku merasa perlu Kau beritahu, berapa nilai yang ku dapat dari ujian-ujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Tuhanku, semoga kau tak terlalu sibuk di arasy-Mu. Semoga Kau bisa hadir dalam hatiku. Memberikan ketenangan atas kegelisahanku. Membukakan petunjuk jalan keluarku. Mencerahkan akalku agar bisa kutemukan jawaban-jawaban. Dalam kerinduan yang kupendam. MelihatMu sebentar saja, dalam wujud sejatimu. Bukan dalam bentuk jalinan alif, lam, ha yang sangat indah. Ya Rabb… datanglah sebentar, turunlah sejenak dari tahta kesombonganMu. Melihatku yang angkuh dan sombong dibumi-Mu. Rabb…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa ringkih dalam kemudaan. Telah merasa begitu penat dalam kehidupan. Kemudaan yang layu dan cepat menua. Hidup dan kehidupan yang makin sulit dimengerti. Bukan saja hidupku yang sedikit sulit, tapi kehidupan ini memang begitu sulit nyatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang lalai dan malas ini mengadu pada-Mu. Yang sering melewatkan shubuh. Memanjangkan dhuhur dan ashar. Meninggalkan jamaah magrib dan isya. Yang jarang membaca ayat-ayat Mu. Yang pandai meminta jarang bersyukur. Ya Allah…Yang Maha Mengetahui, Yang menggenggam hati dan mengetahui isi hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa doaku diberikan ketika aku mendoakan kebaikan kepada muslimin dan muslimat? Kenapa sunni? Kepada syiah? Atau kepada yang lain? Kenapa muslim tak bisa akur dan membela persaudaraan nya. Terus menerus bermusuhan dan saling menjelekkan. Aku meminta keadilan pada-Mu wahai Tuhan Yang Maha Adil, keadilan untuk muslim Palestine yang terusir. Muslim Bosnia yang dibasmi. Muslim Ethopia yang lapar. Muslim Uighur yang dicampakkan. Muslim dinegaraku yang merasakan kepedihan semua itu, terusir, dibasmi, lapar, dan dicampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak melihat lagi ulama dimuka dunia. Barangkali semua ulama harus syahid dirudal seperti Syekh Yassin. Baru bisa bangkit semua muslim. Berteriak untuk membela keadilan dunia. Bukan hanya berteriak untuk aliran, jamaah, dan tarekatnya. Karena kupercaya Islam rahmatan lil ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan ulama telah kehabisan ayat. Semuanya serempak berseru untuk bersabar. Disaat kezaliman dan penindasan terjadi di depan mata. Bersabar menunggu keadilan dan makanan yang menghapus lapar. Padahal Rasullulah telah berjanji dalam konstitusi Madinah, bahwa “jaminan Tuhan adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah”. Menyalahkan dosa-dosa karena seringnya terjadi bencana. Padahal telah Kau katakan bahwa kerusakan di laut dan darat karena ulah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ulama banyak yang tampil di televisi. Mendampingi para pejabat-pejabat. Memberi nasihat kepada artis-artis. Memerikan wejangan pada acara percintaan. Memamerkan kehidupan dengan pergaulan luas dan berkelebihan. Dari tv kulihat kiai yang duduk mengendara motor gede, bayangan surbannya menimpa tangki motor yang mahal dan mengkilap. Dari tv kulihat ustad yang baru selesai nonton bioskop, dari mulutnya berkomentar isi film yang islami dan wajib ditonton. Dari tv kulihat dai, yang terus menerus tampil di tv, lewat iklan doa dan konsultasi. Silahkan kirim pesan untuk didoakan. Nanti tinggal tunggu balasan ‘terimakasih karena sudah berlangganan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak juga untuk di doakan. Sudah banyak ulama yang lupa kewajiban. Kemewahan dunia telah mengalihkan dunia dan mengalihkan doa. Padahal jutaan umat menunggu untuk diangkat dari derita kehidupan. Ribuan umat sedang mengantri belaian tangan dan tatapan mata yang menyejukkan. Barangkali jutaan umat ingin protes dan bicara. Tapi takut dianggap sesat dan pengacau. Karena yang paling gampang dilakukan ulama adalah mengeluarkan fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang berbicara tentang korupsi dan kemiskinan. Bisa jadi ulama ini akan ditampar. Dianggap menyebar fitnah dan kebencian. Tak dipersilahkan lagi memimpin shalat dan mengisi mimbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu Rabb Yang Maha Melihat aku bertanya. Kenapa Osama tak bisa ditangkap? Ketika teknologi yang sedemikian maju. Ketika batu jatuh di Himalaya segera dunia bisa tahu. Karena sebetulnya aku tak tahan muslim disebut teroris. Lewat tokoh fiksi Osama fundamentalis yang dipelihara penguasa kapitalis. Terus-terusan cerita dibikin-bikin. Supaya uang tetap berputar dan mengalir. Kantong-kantong neo-imperialis pun penuh terisi. Untuk melanjutkan penghisapan negara-negara “kaya” yang terpecah, bodoh dan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya uang menjadi sarana, untuk menuju kepada Tuhan. Bukan Tuhan menjadi sarana, untuk menuju kepada uang. Maka aku getir melihat mereka. Yang menengadahkan tangan tinggi menjulang. Memanggil-Mu dengan panggilan Ya Ghanii…! Kemudian mereka meminta-minta ditambah rezki dari-Mu Yang Maha Kaya, yang kemudian Kau tambah berlipat-lipat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Aku tak sanggup lagi berkeluh kesah dan bercerita. Ditambah lagi dengan pemimpin-pemimpin beroleh maksiat, madon mabok minum main. Tak sanggup lagi kubertanya ternyata ujian-Mu di dunia begitu luar biasa. Pengetahuan nyatanya belum membuatku menemukan jalan keluar. hanya menambah kegelisahan dan kecurigaan yang berputar-putar. Aku yakin bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Semoga ada jalan menjauhkan kemiskinan dari muka dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutahu bahwa kami dan semua yang Kau cipta adalah untuk menyembah kepada-Mu. Tapi bukankah mestinya Kau tegur juga, mereka yang terus hanyut dalam dzikir dan berusaha dekat pada-Mu, tapi meninggalkan dunia penuh masalah ini yang penuh-penuh disebut fana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa berikrar pada-Mu bahwa shalatku, ibadah-perjuanganku, hidupku dan matiku hanyalah untuk-Mu, Tuhan seluruh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb… datanglah padaku sejenak. Yang masih terus bersyukur karena asma yang Kau berikan. Walaupun kalau kambuh rasanya sakit menyiksa. Walaupun kutahu aku bisa mati karenanya. Tapi aku bersyukur tak menjadi bagian yang memperpanjang penindasan dan penghisapan, dari pabrik rokok yang jarang peduli nasib buruhnya. Aku juga tak menjadi bagian, dari orang-orang yang memperpanjang rantai kebodohan. Pabrik rokok yang telah memakai topeng kebaikan, dengan membagi-bagi keuntungan dan memberikan beasiswa. Rupanya ada cendikiawan muslim yang bangga, karena menjadi ketua program beasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah Rabb… padaku yang gelisah dan gundah. Aku bukanlah yang terbaik yang bermunajat pada-Mu. Tapi setidaknya aku adalah yang berusaha meninggalkan larangan-Mu. Tidak menggambar kartun untuk mencela Rasulullah. Tidak juga mementaskan ‘Matine Gusti Allah’. Dan masih percaya beberapa fatwa-fatwa para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Kau telah berjanji, kepada-Mu lah kami meminta dan memohon pertolongan. Maka kepada-Mu aku menunduk dan menengadahkan tangan. Karena aku percaya, Kau bukan seperti pembuat arloji besar. Yang Kau ciptakan, Kau gerakkan, kemudian Kau tinggalkan.&lt;br /&gt;…..&lt;br /&gt;Aku merasa Kau menjawab:&lt;br /&gt;“kau hanyalah yang kebanyakan. Tidak pandai, hanya keras kepala dan keras hati. Berani tapi mudah terperangkap. Sedang yang pandai tidak memiliki keberanian. Lihatlah dan ikutilah apa yang dilakukan Rasul-Ku. Rasullulah berjuang dengan sebaik-baiknya. Memberikan semua upaya yang ia punya. Demi membebaskan kaum-nya. Berjuang untuk kaum-nya. Tidak berjalan Muhammad jauh ke utara, merasakan butiran air beku yang jatuh dari angkasa. Tidak mecium Muhammad harum gaharu, yang berada jauh di timur. Tidak sampai kaki Muhammad menapak ke selatan, meminum air dari sungai yang panjang. tidak juga tiba Muhammad ke barat, untuk memeluk anak-anak yang merah kulitnya. Muhammad berjuang dan mengabdikan hidupnya demi kaum-nya, demi tegaknya agama Allah untuk diikuti lebih dulu oleh kaum-nya. Apakah kamu tidak berfikir?&lt;br /&gt;Berjamaahlah. Dan mintalah kepada-Ku, maka akan kukabulkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku dipersilahkan untuk meminta…&lt;br /&gt;Tidak kupaksa meminta agar aku dirumahkan bersama orang baik di luar sana. Juga tidak kuminta kehormatan dan ditambah kebijaksanaan. Kupahami bahwa keinginan merupakan sumber penderitaan. Kalau perut adalah sumber nafsu, buatlah aku merasa terus cukup. Itu saja Rabb yang kupinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berikan kesempatan sekali lagi untukku. Untuk buktikan kalau aku berarti bagi sesama. Sebelum saatnya untukku tiba. Sebelum aku mengetahui kemana tubuhku akhirnya bermuara. Hidupku yang sekali. Sekali berarti, sudah itu mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-4596682030946146120?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/m.fauzan.febriansyah?ref=profile' title='Uraian Pertanggung Jawaban Pada Milad Ku ke-23; Kritik dan Otokritik'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/4596682030946146120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/02/uraian-pertanggung-jawaban-pada-milad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4596682030946146120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4596682030946146120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2010/02/uraian-pertanggung-jawaban-pada-milad.html' title='Uraian Pertanggung Jawaban Pada Milad Ku ke-23; Kritik dan Otokritik'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-7164847010508335456</id><published>2009-12-31T15:22:00.000+07:00</published><updated>2009-12-31T15:29:47.124+07:00</updated><title type='text'>Berawal Dari Bendera Setengah Tiang</title><content type='html'>Suatu sore di penghujung desember. Sambil menikmati tanaman di halaman rumah dan menghirup udara yang dibuntingi bau hujan. Pandanganku tertuju pada halaman rumah tetangga yang terpasang bendera setengah tiang. Hampir saja aku bertanya pada seseorang kenapa terpasang bendera setengah tiang di akhir desember. Olala.. untung saja tiba-tiba aku teringat bahwa bendera setengah tiang dipasang untuk memperingati tsunami. Ternyata sudah 5 tahun. Banyak yang berubah. Banyak yang datang. Banyak pula yang telah pergi. Ratusan ribu nyawa. Kewemahan yang lalu telah musnah, dan berganti-ganti dengan kemewahan yang selalu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap dalam sang dwi warna. Melihat dia kuyup dan menggigil. Merasakan duka. Sudah 5 tahun ternyata. Menatap lebih dalam, mengakhiri ku melihat 5 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah lapangan sekolah saat upacara bendera. Riuh sedang pagi itu. Dengingan mikrofon yang berkali-kali membuat ngilu telinga. Seragam putih abu-abu memonopoli warna lapangan upacara. Barisan-barisan depan berjejer rapi. Barisan depan memang selalu berdiri tegap dan serius mendengar pidato Pembina upacara yang membosankan. Makin ke tengah dapat kulihat teman yang berjongkok karena malas berdiri. Makin jauh ke belakang teman-teman sudah pasti punya urusan sendiri, atau berbincang-bincang topik obrolan pagi yang acapkali mengenai pertandingan sepakbola semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana seperti biasa upacara senin pagi. Tapi yang selalu tak biasa adalah seorang sahabat yang tiap senin pagi selalu berada di ruang laboratorium kimia sambil memantau jalannya upacara. Memang itulah tugasnya si sahabat. Selalu datang lebih pagi tiap senin. Datang lebih pagi dari yang lain. Sudah pasti dia segera menuju lab.kimia. Mengecek mikrofon dan mempersiapkan bendera. Kemudian mampir ke kelas untuk meletakkan tas. Dan kembali lagi ke lab.kimia sambil menunggu pasukan paskibraka yang bertugas hari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah si sahabat tiap senin. Dan tiap sabtu sepulang sekolah. Si sahabat pasti kutemukan di lapangan upacara lagi. Melatih pasukan paskibraka yang bertugas senin nanti, dan memastikan guru yang akan menjadi Pembina upacara. Itulah sahabatku. Yang sesekali harus tergopoh-gopoh keluar dari lab.kimia kalau tiba-tiba ada peserta upacara yang jatuh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa membayangkan kalau senin pagi tanpa dirimu. Pastilah semuanya berantakan. Pastilah kita memulai upacara terlambat waktu. Pastilah tak ada Pembina upacara. Dan kalau itu terjadi pastilah 5 menit sebelum upacara kita akan melihat guru-guru sibuk mencari Pembina upacara pengganti. Beruntung sekolah kita punya murid sepertimu. Yang selalu datang tepat waktu dan sangat bertanggung jawab pada tugas tiap senin. Satu hal lagi yang paling berkesan buatku, pastilah selalu kutemukan senyumanmu tiap aku masuk ke lab.kimia selepas upacara. Itulah yang menandakan kau lega karena sukses nya upacara senin itu. Dan itulah senyuman termanis yang kulihat tiap senin pagi, disaat yang lain masuk kelas dengan wajah cemberut dan menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika senyum dan keikhlasan bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Mulyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok barisan deretan kolompok kelas yang berbeda, dari kelompok kelasku, dapat kulihat engkau sahabat. Kau sesekali bercakap dengan teman disebelahmu. Dan kemudian mengakhiri percakapan dengan senyum simpul. Inilah sahabat yang sekaligus menjadi guru dan teman diskusi ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatmu, membuatku teringat banyak kenangan bersamamu dan sahabat yang lain. Ha…apalagi yang paling kuingat kalau bukan kelucuan dan sifat jenaka mu. Dan memang kau sahabatku yang termasuk dalam deretan “orang bocor” di barisan OSIS kita. Teringat aku saat kita berlibur ke Sabang. Perjalanan kita bersama yang paling berkesan dan penuh perjuangan. Dan tentu saja aku dan semua sahabat kita yang ikut kesana pasti ingat saat kau berdiri gagah di dek kapal, memandang Pelabuhan Balohan yang makin dekat dan akhirnya sahabat kita yang telah sampai lebih dulu berteriak menyambutmu dengan panggilan ‘penyu’..’penyu’..’penyu’….