Rabu, 05 Mei 2010

Kuberi Judul: “Nyala Hidup, Hidup Nyala…”

Suatu ketika guru bijak mengajukan pertanyaan. “ada dua buah bola lampu. Bermerk sama, perawatan yang sama, sama-sama 15 watt, dan dulu dibeli di toko yang sama, pokoknya semuanya sama”. Dengan mimik yang lebih serius sang guru bijak melanjutkan… kemudian mengangkat tangan, mencontohkan sambil menjelaskan. “Tapi anehnya, yang satu Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…, Hidup!…Nyala…” Tangan sang guru bijak pun berkedap-kedip.

“Dan yang satu nya lagi hiduuuuuppppp terusssssss……” Nah, Pertanyaan nya adalah bola lampu yang mana yang paling banyak menghabiskan arus….??” Bocah gondrong menjawab yang hidup-nyala, hidup-nyala. Yang lain nya pun serempak menyahut “yang hidup-nyala, hidup-nyala guru!” Sang guru bijak pun terkekeh. Membiarkan pertanyaannya tersimpan dalam ruang penasaran di pikiran bocah-bocah yang mendengar.

***

Di sebuah kamar dengan sebuah lampu yang akhir-akhir ini lebih sering padam. Daripada hidup, atau hidup-nyala, hidup-nyala. Cahaya-cahaya yang menerangkan cuma berasal dari lampu layar telepon seluler blackberry yang makin sering digenggam oleh pelacur ibukota. Layar blackberry pun menampilkan laman jejaring sosial facebook yang sekarang dijadikan media transaksi pelacur ibukota. Namun yang bikin beda dari barang milik pelacur ibukota adalah “lempar-lempar” komentar di bawah status facebook antara satu blackberry dengan blackberry lain. Blackberry yang satu hiduuuuupppp terusssss, dan satunya lagi hidup-nyala, hidup-nyala.

Lempar-lempar komentar makin ngeri. Aroma politik yang menebar bau amis, padahal entah kapan telepon seluler baunya amis. Komentar-komentar yang tarik garis dan bikin sudut. Bikin blok kiri dan blok kanan. Merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan. Kalau dibilang kanan, blackberry dan facebooknya terbilang kiri. Hah…! Ini lakon koq mirip Nagabonar. Ada Jenderal selepas main catur, kemudian tarik-tarik garis di tanah, dan ribut lagi soal muka bapak siapa yang digambar. Beralihlah ribut soal garis-garis ditanah yang kata Jenderal Nagabonar itu muka nya bapak Jenderal Mariam. Halah… padahal keduanya bukan jenderal. Dan kenapa pula dari main catur, ributnya soal garis kiri dan garis kanan…?! Ini zaman sudah maju 100 tahun, atau mundur 100 tahun…?? Mestinya ini zaman maju 100 tahun, tapi para Jenderal nya punya karakter para Jenderal 100 tahun lewat.

Tapi ini zaman memang keblinger. Blackberry hidup terus, facebook hidup-nyala, hidup-nyala…tapi listrik padam terus. Yang protes listrik padam terus, juga dari yang punya blackberry yang hidup terus, dan facebook yang hidup-nyala, hidup nyala.

Ini zaman memang keblinger, semua sama-sama punya blackberry, sama-sama pakai facebook, sama-sama rasain listrik padam, dan sama-sama merasa di blok kiri tapi sering nongkrong di kanan… tapi, ini zaman suka bikin ribut yang suka sama-sama. Entah keblinger yang pernah bilang “sama rata, sama rasa”. Atau keblinger yang baca “sama rata, sama rasa”.

Ini zaman memang keblinger. “Keblinger” persis dengan makna Soekarno mengucap keblinger! Berteriak ‘hidup’ rakyat di blackberry, mengutip kalimat dari pamflet ‘Njala’ di facebook. Ini zaman dengan orang-orang yang persis dengan judul buku Soe Hok Gie “Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan”. Tapi, entah orang kiri yang berada disimpang? Atau, entah orang yang sedang berada di simpang kiri?... Tapi yang pasti, ini zaman dengan orang-orang yang sukar bedakan hidup dan nyala.

Ini zaman dengan orang-orang yang mempersoalkan, mana yang teriak ‘hidup’ rakyat! Dengan sebenar-benarnya teriakan ‘Hidup Rakyat’…! Dan mana yang menulis seperti pamflet ‘Njala’! dengan sebenar-benarnya tulisan ‘Njala’…!

Ini zaman betul-betul keblinger. Tiga ‘setan oeang’ berdiri mengangkang dan berak di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Dan tiga setan oeang sedang menghitung berapa tumpuk duit yang bisa dibagi, sambil melirik berapa tumpuk taik yang sudah menghias di kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Setan pertama bersungut listrik, dengan perut buncit disesaki kapital. Kapital yang diperoleh dari nilai lebih hasil hisap-menghisap arus listrik milik Bu Minah penjual es mambo di kantin SD, dan bang Him si tukang las. Setan bersungut listrik mulai menghitung tetesan-tetesan kapital yang bisa dibagi ke setan kedua dan ketiga. Setan kedua menenteng senjata, senjata dari pajak pak guru Sofyan dan pajak hasil keringat pedagang eceran. Setan ketiga berselempang bendera, yang sedang laku di pasar politik dan meja kerja kepala dinas. Dan ketiga setan sedang bekerja menyusun cara untuk melipat kapital, mengajak setan yang lain menikmati tetesan sambil terbahak menyaksikan tumpukan taik di atas kepala orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala.

Orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala sedang keblinger! Bertengkar remeh temeh dengan gaya debat Aidit, Disman dan Nyoto di kantor CC. Tapi medan tengkar pun di blackberry dan facebook yang jadi mahakarya imperialis-kapitalis sekarang. Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu imperialis. Imperialis yang tidak sama dengan amtenar-amtenar dan pejabat pemerintah.. . Lagi kutakar dan kuingat-ingat apa itu kapitalis. Kapitalis yang tidak sama dengan bangsa asing, yang tidak sama dengan negara-negara maju. Imperialis itu adalah hasrat untuk menguasai atau mempengaruhi ekonomi-politik bangsa lain. Yang bukan hanya kita temukan pada bangsa-bangsa Amerika dan Eropa, tapi juga pada nafsu Sriwijaya yang menaklukkan semenanjung Malaka, kerajaan Melayu dan negeri Campa. Juga kita temukan pada Majapahit yang mempengaruhi semua pulau nusantara, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Sekali lagi, imperialis adalah soal hasrat mempengaruhi dan menguasai.

Dan kapitalis itu sesederhana ceramahku pada bocah-bocah yang baru selesai bermain bola. Kapitalis itu adalah bola Nike yang dengan gagah dimainkan Lionel Messi pada sebuah iklan. Kulit bola Nike diambil dari kulit lembu petani miskin di Sri Lanka dan Afrika. Dijahit oleh anak-anak yatim di Palestine dan Aljazair. Dipermak oleh buruh-buruh di Brazil dan Ekuador. Dengan upah si yatim dan para buruh tidak lebih dari 2 dollar untuk pekerjaan selama 12 jam sehari. Dan sampai ke pabrik utama di Amerika, kembali bola-bola itu sampai ke tangan-tangan para imigran gelap dari Afrika, Mexico dan Kuba, untuk di percantik dan dikemas lebih menarik. Dan setelah dipasarkan dengan gambar Lionel Messi, harga bola Nike itu pun melambung menjadi 60 dollar!!! Berpuluh kali lipat harganya setelah disentuh tangan yatim Aljazair dan keringat buruh imigran gelap Kuba. Disitulah dia kapitalis. Suatu sistem yang timbul dari cara produksi yang memisahkan para buruh dengan alat-alat produksi. Dan memakan keuntungan berkali lipat dari keringat dan kerja keras para buruh. Tapi tapi tapi… disitulah blackberry yang cantik diproduksi dan dipasarkan. Diproduksi dengan cara-cara kapitalis, dan dipasarkan dengan cara imperialis!

Dan memang ini zaman keblinger. Santai-santai orang-orang yang sedang berusaha hidup untuk menyala. Menggenggam blackberry, menyalakan facebook, berdiskusi, saling sindir, sampai debat kusir, dengan penuh semangat dan menyala-nyala. Ini soal bukan soal menggunakan teknologi, ini soal bukanlah persoalan mengikuti tren tapi tetap kritis. Ini antara persoalan prinsip dan implementasi, dibumikan menjadi aksi dan reaksi.

Tapi tapi tapi… prinsipnya kiri, implementasi borjuasi, aksi-nya massa, reaksi-nya ereksi kemudian o-na-ni, olah sana sini! Ah zaman.., aku tak berani menyebut diri kiri, karena kiri itu adalah pilihan hidup, tata cara pergaulan hidup. Dan aksi massa itu adalah sarana menuju cita-cita, cita-cita untuk hidup sama rasa-sama rata. Tapi tapi tapi… kini prinsip jadi jargon, dan sarana menjadi alat tukar di meja negosiasi.

Baiklah, okelah kalau begitu. Silahkan lanjutkan perang urat saraf prinsip, dan aksi massa negosiasi.

***

Buatku dan kau, kau dan kau, yang baru memulai, dan belum berada di simpang. Kiri itu adalah cara pandang hidup, yang berada di dalam massa, susah senang dengan massa , dan berjuang untuk massa. Bermusuhan dengan imperialisme dan kapitalisme. Berkawan dengan mereka yang tertindas, dan orang-orang yang berusaha hidup untuk menyala!

Buatku dan kau, kau, dan kau, yang ngefans dengan yang berbau kiri. Banyak-banyaklah kita membaca, hemat-hematlah berbicara, dan pandai-pandai melihat dan menimbang-nimbang, karena salah benar bukan cuma urusan Tuhan.

Dan ingat pesan Che, dalam persatuan ada kekuatan. Juga belum ada gerakan yang menimbang-nimbang main hati. Kalau terlalu banyak main hati, bergabunglah bersama Andra and The Backbone, atau jadilah anak band.

Buat yang tak paham antara hidup terus dan hidup-nyala hidup-nyala, keduannya sama aja tolol!

Dan buat yang berada di simpang jalan, sering-sering kau lewat disimpang Kodim, persis di depan kantor Golkar, ditempat yang sering mangkal Polantas yang suka merazia seenak perutnya itu. Nah, kau tengok ada rambu jalan dengan tulisan “KE KIRI JALAN TERUS”…..!!!

***

Sorry mamen kalau curhat, ke tower juga kita akan ngopi…ha ha ha!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aceh kini "mendung"... udara kian dingin. Awan makin membiru nan kelabu. Siap-siap payung! Ada early warning dari moncong AK dan M-16, untuk berlomba-lomba membanjiri langit nanggroe, kembali...