Minggu, 29 Maret 2009

Membangun Mazhab Darussalam

Sejarah mencatat bahwa kampus pertama kali di jagad bumi ini adalah ‘Akademia Athena’, pada 320 SM yang didirikan oleh Plato dan Aristoteles. Luar biasa, ternyata kampus ini menjadi cikal bakal ratusan juta kampus yang ada di dunia saat ini. Nama akademi pun akhirnya dipakai untuk menyebutkan sebuah tempat dimana terjadi transformasi ilmu, pertarungan ide, dan melahirkan rumusan serta ilmu-ilmu baru. Pada akhirnya akademi mampu merubah wajah peradaban, juga menciptakan golongan kelas, serta melahirkan ilmuan dan pemimpin dari yang arif sampai laknat.

Pergolakan pemikiran akhirnya menciptakan blok-blok ide, yang lahir akibat tarung benar-salah, tarung tesis-antitesis-sintesis. Dan yang paling membuat takjub, bahwa tarung pikir ini bukan hanya melahirkan blok-blok ide, tapi terus melahirkan generasi pemikir. Generasi pengubah wajah manusia dan dunia, generasi pensejahtera dan penghisap.

Kita lewati saja para pemikir tunggal yang kemudian jadi pesohor karena teori, temuan dan gagasan-gagasan mereka. Mari kita lihat blok-blok pemikir yang akhirnya mampu menghegemoni sebuah jalan pikir dan mengorientasi sebuah perubahan.

Lahir Mazhab Frankfurt dari Universitas Frankfurt Jerman, tempat berkumpulnya filsuf sosial yang melahirkan teori Kritis. Medan perangnya para pembangkang Marxis, seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno da Jurgen Habermas. Yang kemudian mengkritisi penggunaan teori Marx yang mereka anggap terlalu sempit, dan kemudian merapatkan diri pada ketertarikan neo-Marxisme.

Sekarang kajian kritis dari para Legiun Mazhab Frankfurt bukan hanya mampu melahirkan tumpukan kertas teori kritis yang bisa jadi makin usang. Namun lebih dari itu, mampu merasuk ke meja-meja diskusi para pemikir muda. Pemuda dari sudut Caracas, pemuda pinggiran Havana, dan bahkan pemuda Kutaraja yang terus membolak-balik bacaan nya, sambil mengerutkan dahi. Yahh.., berkerutlah selagi masih bisa!

Bidak Blok Catur Gagasan di Indonesia

Lain Mazhab Frankfurt, lain lagi Mafia Ohio. Sebutan Mafia Ohio tiba-tiba santer dan melekat di telinga orang Indonesia. Indonesia pra dan pasca reformasi jadi riuh dengan kehadiran para Mafia Ohio yang sangat menonjol dalam pemikiran politik di tanah ini. Ternyata sang Bos Mafia adalah R. Willian Liddle, guru besar di Departemen Ilmu Politik, Ohio State University. Liddle adalah seorang Indonesianis. Ilmuan politik Amerika yang meneliti di sini dari tahun 1960-an.

Sang bos ternyata punya murid Indonesia yang luar biasa. Jika diukur dari pengaruh, posisi, dan beberapa hasil karya. Diantaranya ada Ahmad Syafii Maarif yang mantan ketua PP Muhammadiyah, Denny JA yang mantan ketua LSI, sampai pada orang-orang yang sering muncul di TV dan kita baca buku-bukunya seperti Salim Said, Makarim Bisono, Rizal Mallarangeng dan Eep Saefulloh Fatah. Ini cuma sebagian, yang lain ada bayak lagi. Ide, prediksi dan gagasan Liddle bersama muridnya, ternyata mampu mempengaruhi peta politik Indonesia. Satu contoh saja, mengenai komentar Liddle sebelum pemilu presiden 2004, dimana dia memprediksi bahwa SBY akan menang. Walaupun murid-muridnya tidak selalu sepaham dengan sang guru, atau bahkan bersebrangan, ini tidak merubah da meretakkan geng Mafia Ohio dalam pergolakan politik di Indonesia. Ada juga geng lain memang, tapi yang satu ini lebih sering disebut mazhab, yaitu Mazhab Cornell yang dirintis oleh George Kahin yang mendirikan Modern Indonesia Project di tahun 1954, dengan 3 murid jagoan semacam: Ben Anderson, Dan Lev, dan Takeshi Siraishi.

Buat urusan ekonomi, ekonom dan birokrat Indonesia pernah begitu mengimani konsep ekonomi dari kelompok Mafia Berkeley. Orang-orang yang pernah belajar di kampus Berkeley. Mafia Berkeley menjadi aktor dibalik layar dari kejayaan dan keruntuhan ekonomi orde baru. Dengan si Bos Widjojo Nitisastro, lengkap dengan muridnya. Konsep ekonomi mereka disebut widjojonomics.

Adakah Mazhab dan Mafia Ilmuan di kita?