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat juga aku saat kita makan sate gurita di Sabang Fair, yang akhirnya membuatmu harus pulang ke penginapan dengan berjalan kaki sendiri. Mungkin kau marah pada kami saat itu yang usil mengerjaimu. Tapi urusan jalan kaki, tentu itu bukan persoalan bagi seorang yang punya jiwa petualang sepertimu. Dan sahabat, aku juga teringat saat Diklat MPK menjelang demisioner nya kita. Seorang Cut Nyak kau suruh untuk mengikuti gerakanmu “membumikan diri”. Kakimu berada di tepian parit kecil di deretan kelas sekolah, dan kaki si Cut Nyak berada dalam parit. Sial bagimu sahabat, aksimu itu ketahuan oleh seorang guru kebanggan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak lupa bagiku mengingat masa-masa saat kita berlatih nasyid dan tampil dimana-mana. Entah itu di arena lomba, acara di sekolah atau di ruang OSIS untuk memukau beberapa sahabat manis yang ada disitu. Dan yang paling berkesan bagiku sahabat, kau lah yang menjadi penyejuk hati kita semua. Tidak pernah lupa mengajak kita untuk shalat berjamaah. Begitu sering kita berdiskusi. Dan kau lah yang mengakrabkan ku dengan istilah militansi. Juga kuingat, pernah kau memperlihatkan padaku sebuah bendera, yang kau sebut dengan bendera dakwah. Tapi setengah bercanda aku membantahnya dengan mengatakan “mana ada bendera dakwah, itu kan bendera partai…”. Kau adalah sahabatku yang memiliki kebulatan tekad dan keteguhan hati. Saat TC MPK-OSIS, aku dan beberapa sahabat mencoba mengingatkanmu untuk melepas rompi hitam yang berhias simbol partai peserta pemilu saat itu. Namun kau menolak sambil lantang berucap “aku pakai ini karena aku yakin aku benar…”. Dan tak ada diantara kami yang melanjutkan pembicaraan. Darimu aku belajar untuk memiliki keyakinan. Meyakini sepenuh hati, apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengajak orang untuk melakukan shalat berjamaah dan menanamkan tekad untuk berdakwah bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Faisa Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kelompok kelasku, pada barisan depan. Pasti aku dapat menemukanmu disitu sahabat. Bukan karena alasan apa-apa kau berdiri dibarisan depan. Juga bukan karena kau senang berada di barisan depan. Melainkan hanya karena ukuran tubuhmu yang kecil memaksamu berada di barisan itu. Sambil meletakkan tangan di atas alis untuk menghalau cahaya matahari, sahabatku yang manis ini sebenarnya tak suka kalau berada disitu. Kalau beruntung ada teman yang lebih kecil ukuran tubuhnya, barulah ia bisa geser sedikit di barisan kedua atau ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang mengingatmu, tentulah mereka akan teringat pada kelincahan dan paras manismu. Tapi buatku, yang paling kuingat ketika kau datang pagi-pagi sekali ke ruang OSIS pada suatu minggu. Membangunkan kami yang tidur berserakan dilantai, yang sebagian masih terlelap diselimuti dingin nya pagi. Kau terburu-buru bertanya padaku “siapa-siapa anak cowok yang jadi panitia…?”. Ah, hampir saja aku lupa bahwa sudah seminggu kau memintaku untuk memberikan nama-nama panitia Bazar sekolah. Segera saja bagiku menunjuk para sahabat yang sedang tidur lelap,  “orang niy aja yang jadi panitia…” sambil berharap kau tidak marah karena aku sudah telat menyerahkan nama panitia kepadamu. Lalu kau jawab “ya udah, nanti tulis nama mereka dan kasih ke aku ya…”. Dan beruntunglah aku karena kau mau dan tidak marah-marah di pagi itu. Segera kutanyakan kepada mereka yang sedang tertidur untuk jadi panitia bazar. Dan segera kutulis nama-nama mereka. Itulah awal dari bagian paling bersejarah dalam sekian banyak kegiatan yang kita sukseskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak mudah sahabat kita melewatinya. Kau yang selalu disibukkan untuk menyediakan konsumsi pada setiap kegiatan, kali ini diharuskan untuk memimpin sebuah acara yang baru pertama kali dilakukan. Dengan konsep yang beda pula. Terlalu banyak masalah yang harus kita hadapi. Terlalu banyak sikap sinis yang menghalangi. Tapi itu tak membuatmu patah dan putus asa. Selalu ada harapan dibalik lelah dan tangismu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, beragam masalah dan sinisme membawa kita pada sebuah tempat, yang bernama kekompakan. Itulah tempat yang paling kita idamkan. Setelah kita seakan terpisah pada dua tempat yang disebut mushala dan parkir. Jadilah kekompakan kita menjadi tersohor. Dibincangkan dan dibanggakan. Dibalik itu, selamanya aku akan teringat pada adik kita yang menghadiahkan lagu ‘Semua Tentang Kita’ untukmu di Bazar itu. Sebagai permohonan maaf nya. Yang membuat kau menangis tersedu menderu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memberi maaf dan kesabaran bernilai ibadah, semoga itu yang menghantarkan mu mendapat tempat disisi Allah. Engkaulah syuhada, sahabatku Indah Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada cerita untuk kalian sahabatku. Selalu kami sampaikan pada setiap generasi MPK-OSIS SMA 3 tentang kalian sahabatku. Dan selalu kami berdoa untuk kalian sahabatku, para syuhada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-7164847010508335456?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7164847010508335456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7164847010508335456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/12/berawal-dari-bendera-setengah-tiang.html' title='Berawal Dari Bendera Setengah Tiang'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-8744088909061926988</id><published>2009-12-31T15:19:00.001+07:00</published><updated>2010-01-28T21:36:56.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Gerakan Mahasiswa Yang Digerus Sistem Akademik</title><content type='html'>Tak bisa dipungkiri, kepeloporan gerakan mahasiswa telah menggoreskan banyak catatan-catatan gerakan pembaharuan. Di belahan bumi manapun, mahasiswa selalu tampil pada garda terdepan dalam mendorong perubahan. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya. Lihat saja di Indonesia, sejak sumpah pemuda sampai proklamasi kemerdekaan, kaum intelektual muda sudah memiliki peran besar. Gerakan intelektual muda atau sebut saja gerakan mahasiswa telah mampu mendorong terjadinya people power, yang melahirkan perubahan haluan bagi tatanan kehidupan bernegara dan pembangunan iklim demokrasi. Reformasi ’98 adalah contoh yang paling anyar. Bagaimana sebuah perubahan fundamental terjadi. Meruntuhkan dominasi otoritarian orde baru dan mewujudkan sebuah tatanan demokrasi bagi Indonesia baru. Sekali lagi itu semua tidak lepas dari dorongan gerakan mahasiswa yang menjadi katalisator mengkristalnya dukungan rakyat. Catatan lain yang ditoreh misalnya gerakan penggulingan orde lama pada tahun ’66, gerakan mahasiswa ’74 dan gerakan mahasiswa dalam rentang ’80 hingga ‘90an yang mengambil strategi “tiarap” untuk melawan tindakan otoriter rektorat dan pemerintahan.&lt;br /&gt;Berbagai catatan historis tersebut tentu saja menjadikan orang-orang dalam lingkaran kekuasaan menjadi awas terhadap gerakan mahasiswa. Potensi kekuatan gerakan mahasiswa secara nyata dirasakan merupakan ancaman serius bagi pertahanan oligarki kekuasaan dalam melanjutkan tradisi korup, hipokrit dan otoriter. Dimata penguasa, membiarkan gerakan mahasiswa terus tumbuh, berkembang, dan meluas merupakan bahaya laten bagi eksistensi kekuasaan. Gerakan mahasiswa kritis tentu saja tidak akan melakukan pembiaran atas praktek-praktek korup serta kebijakan-kebijakan menindas yang acapkali menjadi mainan penguasa serta para kroni dalam relasi kekuasaan. Maka dari itu berbagai upaya kerapkali dilakukan oleh penguasa atau para pengambil kebijakan dalam mematahkan atau minimal meredam potensi hadirnya gerakan mahasiswa yang akan menjadi penyeimbang terhadap posisi kekuasaan.&lt;br /&gt;NKK/BKK &lt;br /&gt;Salah satu upaya paling tersohor yang diputuskan oleh penguasa dalam meredam gerakan mahasiswa adalah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus atau NKK/BKK. NKK/BKK merupakan produk orde baru yang lahir lewat SK menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Pada periode 1978 gerakan mahasiswa mulai berani mengajukan tuntutan agar Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Tuntutan mahasiswa saat itu bisa dikatakan lebih berbahaya ketimbang demonstrasi besar-besaran menolak kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka ke Indonesia pada tahun 1974 yang kemudian melahirkan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Gerakan mahasiswa yang sudah berani menganggu kursi kepresidenan dianggap sebagai ancaman serius di mata penguasa Orde Baru.&lt;br /&gt;Dalih demi stabilitas politik dan pembangunan digunakan penguasa orde baru untuk meredam gerakan aksi mahasiswa yang makin kritis dan intensif mengkritik setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Rektorat yang merupakan perpanjangan tangan penguasa diperintahkan untuk mengawasi dan mengintervensi lebih jauh setiap aktivitas politik mahasiswa lewat kebijakan baru tersebut. Implikasi konsep NKK/BKK adalah pembubaran Dewan Mahasiswa (DEMA), yang merupakan simbol demokrasi kampus. Sejak berlakunya NKK/BKK hampir semua organisasi kemahasiswaan ‘mati.’ Segala kegiatan kemahasiswaan tidak lagi dibawah asuhan DEMA tapi langsung di bawah kontrol BKK. Alhasil semua kegiatan pun langsung dibawah kontrol pejabat teras Universitas, Rektor dan para dosen. Setelah DEMA dibubarkan, yang tersisa hanyalah unit kegiatan mahasiswa dan senat fakultas, serta himpunan mahasiswa jurusan. Kampus dinyatakan harus steril dari politik dan hanya sebagi tempat belajar mengajar, mengembangkan nalar. Konsep NKK/BKK, diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat ilmiah. Aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan terbatas pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Selain itu, dalam Tri Darma Perguruan Tinggi dinyatakan bahwa fungsi perguruan tinggi adalah menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Depolitisasi yang diterapkan saat itu sungguh efektif, mahasiswa menjadi study oriented sehingga selama puluhan tahun hingga sekarang kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas mengkritisi kebijakan penguasa.&lt;br /&gt;Strategi Orde Baru yang kemudian menghapus kebijakan NKK/BKK lewat SK Mendikbud No. 0457/0/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) tertanggal 29 Juli 1990 bisa dikatakan tak mempan menyumbat daya kritis mahasiswa. Lalu apakah kemudian upaya pelemahan gerakan mahasiswa akan berakhir setelah NKK/BKK dikubur? Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kancah gerakan, saya mengatakan tidak demikian. Harus diakui jika ketakutan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan masih terus ada terhadap potensi gerakan mahasiswa. Mereka selama ini menikmati konflik keadaan negara yang justru menguntungkan mereka. Ketakutan mereka cukup beralasan karena mahasiswa memiliki energi untuk mendobrak kemapanan.  Mahasiswa kritis dianggap tidak normal dan untuk itulah perlu dinormalkan. Organisasi kemahasiswaan yang selama ini menjadi episentrum mahasiswa-mahasiswa pro perubahan disumbat oleh rektorat yang selamanya tunduk kepada kekuasaan, untuk melemahkan dan mematahkan gerakan mahasiswa secara tak kasat mata dan tidak lagi represif.&lt;br /&gt;Strategi baru&lt;br /&gt;Lewat berbagai kebijakan dan teknik baru, upaya pelemahan dan penggerusan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan. Inilah beberapa pola yang penulis cermati serta amati dalam dunia kampus dan perkuliahan dalam upaya pelemahan gerakan mahasiswa. Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif rektorat,  kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan. Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli.&lt;br /&gt;Kebijakan ini menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan 35 SKS dalam 4 semester dan 80 SKS dalam 8 semester dengan nilai IPK 2,00 dan wajib selesai dalam 14 semester. Kalau kita tinjau secara teoritis pedagogik (pendidikan) ini mungkin kebijakan yang baik. Tapi lihatlah faktanya, bahwa di fakultas hukum Unsyiah sejumlah 125 orang mahasiswa harus di-DO karena tak mampu menyelesaikan tuntutan akademik ini (tgj.com,22/8/08). Nah, mari kita jawab bersama-sama sekarang, apakah tuntutan akademik yang demikian telah cukup baik untuk memenuhi hak pendidikan seseorang? Atau barangkali dan mungkin sebuah kepastian bahwa sistem pendidikan kita menuntut seorang mahasiswa berada pada posisi study oriented, dan rasanya posisi ini tidak mungkin dapat ditawar-tawar lagi. Melupakan semua keresahan sosial dan penderitaan rakyat yang dilihat dan dirasakannya. Serta bekerja keras meraih nilai terbaik agar sebanding dengan nilai rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai ongkos kuliah yang memang ditetapkan mahal oleh penguasa.&lt;br /&gt;Kedua, tentu saja cuplikan kalimat diatas mengenai ongkos pendidikan perguruan tinggi. Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan. Jika tidak demikian, maka mahasiswa mengalami ketakutan tidak lulus cepat atau bahkan akan terancam DO. Terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan terlalu menyita waktu dan dimungkinkan menghambat keberhasilan akademik. Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (baca: ruang kuliah dan perpustakaan). Paradigma ini terus disuara-wacanakan pihak Rektorat dan dekanan jauh-jauh hari saat mahasiswa tengah melalui proses pengenalan akademik di perguruan tinggi. Bahkan, dosen-dosen yang mengajar dikelas juga bertindak selaras. Jarang sekali tipe mahasiswa aktivis-akademis diwacanakan. IPK tinggi, rajin masuk kuliah, dan lulus cepat, selalu ditanamkan dan tidak pernah mengajak mahasiswa untuk aktif berkecimpung di organisasi kemahasiswaan.&lt;br /&gt;Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik. Menurut penuturan beberapa rekan aktivis kampus upaya ini sering dilakukan. Penulis sendiri sempat ditanya oleh pejabat universitas, apakah sudah pernah mengambil beasiswa universitas atau belum.  Saat itu kampus sedang panas-panasnya isu penolakan UU BHP. Upaya semacam ini adalah yang paling berbahaya. Tak bisa dipungkiri jika pemberian beasiswa atau fasilitas bisa mempengaruhi kekritisan dan idealisme mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan kebijakan rektorat dan dekanan. Dan ancaman bagi internal gerakan mahasiswa tentu saja perpecahan yang disebabkan rasa ketidakpercayaan  yang timbul diantara sesama rekan, karena ada sebagian yang makin tumpul daya kritis nya atau mundur perlahan dalam mengkritisi kebijakan. Untuk para aktivis mahasiswa sudah seharusnya membangun komitmen bersama untuk menolak segala bentuk beasiswa dan fasilitas siluman yang semacam ini. &lt;br /&gt;Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Mahasiswa aktivis belum tentu ber-IPK buruk. Banyak kita jumpai mahasiswa aktivis yang memiliki IPK 3 ke atas dan lulus cepat. Saat ini pragmatisme mahasiswa harus diakui semakin menggejala di tengah terpaan arus hedonisme dan permisivisme. Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus. Mahasiswa dengan IPK tinggi juga tidak bisa serta-merta dikatakan akademis karena ukuran untuk menilai akademis atau tidak cukup kabur saat ini.  Perlu di ingat bahwa IPK tinggi akan mengantarkan kita mendapat kesempatan wawancara, tapi kepemimpinan, daya kritis dan kepekaan yang akan mengantarkan kita menjadi kader bangsa sejati. Dan itu bisa diperoleh dari dunia gerakan.&lt;br /&gt;Membangun spirit gerakan&lt;br /&gt;Bagaimana pun, kuliah penting dan organisasi kemahasiswaan juga penting. Preseden buruk akan terjadi jika mahasiswa tidak ingin terlibat dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan. Pragmatisme mahasiswa semakin menjadi-jadi dan defisit kader-kader pemimpin bangsa akan terjadi di kemudian hari.  Padahal kebutuhan akan mahasiswa-mahasiswa kritis yang menghimpun diri dalam suatu gerakan mahasiswa merupakan kebutuhan mutlak dalam mengawal periode transisi bangsa dan mencapai cita-cita reformasi.&lt;br /&gt;Membentuk gerakan kampus dan membangun nalar gerakan dalam diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan banyak cara. Yang sederhana untuk dilakukan adalah bertanya atau melakukan proses dialektis atas segala rupa kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala. Misal kita membaca berita bahwa “pemerintah melakukan kerjasama luar negeri dalam perdagangan”, penting bagi kita untuk bertanya “untuk siapa…?”, untuk siapa kebijakan itu dibuat? Untuk penguasa dan segelintir orang dilingkarannya?, atau untuk kemaslahatan rakyat banyak?. Walau sederhana, metode ini ampuh membangun nalar kritis bagi mahasiswa per masing-masing individu. Bayangkan apabila tiap mahasiswa di satu ruangan kelas saja berkehendak serupa untuk bertanya “untuk siapa” bagi setiap kebijakan, aturan, kondisi, atau gejala yang terjadi di masyarakat, tentu akan terangkum suatu daya kritis yang amat besar dari mahasiswa. Apabila ini dapat terwujud barulah dapat dikatakan bahwa kampus adalah laboratorium bagi ilmu pengetahuan dan daya kritis sosial-politik bangsa.&lt;br /&gt;Jalan lain membangun spirit gerakan, selain menulis dan membaca yang sudah umum diwacanakan, barangkali dapat kita temukan dalam petikan puisi ‘Negeri Para Bedebah’ karya Adhie Massardi. ”…Maka bila negerimu dikuasai para bedebah, Usirlah mereka dengan revolusi. Bila tak mampu dengan revolusi, Dengan demonstrasi. Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi. Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sudah terwakili apa yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam mengembangkan semangat intelektual nya lewat puisi Adhie Massardi diatas. Tentu bagi setiap mahasiswa yang dalam dirinya tertanam semangat agen pembaharu, agen intelektual dan sosial kontrol, berhenti bergerak karena upaya penggerusan dan pelemahan yang dilakukan kaki tangan penguasa adalah suatu bentuk kebodohan. Melawan itu semua bukan hanya menjadi lambang ketidak sepakatan pada bentuk pembodohan dan kepatuhan akan penguasa, melainkan lebih dari itu merupakan wujud eksistensi gerakan mahasiswa dalam mengawal proses transisi politik, pemenuhan hak dasar warga negara, pemberantasan korupsi serta reformasi di segala bidang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-8744088909061926988?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8744088909061926988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8744088909061926988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/12/gerakan-mahasiswa-yang-digerus-sistem.html' title='Gerakan Mahasiswa Yang Digerus Sistem Akademik'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-4049319294079537365</id><published>2009-12-15T06:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-15T06:52:44.872+07:00</updated><title type='text'>Untukmu Irwandi; Kami Muda Yang Menggugat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; Dalam sebuah bilik kamar Muda di Kuala Pudeng. Yang disalah satu sisi temboknya terpasang selembar gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Di atas ranjang, Muda membaca Koran Harian pagi yang berisi berita tentang Muda lainnya yang ditangkap aparat, karena bersuara akan perbaikan kesejahteraan dan keadilan yang diharap-harap oleh rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Muda memerah  saga. Menatap geram isi berita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas Muda membaca, tapi tak lepas geram dihatinya. Ditatap gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Muda melepas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar dari tempatnya. Muda membaca kata SINAR. Muda membaca tulisan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Dibaca berulang dua nama itu. Kemudian, berbisik Muda dalam hati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"baroe udeep beusare matee beusajan, sikrek kaphan saboh keureunda. Jinoe saboh timphan hanjeut plah dua..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah foto tua bergambar seorang gagah berkumis setengah baya ditatap Muda dalam. Foto tua sang Ayah Muda yang gugur dalam rimba pertempuran. Bergegas Muda remas gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar. Digenggam gambar itu. Muda menuju dapur berbelok ke sumur. Dicampakkan gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar sembarang disitu. Gambar poster usang dua gagah berpakaian Aceh, dengan nomor 6 dalam ukuran tampil lebih besar yang akhirnya menjadi alas kotoran pagi kucing piaraan. Lepas geram Muda dalam raga, berganti jiwa merdeka yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda santai duduk bersandar di halte tengah kota. Dengan baju lusuh. Celana kumal yang menguning di sisi paha, robek di lutut. Sepatu kumal berdebu berhias juntai benang. Muda memungut selebaran dari Koran harian tentang sosialisasi Qanun Kesehatan yang tercecer. Ada gambar Gubernur disitu. Muda geram menggerutu. “Cuma Qanun omong kosong produk wakil rakyat kapitalis”. “Orang miskin dilarang sakit!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gedung rumah sakit dibangun megah dari bantuan asing. Tapi yang menikmati tetap saja mereka yang punya uang. Yang orang kecil, tidak punya uang, mesti antri dapat giliran. Atau menunggu mati ditengah antrian. Yang katanya jaminan kesehatan cuma omong kosong janji politisi atau birokrat tolol yang coba tarik simpati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan si Gubernur ini lebih tidak tahu diri. Orang tua yang disebut Wali saja berobat di kota waktu sakit. Tapi si Gubernur malah berobat ke luar negeri. Dan itu berkali-kali. Pakai uang rakyat. Emank dasar Gubernur gak ada otak! Jadi apa guna dibagun rumah sakit besar disini? Kalau Gubernur dan orang berduit lain tetap berobat ke luar negeri…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda menarik rambutnya yang kaku meninggi ke atas. Menepuk kawan yang sedang memeluk gitar. “Aku dan kau adalah orang yang anti kemapanan. Gubernur kayak gini harus kita lawan. Maen pakek uang rakyat aja untuk kesenangan pribadi dan bermewah-mewah. Taik kucing lahh!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda mengenang suatu sore di jalan kota. Ketika iringan mobil Jeep mewah melintas cepat dijalanan. Melewati para pengemis di tiap simpang. Memaksa yang lain menyingkir. Melewati pengangguran yang berjalan di trotoar. Memaksa yang lain minggir. Menyemprotkan debu kepada para tukang becak. Terus memaksa yang lain untuk tetap kasih jalan tanpa berhak bilang: “mobilmu dan jalan ini dibangun dengan uang rakyat bapak Gubernur…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda berkata lagi: “Sekarang bukan zaman nya lagi ikut Gandhi melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan membiarkan rakyat India dipukuli bertubi untuk mengusir penjajah Kolonial Inggris. Sekarang juga bukan zaman nya lagi kita ikut gaya Jhon Lennon menyerukan damai dengan tiduran diranjang dan memanjangkan rambut untuk menentang kebijakan perang Vietnam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita harus menggunakan jalan radikal untuk melawan. Anarki adalah pilihan. Kawan…tolong kau mainkan lagu ‘Bongkar’. 3 tahun Gubernur ini pegang kuasa tidak ada perubahan apa-apa. Semuanya omong kosong. Maka kita harus bakar! Mainkan lagu ‘Bongkar’ kawan. Karena di jalanan kita sandarkan cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk kaku dikursi ditemani secangkir kopi. Muda larut menatap layar monitor laptop. Tak sadar Muda kalau malam juga semakin larut. Muda lupakan secangkir kopi yang mulai mendingin. Muda menatap serius bacaannya di layar monitor. Muda gelisah bukan main. Folder file kliping media di baca lagi satu persatu-satu. Berita headline tentang isu pemerintahan menjadi fokus perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawal pemerintahan gagasan dan program gencar diluncurkan. Kepedulian terhadap rakyat kecil dipertunjukkan. Ke-ekslusifan ditinggalkan. Di awal, Irwandi bilang kalau Innova saja sudah cukup. Tapi nyatanya sekarang nyetir Jeep mewah. Di awal, Irwandi bikin feet and proper test untuk menyeleksi Kepala Dinas. Tapi daya serap APBA terus menurun. Di awal, Irwandi nyetir mobil sendiri, ngebut. Walau sakit tetap nyetir mobil sendiri, sambil pasang infus untuk bilang kalau lagi sakit. Di awal, Irwandi sahur dirumah Nek Aisyah. Tapi ternyata itu cuma di awal. Nek Aisyah cuma jadi bagian “sensasi” Irwandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda makin gelisah. Kerabat yang korup dilindungi oleh Irwandi. Irwandi lebih sering ke luar negeri daripada melihat rakyat di daerah sendiri. Walau terus menerus dikritik. Irwandi tidak juga bikin evaluasi. Irwandi tidak peduli. Serapan anggaran lemah, Irwandi cari alasan pengesahan telat. Kalau pengesahan tepat waktu, bikin alasan lain kalau kontraktor belum ambil amprahan. Dunia ini memang penuh pabrik alasan. Dimana sekarang Kredit Peumakmu Nanggroe? So nyang ka makmu jinoe…??? Irwandi atawa rakyat Aceh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;200 Ha Hutan Aceh per tahun hilang. Tapi Irwandi masih gagah bicara Aceh Green di luar negeri. Jualan hutan Aceh subur kepada asing, untuk kemudian dapat untung sendiri. Muda gelisah rumah hak korban konflik terabaikan. Pembangunan SDM dan lapangan kerja terabaikan. Pembangunan sarana pendidikan yang baik dan berpihak kepada rakyat terabaikan. Penegakan syariat Islam terabaikan. Perhatian kepada petani, nelayan, dan guru terabaikan. Perencanaan ekonomi yang mensejahterakan rakyat terabaikan. Dan yang tidak pernah terabaikan dan itu diakui sendiri oleh Irwandi adalah perempuan cantik, jalan-jalan ke luar negeri dan mengendarai mobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda mengakhiri gelisah dengan lelah. Lelah akan macet nya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Lelah akan keadilan yang tidak juga kunjung datang. Lelah dengan pemimpin pemerintahan yang mempertontonkan kezaliman dan penindasan dengan bangganya. Kelelahan Muda dijawab dengan: “sudah cukup!”. Sambil mencopot kacamata, Muda berteriak, “ganti pemerintahan…!