Dalam suatu ruangan kelas yang pengap dan sempit. Murid-murid yang tidak bersepatu di sebuah Sekolah Dasar di Timika Papua sedang serius mendengarkan pengajaran dari bu guru. “Anak-anak… agar kalian dapat lebih cepat paham yang ibu ajarkan tadi, juga supaya bisa mempraktekkannya dirumah, jangan lupa rajin-rajin menonton TV Cita. Ketrampilan yang ibu ajarkan tadi juga ibu dapat dari menonton acara itu anak-anak….”.
Ya. Itulah barangkali gambaran yang ada di pikiran Hary Tanoesudibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) grup, yang juga Direktur Utama PT Global Mediacom, Tbk, sebuah perusahaan raksasa yang menggandeng Kemendiknas untuk meluncurkan program TV Citra Indonesia Terampil (Cita). Sebuah acara seremonial yang akbar dipersiapkan untuk mendukung peluncuran program ini. Acara ini juga dihadiri para kepala sekolah, guru, juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA, se-DKI Jakarta. Para pejabat menggandeng ibu pejabat dari Kemendiknas dengan berstelan jas lengkap turut hadir bersama seluruh pemilik saham dan petinggi dari perusahaan televisi dan komunikasi terkemuka di tanah air ini.
Rasa-rasanya, sebuah acara seremonial ini begitu selaras dan menjadi kabar bahagia di hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei memang sengaja dipilih oleh MNC dan Kemendiknas untuk menunjukkan betapa pedulinya pemerintah untuk memajukan pendidikan dan betapa bermurah hatinya sebuah perusahaan besar seperti MNC dalam mengangkat pendidikan Indonesia dari ketertinggalan.
Menteri M. Nuh sampai memberi komentar, "MNC bisa menjadi sumber inspirasi bagi kawan-kawan. Para perusahaan-perusahaan, tidak usah ragu untuk membantu dunia pendidikan karna pasti itu jatuhnya ke kita sendiri. Saya kira ini contoh yang bagus untuk sumber inspirasi,".
Terlihat sangat luar biasa! Tapi mari kita lihat lebih jeli. Ternyata program televisi ini hanya dapat dinikmati lewat saluran tv kabel (berlangganan) Indovision. Lantas, kita wajib bertanya, bagaimana pelajar di daerah tertinggal dapat menikmati siaran tv ini? Apakah harus beli tv dulu kalau tak punya tv? Lalu setelah punya tv mesti beli seperangkat alat tv kabel dan berlangganan tv kabel? Kalau tak sanggup beli tv bagaimana? Apakah pemerintah mau menyediakan tv sekaligus tv kabel untuk tiap rumah di pelosok??? Karena pemerintah pasti tahu kalau kami yang katanya masyarakat daerah tertinggal untuk makan saja susah!
Terlalu! Ini jelas-jelas penipuan dan pembodohan! Simaklah, ternyata Sky Vision (Indovision), merupakan anak usaha PT Global Mediacom yang tergabung dalam MNC group. Kalau Direktur Global Mediacom adalah Harry Tanoesudibjo, maka Direktur Sky Vision (Indovision) adalah Rudy Tanoesudibjo yang merupakan abang kandung Harry Tanoe. Ya, kedua bersaudara inilah yang kemudian menggerakkan bisnis televisi di Indonesia. Dan kedua bersaudara inilah yang juga mengotori hari pendidikan nasional dengan siasat licik yang pantas distempel dengan kapitalisme pendidikan.
Dan kedua kakak beradik Rudy Tanoe dan Harry Tanoe dalam dunia “bisnis” juga disebut sebagai Mafia Indonesia yang disebut ‘Geng Sembilan’. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan cari tahu sendiri siapa-siapa ‘Geng Sembilan’ ini.
Dan begitu menjijikkan rasanya apa yang disampikan Harry Tanoe dalam pidato seremonial, "Ini dilandasi keinginan kami untuk berpartisipasi ambil bagian dalam membangun bangsa kita. Karena masih banyaknya masyakat yang belum mengenyam pendidikan, oleh karena itu kami memikirkan cara cepat untuk membantu yaitu dengan menggunakan satelit yang bisa menjangkau seluruh pelosok melalui program keterampilan yang singkat dan padat. Dengan demikian banyak masyarakat kita yang bisa dibantu,"
Teranglah sudah, Harry Tanoe meluncurkan program “baik” siaran Tv Edukasi Cita yang dijalankan oleh perusahaan nya Global Mediacom, dan kemudian si kakak yang memiliki perusahaan Sky Vision (Indovision) melahap keuntungan sebesar-besarnya. Karena, rakyat yang mau menonton Tv Cita (Harry Tanoe), mesti beli dulu satu set tv kabel Indovison (Rudy Tanoe).
