Minggu, 06 Februari 2011

Wawancara Dengan Andre Vltcek


Menjelang siang, Muhajir menelpon. Aku diminta datang ke Hermes Hotel, ada wawancara dengan wartawan Amerika katanya. Sampai di Hermes, aku melihat Muhajir, seorang pria bule, dan dua orang perempuan. Yang seorang kukenal, seorang penulis yang berteman di facebook denganku. Namanya Linda Christanty. Muhajir sedang berdiskusi dan menjawab pertanyaan yang diajukan si bule yang diterjemahkan oleh seorang perempuan satu lagi yang memperkenalkan diri dengan nama Rosi.

Aku menulis catatan ini karena ada beberapa hal yang penting. Pertama, wawancara ini terkait soal advokasi penutupan PT. Lhoong Setia Mining. Penting rasanya menulis semua bagian dan kronik dari perjalanan advokasi ini. Kedua, menjadi menarik karena ada wartawan asing yang tertarik dengan persoalan tambang, sumber daya alam, dan situasi politik Aceh pasca damai (khususnya di Lhoong). Ketiga, ada komentar kami (aku dan Muhajir) yang penting untuk di catat. Dan bukan hanya menjadi catatan si wartawan, yang katanya akan menjadikan wawancara ini menjadi sebuah buku, tapi juga kami sebagai “aktor utama” dalam perjalanan advokasi.

Harus dicatat bahwa, perjalanan advokasi Lhoong, sudah sangat panjang. Yang terbaru, Armansyah yang dulunya bekerja di PT. LSM terakhir melakukan demo bersama masyarakat desa Jantang, menuntut penutupan PT. LSM, (dengan argumen yang sama dengan apa yang kami tulis). Ada perpecahan di internal PT. LSM sendiri. Kami mendengar isu bahwa bulan Januari kemarin, PT. LSM melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kita bisa berasumsi, bahwa ada perpindahan penguasaan saham atau bisa juga ada perubahan struktur internal dan kebijakan yang diambil, terkait keberlangsungan perusahaan dsb. Barangkali, asumsi-asumsi tsb, bisa menjawab persoalan konflik internal yang menyebabkan Armansyah yang orang dalam, dan masyarakat desa Jantang yang sebelumnya mendukung keberadaan perusahaan, kemudian berbalik kemudi dan menuntut penutupan (dalam bacaan saya; lebih tepat disebut renegosiasi PT dengan masyarakat) yang bisa saja terkait ganti rugi tanah dan digunakan nya masyarakat Jantang sebagai pekerja di PT. LSM.

Dalam komentar yang aku berikan, ada beberapa hal yang perlu dicatat:

1.       Bahwa pola yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan yang mengeruk hasil bumi Aceh adalah sama: kolaborasi antara Penguasa-Perusahaan-Pihak Keamanan. Misal: model ini juga terjadi di Arun.
2.       Penguasa dan pihak keamanan (militer & polisi) menerima keuntungan dalam bentuk fee atau upeti dari pihak perusahaan.
3.       Terkait soal “apakah masyarakat Aceh masih menganggap tanah sebagai identitas yang harus dipertahankan” aku menjawab: bahwa dalam kasus PT. LSM dan perusahaan lain yang ada di Aceh, asal ganti rugi cocok, tanah bisa mudah dijual ke perusahan. Ini mengindikasikan 2 hal; pertama, masyarakat Aceh mulai menjadi materialis dan konsumtif. Kedua, karena himpitan ekonomi dan kemiskinan masyarakat harus menjual tanah untuk menyambung hidup. Ketiga, bisa keduanya.
4.       “Apakah dengan dirampasnya kekayaan Aceh, masyarakat akan menuntut kembali merdeka”. Aku rasa dari dulu, bukan merdeka yang dituntut rakyat Aceh, tapi keadilan! Sejak perjuangan Abu Daud Beureueh, Hasan Tiro, hingga sekarang, rakyat Aceh tetap menuntut keadilan. Jadi apabila keadilan tidak hadir, maka bukan tidak mungkin pemberontakan baru akan terjadi di Aceh.
5.       Hari ini masyarakat makin terjepit dan dilematis. Kelompok yang diharapkan membuat perubahan dan perbaikan dalam hal ini GAM yang bertransformasi ke dalam Partai Aceh, nyata nya tidak tetap membuat masyarakat kecewa. Malah, banyak ex-combatan sendiri yang terlibat dan menjadi aktor baru dalam mengeruk sumber daya alam Aceh untuk keuntungan sendiri dan golongan.

Itu adalah beberapa cuplikan dari diskusi yang terjadi. Si wartawan bule bernama Andre Vltcek. Dan semoga buku yang ia tulis nanti bermanfaat bagi rakyat Indonesia, terutama rakyat Aceh yang terus dizalimi (oleh penguasa Indonesia, dan penguasa Aceh sendiri).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aceh kini "mendung"... udara kian dingin. Awan makin membiru nan kelabu. Siap-siap payung! Ada early warning dari moncong AK dan M-16, untuk berlomba-lomba membanjiri langit nanggroe, kembali...