Sabtu, 28 Maret 2009

Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!

Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!

Aku jadi terinspirasi ketika membaca sebaris kata berbunyi “seonggok daging”. Pikiran tiba-tiba melayang lalu terjun bebas dengan kritis untuk membalas sebaris kata yang lazim dan acap terucap saat menjelang lebaran dan hari besar. Coba kutangkap bahasa tersirat dari dua kata dengan tambahan ‘se’ itu. Sepertinya orang yang berucap sedang gamang, pupus, atau bisa jadi telah lumer dengan keputus-asaan persis seperti bubur kacang hijau untuk sarapan pagi.

Kalau dibaca lengkap si bocah gamang hendak memasukkan semua orang yang berhasil kutangkap maksud tersiratnya, menjadi sama dengan kegamangan, kepupusan dan keputus-asaan yang dia punya. Siapa kau? dan siapa aku?? Yang dimaksud “daging berjalan yang diselamatkan”…??? Maaf! Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!

Bocah, coba kau ingat-ingat lagi.

Barangkali kau memang bocah yang diselamatkan. Karena memang kau hampir hilang arah, tersesat dalam kekuatanmu untuk berbuat, tiba-tiba gelap saat kau mencoba menemukan jati diri dan tujuan mu. Kau memang diselamatkan atau mungkin tersesat pada suatu cekungan getaran akibat kau sering meloncat-loncat. Dan aku, coba kau ingat-ingat lagi bocah, cuma seorang balita polos, yang sedang bermain-main tanpa tujuan jelas. Tapi aku serius pada permainan ini. Aku terus bermain untuk menghabiskan energiku, terus bermain hanya untuk berkenal dengan teman-teman baru, terus bermain sampai akhirnya kutemukan tujuan dan impianku dari permainan-permainan yang aku mainkan. Bocah, aku hanya balita pemimpi yang sedang bermain.

Apa kau pernah diajarkan matematika bocah? Pernahkah kau tahu tentang diagram venn? Dan pernahkah kau tau fisika bocah? Tentang hukum daya tarik atau magnetik? Yang kulakuan hanya bermain, yang kusamakan rumus fisika nya dengan membuat sebuah getaran. Getaran yang kulakukan, cepat atau lambat akan dirasa oleh lingkungan dan bumi ini. Getaran kulakuan, hukum daya tarik terjadi. Aku menjadi sebuah medan magnit baru, yang membuat sekitar merasakan ada getaran. Di dunia ini ada milyaran medan magnit, dan selagi aku bermain aku tahu betul bahwa aku akan tertarik pada sebuah medan magnit yang berkekuatan lebih besar.

Di antara milyaran medan magnit bagaimana aku bisa menemukan sebuah pusat medan magnit yang tepat? Ini adalah soal kutub positif dan negative yang kumiliki dan kutub-kutub lain yang juga dimiliki pusat medan. Kalau kita dengan jujur menggunakan kekuatan kedua kutub, kita akan menemunkan pusat medan yang tepat. Ini persis seperti kutub yang sama akan menolak, yang berlainan akan saling tarik menarik. Selebihnya rumusan ini adalah misteri alam yang belum terungkap.

Kemudian, saat aku berhasil menjadi pusat getaran kecil dan bertemu dengan kutub pusat getar yang lebih besar, akan terbentuk sebuah arsiran. Persis seperti arsiran antara dua lingkaran, yang tidak peduli dengan ukuran bentuk (apakah besar atau kecil). Arsiran terbentuk. Getaran menyatu menjadi sebuah kekuatan magnetik dengan skala lebih besar dari sebelumnya. Itulah aku bocah.

Apa kau pernah belajar hukum alam bocah? Apakah kau pernah diajarkan biologi? Aku sadar betul bahwa tubuhku ini adalah air. Dan aku menggunakan filosofi nya dalam bermain. Aku berusaha dan sampai sekarang masih berusaha menjadi air. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air mengisi seluruh bentuk wadah. Dipanaskan akan memuai, di dinginkan akan mengeras dan memadat menjadi es. Tapi bentuk tidak merubah hakikatnya. Yang tetap menyejukkan. Sumber kehidupan. Mendamaikan. Mensejahterakan. Waktu, siklus, bentuk, kondisi atau apapun tidak mampu merubah hakikat air.

Aku akan terus mengalir bocah. Sekalipun berada pada saluran yang buntu, aku akan berusaha menemukan celah untuk keluar. Dan selagi aku mengalir barang tentu aku akan bertemu dengan beragam rupa makhluk, beragam rupa benda, beragam rupa sampah, beragam rupa puing, beragam rupa air. Yang secara tak sadar menyatu bersamaku saat aku mengalir. Dan kau bocah, berjongkok di tepian saja dan menonton aku mengalir.

Huh! Aku malas melihat muka-muka yang patah arang, aku sudah muak mendengar celoteh frustasi bocah yang terjebak antara komik dan sosialisme. Entah apa yang bocah-bocah ini pikirkan. Sepertinya mereka bingung, linglung, dan frustasi akan perubahan-perubahan sekitar. Dasar bocah! Terlampau ambil pusing memikirkan transisi masa kanak-kanak menjadi remaja. Mending aku si balita, yang cuma berpikir: “ayo kita main saja”.