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda yang ini sedang membaca sebuah buku bersampul merah. Dengan judul yang ditulis dengan warna hitam. Berisi perintah untuk menggusur kaum tua yang konservatif, korup dan feodal. Dan menggantikan nya dengan gerakan muda yang diisi oleh orang muda yang cerdas, berani dan progresif. Jemari Muda terus membolak-balikkan halaman demi halaman buku. Jemari yang tampak legam karena sering disengat matahari. Dahi Muda mengkerut membaca beberapa kalimat yang ada dibuku. Dahi yang sering terbakar dan dicium debu jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Muda terasa berat oleh jejalan kalimat-kalimat yang ada dibuku. Ruangan kosong terasa penuh oleh orang-orang yang Muda kagumi. Orang-orang yang lebih dulu memimpin. Orang-orang yang merasakan penderitaan sepanjang hidupnya. Orang-orang yang dibuang karena sangat ditakuti. Orang-orang yang ditahan tapi semangatnya mampu menembus tembok penjara dan membangkitkan semangat perlawanan. Orang-orang yang akhirnya mati dibunuh, tapi jiwanya tetap hidup disetiap sanubari para pejuang. Dan mereka adalah orang-orang Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda tak tahan untuk melanjutkan membaca. Terlintas dibenaknya bagaimana orang Muda disekitarnya telah mati jiwa dan rasa. Orang Muda yang kemudian hidup oleh cita-cita masa lalu dan tidak memiliki cita-cita sendiri. Telah dikubur keberanian dan semangatnya oleh ketakutan akan kelaparan dan penderitaan. Orang-orang Muda yang tidak lagi memiliki arti untuk manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda menutup buku dengan sebuah hentakan. Dirasakan kekecewaan akan bobroknya pemerintahan. Apa yang menjadi cita-cita ternyata harus kandas di ban mobil mewah dan terbentur meja negosiasi kepentingan elit. Muda hampir merasakan mati. Sebelum harapannya menghidupkannya kembali. Bahwa waktu belum menjauh. Jadi belum ada kata terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda mengenang…Bagaimana gaduhnya jalanan yang dilalui ribuan tapak kaki. Bagaimana riuhnya teriakan ‘hidup rakyat Aceh’ menggema. Bagaimana napas perjuangan masih cukup untuk menghidupkan keyakinan rakyat Aceh yang hampir musnah harapan nya karena konflik dan tsunami. Itu adalah kenangan Muda yang berjuang bersama ratusan ribu Muda lainnya untuk melahirkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang sesuai dengan MoU Helsinky dan cita-cita rakyat Aceh. Muda bergumam dalam perih, “meloloskan calon independen dalam pemilihan kepala daerah Aceh, ada keringatku disitu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gumam Muda terus berlanjut. Dalam kenangan Muda yang makin legam kulitnya. Makin habis suaranya. Tapi Muda membawa kenangannya dengan penuh kecewa. Harapan yang dititipkan 3 tahun lalu berbuah pahit. “Irwandi dan Nazar adalah sebuah kesalahan…!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda merasa harus menghentikan segalanya. Karena Muda terpaksa merasa berdosa atas kerakusan dan keserakahan penguasa. Mereka adalah orang-orang yang sudah lupa dengan nilai-nilai perjuangan. Dan hukuman bagi orang-orang yang lupa dengan nilai perjuangan dan orang-orang yang dulu bersama dalam perjuangan adalah mati sebagai pecundang, bukan sebagai pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muda berdiri. Menatap sebuah foto yang terpasang diruangan itu. Di depan foto Panglima Tertinggi As-Syahid Tgk. Abdullah Syafii, Muda bersumpah….&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”aku akan melanjutkan perjuangan untuk Aceh merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penindasan dan merdeka dari ketidakadilan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku akan berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. Dalam keyakinan kami, dimanapun tirani harus tumbang!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ini akan sampai kepadamu Irwandi. Yang akan diantar oleh seorang yang berpura-pura loyal. Menghampirimu sambil membungkuk. Sedang kau duduk di meja makan seperti tuan tanah zaman kolonial. Suara ini akan menjadikan sarapanmu jadi tak enak. Lantas kau marah dan arogan seperti biasa. Tapi aku tidak takut. Karena aku Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat baik-baik!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input id="fb_dtsg" name="fb_dtsg" value="Gz5GZ" type="hidden"&gt;&lt;input id="feedback_params" name="feedback_params" value="{&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;201416317667&amp;quot;,&amp;quot;target_owner&amp;quot;:&amp;quot;1425952084&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;1425952084&amp;quot;,&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;1425952084&amp;quot;,&amp;quot;target_owner_name&amp;quot;:&amp;quot;M. Fauzan Febriansyah&amp;quot;,&amp;quot;item_id&amp;quot;:&amp;quot;607728733&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;24205d1c7723cfcb&amp;quot;,&amp;quot;num_comments&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;extra_data&amp;quot;:[]}" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="7735a648810f21ce9b6bb81a2f5f0a91" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom"&gt;Diperbarui 24 menit yang lalu · &lt;label class="comment_link" onclick="return fc_expand(this);" title="Klik di sini untuk meninggalkan komentar"&gt;Komentari&lt;/label&gt; · &lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Klik di sini jika Anda suka" type="submit" name="like" onclick="fc_expand(this, false); return true;"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;Suka&lt;/span&gt;&lt;span class="saving_message"&gt;Tidak Suka&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-4049319294079537365?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4049319294079537365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4049319294079537365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/12/untukmu-irwandi-kami-muda-yang.html' title='Untukmu Irwandi; Kami Muda Yang Menggugat'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-5211650110375294099</id><published>2009-04-02T13:21:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T13:22:39.127+07:00</updated><title type='text'>Aceh Baru bukan sebutir air di daun kelor</title><content type='html'>Silam adalah perang yang urung berkesudahan&lt;br /&gt;Silam adalah gelombang yang menyeret nyawa menuju baka&lt;br /&gt;Tapi silam berhasil menjabatkan tangan orang-orang yang bermusuhan&lt;br /&gt;Silam juga membuat dunia mengulurkan tangan persahabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kini masih ada korban yang mengais-ngais kebenaran&lt;br /&gt;Walau kini masih ada renta turun ke jalan mencari keadilan&lt;br /&gt;Tapi kini membagi kami antara megaphone dan kamus bahasa Inggris&lt;br /&gt;Kini menyadarkan kami untuk belajar dan berjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena esok kita merajut Aceh masa depan&lt;br /&gt;Yang kita pintal dari Aceh baru yang kusampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku,&lt;br /&gt;Aceh baru bukan sebutir air di daun kelor&lt;br /&gt;Cuma bisa merasa urat daun, atau melihat awan dan matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Aceh baru adalah matahari&lt;br /&gt;Yang memberikan energi bagi jutaan daun&lt;br /&gt;Yang memanaskan air, memuai menjadi awan&lt;br /&gt;Yang akhirnya menjadi hujan,&lt;br /&gt;Mendamaikan, mensejahterakan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-5211650110375294099?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5211650110375294099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5211650110375294099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/04/aceh-baru-bukan-sebutir-air-di-daun.html' title='Aceh Baru bukan sebutir air di daun kelor'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-5659733370032816960</id><published>2009-04-02T13:12:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T13:14:16.864+07:00</updated><title type='text'>Amnesia Akut Orang Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah kenapa orang-orang di Negara ini begitu cepat lupa pada peristiwa, orang dan pengalaman-pengalaman. Yang itu bahkan dialami sendiri olehnya. Sepertinya orang-orang di Negara ini mengalami masalah serius pada kekuatan daya ingat. Lihatlah bagaimana Prabowo yang 10 tahun lalu dihujat oleh puluhan ribu mahasiswa, dipecat dari dinas militer, dan berlumpur darah para korban pelangran HAM. Sekarang bisa mencuri perhatian publik sebagai calon Presiden. Hanya karena iklan-iklan yang dicekok ke mata orang-orang Indonesia. Dengan gaya humanis dan kharismatik, Prabowo tampil lagi sebagai bapak petani, pembela buruh dan nelayan, serta pribadi yang peduli pada nasib orang miskin dan anak-anak. Gempuran iklan-iklan Prabowo bersama Gerindra-nya ternyata ampuh memutar stir sejarah. Hanya 5 bulan, popularitas Prabowo menanjak menjadi calon Presiden yang patut diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah orang-orang Indonesia. Orang-orang yang betul lupa siapa Prabowo, yang pada 1998 serempak disebut sebagai otak dibalik kasus penculikan para aktivis prodemokrasi. Makin aneh lagi ketika korban penculikan seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dan Desmond J Mahesa, kini bersama satu barisan bersama Prabowo. Ada apa dibalik semua ini?. Apa mungkin Pius lupa bagaimana rasanya disetrum. Apa Haryanto lupa rasanya sarapan pagi dengan laras senjata. Apa Desmond lupa rasanya tidur diatas balok es. Mungkin mereka semua telah lupa. Sama seperti kita yang juga lupa pada Petrus Bima, Noval Alkatiri, Wiji Thukul dan delapan orang kawan lainnya. Yang mampu Haryanto ingat adalah mereka dapat saling mengenal, karena suara mereka saat bercakap. Dan yang mampu kita ingat adalah iklan Prabowo di layar tv. Mata burung garuda ternyata ampuh menghipnotis daya ingat kita untuk akhirnya amnesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh beda dengan Prabowo. Mantan Panglima ABRI Wiranto pun berbasib serupa. Tampil kembali di tv dengan gaya bersahaja, makan nasi aking, peduli pada nasib pendidikan dan pengayom bagi kaum muda. Menjadikan Wiranto seperti terlahir kembali. Orang-orang sudah lupa bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab atas berbagai kasus pelanggaran HAM dan KKN selama orde baru. Orang-orang lupa siapa Wiranto; tangan kanan nya Soeharto. Bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat. Di Aceh, Tim-tim, termasuk tragedi Mei ’98.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal belum jauh jarak antara kematian rakyat Aceh; yang dibunuh, disiksa, dirampas hartanya, diambil suaminya, diperkosa isteri dan anaknya, dan direndahkan martabatnya. Padahal masih bergema teriakan minta ampun, mohon maaf, tangis mengiba dari rakyat Aceh, Tim-Tim dan para korban Mei ’98. Para prajurit ntah dimana, Sang Panglima kini bisa ngebut menuju kursi Presiden. Apa orang Aceh sudah memaafkan Wiranto saat dia mencabut DOM pada 7 Agustus ’99 ?. Apa rakyat Leste sudah memaafkan dan menutup duka mereka pada lembar kertas KKP ?. Dan apa para keluarga korban Mei ’98 sudah ikhlaskan keluarga mereka diganti dengan senyum Wiranto di layat tv ?. Rupanya hati nurani juga bisa membuat kita amnesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup PKS saja yang berucap bismillah lalu menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Jangan lagi kita orang-orang yang sadar dan punya moral memilih dan mengangkat para penjahat dan koruptor ke singgasana terhormat negeri ini. Ingatlah Prabowo yang pernah mencoba menerobos Istana Merdeka dengan pistol dan pisau rimba khas Kostrad di pinggang. Ingatlah Wiranto yang pernah memerintahkan ribuan pasukan ke Aceh dan kemudian melahirkan ribuan mayat, yatim, dan janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita tidak lupa pada Akbar Tandjung terdakwa kasus Buloggate, lepas terpidana korupsi karena mampu memelintir hukum. Juga tidak lupa pada Bob Hasan si raja tebang hutan. Dan jangan lupa pada Muchdi Pr, yang sim salabim bisa bebas sebebas maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kita juga akan memilih orang-orang seperti ini nantinya. Di Aceh ada banyak terdakwa dan mantan narapidana korupsi tampil gagah lagi di poster-poster kampanye dengan senyum hipokrit. Minta ampun kita semua apabila orang-orang ini dipilih lagi. Mau jadi apa negeri ini, apabila rakyat yang mengalami sendiri penderitaan, pemiskinan dan pembodohan, masih mau memilih para calon pemimpin yang punya catatan teramat hitam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencatat dan mengingatkan adalah kontribusi kita paling nyata bagi masa depan negeri ini. Semoga sejarah bukan lagi milik penguasa, yang dapat di bengkokkan atau sekali-kali dibikin lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa kita masih mau percaya pada penjahat kemanusiaan, perusak hutan, dan koruptor…???&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-5659733370032816960?