Menjawab ini ternyata ternyata perkara sulit. Miris bahkan. Kampus kita (unsyiah.red), cuma sangkar bagi para pemikir. Kerangkeng untuk sebuah revolusi pemikiran. Penjaranya kreativitas dan inovasi visioner.

Yang mau membuat perubahan diremehkan. Yang sedikit kritis dikucilkan. Yang mau melawan system akhirnya ditinggalkan. Membangun diskusi kritis dicurigai tindakan subversif. Bertanya tentang tata kelola kampus dibalas ancam dengan masa depan akademik. Memperdebatkan syariat harus siap dituduh kafir. Mengkaji Marx dianggap komunis. Mempersoalkan kegiatan mengaji yang dikelola mahasiswa dilabel orang anti-Islam dan syariat. Mahasiswa yang melakukan aksi dikencingi dosen dengan tuduhan makan duit, ditunggangi, untuk kepentingan politik. Dosen bilang mahasiswa itu kuliah saja, kalau kritis nanti tidak tamat kuliah.

Kalau mau nilai ‘A’ jawab saja sesuai diktat saat final. Kalau sedikit kritis dan menambahkan analisa sendiri, harus tegar lihat ‘C’ di papan pengumuman. Diutamakan ke kampus dengan kemeja, bersepatu, serta bawa alat tulis. Tidak bawa otak tak apa-apa, diam di kelas atau tidur saja saat dosen mengajar lebih baik daripada mengkritik yang si dosen ajarkan. Selebaran diskusi dan tulisan politik di kampus tak dilirik. Lebih ditunggu majalah sophie martin atau brosur kosmetik. Kuliah semata untuk nilai ‘A’. Kuliah untuk menghabiskan duit orang tua. Tanpa harus kritis, tanpa harus bersusah payah, yang penting ‘A’, yang penting orang tua kirim duit.

Entah ini salahnya mahasiswa atau dosen. Tapi keduanya harus bertanggung jawab. Dan harus bertanggung jawab untuk membangun budaya dan tradisi keilmuan dikampus Unsyiah. Kampus yang katanya jantong hatee rakyat Aceh.

Kampus Unsyiah miskin akademisi. Yang ramai cuma supporter dan komentator. Kalau di Indonesia ada widjojonomics, apa di Unsyiah ada masbarnomics? Yang mampu mengorientasikan pembangunan ekonomi pro-rakyat dan menyiapkan blueprint untuk itu? Mungkinkah ada ilmuan hukum dan politik yang mampu merancang dan mendorong suatu system hukum dan politik yang lebih dari sekedar seminar dan qanun? Mungkinkah ada ilmuan pertanian yang berhasil menciptakan pupuk murah namun berkualitas. Dan menghijaukan Aceh bukan dengan sawit? Mungkinkah ada arsitek dan kontraktor yang bisa membangun bangunan selain ruko-ruko? Mungkinkah dokter yang mau mengobati tanpa dibayar? Benar-benar tidak dibayar! Bukan bikin baksos karena dibayar yayasan atau karena proyek dosen dan si mahasiswa kedokteran ikut untuk dapat nilai ‘A’.

Dikampus cuma ada Darni and the genk, anti kritik dan otoriter. Sumringah menerima tamu asing, kucing-kucingan berdiskusi dengan mahasiswa. Dikampus cuma ada Masbar, ekonom besar tanpa blueprint. Dikampus cuma ada Mawardi, pakar hukum yang lebih sering tampil di Serambi daripada terlihat di kampus. Dikampus cuma ada Syahrul, yang melarang mahasiswanya untuk ikut aksi turun ke jalan. Dikampus cuma ada Mustanir, yang menjadikan kampus mipa sarang kader partai.

Padahal mereka semua adalah para guru, padahal aku bisa belajar dengan mereka-mereka. Tapi tenyata masih lebih baik aku yang seorang Ottoisme. Yang berguru sosial-politik dengan Otto si anak hilang. Yang punya gagasan untuk membangun sebuah tradisi dan kajian keilmuan di kampus. Lalu kemudian kulanjutkan dengan tesis Mazhab Darussalam.

Mazhab ilmu dengan orientasi ke-Acehan. Mendidik generasi pembelajar dengan spirit perjuangan. Berwatak inklusif dan kosmopolit. Bersikap terbuka dan merindukan perubahan. Melahirkan orang-orang yang progresif dalam berpikir dan militan dalam bekerja. Mazhab Darussalam akan menjadi pioneer bagi lahirnya epistemologi ke-Acehan. Aliran baru dengan Aceh sebagai kiblat dan landasan pikir.

Boleh saja dokter, boleh saja arsitek, boleh saja sejarawan, boleh saja teknokrat, boleh saja juris, boleh saja filsuf, dan boleh saja ekonom. Tapi tetap sebagai pendukung epistemologi ke-Acehan.

Kemarin ini cuma mimpi, sekarang jadi gagasan, dan pasti besok jadi kenyataan.