Orang-orang ini terlalu goblok. Tidak melihat dan tidak membaca. Mereka menjebakkan diri pada transisi kanak-kanak ke remaja. Pengecut dan serba takut. Mereka tidak melihat ada harapan. Mereka tidak sadar bahwa perubahan sedang dilakukan. Dan mereka tidak membaca! Ada jantan yang berjuang di tanah ini dengan mengagumi paham fasis. Dia bodoh tidak membaca bahwa perjuangan mahasiswa 1930-an tanah ini dengan membangun gerakan anti-fasis. Satunya lagi menjadi besar seketika dan takut kehilangan kekuatan, transisi melemahkan urat syaraf kemaluan nya. Dan dia juga jadi bingung, mau ambil peran apa. Pada tidak mikir ini orang!

Sebagian lagi pengecut dan serba takut. Takut untuk memulai, dan yang lebih parah mereka takut gagal. Aku ini balita yang belum pernah menang. Aku gagal terus. Tapi aku masih punya nyali untuk mencoba lagi. Aku masih yakin punya energi untuk terus menerima kegagalan lagi. Bagiku gagal itu biasa. Bukan hal yang memalukan kawan, yang memalukan itu kalau kau takut gagal dan tak berani melanjutkan permainan. Kawan, “kebahagiaan hanya untuk mereka yang pernah mencoba, pernah berusaha dan pernah gagal. Karena cuma mereka yang bisa menghargai betapa berharganya orang-orang yang pernah menyentuh kehidupan mereka”.

Lainnya lagi, benar seperti kata Pram. Di Eropa orang-orang berusaha memberikan sesuatu pada umat manusia, hingga kemudian mereka memperoleh penghargaan dan tercatat pada sejarahnya. Di tanah kita ini, semua orang menyibukkan diri untuk berebut kekuasaan dan penghargaan. Makin muram ketika aku hampir tahu bahwa kalian juga takut untuk bermimpi dan memiliki impian. Kalian sudah tidak berani melakukan apapun, apa untuk bermimpi pun kalian takut bocah…?! Apalagi yang bisa menggerakkan kalian??

Aku masih punya mimpi, dan aku tidak berharap ada orang lain yang bisa kuminta untuk mewujudkan mimpiku. Aku harus mewujudkankan nya sendiri. Dengan atau tanpa…

Bocah, jangan kau coba-coba suntikkan virus gamang dan frustasi mu padaku. Kalau kau punya impian, wujudkan! Kalau kau tak berani bermimpi, katakan kau tak berani!! Kalau kau mau berbuat, kau berbuatlah! Kalau kau takut gagal, proklamirkan kalau kau pengecut!! Bukan waktunya lagi sekarang menonton dan berkomentar. Atau kau merasa sudah memiliki peran dan berbuat dengan alibi menonton dan berkomentar? Bukan masanya lagi untuk meminta dimaklumi segala kekurangan dan dimaafkan segala kesalahan. Memaklumi dan memaafkan itu urusan Tuhan, dan biarkan itu menjadi urusan Tuhan (itupun kalau kau percaya Tuhan bocah).

Sekali lagi bocah, aku akan terus mengalir. Aku tahu sekarang aku masih berada diselokan. Kotor, bau, dan hitam. Aku tahu itu bocah! Tapi aku juga tahu, bahwa seberapapun jauh jaraknya, seberapapun kotor, bau dan hitamnya aku. Suatu saat aku akan menemukan sungai kecil, dan kemudian aku akan menemukan sungai yang lebih besar! Nanti tolong kau jawab bocah, seberapa kotor, bau dan hitam nya aku saat itu?. Dan bocah, aku juga tahu, malah aku yakin. Bahwa nantinya aku akan berada di tengah samudera. Samudera yang luas, sumber penghidupan walau kadangkala mematikan, yang mensejahterakan, mendamaikan, samudera asal usul peradaban. Aku akan terus mengalir, sampai aku menemukan samudera.

Apakah kau pernah tahu bocah, bahwa Cak Munir saat baru saja membuka pintu gerbang transisi pernah berkata: “Sekaranglah saatnya semua orang mulai membangun ritme yang baru, dan kita akan berdiskusi tentang ikatan-ikatan yang baru. Meskipun harus di awali dengan keterpisahan-keterpisahan, yang bukan hanya rasa tapi juga cita-cita”.

Walau aku tidak sempat berkenalan dan berjumpa dengan Cak Munir. Membaca tulisan dan memahami kata-kata nya sama seperti rasa aku sedang duduk berdiskusi dengannya. Aku telah berguru pada Cak Munir. Dan kau pahamilah sendiri kata-kata itu, kalau kau berani untuk memahaminya.

Aku akan terus membuat getaran. Dan sebagian yang tadi juga masih bergetar. Semoga aku masih bisa menyatu dalam sebuah medan magnit dengan orang-orang itu. Semoga aku masih bisa mengalir sampai samudera dengan orang-orang itu. Maka mulai sekarang kau buang aku dalam golongan orang-orang yang kau sebut dengan “seonggok daging yang diselamatkan”. Kalau kau mungkin, tapi aku tidak!