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5659733370032816960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/5659733370032816960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/04/amnesia-akut-orang-indonesia.html' title='Amnesia Akut Orang Indonesia'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-8403043305895307643</id><published>2009-03-29T22:23:00.000+07:00</published><updated>2009-03-29T22:27:54.885+07:00</updated><title type='text'>Membangun Mazhab Darussalam</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sejarah mencatat bahwa kampus pertama kali di jagad bumi ini adalah ‘Akademia Athena’, pada 320 SM yang didirikan oleh Plato dan Aristoteles. Luar biasa, ternyata kampus ini menjadi cikal bakal ratusan juta kampus yang ada di dunia saat ini. Nama akademi pun akhirnya dipakai untuk menyebutkan sebuah tempat dimana terjadi transformasi ilmu, pertarungan ide, dan melahirkan rumusan serta ilmu-ilmu baru. Pada akhirnya akademi mampu merubah wajah peradaban, juga menciptakan golongan kelas, serta melahirkan ilmuan dan pemimpin dari yang arif sampai laknat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pergolakan pemikiran akhirnya menciptakan blok-blok ide, yang lahir akibat tarung benar-salah, tarung tesis-antitesis-sintesis. Dan yang paling membuat takjub, bahwa tarung pikir ini bukan hanya melahirkan blok-blok ide, tapi terus melahirkan generasi pemikir. Generasi pengubah wajah manusia dan dunia, generasi pensejahtera dan penghisap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kita lewati saja para pemikir tunggal yang kemudian jadi pesohor karena teori, temuan dan gagasan-gagasan mereka. Mari kita lihat blok-blok pemikir yang akhirnya mampu menghegemoni sebuah jalan pikir dan mengorientasi sebuah perubahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Lahir Mazhab Frankfurt dari Universitas Frankfurt Jerman, tempat berkumpulnya filsuf sosial yang melahirkan teori Kritis. Medan perangnya para pembangkang Marxis, seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno da Jurgen Habermas. Yang kemudian mengkritisi penggunaan teori Marx yang mereka anggap terlalu sempit, dan kemudian merapatkan diri pada ketertarikan neo-Marxisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sekarang kajian kritis dari para Legiun Mazhab Frankfurt bukan hanya mampu melahirkan tumpukan kertas teori kritis yang bisa jadi makin usang. Namun lebih dari itu, mampu merasuk ke meja-meja diskusi para pemikir muda. Pemuda dari sudut Caracas, pemuda pinggiran Havana, dan bahkan pemuda Kutaraja yang terus membolak-balik bacaan nya, sambil mengerutkan dahi. Yahh.., berkerutlah selagi masih bisa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bidak Blok Catur Gagasan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Lain Mazhab Frankfurt, lain lagi Mafia Ohio. Sebutan Mafia Ohio tiba-tiba santer dan melekat di telinga orang Indonesia. Indonesia pra dan pasca reformasi jadi riuh dengan kehadiran para Mafia Ohio yang sangat menonjol dalam pemikiran politik di tanah ini. Ternyata sang Bos Mafia adalah R. Willian Liddle, guru besar di Departemen Ilmu Politik, Ohio State University. Liddle adalah seorang Indonesianis. Ilmuan politik Amerika yang meneliti di sini dari tahun 1960-an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang bos ternyata punya murid Indonesia yang luar biasa. Jika diukur dari pengaruh, posisi, dan beberapa hasil karya. Diantaranya ada Ahmad Syafii Maarif yang mantan ketua PP Muhammadiyah, Denny JA yang mantan ketua LSI, sampai pada orang-orang yang sering muncul di TV dan kita baca buku-bukunya seperti Salim Said, Makarim Bisono, Rizal Mallarangeng dan Eep Saefulloh Fatah. Ini cuma sebagian, yang lain ada bayak lagi. Ide, prediksi dan gagasan Liddle bersama muridnya, ternyata mampu mempengaruhi peta politik Indonesia. Satu contoh saja, mengenai komentar Liddle sebelum pemilu presiden 2004, dimana dia memprediksi bahwa SBY akan menang. Walaupun murid-muridnya tidak selalu sepaham dengan sang guru, atau bahkan bersebrangan, ini tidak merubah da meretakkan geng Mafia Ohio dalam pergolakan politik di Indonesia. Ada juga geng lain memang, tapi yang satu ini lebih sering disebut mazhab, yaitu Mazhab Cornell yang dirintis oleh George Kahin yang mendirikan Modern Indonesia Project di tahun 1954, dengan 3 murid jagoan semacam: Ben Anderson, Dan Lev, dan Takeshi Siraishi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Buat urusan ekonomi, ekonom dan birokrat Indonesia pernah begitu mengimani konsep ekonomi dari kelompok Mafia Berkeley. Orang-orang yang pernah belajar di kampus Berkeley. Mafia Berkeley menjadi aktor dibalik layar dari kejayaan dan keruntuhan ekonomi orde baru. Dengan si Bos Widjojo Nitisastro, lengkap dengan muridnya. Konsep ekonomi mereka disebut widjojonomics.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Adakah Mazhab dan Mafia Ilmuan di kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Menjawab ini ternyata ternyata perkara sulit. Miris bahkan. Kampus kita (unsyiah.red), cuma sangkar bagi para pemikir. Kerangkeng untuk sebuah revolusi pemikiran. Penjaranya kreativitas dan inovasi visioner.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Yang mau membuat perubahan diremehkan. Yang sedikit kritis dikucilkan. Yang mau melawan system akhirnya ditinggalkan. Membangun diskusi kritis dicurigai tindakan subversif. Bertanya tentang tata kelola kampus dibalas ancam dengan masa depan akademik. Memperdebatkan syariat harus siap dituduh kafir. Mengkaji Marx dianggap komunis. Mempersoalkan kegiatan mengaji yang dikelola mahasiswa dilabel orang anti-Islam dan syariat. Mahasiswa yang melakukan aksi dikencingi dosen dengan tuduhan makan duit, ditunggangi, untuk kepentingan politik. Dosen bilang mahasiswa itu kuliah saja, kalau kritis nanti tidak tamat kuliah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kalau mau nilai ‘A’ jawab saja sesuai diktat saat final. Kalau sedikit kritis dan menambahkan analisa sendiri, harus tegar lihat ‘C’ di papan pengumuman. Diutamakan ke kampus dengan kemeja, bersepatu, serta bawa alat tulis. Tidak bawa otak tak apa-apa, diam di kelas atau tidur saja saat dosen mengajar lebih baik daripada mengkritik yang si dosen ajarkan. Selebaran diskusi dan tulisan politik di kampus tak dilirik. Lebih ditunggu majalah sophie martin atau brosur kosmetik. Kuliah semata untuk nilai ‘A’. Kuliah untuk menghabiskan duit orang tua. Tanpa harus kritis, tanpa harus bersusah payah, yang penting ‘A’, yang penting orang tua kirim duit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Entah ini salahnya mahasiswa atau dosen. Tapi keduanya harus bertanggung jawab. Dan harus bertanggung jawab untuk membangun budaya dan tradisi keilmuan dikampus Unsyiah. Kampus yang katanya jantong hatee rakyat Aceh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kampus Unsyiah miskin akademisi. Yang ramai cuma supporter dan komentator. Kalau di Indonesia ada widjojonomics, apa di Unsyiah ada masbarnomics? Yang mampu mengorientasikan pembangunan ekonomi pro-rakyat dan menyiapkan blueprint untuk itu? Mungkinkah ada ilmuan hukum dan politik yang mampu merancang dan mendorong suatu system hukum dan politik yang lebih dari sekedar seminar dan qanun? Mungkinkah ada ilmuan pertanian yang berhasil menciptakan pupuk murah namun berkualitas.  Dan menghijaukan Aceh bukan dengan sawit? Mungkinkah ada arsitek dan kontraktor yang bisa membangun bangunan selain ruko-ruko? Mungkinkah dokter yang mau mengobati tanpa dibayar?  Benar-benar tidak dibayar! Bukan bikin baksos karena dibayar yayasan atau karena proyek dosen dan si mahasiswa kedokteran ikut untuk dapat nilai ‘A’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dikampus cuma ada Darni and the genk, anti kritik dan otoriter. Sumringah menerima tamu asing, kucing-kucingan berdiskusi dengan mahasiswa. Dikampus cuma ada Masbar, ekonom besar tanpa blueprint. Dikampus cuma ada Mawardi, pakar hukum yang lebih sering tampil di Serambi daripada terlihat di kampus. Dikampus cuma ada Syahrul, yang melarang mahasiswanya untuk ikut aksi turun ke jalan. Dikampus cuma ada Mustanir, yang menjadikan kampus mipa sarang kader partai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Padahal mereka semua adalah para guru, padahal aku bisa belajar dengan mereka-mereka. Tapi tenyata masih lebih baik aku yang seorang Ottoisme. Yang berguru  sosial-politik dengan Otto si anak hilang. Yang punya gagasan untuk membangun sebuah tradisi dan kajian keilmuan di kampus. Lalu kemudian kulanjutkan dengan tesis Mazhab Darussalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mazhab ilmu dengan orientasi ke-Acehan. Mendidik generasi pembelajar dengan spirit perjuangan. Berwatak inklusif dan kosmopolit. Bersikap terbuka dan merindukan perubahan. Melahirkan orang-orang yang progresif dalam berpikir dan militan dalam bekerja. Mazhab Darussalam akan menjadi pioneer bagi lahirnya epistemologi ke-Acehan. Aliran baru dengan Aceh sebagai kiblat dan landasan pikir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Boleh saja dokter, boleh saja arsitek, boleh saja sejarawan, boleh saja teknokrat, boleh saja juris, boleh saja filsuf, dan boleh saja ekonom. Tapi tetap sebagai pendukung epistemologi ke-Acehan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kemarin ini cuma mimpi, sekarang jadi gagasan, dan pasti besok jadi kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-8403043305895307643?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8403043305895307643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/8403043305895307643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/03/membangun-mazhab-darussalam.html' title='Membangun Mazhab Darussalam'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-2020986368056949463</id><published>2009-03-28T15:39:00.002+07:00</published><updated>2009-03-28T15:42:38.262+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>"Cinta itu seperti air. Mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, mengisi sesuai bentuk wadah. Dipanaskan akan memuai, di dinginkan akan mengeras dan memadat menjadi es. Tapi bentuk tidak merubah hakekatnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tetap menyejukkan dan menjadi sumber kehidupan. Siklus, waktu, bentuk, kondisi, atau apapun tidak mampu merubah hakikat air. Dia abadi".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-2020986368056949463?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2020986368056949463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2020986368056949463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/03/cinta-itu-seperti-air.html' title=''/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-3228552597874489567</id><published>2009-03-28T14:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-28T15:36:23.880+07:00</updated><title type='text'>Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku jadi terinspirasi ketika membaca sebaris kata berbunyi “seonggok daging”. Pikiran tiba-tiba melayang lalu terjun bebas dengan kritis untuk membalas sebaris kata yang lazim dan acap terucap saat menjelang lebaran dan hari besar. Coba kutangkap bahasa tersirat dari dua kata dengan tambahan ‘&lt;i style=""&gt;se’ &lt;/i&gt;itu. Sepertinya orang yang berucap sedang gamang, pupus, atau bisa jadi telah lumer dengan keputus-asaan persis seperti bubur kacang hijau untuk sarapan pagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau dibaca lengkap si bocah gamang hendak memasukkan semua orang yang berhasil kutangkap maksud tersiratnya, menjadi sama dengan kegamangan, kepupusan dan keputus-asaan yang dia punya. Siapa kau? dan siapa aku?? Yang dimaksud “daging berjalan yang diselamatkan”…??? Maaf! Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Bocah, coba kau ingat-ingat lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Barangkali kau memang bocah yang diselamatkan. Karena memang kau hampir hilang arah, tersesat dalam kekuatanmu untuk berbuat, tiba-tiba gelap saat kau mencoba menemukan jati diri dan tujuan mu. Kau memang diselamatkan atau mungkin tersesat pada suatu cekungan getaran akibat kau sering meloncat-loncat. Dan aku, coba kau ingat-ingat lagi bocah, cuma seorang balita polos, yang sedang bermain-main tanpa tujuan jelas. Tapi aku serius pada permainan ini. Aku terus bermain untuk menghabiskan energiku, terus bermain hanya untuk berkenal dengan teman-teman baru, terus bermain sampai akhirnya kutemukan tujuan dan impianku dari permainan-permainan yang aku mainkan. Bocah, aku hanya balita pemimpi yang sedang bermain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa kau pernah diajarkan matematika bocah? Pernahkah kau tahu tentang diagram venn? Dan pernahkah kau tau fisika bocah? Tentang hukum daya tarik atau magnetik? Yang kulakuan hanya bermain, yang kusamakan rumus fisika nya dengan membuat sebuah getaran. Getaran yang kulakukan, cepat atau lambat akan dirasa oleh lingkungan dan bumi ini. Getaran kulakuan, hukum daya tarik terjadi. Aku menjadi sebuah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; magnit baru, yang membuat sekitar merasakan ada getaran. Di dunia ini ada milyaran &lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:City&gt; magnit, dan selagi aku bermain aku tahu betul bahwa aku akan tertarik pada sebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; magnit yang berkekuatan lebih besar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di antara milyaran &lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:City&gt; magnit bagaimana aku bisa menemukan sebuah pusat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; magnit yang tepat? Ini adalah soal kutub positif dan negative yang kumiliki dan kutub-kutub lain yang juga dimiliki pusat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Kalau kita dengan jujur menggunakan kekuatan kedua kutub, kita akan menemunkan pusat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang tepat. Ini persis seperti kutub yang sama akan menolak, yang berlainan akan saling tarik menarik. Selebihnya rumusan ini adalah misteri alam yang belum terungkap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, saat aku berhasil menjadi pusat getaran kecil dan bertemu dengan kutub pusat getar yang lebih besar, akan terbentuk sebuah arsiran. Persis seperti arsiran antara dua lingkaran, yang tidak peduli dengan ukuran bentuk (apakah besar atau kecil). Arsiran terbentuk. Getaran menyatu menjadi sebuah kekuatan magnetik dengan skala lebih besar dari sebelumnya. Itulah aku bocah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa kau pernah belajar hukum alam bocah? Apakah kau pernah diajarkan biologi? Aku sadar betul bahwa tubuhku ini adalah air. Dan aku menggunakan filosofi nya dalam bermain. Aku berusaha dan sampai sekarang masih berusaha menjadi air. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air mengisi seluruh bentuk wadah. Dipanaskan akan memuai, di dinginkan akan mengeras dan memadat menjadi es. Tapi bentuk tidak merubah hakikatnya. Yang tetap menyejukkan. Sumber kehidupan. Mendamaikan. Mensejahterakan. Waktu, siklus, bentuk, kondisi atau apapun tidak mampu merubah hakikat air.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku akan terus mengalir bocah. Sekalipun berada pada saluran yang buntu, aku akan berusaha menemukan celah untuk keluar. Dan selagi aku mengalir barang tentu aku akan bertemu dengan beragam rupa makhluk, beragam rupa benda, beragam rupa sampah, beragam rupa puing, beragam rupa air. Yang secara tak sadar menyatu bersamaku saat aku mengalir. Dan kau bocah, berjongkok di tepian saja dan menonton aku mengalir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Huh! Aku malas melihat muka-muka yang patah arang, aku sudah muak mendengar celoteh frustasi bocah yang terjebak antara komik dan sosialisme. Entah apa yang bocah-bocah ini pikirkan. Sepertinya mereka bingung, linglung, dan frustasi akan perubahan-perubahan sekitar. Dasar bocah! Terlampau ambil pusing memikirkan transisi masa kanak-kanak menjadi remaja. Mending aku si balita, yang cuma berpikir: &lt;i style=""&gt;“ayo kita main saja”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang ini terlalu goblok. Tidak melihat dan tidak membaca. Mereka menjebakkan diri pada transisi kanak-kanak ke remaja. Pengecut dan serba takut. Mereka tidak melihat ada harapan. Mereka tidak sadar bahwa perubahan sedang dilakukan. Dan mereka tidak membaca! &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; jantan yang berjuang di tanah ini dengan mengagumi paham fasis. Dia bodoh tidak membaca bahwa perjuangan mahasiswa 1930-an tanah ini dengan membangun gerakan anti-fasis. Satunya lagi menjadi besar seketika dan takut kehilangan kekuatan, transisi melemahkan urat syaraf kemaluan nya. Dan dia juga jadi bingung, mau ambil peran apa. Pada tidak mikir ini orang!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagian lagi pengecut dan serba takut. Takut untuk memulai, dan yang lebih parah mereka takut gagal. Aku ini balita yang belum pernah menang. Aku gagal terus. Tapi aku masih punya nyali untuk mencoba lagi. Aku masih yakin punya energi untuk terus menerima kegagalan lagi. Bagiku gagal itu biasa. Bukan hal yang memalukan kawan, yang memalukan itu kalau kau takut gagal dan tak berani melanjutkan permainan. Kawan, &lt;i style=""&gt;“kebahagiaan hanya untuk mereka yang pernah mencoba, pernah berusaha dan pernah gagal. Karena cuma mereka yang bisa menghargai betapa berharganya orang-orang yang pernah menyentuh kehidupan mereka”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lainnya lagi, benar seperti kata Pram. Di Eropa orang-orang berusaha memberikan sesuatu pada umat manusia, hingga kemudian mereka memperoleh penghargaan dan tercatat pada sejarahnya. Di tanah kita ini, semua orang menyibukkan diri untuk berebut kekuasaan dan penghargaan. Makin muram ketika aku hampir tahu bahwa kalian juga takut untuk bermimpi dan memiliki impian. Kalian sudah tidak berani melakukan apapun, apa untuk bermimpi pun kalian takut bocah…?! Apalagi yang bisa menggerakkan kalian??&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku masih punya mimpi, dan aku tidak berharap ada orang lain yang bisa kuminta untuk mewujudkan mimpiku. Aku harus mewujudkankan nya sendiri. Dengan atau tanpa…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bocah, jangan kau coba-coba suntikkan virus gamang dan frustasi mu padaku. Kalau kau punya impian, wujudkan! Kalau kau tak berani bermimpi, katakan kau tak berani!! Kalau kau mau berbuat, kau berbuatlah! Kalau kau takut gagal, proklamirkan kalau kau pengecut!! Bukan waktunya lagi sekarang menonton dan berkomentar. Atau kau merasa sudah memiliki peran dan berbuat dengan alibi menonton dan berkomentar? Bukan masanya lagi untuk meminta dimaklumi segala kekurangan dan dimaafkan segala kesalahan. Memaklumi dan memaafkan itu urusan Tuhan, dan biarkan itu menjadi urusan Tuhan (itupun kalau kau percaya Tuhan bocah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi bocah, aku akan terus mengalir. Aku tahu sekarang aku masih berada diselokan. Kotor, bau, dan hitam. Aku tahu itu bocah! Tapi aku juga tahu, bahwa seberapapun jauh jaraknya, seberapapun kotor, bau dan hitamnya aku. Suatu saat aku akan menemukan sungai kecil, dan kemudian aku akan menemukan sungai yang lebih besar! Nanti tolong kau jawab bocah, seberapa kotor, bau dan hitam nya aku saat itu?. Dan bocah, aku juga tahu, malah aku yakin. Bahwa nantinya aku akan berada di tengah samudera. Samudera yang luas, sumber penghidupan walau kadangkala mematikan, yang mensejahterakan, mendamaikan, samudera asal usul peradaban. Aku akan terus mengalir, sampai aku menemukan samudera.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah kau pernah tahu bocah, bahwa Cak Munir saat baru saja membuka pintu gerbang transisi pernah berkata: &lt;i style=""&gt;“Sekaranglah saatnya semua orang mulai membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru. Meskipun harus di awali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya rasa tapi juga cita-cita”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau aku tidak sempat berkenalan dan berjumpa dengan Cak Munir. Membaca tulisan dan memahami kata-kata nya sama seperti rasa aku sedang duduk berdiskusi dengannya. Aku telah berguru pada Cak Munir. Dan kau pahamilah sendiri kata-kata itu, kalau kau berani untuk memahaminya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku akan terus membuat getaran. Dan sebagian yang tadi juga masih bergetar. Semoga aku masih bisa menyatu dalam sebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; magnit dengan orang-orang itu. Semoga aku masih bisa mengalir sampai samudera dengan orang-orang itu. Maka mulai sekarang kau buang aku dalam golongan orang-orang yang kau sebut dengan “seonggok daging yang diselamatkan”. Kalau kau mungkin, tapi aku tidak! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-3228552597874489567?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/3228552597874489567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/3228552597874489567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/03/kalau-kau-mungkin-tapi-aku-tidak.html' title='Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-7140158750420893388</id><published>2009-02-02T06:27:00.000+07:00</published><updated>2009-02-02T06:28:09.743+07:00</updated><title type='text'>Surat Cinta Pada Milad ku ke-22</title><content type='html'>&lt;div&gt;[senin, 2 februari 2009]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih dan cinta yang tidak ternilai untuk semua sahabat, guru dan keluarga. Yang masih meletakkan ku pada serambi hati mereka. Yang tak dibiarkan tergeletak kemudian usang berdebu. Aku yang selalu dijaga dan diperhatikan. Akhirnya, Aku harus menunduk dan mengakui bahwa tanpa kalian aku bukanlah apa dan siapa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluarga ku ; bapak, mama, boy, akmal, dan tia. Maafkan jika 22 tahun kemarin anak dan abangmu belum bisa membahagiakan serta membanggakan kalian. Maafkan jika anakmu belum bisa membalas kesusahan dan kesabaran kalian dalam mendidik dan membesarkanku. Maafkan abangmu adik-adikku, pabila belum menjadi tauladan buat kalian. Harapku; semoga doa untukku masih terus mengangkasa ke pintu langit dunia. Dalam setiap lafaz doa pada fardhu dan sunnah, pada qiyamulail dan dhuha. Pada setiap lantunan surah, hingga setiap dzikir pagi dan petang. Hanya doa kalian yang buatku tegar dan menjadi cahaya jalanku menuju kebanggaan dan cita-cita kita. Kuberikan untuk kalian pelukan terhangat, untuk cinta, suka duka dan kebersamaan kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk guru-guruku ; mereka semua, yang mengeja kata hingga aku dapat membaca, mengajarkan menulis, menerangkan ilmu pengetahuan, memperlihatkan realita, membentuk keberanian, menjelaskan mana yang hak dan mana yang bathil, mengajarkan keadilan, dan memotivasi untuk terus berjuang demi kebenaran. Kutegakkan kepalaku, kuangkat setinggi-tingginya kedua tangan, memohon dibuka nya pintu langit, bagi doa-doa ku yang kusampaikan, semoga ridha Yang Maha senantiasa menyertai nafas dan langkah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua sahabatku ; tiada kata yang akan terwakilkan untuk semua kenangan, kebersamaan, dan kekompakan. Semua tawa dan tangis yang tercurah, semua senyum yang tercipta. Hari ini kuberikan cinta ku untuk kalian, dan maukah kita terus bergenggam dan berjalan bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, aku yang teguh diatas pundak kalian, yang juga akan jatuh dibawah kaki kalian. Teruslah mengingatkan aku, sahabatmu yang pelupa. Akan cita-cita, usaha, dan cinta. Tetaplah menjadi cermin tulus untukku, tetaplah menyemangati, tetaplah bersama. Untuk kalian yang bersamaku meneteskan keringat di jalan, yang bersama berseru untuk keadilan, yang berjuang untuk mereka yang tertindas! Sahabat, Sebelah tubuhku adalah milik mereka-mereka, yang akan menjadi makanan bagi mereka yang lapar, yang akan dijadikan susu untuk bayi-bayi yang kehausan, dan dijadikan baju untuk mereka yang kedinginan. Dan setengahnya lagi adalah kayu bakar. Yang semoga menjadi kayu bakar-kayu bakar terbaik. Untuk menyalakan api perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mereka yang mencintai ; aku akan lapuk, usang, berdebu, hingga ditinggalkan dan musnah. Aku tidak memiliki apa-apa hari ini, sampai besok pun tidak memiliki apa-apa. Yang kalian lihat hari ini adalah fatamorgana dan bagian metamorfosa yang belum sempurna. Kalian yang akhirnya sendu, kalian yang akhirnya kecewa, kalian yang tersakiti apabila melihatku dalam bayangan mimpi. Diantara mata kalian yang tertidur dan terjaga. Yang kalian harap ada pada mereka yang berharap. Bukan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dia yang mencintai ; terimakasih karena telah mengatakan dan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dia yang tak pernah pupus ; aku akan selalu mengingat dan menyimpan bahasamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Dia yang selalu kuharap dapat bertemu ; Sudah 22 tahun aku menghirup nafasMu, berjalan diatas tanahMu, melihat kebesaranMu dan berpijak di duniaMu. Aku bukanlah makhluk yang taat dan patuh, bukanlah bagian dari yang pandai bersyukur, bukan juga bagian yang penyampai. Aku adalah pembangkang yang melakukan apapun semauku. Yang sesekali sujud dan menengadahkan tangan. Sesekali membasahi bibir dengan ucapan kemuliaan dan keagungan untukMu. Andai jiwa ini tak pantas bersama pahlawan-panutanku yang mulia dan agung di surga. Maka campakkan jiwa ini ke neraka untuk membakar mereka yang menindas makhlukMu di dunia. Sebagai balasan atas abai dan lalaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pak, ma, boy, mal, tia, guru, bung, dan sahabat-sahabatku. Selamanya... Salamku hanya untuk; mereka yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamku untuk kalian yang 'tercinta'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=215442&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=48487872667&amp;amp;aid=-1&amp;amp;oid=48487872667&amp;amp;id=1425952084"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2077/96/115/1425952084/a1425952084_215442_4182.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-7140158750420893388?