Akhirnya rakyat juga yang dibodohi. Ditipu sampai mati. Program Tv edukasi Cita yang “mulia”, yang kita sangka “murah hati” nya pengusaha, ternyata modus baru menipu rakyat untuk menghisap kapital berlipat-lipat ganda. Bayangkan, berapa harga tv kabel itu, 1 juta? 2 juta? Berapa harga berlangganan nya, 300 ribu? 500 ribu? Rakyat daerah terpencil mana yang sanggup membayar…??? Apakah Timika..? Apakah Majene..? Apakah Kluet..? Apakah Nemberala..?
Dan bagaimana kalau pemerintah yang terpaksa menyediakan televise plus tv kabel Indovision. Apakah Anggaran Pendidikan Nasional..? Ataukah APBD..? Ataukah APBK..?
Karena simaklah kembali, pemerintah menyediakan balai-balai pendidikan dan pelatihan keterampilan di seluruh Indonesia, yang di bawah Kementerian Diknas, akan menyiarkan program pelatihan dengan nama TV Citra Indonesia Terampil (CITA) melalui Indovision di channel 845. Nantinya masyarakat yang mengikuti kelas pelatihan tersebut akan dapat menyaksikan dan mempraktekan tayangan dari program pelatihan yang disuguhkan. Untuk perangkat siaran, saat ini sudah terpasang 100 set perangkat siaran yang diletakkan di balai-balai pendidikan di seluruh Indonesia. Nanti diakhir tahun, target terpasang ada 1.000 perangkat siaran. Lucu sekali, dagelan persekongkolan menteri kapitalis dengan pemodal.
Benar-benar pemerintah telah menjadi budak para pemodal, bermain di lingkaran kekuasaan untuk mengeruk keuntungan dari uang rakyat. Pemerintah saat ini adalah komprador-komprador pemodal. Agen-agen neoliberalime. Dan dengan senang hati menjual “masyarakat daerah terpencil” untuk kenyang perut sendiri. Itu dilakukan ditengah siaran tv silang berganti menayangkan rendahnya fasilitas pendidikan, beberapa pelajar berprestasi, trauma pelajar karena UN, pelajar-pelajar yang putus sekolah, dan mahalnya ongkos pendidikan. Di hari ini, 2 Mei 2010, hari pendidikan nasional.
Ironis!
*M. Fauzan Febriansyah (aktivis mahasiswa Aceh) …. Meneriakkan kata: “LAWAN!”
Ya. Itulah barangkali gambaran yang ada di pikiran Hary Tanoesudibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) grup, yang juga Direktur Utama PT Global Mediacom, Tbk, sebuah perusahaan raksasa yang menggandeng Kemendiknas untuk meluncurkan program TV Citra Indonesia Terampil (Cita). Sebuah acara seremonial yang akbar dipersiapkan untuk mendukung peluncuran program ini. Acara ini juga dihadiri para kepala sekolah, guru, juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA, se-DKI Jakarta. Para pejabat menggandeng ibu pejabat dari Kemendiknas dengan berstelan jas lengkap turut hadir bersama seluruh pemilik saham dan petinggi dari perusahaan televisi dan komunikasi terkemuka di tanah air ini.
Rasa-rasanya, sebuah acara seremonial ini begitu selaras dan menjadi kabar bahagia di hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei memang sengaja dipilih oleh MNC dan Kemendiknas untuk menunjukkan betapa pedulinya pemerintah untuk memajukan pendidikan dan betapa bermurah hatinya sebuah perusahaan besar seperti MNC dalam mengangkat pendidikan Indonesia dari ketertinggalan.
Menteri M. Nuh sampai memberi komentar, "MNC bisa menjadi sumber inspirasi bagi kawan-kawan. Para perusahaan-perusahaan, tidak usah ragu untuk membantu dunia pendidikan karna pasti itu jatuhnya ke kita sendiri. Saya kira ini contoh yang bagus untuk sumber inspirasi,".
Terlihat sangat luar biasa! Tapi mari kita lihat lebih jeli. Ternyata program televisi ini hanya dapat dinikmati lewat saluran tv kabel (berlangganan) Indovision. Lantas, kita wajib bertanya, bagaimana pelajar di daerah tertinggal dapat menikmati siaran tv ini? Apakah harus beli tv dulu kalau tak punya tv? Lalu setelah punya tv mesti beli seperangkat alat tv kabel dan berlangganan tv kabel? Kalau tak sanggup beli tv bagaimana? Apakah pemerintah mau menyediakan tv sekaligus tv kabel untuk tiap rumah di pelosok??? Karena pemerintah pasti tahu kalau kami yang katanya masyarakat daerah tertinggal untuk makan saja susah!