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7140158750420893388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7140158750420893388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/02/surat-cinta-pada-milad-ku-ke-22.html' title='Surat Cinta Pada Milad ku ke-22'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-4184399716257125138</id><published>2009-02-02T06:24:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T06:26:42.128+07:00</updated><title type='text'>Interupsi! Pendidikan Adalah Hak Bukan Barang Dagangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;Gelombang protes penolakan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP) masih terus berlanjut. Walau sudah lewat sebulan sejak disahkan di Senayan pada 17 desember 2009, namun tidak menyurutkan langkah mahasiswa, aktivis pendidikan, dan beberapa rektor progresif untuk tetap melakukan penolakan. Demi menyelamatkan masa depan pendidikan bangsa. Pada prinsipnya ada 2 (dua) hal mendasar yang dikritisi oleh kelompok masyarakat yang kontra terhadap UU BHP. Pertama, privatisasi pendidikan yang tentu saja melepaskan tanggung jawab Negara dalam membiayai pendidikan. Kedua, liberalisasi pendidikan yang merupakan suatu intervensi asing terhadap kedaulatan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam alinea ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa tujuan negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian pada pasal 31 ayat 1 UUD 1945 dengan tegas disebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Serta pada pasal-pasal berikutnya diatur mengenai tanggung jawab negara untuk membiayai pendidikan dan mengusahakan suatu sistem pendidikan yang akan mendorong kemajuan bangsa. UU BHP yang telah disetujui oleh DPR tentu bertentangan dengan amanat konstitusi, karena UU BHP jelas ber-spirit privatisasi dan liberalisasi. UU ini juga bertentangan dengan UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948 yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu hak dasar bagi setiap warga negara dan wajib dipenuhi oleh negara. Hal yang sama dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 20/2003. Pemerintah dan pemerintah daerah diwajibkan memberi layanan dan kemudahan, serta menjamin pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa ada diskriminasi. Sungguh ironis! Pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif malah membuat suatu kebijakan yang jelas inkonstitusional dan irrasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU BHP akan membebankan 1/3 pembiayaan pendidikan kepada masyarakat (mahasiswa). Katakanlah Universitas Syiah Kuala pertahun membutuhkan biaya operasional sebesar 90 milyar rupiah. Maka dalam hitungan matematis, mau tidak mau mahasiswa wajib menanggung 30 milyar rupiah. Langkah rasional yang tentu saja diambil oleh pihak rektorat adalah dengan cara menaikkan SPP demi menutupi kekurangan. Hal ini akan sangat memberatkan. Terlebih kepada golongan mahasiswa tidak mampu. Mengecap pendidikan tinggi hanyalah sebuah angan-angan. Dampak massif dari permasalahan tadi akan menghilangkan kesempatan belajar jutaan generasi bangsa. Bayangkan, apabila biaya pendidikan tinggi begitu mahal, maka bagi masyarakat miskin tidak ada pilihan selain memilih langsung bekerja dengan ijazah tamatan SMA. Pertanyaannya, dimana tempat bekerja dengan ijazah SMA? Tentu ini akan sangat merugikan bagi bangsa Indonesia yang sedang dalam tahap berkembang dan belomba dalam mencetak para calon intelektual. Karena bukannya mempersiapkan intelektual profesional dan berkualitas, malah merencanakan suatu sistem yang mempersiapkan generasi bangsa menjadi generasi kuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya UU BHP merupakan mata rantai penetrasi kepentingan asing yang dilakukan secara sistematis didorong oleh WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Dimulai dengan ratifikasi Perjanjian Umum Mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT) serta Perjanjian Umum Mengenai Perdagangan Sektor Jasa (GATS), yang memasukkan layanan pendidikan sebagai komoditas yang bebas sesuai dengan hukum pasar bebas. Penetrasi ini dilanjutkan melalui UU Sisdiknas, dimana dalam UU ini membuka jalan bagi pihak asing untuk masuk dalam dunia pendidikan. Penetrasi asing ini dipertegas dengan UU no. 25 / 2007 tentang Penanaman Modal Asing, dan UU BHP ini dilengkapi dengan Perpres No. 77 /2007 yang intinya modal asing diperkenankan masuk sampai 49% di dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan ruang modal asing untuk masuk ke dalam pengelolaan pendidikan hingga 49% jelas akan mengkerdilkan posisi bangsa ini yang sebetulnya kaya akan sumber daya alam berlimpah. Penting untuk dipahami bahwa investasi merupakan upaya mencari keuntungan, dan bukanlah hibah atau pemberian cuma-cuma. Paradigma pendidikan berbasis dagang belum cocok diberlakukan di Indonesia. Masyarakat kita belum siap menjadi konsumen dari penyelenggara pendidikan. Liberalisasi pendidikan akan memberikan ruang menganga bagi bangsa ini untuk kembali dijajah oleh bangsa asing lewat cara baru (neo-imperialisme), dan mengikhlaskan pendidikan kita untuk dijadikan ladang keuntungan atas investasi yang dilakukan, atau minimal sekali manajemen universitas di Indonesia akan berada dibawah kendali negara kapitalis-imperialis. Sungguh ironis. Terlebih apabila kita mengenang manifesto Bung Karno tentang nation and character building.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BHP bukan solusi&lt;br /&gt;UU BHP bukanlah sebuah solusi bijak dalam upaya memajukan pendidikan bangsa. UU ini memiliki banyak kontradiksi. Misalnya BHP itu berprinsip nirlaba (tidak berorientasi mencari keuntungan), namun disisi lain mengatur mengenai investasi (yang berprinsip mencari keuntungan). Sangat kontradiktif. Gagasan subsidi silang justru akan menyebabkan polarisasi diantara mahasiswa, dimana mahasiswa yang mensubsidi mahasiswa yang tidak mampu akan merasa memiliki kuasa, kemudian berefek hilangnya rasa percaya diri bagi yang mahasiswa yang tidak mampu. Dari sudut pandang pengganggaran, UU BHP ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat mencoba ”lari” dari tanggungjawab dalam upaya menyediakan 20 persen anggaran pendidikan. Melalui UU ini pemerintah pusat mengalihkan tanggungjawabnya kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Penyelenggaraan BHP akan dibebankan pada APBD dan menjadi tanggungjawab pemerintah daerah masing-masing serta peserta didik. UU BHP ini juga merupakan pemborosan terhadap anggaran. BHP dibentuk di pemerintahan daerah baik lembaga formal maupun non formal (asing). Konsekwensinya akan ada tambahan pembiayaan mengenai belanja modal, barang dan pengawai. Pengabdian guru atau dosen juga dirasa akan terkontaminasi dengan aspek materialisme semata. Jadi, nilai pengabdian hanya diukur dengan uang. Nantinya guru/dosen akan berstatus sebagai karyawan BHP dengan standar upah dan kenaikan jabatan yang sangat ditentukan oleh satuan pendidikan dimana ia bekerja sesuai dengan kontrak kerja. Bukan tidak mungkin nasib guru/dosen akan lebih buruk lagi dibanding buruh. Selain itu, hubungan guru dengan pemimpin satuan pendidikan menjadi seperti layaknya majikan dan buruh. Dan hubungan guru/dosen dengan peserta didik ibarat pelayan dan tamu restoran. Apabila pelayan “terlambat” menyajikan makanan maka sang tamu berhak membanting meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyelamatkan Jantong Hatee?&lt;br /&gt;Sangat menggelikan bagi kita semua saat Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA mengatakan bahwa BHP merupakan solusi untuk meningkatkan profesionalitas, atau berkilah kalau transparansi dan akuntabilitas akan terlaksana apabila Unsyiah menjadi BHP. Sejatinya, kunci perwujudan profesionalitas, transparansi dan akuntabilitas hanyalah terletak pada integritas dan kejujuran para stakeholder universitas. Bukan bergantung pada aturan normatif undang-undang yang selalu tekesan sangat ideal. Mewujudkan profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas tidak perlu menunggu UU BHP. Sudah sepatutnya ketiga hal tersebut terwujud sejak dulu berdasar pada AD/ART Unsyiah, UU Sisdiknas, atau pada kesadaran amanah yang bersifat religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya secara nasional untuk judicial review merupakan langkah konkrit penyelamatan pendidikan nasional. Namun solusi alternatif lain dalam konteks Aceh juga harus disiapkan, apabila judicial review akhirnya ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Menjadikan UU Pemerintahan Aceh yang merupakan grundnorm bagi rakyat Aceh, dapat menjadi payung hukum dalam pengelolaan pendidikan di NAD. Serta memaksimalkan anggaran baik lokal maupun nasional untuk kemajuan pendidikan, dirasa merupakan tawaran solusi bijak saat ini. Selain partisipasi rakyat Aceh yang maksimal dalam memantau dan memajukan pendidikan. Serta yang penting diingat, bahwa pendidikan bukanlah barang dagangan (komoditas), melainkan suatu hak dasar dan alat untuk mencerdaskan manusia. Pendidikan merupakan alat pembebas manusia dari berbagai masalah dan mecapai kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penulis adalah Koordinator Mahasiswa Peduli Keadilan (MPK), Mahasiswa Fak.Hukum Unsyiah, dan aktivis Front Mahasiswa Aceh Tolak BHP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-4184399716257125138?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4184399716257125138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4184399716257125138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2009/02/interupsi-pendidikan-adalah-hak-bukan.html' title='Interupsi! Pendidikan Adalah Hak Bukan Barang Dagangan'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-4154276155517283595</id><published>2008-10-14T00:16:00.002+07:00</published><updated>2008-10-14T00:24:10.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rebelholic'/><title type='text'>Pancasila Yang Makin Sakit</title><content type='html'>“Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is alleen maar (keterangan : bahasa Belanda, yang artinya : hanyalah ) anti-imperialisme. Jangan kira kiri hanya anti-imperalisme, tetapi kiri juga anti-uitbuiting (penghisapan) . Kiri adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri. Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena apa ? Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah anti-exploitation de l’homme par l’homme. Pancasila adalah anti-exploitation de nation par nation. Karena itulah Pancasila kiri” (Bung Karno; Revolusi belum selesai, halaman 77).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Itulah sepenggal kalimat bung karno dalam pidato beliau dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada tanggal 6 November 1965 (yaitu kita-kira sebulan lebih setelah terjadinya G30S, ketika para pembesar militer pendukung Suharto mulai menggunakan Pancasila untuk menyerang Bung Karno).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-4154276155517283595?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4154276155517283595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/4154276155517283595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/10/pancasila-yang-makin-sakit.html' title='Pancasila Yang Makin Sakit'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-2486094792836958288</id><published>2008-03-10T12:34:00.015+07:00</published><updated>2008-12-10T05:35:36.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rebelholic'/><title type='text'>Tragedi Atu Lintang;  Terkoyaknya Perdamaian Aceh</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" face="webdings"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ATbJNUc79EY/R9TOfwO2gqI/AAAAAAAAAA8/nf-GonPBACE/s1600-h/020322008mst1.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175988916674003618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 271px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 341px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ATbJNUc79EY/R9TOfwO2gqI/AAAAAAAAAA8/nf-GonPBACE/s320/020322008mst1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;Biadab! Ini paling biadab pasca penandatanganan MoU". Itulah kalimat refleks yang terlontar saat membaca kronologis tragedi Atu Lintang pada sebuah milist di emailku. Tercipta rasa marah dan geram yang menggunung di ubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tragedi ini terjadi di Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Meurah Mege, Desa Meurah Pupok, Kecamatan Batu Lintang Daerah IV Wilayah Linge, Aceh Tengah, yang di bakar oleh sekelompok milisi, Sabtu (1/3) dinihari. &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; anggota KPA yang sedang berada di kantor tewas sangat mengenaskan. Empat di antaranya tewas terpanggang setelah sebelumnya dibacok dan satu lagi diceburkan ke dalam sumur. Pembakaran kantor mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka itu terjadi tengah malam. Sekitar 300-an &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; milisi yang menggunakan sebo mendatangi kantor KPA di Desa Meurah Pupok, Kecamatan Atu Lintang dan langsung membakar kantor tersebut.&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Empat di antaranya tewas terpanggang api dan satu diceburkan ke sumur. Kelima anggota KPA yang tewas yaitu Sabri, Gadeng, Salamat, Bandar, dan Rahmat, semuanya warga Desa Batu Lintang, Aceh Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kantor KPA yang berkonstruksi kayu musnah dimangsa si jago merah. Di parit dekat kantor tersebut, terdapat ceceran darah yang sudah mengering. Sebelum meninggal kelima anggota KPA tersebut terlebih dahulu disiksa. Hal ini diperkuat lagi dengan ditemukannya dua mayat di atas tumpukan seng yang menghitam. Sementara dua mayat lagi ditemukan di bawah reruntuhan seng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pasalnya, saat kejadian banyak warga yang sudah terlelap. Warga baru terkejut saat terjadi keributan dan kobaran api terlihat memangsa kantor KPA. Melihat adanya pembakaran, warga hanya mengurung diri di rumah. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pelaku tidak dikenali warga, karena bukan warga desa tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Motif kejadian diduga tak terlepas dari insiden kecil yang terjadi di Dinas Perhubungan Aceh Tengah. Saat itu, anggota KPA sempat terlibat bentrokan dengan beberapa anggota Ikatan Pekerja Terminal akibat sengketa lapak terminal. Insiden ini menyebabkan tiga anggota KPA terpaksa dirawat di rumah sakit Takengon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;Namun, pascainsiden di Dinas Perhubungan kedua belah pihak sudah berdamai, yang difasilitasi bupati Aceh Tengah. Prosesi perdamaian itu sendiri berlangsung di Pendopo bupati Aceh Tengah dan baru selesai pada pukul 23.00 WIB, Jumat (29/2). Pada insert foto kiri atas adalah gambar Kantor KPA yang telah rata dengan tanah. Dan kiri bawah adalah salah satu korban yang mayatnya hangus terbakar dan hanya tersisa sedikit yang diidentifikasi sebagai Gading. Biadab!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Terulangnya Pelanggaran HAM Berat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Peristiwa biadab ini merupakan sebuah pelanggaran HAM berat yang terjadi pasca penandatanganan MoU Helsinki dan mengoyak perdamaian yang di Aceh. Jika dilihat peristiwa ini memenuhi lima unsur untuk dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat. Pertama, perbuatan itu merupakan perbuatan melawan hukum. Kedua, perbuatan itu disengaja; ketiga, perbuatan itu bertujuan atau berakibat mengurangi, menghalangi, membatasi atau mencabut HAM; keempat, perbuatan itu dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dan kelima, terakhir; perbuatan itu membawa atau mengakibatkan adanya korban, yaitu seseorang atau kelompok orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mantan Jenderal RI Mendalangi Atu Lintang?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(204,204,204); LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;Pada hari Kamis Tanggal 28 Februari 2008, di Aceh Tengah telah terjadi rapat khusus yang berlangsung dipimpin oleh Mantan Panglima Tinggi ABRI Jenderal Wiranto, rapat diadakan di Markas Kodim 0106 Aceh Tengah dan dalam rapat tersebut di hadiri oleh Tokoh-tokoh ALA yang berada di Takengon dan yang datang dari &lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;span id="lw_1205129717_0" style="BACKGROUND-ATTACHMENT: scroll; CURSOR: pointer; moz-background-clip: -moz-initial; moz-background-origin: -moz-initial; moz-background-inline-policy: -moz-initial"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Dandim, Kapolres, Bupati Aceh Tengah dan Bener Mener Meriah serta Para Ketua Milisi dan Tokoh-tokoh Masyarakat Jawa dari Atu Lintang dan sekitarnya. Dalam pertemuan itu tidak diketahui hasil pembicaraannya karena pihak luar dan media dilarang masuk.&lt;?xml:namespace prefix = u1 /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt; Informasi di atas merupakan berita yang masuk di milist pada Selasa (4/3)Melihat fakta-fakta yang terjadi, rasanya benar apa yang ditulis Otto Syamsudin Ishak dalam buku SAGOE yang berjudul "Kriminal &amp;amp; Kriminalisasi", bahwa &lt;i&gt;"Demiliterisasi sebagai titik anjak menuju Aceh damai sebanding dengan peningkatan klaim dan aksi kriminal".&lt;/i&gt; Apabila benar peristiwa Atu Lintang didalangi oleh serdadu dan tokoh elite Gayo yang merupakan antek &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, makin mempertebal keyakinan bahwa mereka memang anti-Aceh damai. Dan peristiwa Atu Lintang merupakan skenario propaganda orang-orang anti-Aceh Damai untuk kembali menciptakan konflik horizontal dan merusak perdamaian di bumi Aceh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204); FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;img style="COLOR: rgb(204,204,204)" alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/TAQIEM/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-2.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-2486094792836958288?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2486094792836958288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/2486094792836958288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/03/tragedi-atu-lintang-terkoyaknya.html' title='Tragedi Atu Lintang;  Terkoyaknya Perdamaian Aceh'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ATbJNUc79EY/R9TOfwO2gqI/AAAAAAAAAA8/nf-GonPBACE/s72-c/020322008mst1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-7119186242938864159</id><published>2008-03-09T11:22:00.000+07:00</published><updated>2008-03-09T11:27:04.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rebelholic'/><title type='text'>-SUMPAH MAHASISWA INDONESIA-</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;1. BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR TANPA PENINDASAN &amp;amp; PEMBANTAIAN.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;2. BERBANGSA SATU, BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;3. BERBAHASA SATU, BAHASA KEBENARAN.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                        (13 MEI 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tidak ada maksud khusus yang akhirnya menggerakkan-ku untuk meletakkan sumpah keramat mahasiswa ini di blog-ku. Tujuan nya teramat sederhana. Hanya untuk mengingatkan kepada kawan-kawan mahasiswa untuk tidak ahistoris terhadap perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan mahasiswa pendahulu pada era reformasi dan, penggulingan rezim fasis-tiran Harto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Sumpah ini mengingatkan kita kembali akan tujuan, cita-cita, dan harapan mahasiswa untuk bangsa ini. Untuk selalu mengingat bahwa kaum muda ini;mahasiswa diproyeksikan sebagai agent of change, social engginering, or iron stock. Harapan rakyat selalu ada di pundak kita kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamanya sumpah ini menjadi teman setia dalam setiap aksi!!&lt;br /&gt;"berjuta kali turun aksi,,bagiku satu langkah pasti..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-7119186242938864159?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/7119186242938864159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/03/sumpah-mahasiswa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7119186242938864159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7119186242938864159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/03/sumpah-mahasiswa-indonesia.html' title='-SUMPAH MAHASISWA INDONESIA-'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3304953833862815649.post-7186967901864850912</id><published>2008-03-09T10:54:00.000+07:00</published><updated>2008-03-09T11:22:05.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='books'/><title type='text'>Kriminal &amp; Kriminalisasi -SAGOE-</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Demiliterisasi sebagai titik anjak menuju Aceh damai sebanding dengan peningkatan klaim dan aksi kriminal. Nampaknya hal ini sudah merupakan pola yang baku di Indonesia. Pasca jajak pendapat di Timor Leste, yang merupakan titik anjak menuju situasi damai justru sebaliknya yang terjadi, yakni muncul perusuhan, operasi pembunuhan misterius (petrus) dan bumi hangus. Kemenangan dan kekalahan yang merupakan hasil dari proses yang demokratis menghasilkan kefrustasian politik bagi yang kalah, dan menjadi target aksi kejahatan kemanusiaan bagi yang menang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Pasca Malino I dan II di Maluku dan Poso juga berlanjut dengan aksi kejahatan teror, bom danpenembakan misterius yang terus berkelanjutanhingga saat ini. Tampaknya, bila pihak yang terkomando dan bersenjata itu kalah, maka aksi perusuhan, teror dan pembunuhan sangat potensial untuk meledak dan berlanjut. Aceh juga punya pengalaman yang sejenis, dan terjadi berkali-kali seiring dengan proses demiliterisasi. Pertama sekali adalah pasca pencabutan status politik Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” yang bersandikan “Operasi Jaring Merah” pada 7 Agustus 1998. Ketika Wiranto mencabut status dan memohon maaf, maka berlakulah tahap demiliterisasi. Namun, yang muncul pada saat yang hampir bersamaan adalah&lt;br /&gt;operasi ninja dan aksi kriminal. Operasi ninja dilakukan oleh orang misteriusyang berkelompok, bersenjata, wajah ditutup&lt;br /&gt;seubu, dan menggunakan mobil berkaca gelap. Mereka bergerak di malam gelap, khususnya di wilayah perkotaan hingga ke pinggiran. Karena begitu status DOM dicabut masyarakat berinisiatif menjaga keamanan kampungnya masing-masing, maka mereka berhadapan dengan masyarakat, khususnya para penjaga malam. Bilapenjaga malam itu dalam posisi terpisah denganrekannya, maka ia akan dimangsa oleh kelompok OTK ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Salah satu bentukan kelompok OTK ini adalahmenciptakan suasana yang mencekam. Masyarakat diupayakan dalam kondisi terteror.&lt;br /&gt;Model lainnya menebarkan isu hantu-hantuan, seperti: vampir atau kuntilanak. Isu vampir juga diedarkan di perkampungan&lt;br /&gt;sepanjang jalan yang dilalui Theys Hiyo Eluay. Menjelang aksi pembunuhan terhadap dirinya. Karena masyarakat ketakutan, maka jalanan menjadi sepi sehingga penjahat kemanusiaan itu dapat bertindak leluasa. Model ini sudah sangat tua, karena sudah dipakai pada masa pembantaian terhadap warga sipil yang diklaim sebagai anggota dan simpatisan PKI pada 1966-7. Isu yang mencekam itu juga diperuntukkan bagi anak-anak, yakni beredarnya isu penculikan anak yang kepalanya digunakan sebagai tumbal proyek pembangunan jembatan.&lt;br /&gt;Sejarah kekacauan sosial di Indonesia, antara lain ditandai dengan berbagai peristiwa magis, dari soal perdukunan (bromocorah) hingga hantu yang jahat. Seperti pada saat menjelang dicabut&lt;br /&gt;DOM, maka muncul isu air penyembuh penyakit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ciri lainnya, adalah maraknya peristiwa kriminal, dari pencurian, penipuan, perampokan dan pembunuhan. Praktis pelakunya tidak tersentuh oleh polisi. Hal inilah yang membuat situasi semakin tidak menentu. Ketika situasi semakin tidak terkontrol oleh masyarakat, atau sudah mulai bergeser pada kelompok bersenjata, maka teror ditingkatkan dengan aksi pembunuhan misterius (petrus). Model ini digunakan di Jawa pada awal 1980-an untuk kembali mengontrol preman. Kemudian aksi pembunuhan para dukun (bromocorah) di Jawa Timur, Tengah dan mencoba masuk ke JawaBarat. Tapi aksi ini sering menggunakan tangan amuk massa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, aksi petrus merupakan tahap awal dari penetapan Aceh berstatus DOM. Tujuannya untuk menciptakan teror, ketakutan, kepanikan dan ketertutupan sosial. Ini merupakan langkah awal untuk mengambil alih kontrol situasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masa kini&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Model-model kejahatan demikian bermunculan pada saat yang bersamaan dengan implementasi Perjanjian Jeda Kemanusiaan (2000) dan CoHA (2003). Karena langkah awal dan yang utama untuk menciptakan perdamaian adalah demiliterisasi. Orang-oran bersenjata harus yang&lt;br /&gt;paling awal dikendalikan. Hal yang membuat kondisi semakin kacau&lt;br /&gt;adalah tingginya klaim-klaim sepihak, tidak bertugasnya polisi, dan teror terhadap warga sipil yang semakin meningkat. Kini, semakin jauh beranjak dari 15 Agustus 2005, dan menunjukkan tanda-tanda proses demiliterisasi sukses, maka pada saat bersamaan bermunculan klaim-klaim yang memberi kesan tingkat kriminalitas melesat tinggi. Klaim-klaim itu justru dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam hal keamanan, yakni polisi. Padahal dalam MoU sudah diatur perihal siapa&lt;br /&gt;yang berwenang dalam soal keamanan. Masalahnya menjadi rumit ketika peristiwa kriminal dan kejahatan kemanusiaan atau pelanggaran HAM dicampur aduk secara sengaja. Satu contoh, ketika orang bersenjata&lt;br /&gt;menembak yang tidak bersenjata, maka dikatagorikan kasus apakah ini? Apakah kejahatan kemanusiaan? Apakah kasus kriminal? Apakah kasus indisipliner kelompok bersenjata? Dalam MoU diamanatkan bila orang&lt;br /&gt;bersenjata itu menembak warga sipil, maka kasusnya harus dibawa ke pengadilan sipil, bukan militer. Artinya, itu bukan kasus indisipliner, melainkan kasus kriminal atau kejahatan&lt;br /&gt;kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal demikian semakin rumit bila kelompok pelaku penembakan mulai mengklaim bahwa ia menembak seorang kriminal. Itulah pola untuk membenarkan diri, yakni dengan cara terlebih dahulu mengkriminalkan korba. Artinya korban diperlakukan jahat 2 kali, yakni ditembak dan&lt;br /&gt;dituduh kriminal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Andi Widjajanto, pengamat militer dari Universitas Indonesia mengatakan, implementasi MoU Helsinki itu mendorong kaum bersenjata&lt;br /&gt;untuk merubah pola operasinya dari tempur ke intelijen. Hal ini dilakukan agar mereka tetap memegang kontrol situasi. Sejauhmanakah pola-pola operasi misterius demikian dipahami oleh pihak AMM? Sebab bila fenomena demikian diabaikan, maka akumulasinya akan menjadi beban AMM dan rakyat Aceh. Ujung-ujungnya akan mengancam keberhasilan pelaksanaan demiliterisasi yang sudah dicapai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Akumulasi operasi misterius (teror, kejahatankemanusiaan dan kriminal-kriminalisasi) akan semakin cepat meningkat dengan situasi ekonomi yang memburuk, dan kompetisi politik yang semakin brutal di antara elite politik di Jakarta.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3304953833862815649-7186967901864850912?l=fauzan-rebelholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/feeds/7186967901864850912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/03/kriminal-kriminalisasi-sagoe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7186967901864850912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3304953833862815649/posts/default/7186967901864850912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzan-rebelholic.blogspot.com/2008/03/kriminal-kriminalisasi-sagoe.html' title='Kriminal &amp; Kriminalisasi -SAGOE-'/><author><name>FAUZAN - REBELHOLIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01773378935323196741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_ATbJNUc79EY/R9NoFAO2gkI/AAAAAAAAAAM/6FjvOTN-1OU/S220/SANG+REVOLUSIONER+MUDA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