Terlalu! Ini jelas-jelas penipuan dan pembodohan! Simaklah, ternyata Sky Vision (Indovision), merupakan anak usaha PT Global Mediacom yang tergabung dalam MNC group. Kalau Direktur Global Mediacom adalah Harry Tanoesudibjo, maka Direktur Sky Vision (Indovision) adalah Rudy Tanoesudibjo yang merupakan abang kandung Harry Tanoe. Ya, kedua bersaudara inilah yang kemudian menggerakkan bisnis televisi di Indonesia. Dan kedua bersaudara inilah yang juga mengotori hari pendidikan nasional dengan siasat licik yang pantas distempel dengan kapitalisme pendidikan.
Dan kedua kakak beradik Rudy Tanoe dan Harry Tanoe dalam dunia “bisnis” juga disebut sebagai Mafia Indonesia yang disebut ‘Geng Sembilan’. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan cari tahu sendiri siapa-siapa ‘Geng Sembilan’ ini.
Dan begitu menjijikkan rasanya apa yang disampikan Harry Tanoe dalam pidato seremonial, "Ini dilandasi keinginan kami untuk berpartisipasi ambil bagian dalam membangun bangsa kita. Karena masih banyaknya masyakat yang belum mengenyam pendidikan, oleh karena itu kami memikirkan cara cepat untuk membantu yaitu dengan menggunakan satelit yang bisa menjangkau seluruh pelosok melalui program keterampilan yang singkat dan padat. Dengan demikian banyak masyarakat kita yang bisa dibantu,"
Teranglah sudah, Harry Tanoe meluncurkan program “baik” siaran Tv Edukasi Cita yang dijalankan oleh perusahaan nya Global Mediacom, dan kemudian si kakak yang memiliki perusahaan Sky Vision (Indovision) melahap keuntungan sebesar-besarnya. Karena, rakyat yang mau menonton Tv Cita (Harry Tanoe), mesti beli dulu satu set tv kabel Indovison (Rudy Tanoe).
Akhirnya rakyat juga yang dibodohi. Ditipu sampai mati. Program Tv edukasi Cita yang “mulia”, yang kita sangka “murah hati” nya pengusaha, ternyata modus baru menipu rakyat untuk menghisap kapital berlipat-lipat ganda. Bayangkan, berapa harga tv kabel itu, 1 juta? 2 juta? Berapa harga berlangganan nya, 300 ribu? 500 ribu? Rakyat daerah terpencil mana yang sanggup membayar…??? Apakah Timika..? Apakah Majene..? Apakah Kluet..? Apakah Nemberala..?
Dan bagaimana kalau pemerintah yang terpaksa menyediakan televise plus tv kabel Indovision. Apakah Anggaran Pendidikan Nasional..? Ataukah APBD..? Ataukah APBK..?
Karena simaklah kembali, pemerintah menyediakan balai-balai pendidikan dan pelatihan keterampilan di seluruh Indonesia, yang di bawah Kementerian Diknas, akan menyiarkan program pelatihan dengan nama TV Citra Indonesia Terampil (CITA) melalui Indovision di channel 845. Nantinya masyarakat yang mengikuti kelas pelatihan tersebut akan dapat menyaksikan dan mempraktekan tayangan dari program pelatihan yang disuguhkan. Untuk perangkat siaran, saat ini sudah terpasang 100 set perangkat siaran yang diletakkan di balai-balai pendidikan di seluruh Indonesia. Nanti diakhir tahun, target terpasang ada 1.000 perangkat siaran. Lucu sekali, dagelan persekongkolan menteri kapitalis dengan pemodal.
Benar-benar pemerintah telah menjadi budak para pemodal, bermain di lingkaran kekuasaan untuk mengeruk keuntungan dari uang rakyat. Pemerintah saat ini adalah komprador-komprador pemodal. Agen-agen neoliberalime. Dan dengan senang hati menjual “masyarakat daerah terpencil” untuk kenyang perut sendiri. Itu dilakukan ditengah siaran tv silang berganti menayangkan rendahnya fasilitas pendidikan, beberapa pelajar berprestasi, trauma pelajar karena UN, pelajar-pelajar yang putus sekolah, dan mahalnya ongkos pendidikan. Di hari ini, 2 Mei 2010, hari pendidikan nasional.
Ironis!
*M. Fauzan Febriansyah (aktivis mahasiswa Aceh) …. Meneriakkan kata: “LAWAN!”

0 komentar:
Poskan Komentar
Aceh kini "mendung"... udara kian dingin. Awan makin membiru nan kelabu. Siap-siap payung! Ada early warning dari moncong AK dan M-16, untuk berlomba-lomba membanjiri langit nanggroe, kembali...